
Huru – hara kemarin masih belum selesai. Budenya Budi masih belum terima dengan keputusan suaminya, mencabut berkas laporannya. Dia kembali memasukkan berkas laporan atas tuduhan penganiayaan. Tapi di kantor polisi, bu Kusno malah mendapat surat penahanan atas nama anaknya. Atas kasus teror yang dirancang dan dilakukan anaknya bersama orang – orang yang sudah lebih dulu ditahan.
Budi dipanggil sebagai saksi. Dia dimintai keterangan tentang kronologi peneroran dengan kotoran binatang dan manusia kemarin. Sempat terjadi kehebohan di kantor polsek,karena bu Kusno marah – marah dan berteriak – teriak, memaki – maki Budi. Tapi Budi hanya diam dan tersenyum saja. Karena yang budenya sasar hanyalah dia, bukan ibunya.
Bu kusno masih tetap bersikeras untuk memasukkan berkas laporannya atas kasus penganiayaan yang menimpa anaknya. Berkas itu diterima polisi. Tapi polisi itu juga bilang, kalau anaknya juga harus ditahan untuk menjalani pemeriksaan. Walau menolak, bu Kusno tidak bisa berbuat banyak, saat anaknya di bawa menuju sel tahanan.
Hampir saja bu Kusno menonjok bu Ratih. Untung Budi sigap melindungi ibunya itu. Jadilah dia yang terkena tinju bu Kusno. Tinju yang telak mengena pipi kirinya itu, tak serta merta bisa membuat kepala Budi berpaling ke kanan. Kepala Budi masih tetap tegak memandang peninjunya, tanpa bergeming sedikitpun. Seolah pukulan itu adalah pukulan anak balita.
Bu Kusno terkejut melihat tonjokannya tak memberikan pengaruh pada keponakannya itu. Untuk beberapa saat, dia dihinggapi rasa takut. Karena membayangkan, seperti apa jadinya kalau Budi sampai membalas tonjokannya. Anaknya saja, yang posturnya sepantar dengan Budi, bisa mental sampai masuk rumah sakit, apalagi dirinya. Dia mundur dan keluar dari kantor polisi.
Saat pulang ke rumah, ternyata di depan rumahnya telah berkumpul banyak orang. Terutama sekali tiga wanita yang suaminya sedang ditahan. Juga orang tua dari teman – teman Adi.
Baru juga sampai halaman rumah, mereka langsung membuat kehebohan dengan menghambur ke arah budi. Mereka memohon agar suami – suami mereka dibebaskan dari tuntutan. Para orang tua dari teman – teman Adi juga begitu. Mereka memohon maaf atas kelakuan anak mereka yang kurang ajar. Seperti kompakan, mereka mengatakan kalau anak – anak mereka sampai berani melakukan hal itu karena tepengaruh oleh anaknya bu Kusno.
“Sebentar, bapak – bapak, ibu – ibu. Kita bicara di teras, ya. Nuwun sewu, saya tak turun dulu dari motor” kata bu Ratih menanggapi rengekan mereka.
Dengan inisiatif bapak – bapak, mereka memberikan kesempatan buat bu Ratih dan Budi untuk turun dari motor.
“Mongo, silakan” kata Bu Ratih.
Mereka kembali mengutarakan maksud mereka datang ke rumah ini. Mereka meminta bu Ratih untuk mau diajak musyawarah secara kekeluargaan. Terutama orang tua dari teman – teman Adi. Mereka terus mengatakan kalau anak – anak mereka terpengaruh oleh kelakuan si Adi.
“Kan yang menjadi korban itu, Budi. Saya tidak punya wewenang” jawab bu Ratih.
“Bud, tolong bud. Anakku cuman ikut – ikutan aja, Bud. Tolong Bud” rengek salah satu ibu di depan Budi.
Di dalam hati, Budi merasa miris. Betapa tulusnya para orang tua ini memperjuangkan anak – anak mereka. sayangnya anak – anak mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah. Seumuran itu harusnya sudah berpikir untuk membalas jasa. Ini malah menyusahkan orang tua.
“Bud, tolong, Bud” rengek ibu yang lain.
“Kasus mereka itu, bukanlah kasus yang ditangani setelah ada pengaduan. Melainkan temuan polisi, setelah menyelidiki laporan pengaduan tentang penganiayaan. Sama aja kaya kasus perjudian, prostitusi, dan semacamnya. Kalau polisi yang memulai penyelidikannya, ya nggak ada yang bisa menghentikan kasus itu selain polisi itu sendiri” jawab Budi.
“Ha? Masa sih Bud?” tanya ibu – ibu, teman sekelompok bu Kusno.
“Ya, yang Budi denger sih gitu, tadi.” Jawab Budi.
“Tolong dong, Bud. Kamu kan putranya pak Rouf” rengek ibu – ibu yang ada di depan Budi. Budi tampaknya tahu apa masud ibu – ibu itu.
“Kalau memang pertemanan bisa menerobos hukum, dulu saya tidak akan bermalam di sana, bu” jawab Budi.
“Tolonglah, bud” kata suami ibu – ibu itu.
“Kalau memang ada pilihan untuk diselesaikan secara kekeluargaan, saya bersedia kok berdiskusi dengan bapak – bapak dan ibu – ibu”
“Beneran, Bud?” tanya ibu – ibu itu menegaskan.
“Pengennya sih enggak” jawab Budi.
__ADS_1
“Ha?”
“Tapi saya nggak tega melihat ibu memelas begini”
“Beneran ya, Bud. Kita selesaikan secara kekeluargaan ya, Bud?”
“Iya, bu” jawab Budi sambil tersenyum.
Mendengar jawaban itu, ibu – ibu itu langsung menyalami Budi. Bahkan hendak mencium tangan Budi. Tapi Budi menolak. Secara, kan terbalik, kalau orang tua malah mencium tangannya yang jauh lebih muda.
Barulah dengan dengan bu Ratih, ibu – ibu bersalaman sambil mencium tangan Bu Ratih. Semua ibu – ibu ikut – ikutan cium tangan saat pamit. Sedangkan bapak – bapaknya, pastinya hanya salam biasa saja.
Bu ratih mengajak Budi masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, bu Ratih langsung memeluk tubuh anak lelakinya itu. Tangisnya pecah di pundak Budi. Budi bingung, mengapa ibunya menangis. Bu ratih bilang, dia miris melihat ibu – ibu itu sampai memelas kepada Budi, hanya demi mencegah anaknya ditahan di sel tahanan. Bu ratih juga bilang, kalau dia bangga punya anak yang bisa menjaga martabatnya.
*****
Siang, setelah dzuhur bu Ratih mengajak Budi untuk pergi ke pasar. Dia merasa tidak enak pada teman sesama pedangang ikan, yang kemarin dia tinggali dagangannya begitu saja. Bahkan tanpa memasrahkannya terlebih dahulu.
Tapi tiba – tiba, ada seorang petugas kepolisian dari polsek yang datang ke rumah. Dua orang polisi wanita yang tampak masih muda. Mereka memberitahukan kalau bu Ratih dan Budi dipanggil ke kantor untuk penanganan kasus. Bu Ratih mengiyakan. Bersama Budi, mereka mengendarai motor, dikawal kedua polisi wanita yang juga mengendarai motor.
Sesampainya di kantor polisi, bu Ratih terkejut melihat banyak orang sudah berkumpul. Mereka adalah mereka yang tadi berkumpul di rumahnya. Terdengar suara orang mengumpat dari ruang dalam. Ternyata bu Kusno juga ada di situ.
Menurut keterangan polisi, Adi sudah ditetapkan sebagai tersangka provokasi dan aktor intelektual dari kasus teror pelemparan kotoran. Termasuk juga dengan ketiga kuli yang dipecat pak Kusno.
Hadir juga dua kuli baru yang menggantikan ketiga kuli yang dipecat itu. Ternyata, dari pagi tadi, sudah ada diskusi mendalam mengenai opsi penyelesaian secara kekeluargaan. Terutama bagi teman – teman Adi yang tidak ikut melakukan aksi teror.
“Berarti, mas Budi bersedia jika kasus ini ditutup?” tanya salah seorang ibu.
“Mengenai hukum, itu berbeda bu” jawab Budi.
“Maksudnya?”
“Kalau bapak – ibu mau menerima syarat dari saya, ya saya mau menutup kasus ini”
“Apa syaratnya, Bud?” tanya ibu – ibu yang lain.
“Jangan deket – deket dan berkomunikasi dengan Adi lagi. Minimal setahun” jawab Budi.
“BOCAH BANG***. SOMBONG BANGET KAMU HAAA”
Terdengar teriakan dari ruangan di dekat sel tahanan. Suara itu terdengar mendekat, tapi menjauh lagi. Ya, bu Kusno memang hendak masuk ruangan musyawarah ini. Tapi ditahan petugas yang berjaga.
“Kalo sampe saya lihat, dan saya bisa videoin mereka, saya bisa buka kembali kasus ini” lanjut Budi.
“Setuju” seru salah seorang ibu.
“Ya, saya juga setuju” sahut ibu – ibu di sebelahnya.
__ADS_1
Semua sepakat dengan syarat yang diajukan Budi. Syarat tadi ditulis oleh petugas notulen. Dan bisa dibilang, kasus ini akan resmi di tutup setelah ada tanda tangan mereka di atas materai. Perjanjian yang memberikan keuntungan strategis bagi Budi.
“Terus, kita gimana, Bud?” tanya salah seorang ibu – ibu, yang suaminya ditahan.
“Apakah mereka bertiga juga termasuk dalam pembahasan ini?” tanya Budi pada petugas yang memimpin musyawarah ini.
“Kalau mereka bertiga, sebenarnya tidak. Tapi karena kedua korban sudah memberikan maaf, selebihnya, tinggal keputusanmu” jawab pak polisi.
Budi memandang ibunya. Tatapannya menyiratkan kalau dia meminta pertimbangan. Dia juga melihat ke arah anak kecil yang masih balita, yang digendong si ibu yang suaminya di tahan.
“Saya juga mengajukan syarat” jawab Budi.
“Apa syaratnya, Bud?” tanya ibu – ibu itu.
“Jangan pernah lagi, ibu bertiga, beserta suami, menggunjingkan, apalagi menghina ibu saya” jawab Budi.
“Itu saja, Bud?” tanya salah satu dari mereka.
“Jangan pernah dekat – dekat lagi dengan bude Kusno dan gengnya. Tegur sapa seperlunya saja” jawab Budi.
“Tapi, Bud?” tanya ibu – ibu yang satunya.
“Aku setuju, Bud. Kami insyaf Bud. Mereka semua saksinya” sahut ibu yang pinggir kiri.
“Aku juga, Bud. Sejelek – jeleknya sifat suamiku, dari nafkahnya juga aku bisa makan. Aku isyaf, Bud” sahut ibu yang tengah.
“OH, KALIAN GITU YA, MAU NINGGALIN ANAKKU SENDIRIAN, HA? OKE. AWAS AJA KALIAN YA. NGGAK KUBIARKAN KALIAN HIDUP NYAMAN. INGAT ITU BAJ*****!” teriak bu kusno dari ruang dalam.
“Itu yang aku takutin, Bud. Tapi, ya sudahlah. Toh aku juga nggak dapet apa – apa dari bu Kusno” kata ibu – ibu yang paling kanan.
Dia adalah ibu – ibu yang tidak suka, saat Budi terlihat akrab dengan anak perempuannya. Dan anaknya sedang berdiri di sebelahnya.
“Baik, kesepakatan telah tercapai. Walau begitu, kesemua tersangka tetap terkena sangsi wajib lapor, selama enam bulan ke depan. Setiap pagi pukul delapan” kata pak polisi.
Tidak ada yang menyahut pernyataan itu. Hanya raut wajah terkejut saja yang mereka tampakkan. Hukuman yang cukup memalukan. Setiap hari harus lapor, selama enam bulan penuh. Pasti akan banyak cibiran. Tapi pastinya itu akan lebih mudah, daripada harus menjalani kurungan.
Tak lama kemudian, hasil musyawarah itu sudah tercetak dalam dua lembar kertas. Dan selembar lagi berisi nama – nama orang yang menyetujui isi dari hasil musyawarah itu. Dengan kesepakatan itu, bebaslah sudah mereka yang saat ini terkurung di balik jeruji besi. Tak terkecuali juga dengan Adi. Bu Kusno terpaksa tanda tangan, walau disertai sumpah serapah.
Para ibu – ibu itu langsung menyalami Budi dan bu Ratih. Ketiga ibu – ibu yang suaminya ditahan tadi, tidak hanya menyalami, mereka juga bergantian meminta maaf pada Bu Ratih. Termasuk para suaminya. Walau mereka terlihat gengsi, tapi mereka mereka meminta maaf juga sambil menunduk.
Ancaman hukuman enam bulan kurungan, cukup ampuh membuat mereka syok. Itu dikatakan, baru dari satu pasal. Sedangkan mereka terjerat beberapa pasal sekaligus. Bisa setahun lebih, mendekam di penjara.
Apapun yang menjadi sebabnya, yang pasti Budi lega. Pada akhirnya mereka bisa sadar dan insyaf. Semoga mereka istikomah dalam tobatnya.
Walau penat di badan, tapi bu Ratih tetap mengajak Budi ke pasar tempatnya berjualan. Beliau masih belum tenang sebelum bertemu teman – temannya dan mengucapkan permintaan maaf. Ya sudah, Budi mengikuti saja apa yang dimau oleh ibunya.
Sesampainya di pasar, ternyata Putri juga ada di sana. Ternyata dia sudah pulang dari sekolahnya. Langsung saja bu Ratih dikerubuti teman – teman sesama pedangang. Mereka menanyakan perihal kejadian kemarin. Dengan sabar, bu Ratih menceritakan kronologis kejadian, seperti yang diceritakan semalam.
__ADS_1
Walau sudah mendengar cerita itu semalam, tapi Putri masih baper saat mendegar cerita itu lagi. Sambil berdiri, dia memeluk kakak laki – lakinya itu. Dia menangis terisak di dada Budi. Dia terharu dan bangga, punya kakak laki – laki yang bisa menggantikan bapaknya, menjadi pelindung ibu dan dirinya.