
Back to Present
“Gua, nggak ada niatan buat nipu lo. Gua nggak ada urusan sama lo. Tapi gua benci sama cowok lo. Dia udah ngerusak kesenangan gua” kata Dino.
“Oh, gara-gara mas Budi?” komentar Adel.
“Oh, ceritanya kamu kalah pamor, sama mas Budi? kalah berantem juga?” tanya Adel.
Nada bicaranya yang megejek itu, sanggup membuat wajah Dino memerah seperti kepedasan.
“Jadi cuman karena benci sama mas Budi? Kamu nggak dibayar, buat ngelakuin semua ini? Susah payah ngeluarin orang segitu banyaknya, sampe repot-repot nonjok aku juga, kamu nggak dapet apa-apa?”
“Dapet tubuh kamu, Del” celetuk Sephia.
“Oh, iya” seru Adel, seolah baru ingat. Dino tersentak mendengar celetukan Sephia.
“Tapi aku masih perawan lho, Phia. Berarti cuman *****-***** doang” lanjut Adel.
“Lumayan lah, Del”
“Ha ha ha ha. Jadi nggak sabar, pengen denger cerita lengkapnya” jawab Adel.
Beberapa saat, Adel memasang wajah menunggu. Menunggu Dino memulai pengakuannya.
“Kamu udah nonjok orang yang salah, Din” kata Adel.
“Hmpf. salah? Ha ha ha ha”
“Kakak kamu, itu mantan aku. Dan aku, adalah mantan terindahnya” jawab Adel.
“Ha ha ha ha ha” Dino semakin keras, tertawanya.
“Kakak gua, cuman cinta sama Natasya. Yang terindah itu, cuman Natasya. Dia ketemu siapa juga, yang ditanyain, Natasya” kata Dino.
“Kamu? Ha ha ha ha” lanjutnya.
“Natasya? Ha ha ha ha” gantian Adel tertawa. Tawa itu membuat Dino bingung.
“Kamu kenal Natasya, Phia?” tanya Adel kepada Sephia.
“Natasya itu kode, pasangan dari Cheguefara. Dan cuman satu orang yang diberikan kode Natasya, Adelia Fitri” jawab Sephia.
Mendadak Dino terbelalak matanya. Dia tidak menyangka kalau orang yang selalu dirindukan kakaknya, ternyata adalah Adel. Sudah terbayang di pelupuk matanya, apa yang akan terjadi padanya nanti.
“Sephia, bukan orang yang punya banyak waktu” kata Adel.
“Tiga menit” sahut Sephia.
“BALIKIN DULU TEMEN-TEMEN GUE BANG***!”
“Hempf. Ha ha ha ha. Masih inget sama temen-temennya” komentar Adel sambil tertawa.
“KETAWA AJA TERUS! Awas aja nanti! Mereka pasti datang buat aku” bentak Dino sok garang.
“Ha ha ha ha. Nggak perlu repot-repot. Mereka semua lagi sekarat, kok” jawab Adel. Dia memberikan empat lembar foto. Semua angota gengnya terlihat tergeletak bersimbah darah.
“BANG***” jawaban Adel sukses membuat Dino murka.
“Nggak usah marah-marah! Mereka lagi ngefly kok. Lagi meregang nyawa, menjemput ajal” kata Adel.
“Satu menit” kata Sephia mengingatkan.
Mata Dino menatap tajam ke mata Adel.
Terlihat merah penuh amarah. Tapi sama sekali Adel tidak takut dengan tatapan itu. Dinopun akhirnya benar-benar merasa kalah di hadapan Adel. Dia menuruti apa yang Adel mau.
***
Pagi ini, Budi berangkat kerja seperti biasa. Hampir terlambat dia, tiba di pabrik. Karena pagi tadi, banyak reseller ibunya yang datang mengambil ikan.
Tiba di pintu gerbang, dia mendapatkan hambatan, karena sudah tepat pukul delapan pagi. Bel tanda dimulainya pekerjaan juga sudah berbunyi. Dan yang menjaga pos scurity adalah scurity baru, yang mantan pasukan katak. Perdebatan alotpun terjadi.
“Pak satpam” panggil seseorang. Scurity itu menoleh. Ternyata Erika yang memanggil.
“Biarkan masuk, pak! Dia orang kepercayaannya pak Paul. Kalopun telat, pasti ada urusannya sama si bos” kata Erika.
“Tapi dia bilang, abis dari pasar, mbak” jawab scurity itu. Erika tersenyum lalu mendekat.
“Enggak mungkin dia ngomong yang sebenarnya, pak. Bisa geger, pabrik” jawab Erika pelan.
“Oh. Gitu, ya? baik, mbak Rika” sahut scurity itu.
“Silakan mas!” katanya pada Budi. Dia bukanya pintu gerbang.
“Makasih, pak” kata Budi sembari melajukan motornya perlahan.
“Makasih juga, mbak Erika. Maaf nih, jadi ngerepotin” kata Budi pada Erika.
__ADS_1
“Ya udah, buruan parkir!” jawab Erika.
Budi segera memarkirkan motornya, dan berlari menuju mesin absen. Dia memilih absen di lobby.
Tentu saja ketergesa-gesaannya mendapatkan sambutan tawa dari Marsya. Dia hanya nyengir saat mendapat ledekan, dari si cantik imut itu. Beruntung, dari semua staff di kantor, belum satupun yang memulai briefing paginya. Termasuk juga dengan Aldo dan Riki.
Seperti biasa, mereka masih menunggu Stevani datang memberikan target. Tampak Riki tertawa sambil mengikuti Aldo masuk ke kubik PPIC.
“Bud”
Langkah kaki Budi terhenti saat mendengar ada yang memanggilnya dari belakang.
“Eh, Van”
Ternyata Stevani yang memanggilnya. Tanpa berkata lagi, Stevani mengacungkan ponselnya. Dia memperlihatkan gambar yang terpampang di layar ponselnya.
Sebuah gambar yang menceritakan kalau orang yang ditunjuk Budi kemarin, sudah tergeletak tak berdaya. Di wajahnya, terlihat banyak sekali bekas pukulan benda tumpul. Budi menunjukkan ekspresi kaget, setengah takut.
“Tenang, dia nggak papa, kok. tapi dijamin, dia nggak akan berani ganggu Putri lagi” kata Stevani, menjawab ekspresi wajah Budi tadi.
Budi tersenyum mendengar kata-kata itu. Dia memberikan anggukan dan juga jempol tangannya, sebagai tanda pujian, atas hasil kerja Stevani.
“Berapa aku harus bayar?” tanya Budi. Stevani tersenyum. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Budi.
“Bayar aja sama ciuman kamu, Bud. Di kontrakanku”jawab Stevani berbisik.
“Itu?”
“Yap. Kenapa?”
“Jangan ditawarin ke cowok lain!” jawab Budi.
“Ha ha ha. Oke” Stevani tergelak mendengar jawaban Budi.
“Aku kok nggak liat motornya Dino CS? Jalan kaki apa, mereka?” tanya Budi sambil berjalan.
“Biasa, lah. Mangkir” jawab Stevani.
Tak terasa mereka sudah sampai ke kubik PPIC. Dan Stevani langsung memberikan target hari ini kepada Aldo. Sempat dia menggoda Stevani, dengan memuji penampilannya pagi ini.
Budi mencolek Riki, agar mengompori Aldo. Setali tiga uang, Riki juga berpikiran sama. Jadilah dia mengompori Aldo, untuk lebih banyak lagi mengeluarkan gombalannya.
***
Selepas isya’, sesuai rencana, Budi pergi untuk memenuhi permintaan Stevani. Dia pergi seolah mau kencan dengan Adel.
Memang dasar tubuhnya tinggi atletis, mau memakai pakaian model bagaimana juga, rasanya cocok-cocok saja. Seperti saat ini. Hanya celana joger, kaos polos, berlapis sweeter.
“Hai, Bud”
Budi sempat kaget,mendengar sapaan itu. Karena dia masih sibuk memindai sekitarnya. Dia tiak menyadari kemunculan Stevani dari dalam kontrakannya.
“Hai, Van” jawab Budi.
Stevani tampak santai dengan dress lengan pendek selutut, berwarna cokelat. Ada gambar karakter kartun si tikus perempuan berpita di tengahnya. Dengan kupingnya dibuat besar, melingkari area yang menonjol di dadanya. Membuat Budi bertanya dalam hati, pakai kutang apa tidak.
“Masuk, yuk!” ajak Stevani tanpa basa-basi.
“Hayuk” jawab Budi.
Sama sekali tidak ada yang menegur mereka. Padahal Stevani langsung menutup pintu kontrakan. Gordennya juga langsung digeser, menutupi pandangan mata Budi, yang sedang memperhatikan suasana di luar kontrakan.
“Emh”
Budi tidak menyangka, kalau Stevani akan langsung memeluknya sedemikian rupa. Stevani langsung membekap bibirBudi dengan bibirnya yang seksi. Bibir seksi itu bergerak-gerak, memagut ke sana dan kemari. Tapi karena kaget, Budi pasif saja.
“Cupp”
Stevani tersenyum, merasakan kecupannya mendapatkan sambutan. Dia mulai menambahkan lidahnya untuk memanaskan suasana. Dia sengaja menggoda Budi, dengan menyentil-nyentil giginya. Dengan harapan, Budi akan gemas, dan menggigit lidahnya.
Tapi apa yang diharapkannya tak juga kunjung tiba. Buat dia, Budi terkesan hanya menjalankan apa yang telah disepakatinya. Hanya membayar apa yang harus dia bayar. Tapi Stevani segera menepiskan pikiran pesimis itu. Dia segera mencari akal untuk memancing birahi Budi, agar lebih bergairah lagi.
“Emh... esst”
Suara yang keluar dari mulut Budi itu, menjadi pertanda buat Stevani, kalau usaha pertamana ini, mengena pada sasarannya. Buat Budi, tampaknya memakai celana joger malam ini, adalah sebuah blunder. Karena karet celananya, terlalu mudah untuk diterobos tangan nakal Stevani.
Sebagai lelaki normal, mendapatkan belaian yang lembut di daerah yang dia sukai, adalah candu yang sukar untuk dihindari. Apalagi ditolak. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Budi mulai mengalir, dan membalas setiap kecupan yang diberikan Stevani. Bahkan dia juga sudah mulai gemas, saat lidah Stevani, terus-terusan menggodanya.
“Emm”
Kena juga akhirnya. Lidah itu tidak bisa ditrarik kembali oleh pemiliknya, karena tergigit oleh gigi-geligi Budi. Stevani sempat tergelak, mendapati Budi menggigit lidahnya. Budi juga tersenyum, merasa dia memenangkan permainan lidah dan gigi itu.
“Sssshh”
Stevani mendesis, bahkan oleh perbuatannya sendiri. Dia membawa tangan kanan Budi, ke payudar* kirinya. Dan langsung diremas lembut oleh Budi. Di sinilah, Budi mendapatkan jawaban. Bahwa Stevani tidak menggunakan apa-apa lagi di balik dress coklatnya ini. Bahkan selembar plasterpun tidak. Pilinan jemari Budi, tak pelak membuat gairah Stevani merangkak naik.
*Tok tok tok*
__ADS_1
Terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Hal itu membuat Stevani kesal. Gairahnya yang sedang melanglang buana, seketika terjerembab jatuh ke bumi. Bukannya dibukakan, Stevani malah masuk ke ruang dalam. Ternyata dia mengambil jaket dan helm.
“Ya” Jawab Stevani. Pintupun dia buka.
“Van, bakar-bakar ikan, yuk! Ajak salah satu tetangga kontrakannya.
“Yah, Sis, kenapa nggak dari sore, ngajaknya? Aku udah mau cabut, ini” jawab Stevani.
“Cabut kemana? Masa ngedate pakenya dress rumahan gitu?” tanya tetangganya.
“Emang nggak cocok ya, mas?” tanya Stevani pada Budi.
“Ha ha ha ha. Maklumin aja, mas! Kelamaan jomblo, sih” seloroh tetangganya itu, sambil tertawa.
“Suek lu” komentar Stevani.
“Ya udah, deh. Met ngedate, ya”
“Sori ya, Siska. Lain kali deh, ya” kata Stevani sambil memakai jaketnya.
“Woles” jawab Siska.
Budi tergelak melihat Stevani memakai helm. Tidak perlu diminta, Budi langsung melajukan motornya, membawa Stevani keluar dari komplek kontrakan itu.
“Kita kemana nih?” tanya Budi.
“Ke watu karung, yuk!” ajak Stevani.
“Aduh, jangan dulu, deh! Lagi rawan daerah itu” tolak Budi halus.
“Kenapa takut? Kan kamu jago bela diri”
“Ya kalo cuman satu/dua orang sih, hayuk aja. Tapi kalo banyakan, gimana? Aku takutnya nggak bisa jagain kamu”
“Oh, so sweet” komentar Stevani.
“Tapi nggak papa, kok. Di suatu tempat, bodyguard suruhan papaku, pasti ngikut kok. Jadi, kamu nggak usah ngerasa sendirian” lanjut Stevani.
“Ya, oke. semoga aman sampai tujuan” jawab Budi.
“Amin”
Budi mempercepat laju motornya. Dan kondisi itu, dimanfaatkan oleh Stevani. Dia sengaja memeluk tubuh Budi. Kalau Budi bertanya, dia sudah menyiapkan jawabannya. Dia akan menjawab, aku takut naik motor. Nggak biasa.
Sampai dijalan yang remang-remang, segerombolan motor datang dari arah belakang. Budi mempercepat lagi laju motornya. Dan gerombolan motor itu seakan mengejarnya.
Terjadilah aksi kejar-kejaran. Kekuatan mesin yang seimbang, membuat Budi masih sempat untuk berkelit. Dia masih bisa kabur, sampai ke pertigaan menuju watu karung. Naas, di jalan yang sempit itu, segerombolan motor lain sudah menunggu di depan. Mereka memblokade jalan. sehingga mereka terkepung.
“Berenti aja, Bud!” pinta Stevani. Budipun menghentikan motornya.
“ANJ****, SENDIRIAN AJA SOK MAU KABUR HA?” seseorang datang menghampiri Budi.
*Wuuuss*
Orang itu mengayunkan sesuatu yang dia pegang.
“BUUD” teriak Stevani.
BRAAAKKK
Hanya dengan satu gerakan bersamaan, Budi sukses menghalau datangnya senjata itu dengan tangan kirinya, sekaligus menghajar wajah penyerangnya dengan siku tangan kanannya. Melihat orang itu mental, Budi bersiap untuk seragan lebih lanjut.
*HIAAAAA*
Tak hanya satu, kali ini lima, enam, bahkan tujuh orang bergerak bersamaan.
“Mundur!” pinta Budi pada Stevani.
“AWAS BUUUD!” teriak Stevani ketakutan.
Melihat Budi dikeroyok segitu banyak orang, membuat Stevani ngeri. Tapi dia tetap berusaha untuk fokus. Walau tangannya bergetar, dia tetap berusaha menemukan nomor bodyguradnya, lalu meneleponnya.
*PRAAAKKK*
“AAAA”
Tanpa dia duga, salah seorang preman yang tersisa, ternyata memperhatikannya. Orang itu menampar ponsel yang sedang menempel di telinganya. Otomatis, selain ponselnya jatuh ke dalam selokan di sisi jalan, wajahnyapun terkena tamparan preman tadi.
“A, a, ampun mas” pinta Stevani. Dia tampak sangat ketakutan, dan hampir menangis.
*WUUUKKK*
*DUUAAAKKK*
“AAA”
__ADS_1
Tanpa ampun, preman tadi memberikan tinjunya ke wajah Stevani. Membuat Stevani terpental ke belakang. Di belakangnya, seseorang telah bersiap menangkapnya. Lalu dengan sebuah kain, dia membekap mulut dan hidung Stevani.
Tanpa bisa melawan, Stevani menghirup udara yang melewati kain itu. Perlahan pandangannya kabur, kabur, kabur, lalu gelap sama sekali.