Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tega dengan sakitnya, tak tega dengan matinya


__ADS_3

Langit yang mulai meredup, bukan hanya karena waktu yang sudah menjelang maghrib, tapi juga karena mendung, membuat Adel khawatir. Dia berpikir, lebih baik dia menginap dulu di hotel. Di sana dia bisa beristirahat sambil melepon ibunya, meminta pertimbangan dari sang ibu.


Diapun segera mencari hotel terdekat dari posisinya. Dari sekian pilihan, terpaksa dia memilih hotel yang tempatnya agak jauh, dan seperti agak terpinggirkan dari keramaian kota besar ini. Biaya menginap adalah alasan utamanya.


Setelah memesan satu kamar lewat aplikasi, Adelpun segera memesan taksi daring melalui ponselnya juga. Beruntung, ketika hujan mulai turun, taksi itu sudah sampai di posisinya. Baru juga masuk ke dalam mobil, hujan bagai ditumpahkan dari langit. Menghapus kepongahan sang mentari, yang bersinar terik seharian tadi.


“Selamat malam, ibu” sapa resepsionis hotel pada Adel.


“Selamat malam, mbak” jawab Adel.


Dia sempat melirik jam di belakang resepsionis itu. Sudah hampir setengah tujuh malam.


“Saya yang barusan booking lewat aplikasi mbak” kata Adel, sambil menunjukkan ponselnya.


“Oh. Baik, bu. Ini kuncinya, kamarnya ada di lantai tiga. Ada bawaan lain, bu? Biar saya bantu bawakan”


“Oh. Nggak ada, mbak. Terimakasih”


“Baik, ibu. Mari saya antarkan”


Adelpun mengikuti kemana resepsionis itu melangkah. Di dalam lift, Adel terpikirkan untuk mengabari ibunya.


Dia lantas membuka aplikasi pesan singkat. Dia ingin membagikan foto yang menunjukkan keberadaannya saat ini.


Tapi entah mengapa, ponsel Adel tiba-tiba tidak responsif. Tombol shutter dari layanan ambil gambar pada aplikasi pesan singkat itu tidak segera merespon.


Sampai keluar lift, Adel terus mengacungkan kameranya menghadap ke depan, sambil terus menunggu aplikasi itu merespon.


“Ayo, buruan!”


Menjelang tikungan, Adel mendengar suara orang berbicara.


*Blem*


Saat berada di tikungan ke kiri itu, Adel melihat ada dua orang sedang berada di depan sebuah kamar.


*Klek klek*


“Yuk!” suara laki-laki kembali terdengar.


*Cekreeeek*


Suara shutter ponsel Adel terdengar nyaring. Membuat kedua lelaki dan perempuan itu menegakkan kepalanya.


*Mas Luki*?


Adel terkejut bukan main saat melihat wajah yang baru saja menatapnya.


*Sofia*?


Adel merasakan dadanya sesak, mengetahui siapa yang berada di sebelah suaminya.


*Siuut*



*Tak tak tak tak*


Ponsel Adel terjatuh, saking Adel sudah tidak mampu lagi menggenggamnya.


Bagai disambar petir, tubuh Adel melunglai seketika, mengetahui keduanya baru saja keluar dari kamar hotel. Resepsionis tadi sampai memutar badannya, mendengar suara benda jatuh.


Dengan sisa-sisa tenaga di tubuhnya, Adel langsung balik kanan dan hendak berlalu.


“Adel, tunggu!”


Suara Luki menggema di seantero koridor. Dia beranjak mengejar Adel. Sofia yang juga ikut beranjak membuat resepsionis tadi beranjak juga mengikuti.


“Adel. Tunggu!”

__ADS_1


Luki berlari mendahului langkah Adel. Lalu dia menghalangi jalan Adel.


“Sayang. Ini bukan seperti yang kamu bayangin” kata Luki membela diri.


“Minggir!” pinta Adel lirih.


Dia merasa tubuhnya benar-benar lemah. Bahkan sekedar untuk bicara.


“Sayang. Aku bisa jelasin semuanya”


“MINGGIR, BANG***! NAJIS GUA, LU PANGGIL SAYANG” teriak Adel, sambil mendorong tubuh Luki.


Saat Luki terjengkang, Adel memanfaatkan momen itu untuk pergi. Dia berusaha lari meski langkahnya gontai.


“ADEEL” teriak Luki.


Dia mengejar Adel sampai hampir mencapai lift.


“Sayang, “


“APA SIH?” sergah Adel.


Dia kebaskan tangan Luki yang hendak memegangnya.


“DEL”


“AAA”


Adel menjerit saat Luki menariknya, saat dia hampir saja masuk ke dalam lift. Sontak jeritan Adel membuat resepsionis tadi buru-buru mendekat.


“Pak. Sudah, pak! Bapak tidak bisa melakukan pemaksaan di area hotel ini. Lepaskan ibu ini!” tegur resepsionis itu tegas.


“Ini istri gua. Lu siapa, ha?” hardik Luki. Resepsionis itu terkejut bukan main.


“Saya yang berwenang di hotel ini. Tempat ini punya peraturan, dan bapak harus mengikuti peraturan di tempat ini. Kalau bapak tidak mau mengikuti peraturan di sini, silakan keluar!” jawab resepsionis itu tanpa takut.


“Lu belum tahu siapa gua, ya?”


Resepsionis itu memekik kesakitan, saat tiba-tiba Luki menjambak rambutnya.


*Klotak klotak klotak*



*Besssssss*


Tiba-tiba ada sebuah benda terlempar dari arah tangga darurat, di sebelah kiri lift. Bentuknya seperti pipa. Benda itu tiba-tiba mengeluarkan asap dan berputar-putar.


“Uhuk uhuk uhuk”


Adel terbatuk karena asap itu.


“Sof. Lari!” teriak Luki.


“AAAAA”


Resepsionis itu menjerit. Saat dia mau kabur, dia malah mendapat pitingan di lehernya. Dan dia diseret Luki untuk ikut bersamanya.


“Dua piston menumbuk, satu molekul terurai”


Terdengar suara orang berbicara lirih. Diikuti derap langkah beberapa orang yang berlari ke arah perginya Luki dan Sofia.


“Permata permata permata. Satu permata ditemukan. Medic medic medic”


Saat Adel mulai kepayahan bernafas, dan matanya juga mulai pedih, ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam mendekatinya. Dia memberikan masker gas.


“Uhuk uhuk uhuk”


“Permata satu dalam pengiriman”

__ADS_1


Laki-laki itu memapah Adel, dan membantu Adel menuju tangga darurat. Di tangga itu, beberapa orang berpakaian serba putih menerimanya dari laki-laki berbaju hitam itu.


*DAAR*....


“Ha?”


Adel terkejut mendengar suara tembakan. Hatinya sontak bimbang.


*DAR DAR DAR DAR*


Suara tembakan di lantai tiga itu terdengar semakin gencar. Tapi semakin lirih, walau tak menyurutkan intensitasnya. Bisa diasumsikan, mereka beranjak menuju lantai yang lebih tinggi.


“Apa anda terluka?”


Seseorang bertanya, setelah melepas masker gasnya. Adel tidak segera menjawab. Dia masih syok dengan apa yang baru saja terjadi dengannya.


Hal yang sangat tidak dia duga, suaminya bisa bertindak sekasar itu. Dan dia juga bingung, bagaimana bisa ada polisi dalam sekejap mata? Lalu mengapa suaminya kabur? Mengapa terjadi tembak-tembakan di atas sana? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Tidak” jawab Adel kemudian.


Orang yang bertanya itu lantas membawanya menjauh, menuju sebuah mobil ambulance, tepat di seberang jalan di depan hotel. Orang itu memeriksa kondisi tubuhnya. Dan tidak didapati bekas Luka maupun kekerasan.


“Ibu. Bisa ikut kami sebentar ya, bu?”


Seorang wanita berpakaian polisi, berjongkok menyapanya.


“AAAAAAA”


Tapi teriakan ramai dari dalam hotel, menyita perhatian mereka. Para petugas berseragam cokelat itu berjibaku menenangkan pada pengunjung hotel yang ketakutan.


Mereka diarahkan ke beberapa titik aman. Sedangkan baku tembak di dalam hotel masih terus terjadi.


“Ibu”


“Haa?”


Teguran polwan tadi cukup mengagetkan bagi Adel. Hati dan pikirannya sedang kacau saat ini. Antara sedih, bingung, dan marah, semua bercampur aduk menjadi satu.


“Apa ibu bisa ikut kami sebentar? Kita ke rumah sakit ya, bu. Biar ibu bisa istirahat. Sekaligus, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan kepada ibu” ucap polwan tadi, mengulangi pertanyaannya.


“Itu itu itu, kenapa disergap kaya gitu, bu? Apa salah dia, bu?” Adel yang masih kacau malah balik bertanya.


“Kita bicara di tempat yang lebih aman ya, bu?” sahut polwan itu.


“Medis masuk, medis masuk!”


Terdengar teriakan dari arah pintu gerbang hotel. Dan petugas medis yang bersiaga langsung berlari masuk ke dalam gedung hotel.


Adel jadi bertambah bimbang hatinya. Rasa bencinya tadi sebagian luntur. Bayangan kalau Luki tertembak membuat rasa sedih dan terkejut jauh lebih mendominasi.


*Tuiiiiit*


“Kasih jalan! kasih jalan!”


Terdengar suara sirine ambulan berbunyi lanntang. Seiring dengan mobil itu yang bergerak mundur, masuk ke halaman depan hotel.


Walau posisi Adel agak jauh, tapi dia bisa melihat dua orang wanita sedang berjalan bersama dua orang berseragam serba hitam. Salah satunya adalah petugas hotel tadi, dan satunya lagi, sangat jelas, Sofia.


“Mas Luki?” gumam Adel saat dia melihat ada seseorang yang dibopong mendekati mobil ambulance. Dan dia sangat mengenal postur orang itu.


“MAS LUKIII”


Adel menjerit saat tubuh Luki dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan langsung dibawa entah kemana.


“BUU”


Polwan yang memegangi Adel, saat Adel menjerit, terkejut. Tubuh Adel tiba-tiba lunglai dan tidak berdaya.


“MEDIIIC”

__ADS_1


Teriakan polwan itu sontak membuat tim medis segera mendekatinya. Mereka lantas segera membawa Adel ke dalam mobil ambulance, dan membawanya ke rumah sakit.


***


__ADS_2