Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sehari sebelum ke berlin


__ADS_3

Sehari menjelang keberangkatannya ke Berlin, Budi masih terus disibukkan dengan berbagai hal. Sampai-sampai mengenai pakaiannya harus dia delegasikan kepada adiknya. Walau agak khawatir, tapi Budi mengijinkan Zulfikar membantu Putri. Dia ingin mengetes juga, seberapa kuat iman Zulfikar menahan godaan. Berdua saja di rumah bersama Putri bukan perkara mudah, bagi lelaki yang kurang beriman.


Ada hal-hal baru yang dilaporkan dari Berlin, sehubungan dengan akomodasi, cuaca, termasuk perkiraan pengunjung.


Tapi itu hanya sebagian dari kejutan-kejutan lain hari ini. Sampai-sampai Budi tertawa, menertawakan dirinya sendiri, yang masih terkejut. Baru kali ini dia mengalami momen yang sangat dinamis.


Saking sibuknya menyesuaikan rencana dengan berbagai perkembangan yang ada, Budi sampai harus mendelegasikan Aldo untuk pergi ke tempat pak Fajar. Aldo dia tugasi untuk memantau progres produksi di sana, dengan detil yang sudah dia tuliskan dalam sebuah catatan.


Sorenya, pak Paul berbisik-bisik dengan Farah dan Erika. Memuji dedikasi Budi, dan kecepatannya mengambil tindakan pada semua yang diembannya.


Farah setuju dengan apa yang disampaikan pak Paul. Sedangkan Erika hanya memberikan isyarat dengan senyumnya. Dia masih merasa cemburu dengan Adel.


“Bud” panggil pak Paul.


Budi yang sedang di kubik bekas PPIC, memasukkan data laporan penilaian karyawan dari jalur khusus, teralihkan perhatiannya.


“Ya, pak” jawabnya, setengah berseru juga.


“Sini dulu!” pinta pak Paul.


“Siap” jawab Budi.


Budi segera bangkit dari duduknya, dan pergi ke arah dispenser air, di tengah-tengah kantor. Tempat dimana pak Paul, Farah dan Erika berada.


“Kamu lagi ngerjain apa?” tanya pak Paul sesampainya Budi di hadapannya.


“Laporan penilaian karyawan, pak” jawab Budi.


“Oh. Udah kelar?"


“Belum”


“Ya udah. Pending aja dulu!” perintah pak Paul.


“Loh. Ada tugas lain, pak?” tanya Budi terkejut.


“Tugas kamu sekarang, pergi ke rumah pak Fajar” jawab pak Paul.


“Kan tadi sudah, sama si Aldo. Laporannya juga sudah saya submit, pak”


“Ya. Tapi kamu harus temuin anaknya”


“Apa hubungannya? Kan yang megang proyek ini tetap pak Fajar” tanya Budi bingung.


“Soalnya, kata Farah, kamu rese kalo belum dikeluarin” jawab pak Paul setengah tergelak.


“Wah. Farah lu, mbak” seru Budi. Tangannya menunjuk Farah.


“Emang gua Farah” sahut Farah heboh.


“Bahaya. Ember” komentar Budi.


“Ha ha ha ha”


Pak Paul tertawa mendapati kelakarnya berhasil memancing kehebohan. Sedangkan Erika hanya tergelak saja. Untuk beberapa saat, Budi dan Farah masih terus saling meledek. Menimbulkan lebih banyak kelucuan.


“Ya udah. Sekalipun itu cuman lelucon, tapi aku pikir kamu butuh itu. Kamu butuh ketemu dia” kata pak Paul menyudahi kehebohan itu.


“Maksud bapak?” tanya Budi memastikan.


“Laporan itu kan bisa kamu kerjakan sambil berjalan. Sekarang kamu pulang, dan temuin dia. Bikin malam ini berkesan, biar besok kamu bisa berangkat dengan hati yang mantap!” jawab pak Paul.


Budi tidak segera menjawab. Sebenarnya itu adalah perintah yang sangat dia tunggu-tunggu. Tapi di sebelahnya pak Paul, ada atasannya juga.


“Kenapa lu ngeliatin gua? Pengen gua veto?” tanya Erika dengan nada galak.


“Weis, ya enggak dong” jawab Budi cepat.


“Ya udah, sono! Semenit lagi, beneran gua veto, nih” seru Erika.


“Siap” jawab Budi. Dia bergerak lebih mendekat ke pak Paul.


“Terimakasih, pak” kata Budi sambil salim dan cium tangan. Pak Paul tertawa melihat perbuatannya.


“Duluan, mbak” lanjut Budi sambil salim dan mencium tangan Farah. Farah juga tergelak. Budi langsung bersiap menuju kantor HRD.

__ADS_1


“Eh, eh. Lu nggak salim sama gua?” tegur Erika, saat Budi mulai beranjak.


“Ogah. Embak abis dari toilet” jawab Budi sambil terus berjalan.


“Eh. Gua cebok pake tangan kiri, Budi” seru Erika.


“Ha ha ha ha”


Budi hanya tertawa sambil terus berjalan tanpa menoleh. Sontak tawanya Budi terdengar lucu di telinga pak Paul dan Farah. Mereka tertawa lepas saking merasa lucunya.


Sekali lagi, saat hendak keluar kantor, Budi menyalami pak Paul dan Farah. Tapi tidak menyalami Erika.


Untuk kedua kalinya Erika mengomel heboh. Karena merasa tidak enak hati, Budi kembali, bermaksud menyalami atasannya itu. Tapi Erika menolak, pura-pura marah. Budipun pergi dengan tertawa.


Di rumah pak Fajar, Budi langsung disambut oleh pak Fajar. Dia tampak kikuk. Itu karena ada Luki, yang juga berlagak memeriksa progres produksi dari mebel pesanannya.


Adel yang mengetahui kedatangannya, langsung beranjak dari sofa ruang tamu teras. Tanpa mempedulikan Luki, Adel langsung menyambut kekasihnya. Salim dan cium tangan, dia lakukan tanpa ragu.


Adel mengajak Budi untuk melihat-lihat hasil produksi bengkel kayu bapaknya. Madina dengan sigap mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.


Di teras sana, Budi melihat ada bu Lusi. Dia tampak mengajak Luki berbincang, menggantikan tugas Adel.


Adel sengaja menjelaskan satu demi satu pencapaian bapaknya. Sebenarnya Budi sudah tahu, tapi melihat gelagat kekasihnya yang ingin wasting time, Budi mengikutinya saja. Bahkan dia merasa senang.


Disamping bisa melihat kalau kekasihnya masih mencintainya seratus persen, Budi juga terbuka wawasannya, kalau kekasihnya itu sangat berbakat di bidang bisnis.


Sejam kemudian, Luki tampak berpamitan kepada pak Fajar dan bu Lusi. Tapi melewatkan Adel begitu saja. Budi tersenyum. Dia merasa kalau Luki masih belum percaya diri untuk berhadapan dengan rivalnya secara langsung dalam jarak dekat. Adel menghela nafas lega. Dia mengajak Budi untuk duduk di sebuah kursi kayu di dekat tembok rumah tetangganya.


“Untung Abram dateng” kata Adel setelah duduk.


“Kenapa, Ta?” tanya Budi. Adel hanya menatap matanya berberapa saat.


“Heemmhh”


Adel menghela nafas. Dia bingung harus bilang apa. Tidak mungkin dia menceritakan semuanya. Budi tersenyum. Dia paham apa yang dirasakan kekasihnya.


“Makasih ya, Ta. Abram ngerasa terhormat, dapet kesetiaan paripurna dari Tata” kata Budi. Sontak Adel menatap wajahnya. Dia tersenyum melihat Budi tersenyum.


“Abram bisa aja, gombalnya. Tata terbang, nih” komentar Adel.


“Ha ha ha ha”


“Permisi. Persanannya, mbak”


Perhatian mereka teralihkan oleh suara seseorang. Adel tertegun melihat seorang tukang ojek online mendekati mereka. Terlebih lagi Budi. Selama ini dia belum pernah melihat ada tukang ojek online perempuan di kota ini.


“Saya nggak mesan apa-apa, mbak” kata Adel.


“Hempf” tapi Budi malah tergelak.


Dia melihat ada yang aneh di jaket ojol itu. Ada almamater sebuah sekolah, dan nama seseorang, di bagian bawahnya.


“Kenapa, Bram? Pesenan Abram, ya?” tanya Adel.


“Berapa mbak, jadinya?” tanya Budi.


“Dua puluh ribu, pak” jawab wanita itu.


Masker tebalnya membuat suaranya tersamar. Budi menyerahkan selembar uang hijau sambil tergelak. Membuat Adel semakin bingung.


“Makasih, mas” kata wanita itu sambil berlalu pergi.


“Name tagnya jangan lupa dilepas, ya?’ celetuk Budi.


“Hempf. Ha ha ha ha ha” wanita itupun tak kuasa menahan tawanya.


“Astaghfirulloh. Adek?” seru Adel.


Seketika dia berdiri, saat mengenali suara siapa yang sedang tertawa itu.


“Ha ha ha ha. Aduh, ketahuan”


Wanita itu melepas maskernya sambil berjalan menjauh. Dan terlihatlah wajah asli dari tukang ojek online itu.


Semua yang melihat, termasuk bu Lusi, tertawa melihat tingkah Madina. Adel hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala. Karena haus, Budi langsung meminum apa yang disajikan calon adik iparnya itu.

__ADS_1


“Bram. Tadi ibu ke sini, sama Putri” kata Adel setelah ikut meminum cokelat dingin itu.


“Oh, ya? ngapain? Kok nggak bilang Abram, ya?” tanya Budi.


“Nengokin Bapak. Kata ibu, baru sekarang bisa nengokin. Kemarin-kemarin nggak bisa pergi, dikerubutin bule mulu” jawab Adel setengah tergelak.


“Ha ha ha. Iya. Ada lho, yang suka sama ibu. Udah Abram bilangin kalo abram ini anaknya ibu, tapi tetep aja suka”


“Emang ibu masih cantik” kometar Adel.


“Terus tadi ngobrolin apa?”


“Banyak. Salah satunya ya tentang karyawan Abram. Kata ibu, belum dapet. Disiasatinnya pake ketiga karyawan Abram itu. Kalau stok udah lebih dari lima puluh persen, mereka bertiga disuruh ibu buat bantu di depan. Kata Putri, kocak-kocak mereka. kacau bahasa inggrisnya” jawab Adel.


“Do you like iplik-iplik?” kata Budi menirukan kalimat kang Mangil.


“Ha ha ha ha. Iya. Masa kata Putri, kang Mangil beneran nanya itu ke bule cewek. Gokil nggak, tuh? Ha ha ha”


“Ha ha ha ha” Budi ikut tertawa membayangkan kocaknya kang Mangil.


“Oh, ya Bram. Besok, jadi berangkat?” tanya Adel, beberapa saat kemudian. Wajahnya berubah jadi sendu.


“Iya. Boarding jam sepuluh” jawab Budi. Wajah Adel semakin sendu.


“Berangkat pagi, dong? Sama siapa aja? Terus, berapa hari di sana? Acaranya nggak ditunda apa, Bram? Kan ada virus wuhan itu” tanya Adel. Budi tersenyum beberapa saat.


“Satu-satu dong nanyanya! Masa berondongan gitu?” komentar Budi.


“He he” Adel hanya nyengir dikomentar begitu oleh kekasihnya.


“Abram berangkat sama yang kemarin itu” jawab Budi.


“Loh. Kalo Aldo sama Riki diajakin, yang gantiin Abram, siapa?” tanya Adel. Budi tersenyum lagi.


“Itu dia, minus Aldo dan Riki. Jadi cuman Ratna, Deni, Bayu, Resti, Abram, sama mbak Farah”


“Nah, itu baru masuk akal” komentar Adel.


“Terus, berapa hari?” kanjutnya.


“Sepuluh hari” jawab budi. Adel mengernyitkan dahinya. Seolah ingin bertanya, kok lama sekali.


“Itu yang udah pasti” lanjut Budi.


“Yang udah pasti?” tanya Adel.


“Ya. Preparation, tiga hari. Eksponya, empat hari. Dan beberesnya, tiga hari”


“Terus?”


“Pak Paul bilang bakal nambah empat hari. Tapi tentatif” jawab Budi.


Adel menghela nafas berat. Wajahnya semakin menampakkan kesedihan. Budi mengusap-usap pundak kanan Adel.


“Kan tentatif, Ta. Bisa jadi, bisa juga enggak” lanjut Budi.


“Buat apa, emangnya?”


“Pak Paul ada pembicaraan sama kolega di eropa. Ada orang indonesia juga. Rencananya mereka mau ketemu. Dan Abram diajakin sebagai staff teknik. Bertugas menjawab kalo ada pertanyaan-pertanyaan seputar proses produksinya” jawab Budi.


“Oh” komentar Adel pendek.


“Kok oh, doang?” tanya Budi.


Adel menatap mata Budi. Ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan. Tentang kerinduan yang pasti bakal lebih hebat dari saat ini. Tentang ketakutannya terhadap keadaan keuangan bapaknya. Ketakutannya kalau Luki akan membuat kejutan-kejutan yang sangat tidak dia inginkan selama Budi di Berlin. Pada akhirnya, Adel hanya bisa menatap lekat mata Budi, dan menggelengkan kepala.


“Kalo mengenai virus wuhan, Abram juga belum dapat updatenya. Yang pasti, sampe sekarang jadwalnya masih belum berubah. Setahu Abram, Jerman masih aman, kok. Cuman emang udah mulai screening sih, lokal” lanjut Budi, menjawab sisa pertanyaan Adel.


Mereka saling menatap lagi. Adel semakin bertambah takut. Sejauh yang dia tahu, virus itu diberitakan cukup mematikan. Dan yang terjangkit, kebanyakan adalah mereka yang baru saja melakukan perjalanan ke luar negeri. Sedangkan acara di berlin itu adalah acara yang diikuti banyak negara, termasuk tiongkok.


“Nduk. Ajakin mas Budi makan, gih!”


Mereka terkejut mendengar suara teguran. Saking lekatnya mereka saling menatap, sampai-sampai mereka tidak sadar ada yang datang mendekati mereka.


“Madin udah gorengin gurame, sama masakin cah kangkung”

__ADS_1


Adel malah menoleh ke arah Budi, seolah meminta pendapat. Budi tersenyum dan mengangguk.


“Baik, bu” jawab Adel sambil tersenyum, tersipu malu.


__ADS_2