
Erika yang tadi juga terpana dengan kejatuhan heli serbu itu, tersentak. Setelah tahu yang bertanya itu kekasihnya, Erika sontak memeluknya. Budi bingung dengan sikap Erika. Entah takut atau apa yang sedang dirasakannya.
“Masih ada yang harus kita basmi, sayang”
*BEEEERRRRRRRTTTT*
“Astaga”
Mereka terkejut mendengar suara tembakan semacam senapan mesin.
“Pukul sembilan, Hind!”
Terdengar suara si Cobra dari handy talky.
*BEEEERRRRRRRTTTT*
Pahamlah mereka sekarang, siapa yang menembak dengan senapan mesin.
“Kita belum nemuin snipernya, mas” kata Erika.
“Terakhir ngincer aku, dia ada di tepi jurang arah ke pantai. Kiri jalan dari depan galeri”
Suara si Petir terdengar memberikan info.
“Tinggal berapa, mereka?” tanya Budi.
“Harusnya tinggal dua. Sniper sama benteng” jawab si Petir.
Benteng adalah sebutan bagi personil yang membawa sub machine gun. Personil inilah yang ditugasi untuk melawan perkubuan atau kendaraan tempur lawan.
“Ayo, Ka!” ajak Budi.
“Jangan, Bud! Biar kita aja” seru si Cobra.
Tapi Erika tidak mengindahkan larangan itu. Dia terus melaju melewati semak-semak di timurnya jalan buntu. Dia menyisir jalan menuju pantai. Dimana sudah banyak orang yang mengintip dari balik bangunan resort.
*BEEEERRRRRRRTTTT*
“AWWW”
*CIIIIITTT*
“BENTENG BENTENG BENTENG” seru Budi.
*Nguuuuuung*
“BENTENG DI JURANG, BENTENG DI JURANG” lanjut Budi.
Erika terkejut diberondong dari samping kiri. Reflek dia banting setir ke kanan, masuk ke ujung timur hutan kecil.
“Mas. Nggak papa?” seru Erika.
“Enggak” seru Budi juga.
Dia berseru karena Budi pindah ke belakang, mengintai penembak sub machine gun tadi.
*BEEEERRRRRRRTTTT*
*BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK*
“AWW”
Si ‘benteng’ musuh masih menembaki mereka dan masih bisa mengenai.
“PETIIIR!”
*PRAAAKK*
“AAAAA”
Terdengar suara seperti kembang api. Lalu terdengar lirih teriakan seseorang. Dan tembakan gencar tadipun berhenti. Erika melihat ke belakang melalui sepion kanannya. Tapi dia tidak mengurangi laju mobilnya.
“MAAASSSS”
Tiba-tiba Erika berteriak.
*TAAAKKK*
Kaca depan mobil seperti ada yang menimpuk dengan batu. Dan seketika tangan Erika menggelepar terlepas dari kemudi mobil.
“ERIKAAA”
__ADS_1
*CIIIIIIIT*
Tanpa sadar, Erika menginjak rem.
*WUUUSSS*
Mobilnyapun oleng ke kiri.
*BRAAAKKK*
Sisi kiri mobil itu menabrak pohon.
“AAA” Budi terlempar ke depan.
*BRAK DUG BRAK BRAK BRAK DUG DUG BRAAK.... BRAKKK*
Mobil yang mereka kendarai berguling-guling tak karuan. Terlebih, di jalan buntu, konturnya menurun menuju gerbang depan.
BRAK DUG BRAK BRAK BRAK DUG DUG BRAAK.... BRAKKK
“ERIKAAA”
“BOS BUDIII”
Lamat-lamat Budi masih mendengar suara berteriak di telinganya. Tapi kesadarannya mulai terenggut. Pandangan matanya mulai kabur, kabur, kabur, dan gelap sama sekali.
***
Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri, Budi tidak tahu. Masih dalam keadaan mata terpejam, Budi merasakan ada cahaya menyilaukan yang seperti hendak menerobos barikade kelopak matanya. Semilirnya angin terasa sejuk baginya.
“Bud, Budi”
Lamat-lamat Budi mendengar seperti ada yang memanggilnya.
“Ngger, cah bagus. Ngapain kamu di sini?”
Suara itu, Budi seperti kenal. Suara itu tidak asing baginya. Tapi masih terlalu jauh baginya untuk dia gapai. Tak terlihat juga keberadaannya.
“Bud. Bangun, Ngger!”
Budi merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, Budi kembali membuka matanya.
Sebuah siluet langsung tertangkap matanya. Tak langsung jelas siapa yang ada di dekatnya itu. Cahaya dari langit itu cukup menyilaukan, sehingga wajah orang itu justru terlihat gelap.
Suara itu, membuat Budi terus memperhatikan wajah orang itu. Sambil berusaha bangun, Budi berusaha mengenali wajah itu.
Butuh beberapa saat untuk Budi menyesuaikan matanya. siluet itu perlahan memudar, berganti dengan wajah yang sangat dia kenal.
“Bapak?” serunya seraya salim.
“Iya. Ini bapak. Kamu ngapain sampe di sini?”
Budi bingung ditanya begitu. Seingatnya kan, bapaknya telah meninggal. Bagaimana bisa bertemu?
Langsung saja dia edarkan pandangannya, menyapu ke seluruh penjuru. Tampak sangat asing baginya. Dan sangat berbeda dengan tempat dimanapun yang pernah dia singgahi.
“Taman?” gumamnya.
Budi mengenali salah satu sudut tempat itu. Taman. Lahan yang luas dan ditumbuhi beraneka ragam bunga yang harum dan memanjakan mata itu, pernah dia jumpai, saat dia galau ditinggal Adel menikah.
Di tempat itulah dia bertemu almarhum bapaknya. Saat itu hatinya terasa lega sekali. Tidak penat seperti sebelumnya. Tapi ternyata itu hanya sesaat.
“Apa, apa Budi akan ikut bapak selamanya, pak?” tanya Budi.
“Hem?"
Pak Rouf tersenyum mendengar pertanyaan putranya. Senyum yang sudah lama tidak Budi lihat.
“Ngomong apa kamu ini?” tanya pak Rouf sambil tertawa.
“Ya kan Budi ada di sini lagi, pak” sahut Budi.
Pak Rouf menatapnya dengan lekat. Seolah berusaha membaca isi hati Budi. Karena aneh menurutnya, Budi lebih senang di tempatnya daripada di dunia. Ekspresi wajah penuh tanya Budi, membuat pak Rouf tergelak.
“Ha ha ha. Setiap manusia, sudah disediakan tempat tersendiri, berdasarkan amal dan perbuatannya. Nggak ada ceritanya barengan. Kalo emang bisa barengan, pasti kamu udah liat ada orang lain di sini” kata pak Rouf.
“Ya. Gita Shella Syarifah” kata Budi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tersenyum menggoda bapaknya.
“Ho hooo. Kamu udah tahu, rupanya. Udah kamu buka kotak dari bapak, hem?” sahut pak Rouf. Sambil meninju lengan Budi. Budi tersenyum lebar.
“Buka? Gimana bukanya, pak? Orang udah Budi buang” kilah Budi.
“Yang bener?” goda pak Rouf. Senyumnya terkesan meledek. Membuat Budi merasa tersindir.
__ADS_1
“Ya bener” jawab Budi, masih berpura-pura.
“Ha ha ha ha. Kamu pikir, kamu bisa boongin bapak? Orang kamu umpetin, juga”
Budi terkesiap mendengar ucapan bapaknya. Dalam hati dia tertawa sekaligus mengumpat. Punya bapak seorang intel memang tidak bisa dibohongi.
“Kok bapak bisa tahu? Siapa yang bilangin? Mas Fian? Apa pakde Baskoro?” tanya Budi.
“Nah, kan. Ngaku juga akhirnya. Ha ha ha ha. Diumpetin di Sidodadi, ya?” sahut pak Rouf sambil tertawa.
“Ah, bapak. Ngadalin Budi ini sih, namanya” protes Budi.
“Ha ha ha ha. Kok ngadalin. Nggak ngadalin, lah”
“Ya terus? Masa ilmunya ditimpain ke anak sendiri? Hadeeeh” protes Budi lagi.
“Ha ha ha ha”
Pak Roufpun tertawa lagi. Sampai beberapa saat lamanya, pak Rouf masih tertawa menanggapi ekspresi kesal putranya.
Lama-lama Budi tertawa juga. Dan kekesalannya dia ekspresikan dengan meninju pelan lengan bapaknya. Jadilah mereka tinju-tinjuan.
“Jadi, apa yang kamu simpulkan, ngger?” tanya pak Rouf, setelah beberapa saat saling terdiam.
“Apanya pak?” Budi ganti bertanya, karena tidak paham.
“Udah kamu buka, kan?”
“Belum, pak” jawab Budi.
“Lah. Terus, tahu dari mana?” tanya pak Rouf bingung.
“Dari Nungki. Yang dibilang oneng, sama ibu”
“Hempf. Oh. Ha ha ha ha. Iya iya iya. Kamu balikan sama dia?”
“Enggak. Cuman akhir-akhir ini emang sering ketemu sih, pak. Ternyata dia polisi. Sama kaya bapak”
“Kata siapa bapak polisi?”
“Masih nggak ngaku juga. Bilangin ibu nih, bapak banyak ceweknya”
“Hempf. Ha ha ha ha. Banyak ceweknya. Emang ibumu suka cemburu sih, kalo soal cewek. Tapi bukan bapak juga yang deket-deket. Ceweknya yang deket-deket bapak”
“Sombong” komentar Budi.
“Ha ha ha ha”
Pak Rouf tertawa lagi. Saking gelinya dengan komentar Budi, sampai-sampai dia meninju lengan putranya itu.
“Bapak nggak nanya, gimana Nungki bisa tahu tentang bapak?” tanya Budi.
“Udah tahu” jawab pak Rouf singkat.
Budi mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan jawaban singkat itu.
“Si Satria pernah ngirim surat sama bapak” jawab pak Rouf.
“Rambut pirang?”
“Iya, bule” jawab pak Rouf.
Budi tertegun. Dia merasa takjub, setelah mengetahui jati diri bapaknya. Ingin dia pamer, tapi sudah almarhum. Pasti bakal dibilang halu. Membayangkannya membuat Budi tersenyum sendiri.
“Cengar-cengir sendiri. Mikirin apa?”
“Bapak itu, lho. Kenapa nggak dari dulu bilang, kalo bapak itu jagoan. Kan Budi bisa pamer. Kalo baru sekarang pamernya, auto bakal dibilang halu, deh. Apa stress” jawab Budi.
“Hempf. Ha ha ha ha ha” pak Rouf tertawa lepas lagi.
“Justru, jadi jagoan itu berat, ngger. Enakan kamu. Pengen berantem tinggal berantem. Kalo kalah, ya udah, berantemnya kelar saat itu. Kamu menang, ya kelar saat itu juga. Paling kalo belum puas, nantangin lagi” kata pak Rouf. Budi tergelak.
“Kalo kamu di posisi bapak, kamu pasti akan mikir ratusan kali, sekalipun cuman buat nonjok satu orang, ngger”
“Ya. Manfaatin keluarga. Budi juga benci kalo kaya gitu” sahut Budi.
“Itu dia. Bapak nggak mau kehilangan lagi. Ibarat orang jalan, kaki bapak ini tinggal satu. Bapak nggak pengen kehilangan satu-satunya kaki yang tersisa. Sakit banget tahu nggak, sih?” komentar pak Rouf. Budi mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu udah pernah kehilangan, kamu tahukan apa yang bapak maksud?” tanya pak Rouf.
“Ya. Without the fight” jawab Budi.
Pak Rouf tersenyum. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Budi menatap lurus ke depan. pikirannya mengawang jauh ke angkasa.
__ADS_1
“Terus. Kamu kenapa bisa sampe sini?” pak Rouf mengulangi pertanyaannya tadi.