Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
temuan baru, dan awal yang baru


__ADS_3

Sambil menunggu Zulfikar datang, Hendra kembali ke kamarnya sendiri. Dia menambahkan temuan tadi ke dalam berkas sanggahan. Dengan barang bukti sebuah video. Ketika dia masih sibuk mengetik, terdengar kehebohan di luar sana. Saat dia mengintip ke luar, ternyata tim dari kepolisian telah datang. Tapi tidak terlihat adanya Zulfikar di antara mereka.


Tim dari kepolisian itu membuka pintu kamar kontrakan Stevani. Mereka langsung melakukan pemeriksaan di dalam kamar tersebut. Ramainya warga yang berkumpul untuk menyaksikan pemeriksaan kamar itu, membuat sebagian dari tim kepolisian itu sibuk mengatur warga.


Hendra sendiri kini duduk di depan kontrakannya, memperhatikan dengan seksama setiap pergerakan dari tim kepolisian itu. sayup-sayup terdengar suara musik dari kejauhan sana. Hendra tahu, itu adalah musik yang sengaja diputar tim kepolisian itu untuk mencari gawai yang mengeluarkan suara itu.


“Waah. Itu, tuh”


Sebuah seruan yang tak begitu jelas terdengar itu sontak menyita perhatian semua orang. Hendrapun tak luput darinya. Tak ada yang berani mendekat walau sebenarnya penasaran. Mereka hanya bisa diam menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian.


Terlihat kesibukan dari personel kepolisian itu. Beberapa orang keluar-masuk membawa beberapa peralatan. Ya, mereka langsung melakukan olah TKP setelah mendapatkan apa yang mereka cari. Hendra tersenyum. Dia sudah bisa menebak kemana arah kasus ini nantinya.


Sebuah mobil SUV masuk ke dalam halaman kontrakan ini. Beberapa orang keluar dari dalamnya. Satu diantaranya, Hendra sudah kenal. Ya, dia adalah Zulfikar. Rupanya dia datang untuk membuka pintu kamarnya. Dia tampak mempersilakan rekan-rekan sejawatnya untuk masuk.


Sayup-sayup, terdengar suara percakapan dari kari kamar Stevani. Tapi para polisi itu meminta kepada semua orang untuk diam. Hendra tahu, mereka sedang melakukan simulasi antara speaker yang mereka temukan itu dengan stetoskop rancangan Zulfikar.


Beberapa saat kemudian mereka keluar. Langsung saja, para wartawan lokal yang sudah menunggu, menyerbu. Dalam pernyataan resminya, pihak kepolisian menyatakan kalau mereka mendapatkan temuan baru berupa sebuah speaker yang berbentuk lampu. Atau dengan kata lain, sebuah lampu yang mempunyai speaker di dalamnya.


“Kami sudah mencoba menggunakan speaker itu, dan mencoba mendengarnya dari kamar sebelahnya, menggunakan alat stetoskop yang sama dengan yang dilaporkan. Hasilnya, suara dari kamar tersangka ini tertangkap dengan jelas seperti suara percakapan dua orang yang seolah-olah ada di kamar tersebut” kata salah satu anggota kepolisian itu.


Hendra tersenyum lebar. Apa yang menjadi dugaan Stevani sudah hampir terbukti. Ini akan meringankan bebannya. Bahkan bisa jadi akan segera merubah status klientnya.


“Tapi kami masih akan menguji hasil dari tangkapan suara stetoskop ini ke laboratorium digital. Hasil dari laboratorium digital inilah yang nantinya akan menjadi dasar kami untuk mengembangkan kasus ini” lanjut anggota kepolisian itu.


Para wartawan lokal itu berebut untuk mengajukan pertanyaan. Tapi sepertinya tim kepolisian itu belum mau berkomentar banyak. Mereka diminta menunggu sampai adanya pers release. Dan tim kepolisian itu langsung pergi begitu saja, termasuk dengan Zulfikar.


Tak mau kehilangan momentum, Hendra langsung bergerak cepat menyelesaikan berkas sanggahannya. Lalu dia membawa bukti-bukti yang sudah dia kumpulkan untu kemudian dia bawa ke kantor polisi.


Di kantor Polisi, Hendra menjabarkan temuannya kepada penyidik. Tentang rekaman CCTV yang menyatakan kalau Stevani pergi dari kontrakan sejak pagi, dan baru pulang kembali lewat jam delapan malam. Dia juga memperlihatkan beberapa salinan percakapan Stevani dengan beberapa orang. Beberapa foto dan identitas foto itu menunjukkan kalau hari itu Stevani sedang berada di luar kota.


Tak ketinggalan, salinan percakapan Stevani dengan pemilik kontrakan dia kemukakan. Salinan videonya juga dia putarkan di hadapan penyidik. Hendra menunjukkan bahwa ada seseorang yang masuk ke area kontrakan itu dengan membawa sebuah lampu. Beruntung, salah satu penyidik mengenali orang yang Hendra maksud. Dengan gamblang penyidik itu menyebutkan nama, Karjo.


Bukti-bukti yang Hendra ajukan diterima oleh penyikdik. Dan dia diminta menunggu. Para penyidik itu mengatakan akan mendalami terlebih dahulu berkas-berkas itu. Walau sebenarnya Hendra ingin mendengar kalau penyidik itu akan menangkap Karjo, tapi dia tidak bisa memaksa penyidik. Dia pergi setelah mengucapkan terimakasih.


Pagi harinya, dia dikejutkan oleh ketukan terus-menerus di pintu kontrakannya. Ternyata mas Yusuflah yang mengetuk pintu kontrakannya. Dia membawakan berita yang mengejutkan. Yusuf mengatakan, kalau belum lama tadi, Zulfikar berangkat pagi-pagi sekali. Zulfikar mengatakan kalau pihak kepolisian telah mengambil tindakan.


“Baru aja, si Karjo ditangkep, mas” kata Yusuf.


“Karjo? Karjo yang mana?” tanya Hendra pura-pura tidak mengenalnya.


“Oh, iya. Mas Hendra belum kenal dia, ya?” komentar Yusuf.


“Dia orangnya bu kontrakan. Dia yang suka disuruh benerin kontrakan, kalo ada yang rusak” lanjut Yusuf.


“Terus, hubungannya apa?” tanya Hendra masih pura-pura tidak merasa itu berita penting.

__ADS_1


“Aku baru inget. Emang si Karjo pernah ganti lampu di kamar mbak Vani. itu pas mbak Vani pergi. Aku yakin, lampu yang kemarin itu yang masang si Karjo” jawab Yusuf.


“Oh. Syukur deh. Semoga cepet ketemu pelaku utamanya. Kasihan kalo orang nggak bersalah jadi kambing hitam” komentar Hendra datar.


“Iya. aku juga berharap begitu. Kalo sampe beneran bisa bikin mbak Vani bebas, alamat dia bakal ngerasa berutang jasa sama mas Hendra. Ajib, tuh”sahut Hendra.


“Oalah. Dari tadi ketok-ketok kaya ada kebakaran tuh, ujung-ujungnya ke situ, mas? Hadeeh” komentar Hendra sok tidak kenal dengan Stevani.


“Ah. sekarang sih masih bisa pura-pura cuek. Liat aja entar kalo udah liat orangnya” kilah Yusuf.


Hendra tertawa sambil geleng-geleng kepala. Dia masih tetap berpura-pura acuh dan merasa itu tidak penting. Tapi di dalam hati dia bersyukur, pada akhirnya si Karjo diamankan juga.


Sejam kemudian Hendra pergi dengan mobilnya. Saat Yusuf bertanya mau kemana, dia bilang bertemu bos. Padahal dia mau ke kantor polisi.


Sejauh yang dia bisa kumpulkan, dia sudah mendapatkan informasi, bahwa si Karjo telah diinterogasi. Dan si karjo mengatakan kalau dia memang diminta pemilik kontrakan itu untuk mengganti lampu di kamar Stevani. Tapi pas mau berangkat dia dicegat segerombolan preman. Ciri-ciri gerombolan preman itu mirip seperti yang diceritakan Adel dan Budi.


Karjo mengatakan kepada penyidik kalau gerombolan preman itu memintanya untuk mengganti lampu yang dia bawa dengan lampu yang mereka bawakan.


Saat ditanya, apakah dia tahu kalau lampu itu ada speakernya, si Karjo menjawab Tahu. Tapi ketika ditanya mengapa mau, Karjo bilang kalau dia takut. Dia diancam akan dibunuh kalau tidak mau menuruti keinginan gerombolan preman itu.


Penyidik menanyakan untuk apa lampu yang ada speakernya itu. Karjo menjawab, untuk memutar sebuah rekaman. Saat ditanya dimana rekaman itu, si Karjo menjawab kalau rekaman itu ada di ponselnya. Dan ponsel itu masih tertinggal di rumahnya. Saat ditanya apa kenal Putri dan Zulfikar, Karjo menjawab hanya kenal dengan Zulfikar.


Pihak kepolisian mengajak Karjo untuk mengambil ponselnya. Dan memintanya untuk menunjukkan rekaman asli yang dia dapatkan dari gerombolan preman itu. Rekaman yang ditunjukkan si Karjo sama persis dengan yang dimiliki polisi. Ponsel itupun disita kepolisian.


Dan informasi terakhir yang dia dapatkan, saat ini polisi sedang menguji rekaman tersebut di laboratorium digital. Proses ini dia prediksi akan memakan waktu yang tidak sebentar. Butuh beberapa hari, bahkan bisa lebih dari seminggu, baru keluar hasilnya. Belum ada lagi yang bisa dia lakukan selain menunggu. Besok, dia berencana menemui Stevani, untuk mengabarkan kondisi terkini dari kasusnya.


***


Begitu juga dengan Putri. Dia yang belum kesini lagi semenjak konvoi minggu lalu, tak henti-hentinya mengagungkan nama Tuhannya. Dia terus tersenyum, sesekali dia geleng-geleng kepala saat bertemu pandang dengan kakaknya.


Memang belum seluruhnya jadi, alias baru setengah jadi. Yang jelas sudah selesai baru rangka cor, dan ruang produksi sementara, di belakang. Di atas ruang produksi itu didirikan sebuah ruangan yang bisa dijadikan tempat tinggal oleh Budi. Selain satu ruangan lagi di ruang produksi, yang bisa dijadikan tempat bermalam untuk karyawan yang menginap.


Bagian depannya, yang dijadikan ruang showroom, oleh kang Sukron dan kawan-kawan dibuatkan dinding penutup dari anyaman bambu alias gedheg. Lantainya lantainya digarap oleh kang Supri. Bersama kang Bejo dan kang Mangil, dia buatkan papan khusus yang dia ukir dengan berbagai biota laut.


Lalu bagian atasnya dia lapis dengan resin yang membentuk lapisan keras semacam akrilik. Sehingga tetap aman walaupun tergesek-gesek alas kaki.


Rak pajangannya juga tak luput dari sentuhan ukiran. Ada beberapa tempat pajangan yang dibuat dari pohon-pohon kering yang sudah mati. Ukurannya memang kecil, tapi dengan sentuhan furnish, tempat pajangan itu terlihat lebih mempesona.


Di bagian tengah, tempat produksi sebenarnya, sedang dikebut pengerjaannya. Masih terlihat material bangunan menumpuk di sisi kanan rumah, jika kita menghadap ke arah belakang rumah. Karena kang Sukron dan kawan-kawan sedang mengejar dinding sisi kiri.


Walau ada banyak material bangunan, dari depan rumah, siapapun tidak akan bisa melihatnya. Karena kang sukron telah membuatkan sekat dari anyaman bambu, yang bertujuan menghalangi pandangan orang ke arah belakang rumah, dari sisi kanan dan kiri.


Ruang produksinya memang sedang berhimpitan. Walau masih cukup longgar menurut kang Mangil. Karena di tempat bapaknya Adel, lebih sempit lagi.


Peralatan yang tersedia, tidak semuanya baru. Ada sebagian yang bekas pakai. Tapi masih bagus kondisinya. Dan sebagian dari peralatan itu adalah sumbangan dari para anak buahnya yang masih menghormatinya. Beberapa juga berasal dari sumbangan anak buahnya yang sudah pensiun. Praktis, dia sendiri hanya mengeluarkan dana yang cukup kecil. Karena dia hanya membeli peralatan pendukungnya saja.

__ADS_1


Lantai dua bengkel kayu itu sudah selesai pengerjaannya. Lantainya terbuat dari papan kayu. Bukan beton seperti kebanyakan orang buat. Dindingnya juga bukan tembok, melainkan papan kayu juga. Tiangnya juga kayu. Seperti rumah orang jaman dulu. Tapi isinya sudah lengkap. Sudah ada kasur, lemari, bahkan ada dapur kecil. Sedangkan untuk toilet, masih mengikut sama toilet yang di bawah.


Budi mengatakan, kalau semua material bangunan ini Sandi yang membelikan. Sebagai timbal balik atas rasa hutang budinya, saat dulu pernah Budi selamatkan nyawanya.


Serta merta bu Ratih minta Budi untuk menelepon Sandi. Kalau ibunya sudah seperti orang kebelet begitu, Budi tidak bisa lagi bertanya untuk apa. Dia hanya bisa nurut dan melaksanakan perintah itu. Berkali-kali bu Ratih mengucapkan terimakasih atas bantuan yang begitu besarnya untuk Budi. Berbagai doa juga bu Ratih panjatkan untuk Sandi.


Rencananya malam ini Budi akan mengadakan selamatan. Untuk menandai dimulainya pengoperasian bengkel kayu ini. Putri iseng mencoba peruntungannya untuk ikut tinggal dan membantu persiapan selamatan nanti malam. Tapi langsung ditolak dengan sukses oleh ibunya. Dia harus berangkat sekolah, bersamaan dengan Budi. Kontan saja dia langsung merajuk.


“Udah, jangan ngambek gitu, ah! Jelek tahu” seru seseorang. Perhatian Putri teralihkan.


“Eh, mbak Adel” seru Putri. Dia langsung mendekat dan salim.


“Ama aku, enggak?” satu suara lagi menegurnya. Putri mengernyitkan dahinya.


“Udah cuci tangan belum?” sahut Putri sambil cengengesan.


“Suek. Udah bersih keles” jawabnya.


“Putri! Kok gitu sama Madin?” tegur bu Ratih.


“Ha ha ha” Putri malah tertawa.


“Putri kalo nggak selengehan malah tanda tanya, Bu” kata Madina sambil salim ke bu Ratih.


“Maksud nduk Madin?”


“Iya. Diem, diem, cepirit” jawab Madina.


“Eh. Ada juga lu keles, cepirit. Malah ngatain gua” Kilah Putri dengan hebohnya.


“Ha ha ha ha ha” Madina dan yang lain tertawa mendengar ucapan Putri.


“Udah, kalian berdua berangkat bareng, gih! Nih, kuncinya” kata Adel. Dia memberikan kunci motornya kepada Madina.


“Jaga adek-adek kamu ya, Bud! Pastikan sampe sekolah dulu!”


“Iya, bu” jawab Budi.


“Tolong jagain Adel buat Budi ya, Bu! jangan sampai kecolek mbadol!” lanjut Budi.


“Hempf. Kan Abram, pendekar Mbadolnya. Ha ha ha ha” Adel tertawa lepas, sedangkan Budi hanya geleng-geleng kepala.


“Udah siang, buruan berangkat! Biar Tata yang bantuin ibu”


“Makasih ya, Ta” jawab Budi.

__ADS_1


Merekapun segera berangkat, setelah berpamitan satu per satu. Budi mengawal dari belakang. Memastikan kedua adiknya itu mengendarai motor dengan baik. tidak ngebut, tapi juga tidak terlalu pelan. Pastinya, selalu berhati-hati terhadap segala kondisi jalan.


***>>>


__ADS_2