Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu lusi dirawat, pak fajar dihina


__ADS_3

Hendra berjalan keluar dari kamar kontrakannya. Perutnya mulai merasakan lapar. Sejenak dia menengadahkan kepalanya. Sontak matanya memicing karena sinar matahari sudah menyilaukan mata.


“Mbak, sepi amat?”


Ke rumah makan mbak Ning dia menuju. Yang punya rumah makan tergelak mendengar sapaannya.


“Ya udah tadi, ramenya. Nggak liat apa, jam berapa ini?” jawab mbak Ning.


“He he he. Iya juga, ya”


“Lagian, jam segini baru keluar kamar. Abis ngapain semalem, hayo?” goda mbak Ning.


“Abis ngamanin video kita, mbak” jawab Herman sambil cengengesan.


“Ih, jangan sampe ada yang tahu, lho! Bisa ancur masa depan aku kalo sampe kesebar”


“Ya makanya, diamanin” jawab Hendra.


“Soto ayamnya, mbak” lanjutnya memesan makanan.


“Oke” jawab mbak Ning.


Dia langsung menyiapkan pesanan pelanggan istimewanya. Dia terlihat sangat bersemangat.


“Yang urusan kemarin, udah beres, mbak?” tanya Hendra.


“Udah. Berkat bantuan mas Hendra. Alhamdulillah, kelar juga urusan sama mereka. tinggal urusan sama mas Hendra, deh” jawab mbak Ning.


“Syukurlah. Jangan lagi-lagi deh, tergoda sama rentenir! Bisa kurus, entar”


“He he he. Iya, mas” jawab mbak Ning.


Dia menghidangkan semangkuk soto ayam ke hadapan Hendra.


“Ngomong-ngomong, mas Hendra kerja apa, sih? Kok nggak keliatan kerja dari kemarin?” tanya mbak Ning lagi.


“Oh, aku sih programmer, mbak. Nggak selalu harus ngantor. Dari rumah juga bisa” jawab Hendra. Tangannya sibuk mengaduk-aduk soto bercampur kecap dan sambal.


“Oh, pantesan. Kirain, nungguin lilin. Makanya bangunnya siang”


“Asem. Babi ngepet” komentar Hendra.


“Ha ha ha ha” mbak Ning tertawa.


Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Hendra asyik menikmati makan paginya. Mbak Ning berinisiatif menghidangkan juga segelas teh hangat untuk Hendra. Dan ikut duduk di sebelah hendra.


“Oh iya, mbak, “ kata Hendra di sela mengunyahnya. Tapi ucapannya menggantung.


“Aku kok nggak liat ada CCTV, di kontrakan. Emang nggak ada, ya?” lanjutnya.


“Oh. Emang nggak ada, mas” jawab mbak Ning.


“Loh, terus, gimana bisa mastiin keamanannya, kalo nggak ada CCTV?”


“Itu juga yang dikeluhin beberapa penghuni kontrakan yang pindah. Bilangnya sih mau dikasih, tapi sampe sekarang belum keliatan”


“Waduh. Terus, mobil saya gimana ini? Pager kecil gitu doang, kaya nggak ngeyakinin, mbak”


“Kalo mobilnya mas Hendra sih, biar aku yang jagain. Kamar aku kan di samping gang itu. Pasti tahulah, kalo ada yang ngeluarin mobil”


“Waduh, jadi ngerepotin dong?”


“Ya, nggak papa”


“Emang nggak ada CCTV sama sekali, yang ada di sekitar sini, mbak?”


“Buat apa, sih? Jadi curiga aku?” tanya mbak Ning sambil tersenyum menggoda.


“Hehe” Hendra nyengir sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Aku pengen nginep di rumah mbak Ning” jawab Hendra.


“Apa?” mbak Ning kaget, mendapat jawaban tak terduga itu.


“Lebih seru kayaknya, daripada di hotel”


“Gila kamu” komentar mbak Ning.


Tatapan tajam mbak Ning membuat Hendra jiper.


“Tapi boleh juga” lanjutnya.


“Hem?”


Gantian hendra yang terkejut. Dia tidak menyangka kalau pancingannya dimakan sasarannya.


“Nggak perlu pake CCTV juga kali. Buat apa, sih? Aman kalo sama aku sih, mas”


“Hemm. Aku ada trauma, mbak. Aku pernah kena grebek, terus di arak keliling kampung. Cuman gara-gara nggak tahu kebiasaan warga sekitar, sama nggak hafal mana-mana orang yang suka iseng” jawab Hendra.


Mbak Ning terkesiap. Jawaban Hendra ada benarnya juga. Memang, ada juga yang suka iseng di tempat itu. Terlebih saat tahu kalau dirinya sudah menjanda. Kemungkinan orang itu akan membuat masalah, bisa saja cukup besar.


“Ada sih, di warung kelontong itu” kata mbak Ning. Telunjuknya menunjuk ke salah satu toko di pinggir jalan.


“Beneran? Ngarah ke jalan ini, nggak?” tanya Hendra bersemangat.

__ADS_1


“Iya, yang depan ngadep sini” jawab mbak Ning.


“Mintain kopian rekamannya, mbak! Bisa nggak?”


“Eem. Bisa sih. Tapi kayaknya bakal butuh dana, deh”


“Gampang itu, sih. Buat embak juga ada. Mintain rekaman yang sebulan terakhir!” jawab Hendra.


“Entar coba aku tanyain sama yang jaga tokonya”


“Sip. Ditunggu kabarnya, mbak”


*Bagus. Kalo beneran ada CCTV yang ngarah ke jalan ini, aku bisa mengidentifikasi siapa-siapa yang masuk ke area kontrakan. Termasuk di minggu itu*.


***>>>


Budi mengerahkan segala kemampuannya dalam melajukan motor Adel. Tak peduli tanjakan dan belokan tajam, dia tetap menggeber motor itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Adel hanya bisa memeluk dengan erat, sembari menutup matanya.


Sesampainya di rumah Adel, Budi tampak bingung. Tak ada seseorangpun di halaman depan. Tapi mobilnya pak Fajar masih terparkir di sana. Adel melompat dari motornya dan langsung berlari ke dalam rumah.


“Astaghfirulloh. Ibuuu” pekik Adel.


“Tolongin ibu, mbaaaak!” pinta Madina sambil menangis.


“Siapin mobil Ta!” pinta Budi. Dia mendekat ke bu Lusi.


“Iya” jawab Adel.


Dia berlari ke kamar orang tuanya. Sedangkan Budi, bersiap mengangkat bu Lusi dari lantai beralas karpet itu.


*Ckekekek... breeemmm*


Terdengar suara mobil di start. Budi langsung mengangkat bu Lusi dan berjalan cepat menuju halaman depan. Adel membuka pintu belakang mobil. Madina masuk melalui pintu di seberangnya. Dia memposisikan diri sebagai bantal untuk kepala ibunya. Adel meminta Budi untuk membawa menyetir mobilnya.


Tanpa berdebat, Budi menyanggupi permintaan Adel. Dengan gerakan yang gesit, dia melajukan mobil itu keluar dari halaman rumah Adel. Tak lupa lampu hazard dia nyalakan terus.


“Kita bawa ibu ke mana, Bram?” tanya Adel.


“Ke puskesmas aja dulu. Kan Tata pernah dirawat di sana juga. Ada unit gawat daruratnya juga” jawab Budi.


Adel menyetujui usul Budi. Baginya, waktu lebih berharga daripada status. Tak perlu ke rumah sakit, jika puskesmas saja bisa menangani kondisi darurat seperti ini.


Berkali-kali Budi membunyikan klakson agar mendapat prioritas jalan. Beruntung, hanya hitungan menit, mereka sudah sampai di puskesmas. Langsung saja bu Lusi di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat.


Hanya sampai di depan intu UGD saja mereka bisa mengantarkan. Selebihnya, mereka harus mempercayakan semuanya kepada ahlinya. Adel memeluk Madina yang masih terus menangis. Dia masih ketakutan melihat kondisi ibunya.


Dalam situasi menegangkan itu, Adel berusaha menghubungi bapaknya. Tapi tidak mendapat jawaban. Berulangkali dicoba, tapi tidak juga mendapat jawaban. Budi menyarankannya untuk mengirimkan pesan teks atau suara, agar bisa dibaca, begitu bapaknya selesai dengan urusannya.


***


Di solo, pak Fajar sedang menumpang taksi daring, menuju kantor pak Imam Pratama. Dia datang memenuhi undangan pak imam. Saking pentingnya pak Imam bagi pak Fajar, sampai-sampai dia tiba di kantor pak imam satu jam lebih awal.


“Maaf dengan siapa, pak?” tanya resepsionis itu.


“Saya dengan Eka Fajar” jawab pak Fajar.


“Oh. Baik, pak. Memang pak Imam sedang menunggu dua tamu. Beliau bilang, siapa yang datang duluan, disuruh langsung ke atas”


“Oh, baik. Terimakasih”


“Mari saya, “


*Tut tut tut tut tut*


Ucapan resepsionis itu terpotong oleh suara telepon. Dia melihat ke pesawat telepon di hadapannya, lalu melihat ke arah pak Fajar.


“Nggak papa. Biar saya ke atas sendiri saja” kata pak Fajar mengerti maksud tatapan itu.


“Baik pak, maafkan saya”


“Iya. saya mengerti, kok”


“Dari tangga, pintu pertama sebelah kiri. Itu kantor beliau” kata resepsionis itu memberi tahu letak kantor pak Imam.


“Terimakasih”


Pak Fajar pergi meninggalkan resepsionis itu. Dia berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Tak susah mencari pintu yang dimaksud, karena memang berada persis di depan tangga. Selebihnya, dua pintu lagi letaknya di sebelah kanan.


“Kamu ngertiin papa dong, Ki!”


Sebuah suara kencang mengurungkan niat pak Fajar untuk mengetuk pintu kantor pak imam Pratama. Dia memilih untuk menunggu sampai urusan bapak dan anak itu selesai.


“Kamu tahu sendiri, kan? Serbuan furniture dari cina itu bikin papa kalang kabut. Papa harus ngelakuin segala hal biar perusahaan ini tetep bisa maju. Jangan sampe jalan di tempat, apalagi mundur”


Lanjutan suara itu cukup mampu untuk menahan pak Fajar, yang tadinya ingin duduk di kursi tunggu. Dia merubah niatnya. Percakapan di dalam sana lebih menarik untuk disimak.


“Papa kan nggak minta kamu panas-panasan cari market di luaran sana. Papa cuman minta kamu ngelakuin hal yang nantinya juga enak buat kamu” lanjut pak Imam.


“Tapi pa, “ suara Luki gantian menggema.


“Apa sih nggak enaknya kawin sama Sofia?” potong pak imam.


*JEDEEERRR*


Bagai tersambar petir di siang bolong. Kalimat itu tak pelak membuat pak Fajar sangat terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia berharap telinganya salah mendengar.

__ADS_1


“Luki cintanya sama Adel, pa. Papa harus ngertiin Luki, dong!”


Sanggahan Luki itu masih mampu membuat pak Fajar tersenyum.


“Cinta? Cinta apa?” tanya pak Imam.


Senyum pak Fajar kembali menghilang. Pertanyaan pak Imam itu, terasa seperti penghinaan baginya.


“Ya cinta Luki, pa. Luki belum pernah jatuh cinta sebesar cinta Luki ke Adel, pa”


“Apa dia juga cinta sama kamu? Apa dia menerima kamu, ha?”


“Ya kan papa sendiri yang nyuruh Luki sabar. Papa juga kan, yang nyuruh Luki buat nunjukin Value Luki, biar Adel liat sendiri, apa Luki pantas apa enggak?”


“Ya terus mau sampai kapan, Luki? Apa masih kurang cukup perhatian kamu selama dia sakit?”


“Namanya juga mutiara, pa. Nggak mungkin dipancing dari permukaan. Ya harus nyelem dulu”


“Bah, mutiara? Mutiara itu kalo kita panen, bisa ngasih value buat kita. Nah value dia apa? Saat dia butuh bantuan, kamu bisa ngasih segalanya. Kamu kasih dokter terbaik di jogja, kamu jenguk dia sehari dua kali. Kalo misalkan sekarang juga kamu papa kawinin sama dia, bisa ngasih apa dia sama papa? Bapaknya dia aja nodong papa terus”


*Astaga*.


Bagai dipanah jarak dekat, dada pak Fajar terasa sakit mendengar kalimat yang terakhir.


“Mentang-mentang berjasa comblangin papa sama mama, dikasih order banyak, minta lagi. Di kasih, minta lagi”


“Kan emang berkualitas, pa?"


“Tapi kamu tahu nggak, gimana stressnya papa ngejualin barang-barang buatan dia? Puyeng, papa. Nggak ada untungnya”


Semakin bertambah sakit di hati pak Fajar. Sama sekali dia tidak menduga, kalau seperti ini aslinya sahabatnya.


“Value, Value. Value apanya, kaya gitu? Enak banget, dia. Kantong sampah aja, lagaknya pengen dipajang di butik mewah”


“Pa!” tegur Luki.


Tangan pak Fajar terkepal saking menahan amarah.


“Udah, nggak usah mbantah. Kamu itu terhormat dari lahir. Pantasnya juga bersanding sama yang terhormat. Kamu kawin sama dia, turun derajatmu”


“Pa!” tegur Luki lagi.


“Beda kalo kamu kawin sama Sofia. Makin tinggi lagi kehormatanmu” lanjut pak Imam.


“Astaga, papa”


“Jangankan bengkel kecil kaya gitu. Perusahaan bonafit juga kamu tinggal pegang”


“Ya tapi kan nggak gitu juga, Pa”


“Nggak usah mbantah!” tegas pak Imam.


“Mulai dari sekarang, kamu atur skenario buat mundur halus dari gadis itu!”


“Tapi, pa”


“Nggak ada tapi-tapian. Lakukan apa yang papa perintahkan!”


Tak ada lagi suara setelah kalimat terakhir itu. dengan hati panas, pak Fajar memutuskan untuk pergi dari depan kantor itu. Dia kembali ke meja resepsionis.


“Loh, sudah pak, meetingnya?” tanya resepsionis itu.


“Belum jadi” jawab pak Fajar sambil berusaha tersenyum.


“Tadi pak Imam masih diskusi sama putranya. Saya pikir bakalan lama. Saya keluar dulu aja” lanjutnya.


“Oh. Baik. kalau mau menunggu, kami persilakan pak” kata resepsionis itu, sambil menunjukkan kubik tempat tamu menunggu.


“Terimakasih. Saya mau ke satu tempat dulu” jawab pak Fajar.


“Oh, baik. silakan, pak”


“Eh tapi, kalau pak Imam bertanya, bilang saya belum datang, ya! saya takut dia merasa sungkan sama saya”


“Oh. Baik, pak. Saya akan lakukan pesan bapak”


“Terimakasih”


“Sama-sama”


Pak Fajarpun meninggalkan kantor itu dengan pikiran tak fokus. Dia masih belum percaya, sahabatnya yang dulu sering dia tolong, bisa menghinanya sedemikian jeleknya.


Padahal dari dulu kan, mereka terbiasa terbuka. Kalau ada yang tidak cocok, ya langsung bilang apa adanya saja. sekalipun kejujuran itu membuat mereka bertengkar. Tapi itu hanya sebentar. Dan mereka saling menyukai cara itu.


Pak Fajar masih belum percaya, kalau kebaikan pak Imam belakangan ini, hanyalah topeng yang menutupi kebusukan hatinya. Pak Fajar berjalan tak tentu tujuan. Yang pasti, dia sudah tidak sudi lagi menginjakkan kakinya di kantor itu. dia mengambil ponselnya.


“Dina, Putri?”


Dia tersentak, saat melihat ada banyak sekali panggilan dari Madina dan Putri. Dia mencoba membuka aplikasi pesan singkat.


*Pak, ibu masuk UGD, di puskesmas dulu Adel di rawat, pak. Kalo udah kelar meetingnya, buruan pulang pak*!


“Astaga ibu” gumamnya.


Serta merta pikiran pak Fajar bertambah kacau. Sempat dia tak mengerti harus berbuat apa. Perlu beberapa saat untuk bisa menguasai keadaan.

__ADS_1


Saat dia melihat ada sebuah mobil dengan logo taksi daring, dia serta merta menghentikannya. Untungnya saja taksi itu kosong penumpang. Dia mencoba bernegosiasi dengan sopir mobil itu. Dengan harga yang disepakati, sopir itu mau mengantarkannya pulang meski tanpa melalui aplikasi.


***


__ADS_2