
Mas. Kamu nuduh papaku sebagai si Bejo itu?” tanya Erika, setelah beberapa saat saling menatap.
Budi tidak menjawab pertanyaan Erika. Dia menarik Erika untuk mengikutinya menuju galeri. Semua orang bingung melihat sikap Budi.
“Mas. Lepasin!” seru Erika, sambil menyentakkan tangannya, setelah melewati pintu belakang galeri. Genggaman tangan Budi terlepas dari tangannya.
“Tega kamu ya, nuduh papa aku kaya gitu?” seru Erika. Tampak matanya berkaca-kaca.
“Papaku emang gila kerja, mas. Tapi dia bukan gila harta, yang menghalalkan semua cara”
Budi masih menatapnya dengan tajam. Pikirannya sekarang kacau. Mendengar kata Bejo junior disandingan dengannya, membuatnya berpikir, kalau orang itu dan gerombolannya mengenal Erika dengan baik.
“Kamu lebih percaya sama Sephia, mas?” tanya Erika.
“Sephia itu pacarnya Sandi, mas. Sandi pengen ngancurin kamu. Dan Sephia itu jenius. Dia pinter manfaatin keadaan, mas. Apa kamu nggak nyadar soal itu?” lanjut Erika.
Budi masih terdiam. Pikirannya sedang sibuk menganalisa semua hal. Tentang siapa yang jujur, dan siapa yang berbohong.
“Aku nggak nyangka mas, kamu sekeji itu sama aku” kata Erika, menyentakkan lamunan Budi.
“Aku nggak nyangka, kamu nuduh papa sama aku, adalah bagian dari camat cerbon itu. Cuman dari orang yang nggak jelas siapa dia” lanjut Erika. Budi masih tidak bergeming.
“Buat apa mas, kamu ngelamar aku, kalo kamu nggak percaya sama aku?” tanya Erika.
“BUAT APAAA?” teriak Erika.
*DUAAARRR*
Budi kelepasan emosi, mendengar teriakan Erika. Dia meninju dinding kayu, yang berbatasan dengan pintu belakang galeri.
Erika terkejut. Dia terdiam, melihat mata Budi memerah, dan menatapnya tajam, dari jarak yang sangat dekat. Budi menempatkan lengan kirinya di sebelah kanan leher Erika. membuat Erika seperti dihadang Budi. Mereka saling menatap untuk waktu yang cukup lama.
“Oke” kata Erika lirih.
“Kalo mas emang udah nggak percaya sama aku, dan masih kekeh nuduh aku kaya gitu, ambil jantungku, mas!” lanjut Erika. Budi tidak bergeming.
“Sebuah kehormatan, mati di tanganmu, mas. Tangan lelaki yang sangat aku cintai” lanjut Erika. Budi masih tidak bergeming.
“Lakukan, mas! Walaupun aku bukan seperti yang kamu tuduhkan, aku rela, mas” lanjut Erika lagi.
Budi masih menatapnya dengan lekat. Dan Erika sudah kehabisan kata-kata. Tak lama kemudian, Budi menjauh dari Erika. Dia berjalan ke depan, sambil menutupi wajahnya. Terdengar juga helaan nafas panjangnya.
Di teras, dia bertemu dengan Cobra. Dia meminta rokok. Tanpa diminta dua kali, Cobra memberikan rokoknya. Bahkan menyalakannya sekalian. Budi berterimakasih, lalu meminta Cobra untuk berpatroli lagi.
Setiap hisapannya, selalu berbarengan dengan tarikan nafas panjang. Ya, Budi sedang berusaha menenangkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
Dari belakang, Erika menatapnya dengan lekat. Air matanya masih tampak mengalir. Pikirannya sendiri juga berkecamuk. Dia tahu, Budi bukan asal menuduh. Dia yakin, Budi sudah mengantongi banyak informasi yang dia tidak sadari. Dalam hati kecilnya, dia bertanya-tanya, apakah benar, kalau papanya itu, ternyata adalah si Bejo?
Dia beranjak mendekati Budi. Dengan hati-hati, dia duduk di sebelah kiri Budi. Budi hanya menolehnya sesaat. Tapi dia tidak kabur, tidak juga represif seperti tadi. Dia biarkan saja Erika duduk di sebelahnya. Beberapa saat lamanya, mereka saling terdiam.
“Mas” panggil Erika.
Dia yang memanggil, dia juga yang terkejut. Dia terkejut, lantaran Budi langsung menoleh. Dan mata merah tadi, sudah menghilang. Seperti sudah normal kembali.
“Aku minta maaf ya, mas.? Aku sama sekali nggak tahu tentang papa” kata Erika.
“Huuuuffftt”
Budi menghembuskan nafas panjang, bersamaan dengan asap rokoknya. Lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ada sekian informasi tentang papamu, ka” kata Budi, menanggapi ucapan Erika.
“Jujur, aku kacau banget, waktu Fatoni menyodorkan dua lembar foto. Yang satu dia bilang sebagai Daniel, yang satu sebagai si Bejo” lanjut Budi.
“Dan foto yang dia tunjuk sebagai si Bejo itu, Papa?” tanya Erika. Budi mengangguk.
“Foto satunya?”
“Aku nggak tahu”
“Ya. Aku juga mikirnya gitu, Ka”
“Terus?”
“Waktu aku bilang gitu ke Nungki, dia kaya kesulitan jawab. Dia kaya takut sama sesuatu. Tapi yang jelas, dia protes sama aku, karena aku nggak ngasih tahu dia, kalo ternyata aku liat si Bejo ini. Padahal dia sudah pasang badan buat keluargaku”
“Apa info dari Nungki itu valid?” tanya Erika. Antara marah dan penasaran.
“Entahlah, Ka. Aku jadi makin bingung” jawab Budi. Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
“Kalo ada yang kamu tahu, tolong katakan, Ka! Kamu adalah kamu, papamu adalah papamu. Terserah apa yang mau papamu lakuin, yang penting kamu masih berdiri di atas kakimu sendiri” pinta Budi.
Erika terkesiap. Dia mengerti apa maksud Budi. Ucapan Budi menandakan kalau Budi masih mencintainya. Budi tidak mencampurkannya dengan papanya. Selagi dia tidak terlibat urusan narkoba, Budi masih akan terus mencintainya.
“Kalo urusannya sama narkoba, aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentang papa, mas” kata Erika. Budi mendengarkannya dengan serius.
“Kalo ternyata papa adalah si Bejo itu, sikapku akan sama dengan Stevani” lanjut Budi.
“Hem?”
“Kalo emang papa adalah si Bejo, dan dia ingin nyakitin mas Budi, aku orang pertama yang akan ngadepin dia. Dan kalo aku nggak kuasa ngadepin, aku juga nggak akan segan buat keluar dari raga ini, mas” jawab Erika, menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
Budi mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasa marahnya kini sudah luntur. Berganti logika, yang mengatakan kalau Erika tidak berbohong.
“Oke. kita lanjutin lagi, nyusun rencananya!” ajak Budi.
“Iya” jawab Erika.
Dia mengikuti Budi yang beranjak berdiri. Uluran tangan Budi tak dia sia-siakan. Dengan perasaan haru, dia menerima tangan itu. Dia berdiri dan berjalan beriringan dengan Budi. Dia menggelayut manja penuh haru, saat Budi merengkuh pundaknya, mendekat ke pelukannya.
Di pintu belakang galeri, bu Ratih berdiri dan menatap mereka dengan mata sembab. Dia yang khawatir akan terjadinya sesuatu yang buruk setelah Budi meninju dinding belakang galeri, memaksa untuk melihat ke dalam galeri.
Erika langsung bersimpuh dan menangis sambil memeluk kaki bu Ratih. Karena sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, bu Ratih menghadapinya dengan tentang. Seperti kepada anaknya sendiri, bu Ratih mengelus-elus kepala Erika dengan penuh kasih sayang.
“Kendalikan emosimu, ngger!” pinta bu Ratih. Budi menunduk.
“Di kondisi yang membingungkan seperti ini, akan lebih baik kalau kita menggunakan kepala dingin, untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah” lanjut bu Ratih.
“Baik, bu” jawab Budi.
“Ya sudah. Sukron butuh kamu, ngger. Kalian temuin, gih!”
“Baik, bu” jawab Budi.
Bu Ratih membangunkan Erika. masih dengan menangis, Erika meminta maaf kepada bu Ratih, atas ketidaktahuannya tentang papanya.
“Kita belum tahu kebenarannya, mbak Rika. Kita tidak bisa mengatakan seseorang salah, hanya dari omongan orang lain. Biarlah Gusti Alloh yang menuntun kita” jawab bu Ratih.
Erika masih menatap lekat mata bu Ratih. Ada ketakutan dalam hatinya. Ketakutan akan dibenci orang yang akan menjadi mertuanya.
“Kalaupun memang papanya mbak Rika itu seperti yang Budi tuduhkan, asal mbak Rika tidak ikut-ikutan, dan benar-benar sayang sama Budi, ibu tetep terima, kok” lanjut bu Ratih.
“Silakan ambil nyawa Rika bu, kalau Rika berkhianat sama ibu!” jawab Erika.
“Terimakasih ya, nduk. Ibu merasa sangat terhormat. Semoga mbak Rika istikomah dengan ucapan mbak Rika barusan”
“Kapanpun, bu. Silakan tagih ucapan Rika, kalau ibu melihat Rika tidak menepati ucapan Rika. Rika tidak akan mengelak, bu”
“Iya, nduk. Terimakasih”
Bu Ratih mengajak Erika kembali ke bengkel kayu. Dimana kang Sukron dan yang lain menunggu.
Tepat di bawah tangga, Putri menunggu dengan ditemani Madina. Erika langsung merendahkan tubuhnya, dan sungkem pada Putri. Tentu saja langsung ditolak sama Putri.
Tapi bukannya benci, Putri hanya merasa hal itu terbalik. Putri melebarkan kedua tangannya, dan langsung saja disambut oleh Erika. Mereka berpelukan beberapa saat.
Budi meninggalkan mereka berdua. Dia sudah kembali fokus menyusun rencana.
__ADS_1