
“Ada apa, bro?” tanya Budi.
“Maaf, bos. Aku diperintahin bu Rouf buat nemenin kamu. Karena kalian masih ngobrol, aku putusin buat stand by di sini. Tapi tenang bos, aku nggak denger apa yang kalian bicarain” jawab si Cobra, diakhiri dengan mengacungkan headset tak tercolok itu.
Dia juga memutar tubuhnya, menunjukkan kalau dia tidak membawa alat komunikasi apapun.
“Oke” komentar Budi singkat.
“Tolong panggilkan yang lain! Kita ngobrol bentar” perintah Budi.
“Siap” jawab si Cobra.
Cobra pergi memanggil teman-temannya, termasuk kang Sukron. Mereka briefing di parkiran depan. Budi memaparkan situasi mereka, dan memaparkan ide dari Erika.
Dia meminta saran dari keempat penjaganya itu. Si Alligator malah tertawa. Membuat Erika menegurnya.
“Kalo cuman SMB sih, nggak usah nyari lagi. Kan kita ada. Kita udah lama nyiapin peralatan yang khusus akan dipakai serigala malam” kata si Alligator menjelaskan tertawanya.
“Maksudnya?” tanya Erika.
“Kamu nggak perlu tahu gimana sejarahnya, Ka. Kamu cuman cukup tahu, kita punya peralatan itu. tinggal kamu bilang, butuhnya apa! SMB, granat, drone, anti material, “
“Anti material?” potong Erika.
“Sniper” jawab Alligator.
“Apa petir masih sama kita?” tanya Budi.
“Ya. Dia sempet nanya, waktu kita mau ke sini”
“Oke. Berapa banyak kawan kita? Siagain semua! SMB minimal empat, granat asap, granat cahaya, senapan serbu, dan rompi peluru pastinya” perintah Budi.
“Lets rock and roll” jawab Alligator.
“Siagain Petir! Merapat pas dibutuhin aja. Kita nggak bisa lama-lama minjem dia”
“Petir kita ada lima, bos” seru si Apache.
“Iya. Bisa kita siagain dua puluh empat jam penuh” sahut si Hind.
“Asal ada gorengan” timpal si Cobra.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Apache, Hind, dan Alligator tertawa mendengar kelakar Cobra. Budi juga ikut tertawa.
“Tapi kita juga butuh remote sensing. Apa kalian punya?” tanya Erika.
“Oh. Pernika, ya? Itu ganjalan kita dari dulu, bos” sahut Hind.
“Kita juga bukan spesialisnya. Kita baru bisa ngacak-ngacak doang. Buat reconaissance, kita butuh si Elint” tambah si Apache.
“Kenapa nggak kita culik si Sephia aja?” celetuk kang Sukron.
Semua mata tertuju padanya. Ide yang terdengar konyol dan membuat keempat serigala malam itu tertawa.
“Kita sama sekali belum pernah kepikiran bakal dapet tugas nyulik orang di penjara polres” komentar Alligator sambil tertawa.
“Tapi itu ide menarik. Penasaran juga, seberapa kuat penjagaan markas polisi kita” sahut Hind.
“Tapi apa paket kita ini sangat berharga?” tanya si Cobra.
“Dia itu otak komputer. Orang paling diandelin si Sandi, kalo lagi nyadap komunikasi lawan. Denger-denger, dia juga yang nemuin posisi dongel, yang jadi sebab masalah ini memanas” jawab kang Sukron.
“But. Can you take her out at the day light?” tanya Erika.
“Whenever you want, bos” jawab Alligator.
__ADS_1
“Oke” seru Budi. Semua mata tertuju padanya.
“Kita siapin peralatan sekarang juga” perintah Budi.
“Dua jam cukup?” tanya Budi.
“Cukup” jawab si Cobra.
“Good. Abis itu, kita jemput si Sephia”
Di sini, Erika sebenarnya mau protes. Dia keberatan dengan ide menculik Sephia. Buatnya, lebih praktis menggunakan jasa orang sewaannya.
Tapi aksinya semalam membuatnya berpikir ulang. Mengingat juga si Budi sedang krisis kepercayaan, dan dia tidak mau bertengkar dengan Budi, dia urungkanlah niat itu.
“Oke” jawab cobra.
“Hind, kontak petir! Bantu juga dia keluarin peralatan!” perintah si Cobra.
“Siap” jawab si Hind. Dia langsung bergerak.
“Gator. Amati polres! Buat beberapa skenario masuk dan keluar!” perintah Cobra lagi.
“Siap” jawab si Alligator. Diapun juga langsung bergerak.
“Siapin lubang kang, di teras galeri! Kita juga perlu forklift buat lifting senapan mesinnya” perintah Budi.
“Oh. Mau di pop up, bos?” sahut kang Sukron.
“Yap”
“Siap, bos”
“Modif juga kamarnya Vani! kita butuh ngadep ke belakang!”
“Lha Vani tidur dimana, bos?”
“Modif aja kamarnya Putri. Ibu pasti mau kok, berbagi sama Vani”
“Telpon aja! Suruh ke sini sekarang juga!”
“Siap” kata kang Sukron menyanggupi perintah Budi.
“Sekalian buatin parit perlindungan! Memanjang ke gerbang kiri, ke belakang menuju hutan. Pentokin sampe tebing! Bikin pertigaan ke arah ujung jalan buntu! Bikinin atepnya juga buat kamuflase!”
“Wah. Butuh alat berat, bos”
“Ada yang bisa didatengin segera?”
“Ada bos. Tapi namanya dadakan, suka main harga”
“Kang Sukron tahu lah, gimana caranya nego” sahut Budi,sambil memainkan ponselnya.
“Aku bekelin segitu dulu ya, kang?” lanjut Budi. Kang Sukron memeriksa ponselnya.
“Siap, bos. Segera berangkat” jawab kang Sukron, mantap.
“Skenario evakuasinya gimana?” tanya si Cobra.
“Ada ide?” sahut Budi.
Cobra mengajak Budi untuk pergi ke belakang, mengamati hutan kecil di belakang sana. Sambil berjalan, si Cobra memaparkan idenya. Budi mendengarkan dengan seksama.
“Apache, bikin jalan di semak itu! Nggak usah bagus, yang penting bisa dilibas mobil. Dan pastinya tidak mencolok”
“Siap”
Apachepun langsung bergerak. Semua orang yang sedang berbincang di dalam bengkel kayu, menatap mereka dengan tatapan bingung. Rasa cemas dan was-was juga tampak di wajah para ibu, terutama bu Ratih.
__ADS_1
“Do” panggil Budi.
“Ya” sahut Aldo.
“Ada tempat yang aman buat Vani?” tanya Budi.
“Ha?”
Aldo menoleh ke arah Stevani, mereka saling memandang dengan tatapan bingung.
“Aku pikir, bersama kalian, adalah tempat yang paling aman, Bud” jawab Aldo.
“Kondisinya lagi nggak baik, Do. Kalo kamu punya tempat yang aman buat Vani, itu akan lebih baik. Tapi kalo kamu masih ngerasa ini tempat paling aman buat Vani, siapin kursi roda! Siapin dua unit!” kata Budi.
“Kursi roda? Dua?” tanya Aldo. Budi mengangguk.
“Oke” kata Aldo menyanggupi permintaan Budi. Walau masih bingung juga, buat apa sampai dua unit. kan Putri masih punya.
“Del. Pindahin mobil ke jalan buntu! Pentokin, ngadep ke belakang! Ikuti arahan si Apache! Dia ada di sana.
“Oke” jawab Adel singkat.
Dia langsung bergerak memenuhi permintaan Budi.
“Bu. Sementara berbagi kamar dulu ya bu, sama Vani?”
“Loh. Kamar sebelah mau buat apa, ngger?” sahut bu Ratih.
“Budi perlu kamar itu. Nanti ibu juga tahu” jawab Budi, diplomatis.
“Ya nggak papa. Masih luas, kok” jawab bu Ratih.
“Menurut kamu gimana, Put?” tanya bu Ratih pada Putri.
“Iya” jawab Putri singkat. Tampak sekali dia masih syok dan sedih.
“Din” panggil Budi pada Madina.
“Ya, mas” sahut Madina.
“Keselamatan bulek, sama mbak Adel, ada sama kamu, ya. Siaga satu, quick respons!”
“Siap, mas” jawab Madina.
“Kang Sukron, apa aku boleh minta tolong sama Fitri?” tanya Budi pada kang Sukron.
“Boleh, bos. Dia ikut, karena emang mau bantuin bu Ratih” jawab kang Sukron.
“Sip. Makasih banyak” sahut Budi.
“Apa tugas Fitri, mas?” Fitri angkat bicara.
“Tolong nempel sama ibu, sama Stevani. Kayaknya Aldo bakal dibutuhin di pabrik”
“Putri gimana?” sahut Fitri.
“Nanti aku akan siapin tim buat ngamanin Putri. Top level untuk saat ini. Tapi sebelum tim itu dateng, tolong bantu jaga dia, ya?”
“Siap, mas”
“Emang situasinya segenting apa, ngger?” tanya bu Ratih.
“Kalo emang genting baget, apa nggak ada tempat lain buat sembunyi?” lanjut bu Ratih.
“Ada sih, bu” jawab Budi.
“Kenapa nggak ke sana aja?”
__ADS_1
“Karena Sandi ternyata baji****” jawab Budi penuh kemarahan. Bu Ratih terkesiap.
“Sandi bukan tipe orang yang sanggup nahan rasa sakit, bu. Budi nggak yakin, dia bakal kuat tutup mulut soal tempat itu. Dan gobloknya Budi, Budi nggak pernah kepikiran kalo Sandi bakal setega ini sama Budi” lanjut Budi.