
Siang ini, Adel sedang menikmati semangkuk bakso di kantin kampusnya. Dia sendirian, Tati pamit pulang duluan, karena sudah tidak ada kelas. Sedangkan Adel masih ada satu kelas lagi. Memang mereka berbeda jurusan.
Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino
Ponsel Adel berdering, memutar lagu yang terdengar horor. Adel tersenyum melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel.
“Wa’alaikum salam. Adel, kamu masih ngampus?” tanya penelpon dari seberang sana.
“Masih. Masih ada satu kelas lagi. Ini lagi makan bakso dulu, laper” jawab Adel.
“Aku nggak ganggu acara makan siang kamu, kan?”
“Emang ada apa Er? Kayaknya penting banget”
“Bukan sesuatu yang penting juga sih”
“Seorang Erika, yang udah sebulan menghilang tanpa jejak, tiba – tiba nelpon aku terus tanya, ganggu makan siang apa enggak, kalo nggak penting, apa dong namanya?”
“Nyindir apa ngepasin?”
“Ha ha ha ha”
“Aku cuman mau bilang, makasih” jawab orang yang dipanggil Erika.
“Makasih doang? Makasih buat apa? Perasaan aku nggak ngasih kamu apa – apa deh” tanya Adel bingung.
“Makasih karena kamu udah ngerekomendasiin orang yang hebat banget”
“Maksud kamu, Budi?”
“Yes, absolutely right. Budi”
“Emang dia gimana kerjanya?” tanya Adel penasaran.
“Wah, gokil banget. Seisi pabrik diacak – acak sama dia”
“Maksud kamu?”
“Tempat kerjaku udah kaya pabrik elit. Mentereng banget”
“Kok bisa? Hubungannya sama Budi?”
“Itu, itu, Del. Baru dia yang punya ide gokil kaya gitu. Dan baru dia yang bisa bikin konsep sistematis dan terstruktur gitu. Sampe kepala pabriknya aja, geleng – geleng kepala disodorin konsep dia. Nggak pake nolak, langsung di acc, Del”
“Serius?”
“Iya. sabtu kemarin itu, dirombak total, ruang produksi. Ditata ulang sesuai konsepnya. Hasilnya juga gokil, Del. Tiap hari ada peningkatan. Ibu – ibu yang sukanya kerja sambil ngobrol, abis dibilangin dia, berubah”
“Dibilangin gimana?”
“Nggak tahu, ngomong apa, dia. Yang jelas, baru seminggu aja, speednya udah ningkat tinggi banget. Secara kolektif, udah ningkat tiga puluh persen, del. Baru seminggu, udah surplus tiga puluh persen. Gantian tim marketing yang diudak – udak kepala pabrik, buat cari market baru”
“Ha ha ha, alhamdulillah, ya Alloh”
Adel tak mampu menahan keharuannya. Rasa bangga dan bahagianya membuncah bagai air bah. Seperti sebelumnya, dia tidak bisa menahan tangisnya.
“Kok kamu malah sedih?” tanya Erika. Dia mendengar Adel terisak.
“Aku seneng, Er. Aku terharu denger cerita kamu” jawab Adel dengan tergagap.
“Tumben, seorang Adel sampe nangis. Segitu bangganya kamu sama dia. Udah kaya embakku aja. Denger suaminya dapet kerja, langsung sujud syukur sambil nangis kejer” komentar Erika.
Adel malah nangis makin kenceng. Teringat kembali cerita hanin tentang Budi. Tak hentinya dia mengucapkan syukur kepada Gusti Alloh, kareana telah memberikan kesempatan buat Budi membuktikan kemampuannya.
“MasyaAlloh, beneran sampe nggak bisa ngomong. Aku doain, semoga kalian langgeng, ya”
“Langgeng? Kita belum pacaran, Er”
“Belum?”
“Belum, lah. Kenal juga beru sebulan”
“Oalah. Tapi nggak penting, mau sebulan apa sehari. Kalo udah cocok, nunggu apa lagi?”
“Ha ha ha. Itu yang aku belum tahu”
“Ya udah, aku doaken, semoga kalian berjodoh”
"Amin"
__ADS_1
Erika mengahiri sambungan teleponnya, meninggalkan Adel yang masih berurai air mata. Teringat dia belum sholat dzuhur, dia langsung bangkit menuju mushola. Menunaikan kewajiban, sekaligus memanjatkan rasa syukur atas kabar baik itu.
****
Sore ini Budi sendang bersiap untuk pulang. Dia termasuk belakangan pulangnya sore ini. Itu dia lakukan karena dia harus membuat laporan khusus untuk pak Paul, yang tidak boleh diketahui kedua rekannya.
“Belum pulang Bud?”
Sebuah suara membuyarkan konsentrasinya. Di depan mejanya, sudah berdiri seorang wanita cantik dengan senyum manis menawan.
“Eh, Vani. Belum van, bentar lagi. Tanggung” jawab Budi.
“Lagi bikin laporan ya?”
“Iya. buat pegangan sendiri aja”
“Oh, kerpekan?”
“Kerpekan?”
“Ha ha ha, persiapan kalo ditanya pak Paul”
“Iya. He he” jawab Budi.
“Kamu sendiri belum pulang?” tanya Budi.
“Belum, sengaja pengen ngobrol sama kamu” jawab Stevani. Dia masuk ke dalam kubik PPIC, dan menarik kursinya Aldo untuk duduk.
“Ada yang penting ya? Tumben amat?” tanya Budi menyelidik.
“Enggak, sih. Cuman mau minta nomer hape kamu”
“Loh,iya. kita belum tukeran nomor, ya?”
“Iya. aku malu kalo mau nanya Aldo. Entar dikiranya aku caper”
“He he. Ya udah, nih” kata Budi sambil menyorongkan ponselnya. Segera saja, Vani menyalin nomor ponselnya.
“Bay the way, kau betah nggak, kerja di sini?”
“Betah, lah. Kenapa nggak betah?”
“Kan kamu digangguin mulu sama Dino”
“Lah, kan sering. Aku aja sering liat”
“Lah, itu sih bercanda doang. Biarin aja! Capek, berhenti sendiri” jawab Budi.
Stevani bingung dengan jawaban Budi. Dimaki – maki saja tidak dianggap sebagai gangguan. Yang dia sebut gangguan itu seperti apa? Rasa kagum di hatinya perlahan mulai meninggi.
“Eh, sebelum pulang, kita ke kantin dulu, yuk!” ajak Stevani.
“Mau ngapain?”
“Ngopi lah, bentar” jawab Stevani. Budi berpikir sejenak.
“Aku yang traktir” lanjut Stevani, melihat Budi merenung.
“Bukan itu. Bentar lagi waktunya ibuku nutup lapak” kilah Budi.
“Loh, ibu kamu dagang?”
“Iya”
“Ya udah, bentar aja. Itung – itung, sebagai ucapan terimakasih aku”
“Buat?”
“Kinerjamu. Karena blusukanmu itu, bikin kerja aku terasa lebih enteng. Aku bisa tidur nyenyak. Ha ha ha”
“Oke, deh”
Budi menerima tawaran stevani. Dia berjalan beriringan dengan sosok tinggi semampai itu. Menuju kantin di dekat parkiran.
“Kamu mau kopi apa?” tanya Stevani.
“Kopi item aja” jawab Budi.
Stevani lantas memesan dua cangkir kopi. Dia sendiri memesan kopi cappuccino. Dia duduk di depan Budi. Memamerkan senyum indahnya.
“Ngomong – ngomong, malem minggu ada acara, nggak?” tanya Stevani.
__ADS_1
“Belum tahu, deh. Kenapa emang?”
“Hangout yuk! Nggak stres apa, kerja mulu?”
“Eem, aku mesti tanya ibu dulu deh. Takutnya, ibu butuh dianter ke gudang”
“Malem – malem?”
“Ya. Ikan laut emang nggak terduga, kadang. Apalagi ngepasin dateng bulan gini”
“Dateng bulan?”
“Eeh, terang bulan, maksudku. Purnama” ralat Budi. Dia tertawa menyadari kesalahan ucapnya.
Mereka menikmati kopi yang telah tersuguh di atas meja. Tinggal mereka berdua yang ada di kantin ini. Penjaga kantin juga sebenarnya sudah bersiap – siap untuk pulang.
“Kamu emang luar biasa ya. Nggak malu buat ngakuin jati diri” komentar Stevani.
“Loh, kenapa mesti malu?”
“Biasanya, cowok kan gitu”
“Oh, takut ceweknya pergi, gitu? Karena tahu dia orang miskin? Ha ha ha ha”
“Ya, gitu deh”
Budi tersenyum geli membayangkan apa yang dikatakan Stevani. Dia tidak pernah takut kehilangan wanita. Toh, selama ini, tidak ada yang kabur sekalipun tahu dia bukan orang kaya. Buat Stevani, senyum itu semakin menambah kesempurnaan sosok Budi di matanya.
“Oh, ya. Kamu lagi marahan ya, sama si Rika?” tanya Stevani.
“Erika? Enggak. Emang kenapa?”
“Enggak sih. Keliatannya ada yang berbeda, gitu. Sejak awal kan, dia antusias banget gitu, ngenalin kamu sama berbagai macam hal. Sering kan nanyain kamu seputaran kerjaan. Ya walaupun cuman sekilas – sekilas. Cuman udah berapa hari ini, kayaknya dia nggak nanyain kamu. Nyapa juga, sekedarnya gitu”
“Iya juga, sih. Tapi tadi ngobrol di belakang, biasa aja”
“Belakang mana?”
“Garasi. Mobil dia kan lagi dibenerin, tadi. Kalo aku sih, biasa, patroli. Ketemu deh, di sana. Biasa aja kok”
“Oh, ya bagus deh. Kirain putus”
“Putus?”
“Iya, kamu sama Rika”
“Busyet. Putus itu kalo udah pacaran. Pacaran juga belum, apanya yang putus?”
“Ha ha ha ha” Stevani tertawa lepas. Membuat aura kecantikannya terpancar jelas.
“Van, udah jam empat” kata Budi mengingatkan.
“Oh, udah mau pulang?”
“Iya. udah waktunya ibuku tutup lapak”
“Eh, tunggu. Tadi aku lagi nggak fokus. Maksud kamu, kamu mau bantuin ibu kamu? Dengan seragam ini?” tanya Stevani menyelidik.
“Ya enggak, lah. Ganti baju dulu. Aku ada baju khusus di sana. Seragam ini aku masukin tas”
“Oh, gitu. Pantes. Tiap masuk kan selalu wangi. Penasaran aja, gimana caranya kamu ilangin aroma ikan itu, gitu”
“He he. Makasih ya, traktirannya. Jangan minta balas, ya. Belum gajian”
“Hmpf. Ha ha ha. Jujur amat sih, jadi cowok. Pantesan jomblo”
“Aku nggak bakat PHPin cewek. Emang kamu mau, aku PHPin? Maunya disayang, kan?” kilah Budi.
Mendengar kalimat itu, Stevani terdiam. Terlebih tatapan mata Budi seolah menghujam tepat di sanubarinya. Belum lagi, saat Budi beranjak berdiri, jarak wajah Budi sangat dekat dengan dengan wajahnya. Sampai dengus nafas Budi bisa dia dengar. Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
“Hai” tegur Budi.
“Eh, ya. Gimana?” tanya Stevani tergagap. Budi tersenyum.
“Aku pulang, ya” pamit Budi.
“Oh, ya. Aku juga mau pulang” sahut stevani masih tergagap.
Stevani segera mengambil tas jinjingnya begitu Budi bangkit dari duduknya. Budi menunggunya di tangga kantin. Dan kembali memberikannya tatapan mata yang membuat stevani gugup.
Kamu udah PHPin aku, Bud. Aku pikir, kamu akan cium aku. Ternyata enggak. Bikin orang salting aja. Tatapan matamu itu, tajem, tapi teduh. Apa kamu nggak ngerasa, aku deg – degan begini?
__ADS_1
Stevani hanya bisa membatin di sepanjang perjalanan menuju garasi belakang. Walau Budi menemaninya sampai belakang, tapi tidak ada kata selain ucapan terimakasih, di penghujung perjalanan.