
Sebenarnya, setelah sampai, tugas kan Jupri telah selesai. Tapi di sini kang Jupri malah menawarkan bantuan.
Dia bersedia menemani Budi sampai menemukan kamar Adel dirawat. Barangkali Budi butuh kendaraan untuk suatu hal. Dan tawaran kang Jupri itu langsung disambut baik oleh Budi.
Setelah bertanya pada bagian pendaftaran, akhirnya Budi menemukan kamar yang dia cari.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi. Kebetulan pintu kamar sedikit terbuka.
“Wa’alaikum salam”
Sebuah suara yang terdengar asing buat Budi. Dalam artian bukan suaranya orang yang dia cari.
“Icha, ya?” tanya Budi.
“Iya, mas Budi” jawab Icha.
“Tahu darimana, saya Budi?” goda Budi. Itu karena dia menggunakan masker.
“Ya siapa lagi yang dateng barengan kang Jupri?” jawab Icha dengan pertanyaan.
“Wah. Saya emang nggak cocok jadi maling. Pake masker aja masih dikenali bos muda” kelakar kang Jupri.
“Hempf” Budi tergelak mendengar kelakar itu.
“Adel mana?” tanya Budi kemudian.
“Eeem. Masuk, mas!”
Tampak ada ketegangan di wajah Icha. Walau bertanya-tanya, tapi Budi ikut Icha masuk ke dalam ruang rawat. Sedangkan kang Jupri memilih menunggu di luar.
“Del?” sapa Budi.
Adel tampak meringkuk di atas ranjang. Dia menghadap ke tembok. Praktis hanya punggungnya yang terlihat dari arah Budi.
Sapaan pertama tak menghasilkan respon dari Adel. Membuat Budi bingung. Dia menatap Icha, meminta penjelasan darinya.
“Luki meninggal, mas” kata Icha.
“Apa?” tanya Budi kaget.
“Iya. Lima menitan sebelum adzan subuh tadi”
“Kok bisa?”
“Belum ada keterangan resmi, mas. Tapi ada desas-desus, ada yang sengaja nyabotase life supportnya” jawab Icha lirih. Hampir tak terdengar.
Di sini Budi bisa merasakan, kalau di hati Adel sebenarnya sudah mulai tumbuh rasa cinta pada Luki. Jadi, sekalipun dia sudah bilang benci sekalipun, tidak mudah untuk melepasnya seketika itu juga.
“Dari subuh tadi, Adel begini?” tanya Budi lirih.
“Iya, mas” jawab Icha, lirih juga.
Budi tidak bertanya lagi. Dia mendekati Adel. Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam memperhatikan mantan kekasihnya itu. Tubuh Adel berguncang-guncang karena isak tangisnya.
“Ta”
Budi mencoba memanggil Adel menggunakan sapaan sayangnya. Dan ternyata berhasil.
Adel langsung merespon. Dia balik kanan. Sontak, matanya bertemu pandang dengan mata Budi. Karena memang Budi agak membungkukkan badannya.
“Bram?”
Budi tersenyum, mendapati Adel mengenalinya. Berarti tidak ada yang bermasalah dengan kejiwaanya. Hanya karena sedih saja, dia tidak responsif.
Seperti mimpi, orang yang dia harapkan ada untuk saat ini, ternyata benar-benar ada di hadapannya. Diapun langsung beranjak untuk duduk. Budipun bergeser, memberikan ruang untuk Adel. Setelah Adel duduk bersila, dia juga duduk di hadapan Adel.
“Bram”
Serta merta Adel memeluk Budi. tangisnya pecah lagi. Kali ini pundak Budi jadi tempat melepas air matanya. Dalam keterkejutannya, Budi sempat menoleh ke arah Icha.
__ADS_1
Melihat Budi bingung harus bersikap bagaimana, Icha memberikan anggukan kepalanya. Dia juga memberikan isyarat kepada Budi untuk membalas pelukan Adel. Budipun menuruti isyarat itu. Walau bukan memeluk, hanya memberikan elusan pada punggung Adel.
“Kuatkan hatimu ya, Del! Kamu pasti bisa laluin ini semua” kata Budi menguatkan hati Adel.
“Bram”
Adel protes, Budi memanggilnya langsung nama lagi. Dia sedang tidak mau mendengar itu.
“Iya, Ta. Sori” sahut Budi.
Sepertinya Icha tidak mau mengganggu momen Adel bertemu Budi. Diapun keluar dari kamar rawat. Dan terdengar suaranya menyapa kang Jupri.
“Bram. Tata ancur, Bram” rengek Adel dalam tangisnya.
Budi tidak menjawab. Dia hanya mengelus punggung Adel. Dia bingung harus menjawab apa. Antara tidak tahu maksud kata ancur itu, dan kekhawatiran, ada orang lain yang melihat mereka berpelukan. Satu prasangka sudah cukup untuk membuat kasus ini menjadi lebih panjang.
“Tata takut, Bram. Luki mati dibunuh. Tata gimana, Bram?”
Kali ini Adel sudah lebih spesifik mengungkapkan maksudnya. Dan Budi langsung mengerti harus bagaimana.
“Tenang, Ta. Abram nggak akan tinggal diam. Nggak akan Abram biarin siapapun nyakitin Tata” jawab Budi. Meskipun jawaban itu setengah diplomatis.
“Bram. Abram kesini buat Tata, kan? Abram ke sini disuruh ibu buat jagain Tata, kan?” tanya Adel lagi.
Budi kembali bingung. Karena Adel seperti mengambang antara batas kesadaran dan imajinasinya.
“Iya, Ta. Ibu yang merintahin Abram buat jagain Tata” jawab Budi.
***
Selepas memutus sambungan telepon dengan Budi, Erika langsung buru-buru berpakaian.
Tanpa memoles wajahnya sebagaimana biasanya, dia langsung pamit pada papa dan mamanya. Sempat papanya bingung karena sikapnya. Dan sempat juga dia digoda oleh adik-adik tirinya. Tapi Erika tidak menanggapi mereka. di pikirannya hanya satu, bertemu bu Ratih, dan menanyakan maksud dari bu Ratih mengirim Budi untuk menemui Adel.
Tiba di rumah sakit, dia merasa kamar rawat Putri sepi. Tapi dia tidak mau ambil pusing. bungkusan nasi uduk yang tadi dia beli di jalan, dia siapkan. Begitu juga dengan buah-buahan untuk Putri.
*Tok tok tok*
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Suara Putri menggema di seantero kamar. Erika mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan apa yang dia saksikan ini.
“Sendirian, Put?” tanya Erika sembari mendekat.
“He he. Nggak juga, sih” jawab Putri. Dia salim saat Erika mengulurkan tangannya.
“Ada mbak Hanin. Lagi ke toilet. Mules, bilangnya” lanjut Putri, menjelaskan.
“Ibu, kemana?”
“Ibu lagi ngurusin administrasi, mbak”
“Oh. Udah boleh pulang, Put?”
“Belum tahu, sih. Nunggu keputusan dokter. Ibu cuman nanyain jenis obat kemarin, generik apa paten, gitu”
“Pasti patenlah, Put. Aku aja sama mas Budi dikasih yang paten”
“Putri pikir juga gitu, mbak. Alhamdulillah, udah nggak nyut-nyutan kalo buat ketawa”
“Oh, ya? Alhamdulillah” komentar Erika.
Sejenak terjadi keheningan. Dan Putri tersenyum. Dia paham, mengapa Erika tampak tidak semangat pagi ini.
“Kenapa, mbak?” tegur Putri. Dia pura-pura tidak tahu.
“Enggak. Kepikiran mas Budi aja” jawab Erika, berusaha tenang.
__ADS_1
“Oh. Iya, sih. Mas Budi lagi ke tangerang” komentar Putri.
“Itu dia Put. Kenapa sih, pake ke sana segala?” tanya Erika, mulai tidak bisa menahan diri.
“Kan ada si Hanin. Kenapa nggak dia aja yang disuruh ke sana? Sama-sama cewek kan enak” lanjut Erika.
“Ini bukan menyangkut masa lalu, mbak. Ini menyangkut keamanan” jawab Putri. Erika mengernyitkan keningnya.
“Bisa aja sih, mbak Hanin yang disuruh ke sana. Tapi apa dia bisa berantem?” lanjut Putri.
“Emang mau berantem sama siapa, Putri? Orang Adelnya di rumah sakit. Pasti ada polisi juga yang jagain” sahut Erika.
“Ya. Emang, sih. Tapi kalo Luki aja, yang dijaga lebih ketat, bisa dimatiin, gimana dengan mbak Adel?”
“Dimatiin gimana?” tanya Erika bingung.
“Dibunuh, mbak”
“Apa?” Erika terkejut bukan main.
“Iya. Tadi, sebelum subuh. Mbak Icha barusan nelpon”
Erika termenung. Pikirannya berkecamuk. Banyak hal yang berkelebat di pelupuk matanya.
“Tunggu! Semalem kan, ibu lagi sama pak Paul, kan? Kenapa nggak minta Mike aja yang ke sana? Kan Mike lebih jago. Mantan pasukan khusus lho, dia” tanya Erika.
Wajah Putri berubah kemerahan. Tampak dia tersinggung.
“Embak pikir ibukku wanita murahan, sembarangan minta sama laki-laki yang bukan suaminya?” tanya Putri lirih, tapi penuh penekanan.
“Bukan, bukan. Bukan gitu, Put. Maksud aku, maksud aku tuh, “
“Iya. Putri tahu kok, mbak” potong Putri. Matanya tajam menatap Erika.
“Apa mbak Rika segitu nggak percayanya sama mas Budi?” tanya Putri. Erika semakin tergagap.
“Aku, aku, aku bukannya nggak percaya, Put, “
“Terus?” potong Putri.
“Kalo mas Budi itu nemuin Liza, atau si Nungki itu, aku nggak seberapa cemburu, Put. Nyatanya mas Budi tuh biasa aja, ketemu mereka juga. Tapi kalo sama Adel, beda” jawab Erika.
“Apa bedanya? Harusnya sama mbak Nungki, mbak Rika lebih cemburu. Masih lajang lho, dia”
“Hemh. Adel itu udah kaya RC cepek, Put. Tahu nggak? Motor jadul, tuh”
“Iya, tahu” jawab Putri.
“Nah, mas Budi itu kaya tivi” lanjut Erika.
“Hubungannya?”
“Haduh. Anak milenial. Nggak tahu gimana keselnya kalo lagi asyik nonton sinchan, ada motor jadul lewat. Mau tivinya bagus kaya apa juga, kemresek, Put”
“Oh. Pernah, kali. Ibu tuh, yang ngomel. Lagi seru-serunya cinta Fitri, eh motor bodong lewat. Ilang langsung gambarnya, kemriyek”
“Itu dia, Put”sahut Erika.
“Sekalipun mas Budi nggak kepikiran, tapi kalo udah ketemu Adel, jadi kepikiran. Seteguh apapun iman mas Budi, buyar Put, kalo ketemu Adel” lanjut Erika.
Putripun terkesiap. Dia baru menemukan korelasi, mengapa Erika jadi sangat cemburu kali ini. Bukan sekedar cemburu buta, tapi kekhawatirannya kali ini, cukup beralasan.
“Tapi itu perintah ibu, mbak” kata Putri, beberapa saat kemudian.
“Itu dia, Put. Ibu kenapa, ya? Kok ngambil keputusannya kaya grasak-grusuk gitu?”
*Gleekk*
Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Dan betapa terkejutnya Erika, mendapati bu Ratih sudah berdiri di depan pintu, memperhatikan mereka.
__ADS_1
Dan dia tidak tahu, sejak kapan bu Ratih berdiri di situ. Sama sekali dia tidak mendengar suara pintu dibuka. Bu Ratih tersenyum penuh arti pada Erika.
“Jadi, mbak Rika ke sini cuman mau menyoal perintahnya ibu pada anak ibu sendiri?”