Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kenyataan


__ADS_3

“Mereka mendekat ke depan, bos” lapor Sephia lagi.


“Five seconds” lanjutnya.


“JANGAN BERGERAK!”


DAAARRR


“AAAAA”


“ERIKAA” teriak Budi.


Erika mental ke belakang, sampai guling-guling di teras galeri. Sebutir peluru menyasar tepat di dada kirinya.


Ternyata salah seorang dari penembak itu, mengarahkan senjatanya lagi ke dada Erika. gerakannya sangat cepat.


PRAAAAAKK


Syuut jreebbb


“AAAAA”


Tiba-tiba, muncul seperti sebuah kembang api yang meledak di sebelah para pemotor itu. Dan sesaat kemudian, serpihan kembang api itu menyasar para pemotor itu. Membuat mereka berteriak kesakitan. Berapa diantara mereka bahkan langsung tak bergerak, begitu serpihan berpijar tadi mengena tepat di kepala mereka.


“Astaga” gumam Handono.


Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia yakin kembang api itu adalah senjata. Hanya dengan sebutir peluru, enam belas orang langsung terkapar tanpa perlawanan.


“Aku nggak papa, mas” kata Erika, setelah menghela nafas berat. Budi membantunya bangun.


Dadanya masih terasa sakit, setelah diterjang peluru. Perlu beberapa kali tarikan nafas, untuk bisa melegakan dadanya. Beruntung, rompi anti pelurunya masih sanggup menahan tembakan jarak dekat tadi.


“Ho ho. Apa kabar Handono?”


Sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya. Mereka menoleh ke arah depan.


“Hempf”


Handono tergelak melihat kedatangan Nungki. Budi jadi berpikir keras, menafsirkan arti tawa si Handono. Dia mengajak Erika untuk mendekat.


“Berani juga, kamu” komentar Handono.


“Kamu yang terlalu berani, Handono. Ngusik keluarga Abdul Rouf” sahut Nungki. Budi mengernyitkan keningnya.


“Soal dendam, hem? Segitu kesumatnya, dendam kamu?” lanjut Nungki.


“Ha ha ha ha. Bocah. Kamu pikir kamu bisa lepas dari Fathoni?” sahut Handono sambil tertawa.


Budi terkejut mendengar nama Fathoni disebut Handono.


“Kamu nggak akan bisa lari, Salma. Fathoni akan dapetin kamu lagi” lanjut Handono.


Kalau Fathoni adalah bagian dari mereka, lalu mengapa orang itu malah membeberkan siapa Bejo sebenarnya? Begitulah yang dipikirkan Budi.


“Nggak ada tempat yang nyaman buatmu kecuali kuburanmu” kata Handono lagi.


“Kamu pikir, aku manusia tamak yang rakus akan dunia? Ha ha ha” sahut Nungki. Tawanya disertai dengan seringai bengis. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Handono.


“Aku ini pemburu haus darah, yang mencintai kematian seperti kamu mencintai kehidupan. Aku nggak akan masuk kuburanku, kecuali aku bawa juga dirimu dan semua komplotanmu” lanjut Nungki, disertai seringai bengisnya.


“Bos. Truk fusonya masuk jurang. Kayu jatinya menggelinding ke sungai” lapor Sephia.


“Kok bisa? Deras nggak airnya? Bisa dijaring?” sahut Budi.


Budi terkejut mendengar berita itu. Prediksi Sephia tentang kekuatan penjaga Respati ternyata meleset. Misi membawa Respati, gagal. Suara terkejutnya membuat Handono tertawa.


“Deras, bos. Tapi masih mengikuti alur sungai. Soal jaring, belum bisa diprediksi”


Budi mengerti, Sephia masih bisa melacak pergerakan si Respati. Kali ini Sephia tidak berani memberikan masukan tentang kekuatan penjagaan si Bejo atau Respati.


Nungki menatap ke arah Budi. Ingin dia menawarkan bantuan, tapi dia tahu, Budi sedang tidak percaya pada institusinya. Dia hanya menantikan Budi mengatakan sesuatu. Tapi Budi tak kunjung bicara.


“Aku tahu, seorang Bejo memang bukan orang sembarangan. Pasukannya banyak. Beda sama yang kamu ikat ini, mas” kata Nungki pada Budi. Dia tersenyum mengejek pada Handono.


“Menang jabatan doang dia, sih. Sama pinter ngakalin temennya” lanjut Nungki. Dia dan Handono saling lempar senyum ejekan.

__ADS_1


“Selalu aja, manfaatin temennya buat jadi tameng hidup. Udah berapa kali diselametin pak Abdul Rouf?” kata Nungki lagi.


Di sini, Budi agak terkejut. Seolah-olah Nungki ingin mengatakan kalau bapaknya, dulu adalah bagian dari komplotannya Handono. Seolah mengonfirmasi apa yang dikatakan Handono, tadi.


“Harusnya kamu berterimakasih sama dia. Harusnya kamu jagain anak-anaknya, “


“Cih” potong Handono.


“Ha ha ha ha. Soal Gita Syarifah, ya? Ngakunya pinter, ternyata gobl*k. Ha ha ha ha” gantian Nungki memotong. Handono mendelik.


“Bertahun-tahun hidup dalam dendam, tapi nggak pernah nyari tahu kebenarannya” lanjut Nungki. Handono semakin emosi.


“Gita Syarifah”


Nungki menggantung ucapannya.


“Bripka, anumerta”


Ucapan Nungki itu membuat Handono terbelalak. Dia terkejut mendengar nama kepangkatan polisi itu disebutkan Nungki.


“Dia bukan lulusan pondok. Dia lulusan akabri, seangkatan dengan Abdul Rouf” lanjut Nungki.


Budi ikut terkejut. Tapi ada setitik rasa lega di dadanya. Dia berharap apa yang dikatakan Nungki kali ini benar. Bahwa bapaknya bukanlah anggota kelompoknya Handono, melainkan intel yang menyamar.


“Dan dia, kembar” lanjut Nungki lagi.


Dia menunjukkan sebuah foto lama yang menggambarkan kebersamaan Gita Syarifah dan kembarannya. Handono terbelalak. Mereka saling terdiam beberapa saat.


“Adiknya, Gita Shella Syarifah. Ada nama tengahnya. Dialah yang lulusan pondok” kata Nungki.


Handono ternganga. Ingatannya melayang ke masa yang telah lampau. Dia pernah mendengar ada anak buahnya yang melihat Gita berada di tempat lain, padahal Gita sedang bersamanya.


Waktu itu dia berpikir kalau anak buahnya yang menelepon itu hanya melihat orang yang mirip dengan Gita.


Di sisi lain, Budi jadi bingung. Momennya terasa tepat sekali. Nungki membawa foto, yang bisa menguatka narasinya. Seolah-olah dia sudah tahu, kalau Handono akan ada di tempat ini.


“Keduanya emang identik. Sampai sifat dan gestur tubuhnya juga mirip banget. Keduanya juga unik, sama-sama dipanggil Gita maupun Ifah. Cuman, kalo panggilan Gita, emang merujuk sama pacarmu. Kalo Ifah, merujuk pada istrinya Abdul Rouf” lanjut Nungki.


“Tapi kamu emang gobl*k banget jadi cowok. Sama sekali nggak kenal sama pacar sendiri”


“Persetan sama omonganmu. Dasar pembual” sahut Handono.


“Cih” sahut Handono, sambil menyeringai.


“Tapi kamu pasti masih inget kan, sama wanita, yang kamu ambil jantungnya, di malam penggerebekan komplotanmu?” tanya Nungki, sambil menyodorkan sebuah foto.


Tampak seorang wanita, memakai celana jeans hitam, menggunakan sepatu boots, berkaos hitam, berjaket kulit hitam, dan memakai topeng hitam yang menutupi seluruh wajahnya.


Bagian dada kiri wanita itu tampak berlubang oleh sayatan pisau. Darah tersimbah kemana-mana. Handono kembali terbelalak.


“Apa kamu nggak kepikiran buat ngelepas topengnya?” tanya Nungki lagi.


Dia kembali menyodorkan sebuah foto lain. Dimana topeng wanita itu telah dilepas.


“Gita?” gumam Handono. Terdengar nafasnya berat.


“Yap. Dialah Gita Syarifah yang sebenarnya. Bukan Gita Shella, yang selama ini kamu tiduri”


“BOHONG” teriak Handono.


Budi dan Erika terkejut, melihat reaksi Handono.


“Ini pasti akal-akalan kalian doang, kan? Dasar pembual” lanjut Handono.


“Hempf. Ha ha ha ha” nungki malah tertawa lepas.


Buat Budi, dari tawanya, reaksi Handono seperti goal buat Nungki. Jadi, bagaimana bisa Nungki menyiapkan itu semua, kalau dia tidak tahu sebelumnya? Siapa yang memberitahunya? Apa si Hind sengaja dibiarkan menculik Sephia? Atau transmisi data Sephia terbaca oleh Nungki? Atau ada informan di tempat ini? Terlalu banyak pertanyaan terlintas di pikiran Budi.


“Jadi, selama ini, yang ada di pikiranmu cuman gimana nyalurin BBM berisi narkoba itu ke kota ini? Sama mikir gimana caranya ngabisin anak turunnya Abdul Rouf? Kamu cuman tahu, intelnya itu si Abdul Rouf. Tapi kamu nggak pernah tahu, kalo pacarmu sendiri, adalah copatriotnya intel itu? Dasar payah. Ha ha ha ha”


“Kejadian itu, Vani belum lahir. Artinya kamu juga belum lahir. Tahu darimana kamu, set*n kecil?” tanya Handono, lirih.


“Pertanyaan yang bagus. Tapi pertanyaan itu berbalik ke kamu sendiri, Handono. Gimana aku bisa tahu soal Gita Syarifah, kalo dia bukan anggota polisi?” komentar Nungki. Handono terkesiap.


“Nggak semua anggota bisa dapet akses ke data itu memang, karena Gita Syarifah, Abdul Rouf, dan beberapa anggota lain, merupakan intel khusus. Anggota yang tidak dipublikasikan keberadaannya, dan digembleng langsung oleh kopasandha. Harusnya kamu tahulah itu. Itu kan terjadi sebelum reformasi. Fathoni aja tahu” lanjut Nungki.

__ADS_1


Handono terbelalak mendengar ucapan terakhir Nungki. Kalau Fathoni tahu, mengapa dirinya tidak diberitahu? Begitu pikirnya.


“Nggak usah kaget! Orang itu, akan berteman sama orang yang serupa dengannya. Orang culas macam kamu, ya akan berteman sama orang yang culas juga. Seorang penipu, akan berteman dengan penipu juga. Bukannya Bejo juga penipu?” kata Nungki, menanggapi keterkejutan Handono.


“Bertobatlah! Biar mayatmu nanti semerbak kaya Fredi Budiman” saran Nungki.


“Kamu pikir, kamu bisa nyeret aku ke nusa kambangan, ha?” sahut Handono.


“Kenapa enggak? Apa yang bikin kamu kebal? Bejo? Bentar lagi juga ketangkep, dia”


“Apa bukti yang kamu punya, buat nyeret aku ke sana? Hubungannya apa aku sama Respati? Halu”


“Apa dari tadi aku pernah nyebut nama Respati?” nungki balik bertanya. Handono terbelalak.


“Siapa respati? Bejo?” tanya Nungki lagi, seolah-olah tidak tahu.


“Suaramu akan jadi bukti di persidangan nanti. Siap-siap aja menjemput ajal!” lanjut Nungki.


Handono tidak menjawab. Dia hanya menatap Nungki dengan penuh kebencian.


“Bos. Banyak fraksi yang bergerak dari jawa tengah dan jawa barat” lapor Sephia.


“Semuanya terhubung dengan satu pesan perintah dari Respati” Lanjutnya.


“Pesan apa?” tanya Budi lirih.


Pertanyaan Budi mengundang perhatian Nungki.


“Pesan untuk membumi-hanguskan galeri ini. Tanpa ataupun dengan Erika ada di sini” jawab Sephia.


Budi bingung harus bagaimana. Kalau mereka ada ratusan, atau bahkan ribuan, tempat ini akan menjadi tempat pembantaian terbesar sepanjang sejarah. Itu akan sangat buruk untuk citra galerinya ke depan. Dia berpikir, dia harus menemukan cara untuk menghalau pasukannya Bejo, sebelum sampai ke tempat ini.


Di depannya, Nungki tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Sesuatu berwarna hitam dengan ujung metalik. Bentuknya kotak, seukuran genggamannya.


Cerrrrrttttt


“AAAA”


Handono memekik, saat Nungki menempelkan ujung metalik alat yang dia pegang itu ke lehernya. Dan sesaat kemudian, Handono tak sadarkan diri. Dia tergeletak begitu saja di teras galeri.


“Butuh bantuan?” tanya Nungki padanya.


“Jangan jadikan bengkel ini sebagai tempat pembantaian, mas! Kasih koordinatnya! Aku yang akan halau mereka” lanjut Nungki.


Budi tidak segera menjawab. Dia masih ragu untuk menyerahkan urusan ini pada Nungki.


“Bos. Jumlah sementara mencapai lima ratus orang”


Suara Sephia menyentakkan keterdiaman Budi. Tapi dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


“Mereka sepakat buat ketemu di Gunung Kidul. Jawa Barat akan ngumpul di cilacap. Mereka mau lewat jalur Dandels” lanjut Sephia.


“Aku tahu mas, kamu masih nggak percaya sama polisi. Kenyataan tentang Zulfikar emang nyakitin banget. Dia emang licik, lihai, tapi tampangnya baik. anaknya pak Daud, sih. Tapi berurusan sama Bejo, nggak seremeh yang mas pikirin. Kelompoknya udah kaya kartel meksiko” kata Nungki, menanggapi keterdiaman Budi.


Budi masih saja terdiam. Berbagai hal masih dia pertimbangkan di otaknya.


“Oke.


Aku akan gunakan caraku sendiri. Aku akan halau mereka sejauh mungkin. Selebihnya, menjadi tugas mas Budi” kata Nungki lagi. Budi mendengarkannya.


“Yang penting, jangan ada darah lagi di tanah ini! Nggak bagus buat masa depan galeri” lanjut Nungki. Budi hanya menganggukkan kepalanya.


“Manusia tengik ini, apa boleh Nungki bawa?” tanya Nungki, merujuk pada Handono.


Budi tidak menjawab. Hanya sorot matanya saja yang mengatakan keberatan.


“Oke. Aku tahu mas keberatan. Tapi aku punya kuasa untuk bawa dia” komentar Nungki. Di sini Budi bereaksi.


“Tenang, mas! Sephia tahu kemana harus nyari aku, kalo aku berkhianat” respon Nungki, terhadap gestur tubuh Budi.


Tak ada yang bisa Budi lakukan selain membiarkan Nungki membawa Handono. Hitung-hitung, win-win solusion. Dengan adanya Nungki, dia tidak perlu berurusan dengan kepolisian setempat.


“Oke” jawab Budi.


Pada akhirnya, Budi merelakan Handono dibawa pergi oleh Nungki. Beberapa orang dari pasukan anti huru-hara membantu Nungki membawa Handono ke salah satu mobil.

__ADS_1


“Phia. Put your eye on her!” perintah Budi.


“Already” jawab Sephia.


__ADS_2