Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sarapan bubur


__ADS_3

Budi termenung di pojokan stand. Beberapa orang yang berada di depannya seolah tidak terlihat olehnya. Matanya tertuju pada layar ponselnya, tetapi nyawanya seolah berada di tempat lain. Orang yang hendak menyapanya, mengurungkan niatnya. Walau bertanya-tanya, tapi mereka tampak bisa memahami. Paling tidak, itu yang mereka sangka. Padahal Budi tidak sedang memikirkan stand ini. Tidak juga sedang memikirkan pekerjaan lain.


“Hei. Kamu kenapa?”


Seorang wanita menyentakkan lamunannya. Budi terkejut. Dia tidak segera menjawab. Butuh beberapa detik untuk dia kembali menyadari sekitarnya. Membuat yang menegurnya mengernyitkan keningnya.


“Ada apa, sih? ditegur pak Paul?” tanya wanita itu lagi.


“Oh. Eeem, enggak. Bukan” jawab Budi masih tergagap.


“Erika?”


“Bukan”


“Halah, nggak mugkin. Pasti dia ngajakin kamu wik wik. Ya, kan?” tanya wanita itu lirih.


“Apaan, sih?” tolak Budi.


“Udah deh, ngaku aja! sampe bengong, gitu” cecar wanita itu sambil tersenyum geli.


“Bukan, Hilda. Nggak punya puser lu, ya? ngomong seenak jidat” jawab Budi.


“Ha ha ha ha” Hilda tertawa lepas.


“Abisnya, kamu bengong sampe kaya gitu” lanjut Hilda.


“Emang cewek di dunia yang pantas aku pikir Cuma dia? Aku juga punya cewek kali”


“Ha ha ha ha”


Hilda tertawa lagi. Sedangkan Budi menghela nafas cepat, tapi berat. Bukannya tidak tahu, tapi Hilda bersikap seolah tidak tahu.


“Eh Bud. Inget simbah yang kamu tabrak dulu itu, nggak?” tanya Hilda.


“Iya. Kenapa? Beliau sakit?” jawab Budi.


“Enggak. Kemarin aku ketemu sama belaiau. Dia nanyain kamu”


“Terus?”


“Kata beliau, kamu berjodoh sama Erika” jawab Hilda.


Budi sempat tertegun, keningnya mengkerut. Beberapa saat lamanya, mereka saling menatap mata.


“Hempf. Ha ha ha ha ha”


Budi tergelak dan tertawa lepas. Buatnya itu terlalu lucu. Tawa lepasnya itu sontak membuat Hilda cemberut.


“Tahu dari mana, non?” tanya Budi.


Tapi Hilda yang tidak suka ditertawakan, tidak segera menjawab. Dia memasang wajah sewot. Tapi Budi malah tertawa lagi.


“Emangnya kamu lupa apa, sama apa yang dikatakan simbah itu?” kata Hilda beberapa saat kemudian.


“Yang mana?”


“Yang kamu disuruh nyuci kaki ibumu, terus minum air cucian itu”


“Inget. Udah aku lakuin, kok”


“Apa kata dokter, sewaktu kamu di rumah sakit?”


“Apa hubungannya hilda?”

__ADS_1


“Jawab dulu!”


Budi diam sesaat. Dia mencoba mengingat-ingat hari-hari di rumah sakit waktu itu.


“Kalo dokternya sih, nggak bilang apa-apa. Tapi kalo kata Putri sih, aku hampir nggak selamat. Karena pelurunya udah hampir nembus jantungku” jawab Budi kemudian.


“Terus?”


“Kalo dari ibu, dokter bilangnya, jantung aku kaya kevlar. Ketonjok peluru nggak berlubang. Cuman berbekas aja”


“Nah, tuh. Nyambung, kan? Karena lu ngelakuin apa yang disaranin simbah itu, jantung kamu jadi nggak ketembus peluru”


“Ha ha ha ha. Ada ada aja, kamu, Da” komentar Budi.


“Kok ada-ada aja?”


“Ajalku udah ditetapin sejak aku belum lahir. Kalo belum waktunya aku mati, gampang kok bagi Guti Alloh buat nyelametin aku. Tinggal bilang, kun! Nggak perlu pake air”


“Bukan airnya, Bud. Tapi doa ibumu” kilah Hilda. Budi terkesiap.


“Dan simbah itu kaya udah bisa ngebaca apa yang akan terjadi, gitu. Kaya apa, ya? sebangsa wali mungkin” lanjut Hilda. Budi masih terdiam. Dia mengakui dalam hati, kalau dia juga merasakan demikian.


“Tapi yang namanya takdir, itu masih bisa berubah. Apalagi jodoh. Itu hak prerogatifnya Gusti Alloh” jawab Budi.


“Haih, susah juga ngomong sama orang berilmu. Intinya gitu, deh. Terserah mau percaya apa enggak” kata Hilda menyerah.


“Ha ha ha ha” Budi tertawa melihat rekannya itu pasrah.


“Ya udah tuh, banyak pengunjung. Jangan bengong doang! Udah berapa calon pembeli kabur, kamu kacangin” kata Hilda mengingatkan.


“Astaghfirullohal’adzim. Udah berapa orang?”


“Aku ngitung sih, tiga”


“Ya udah. Tuh, ada yang mau ngobrol sama kamu. Jangan jadi yang ke empat, nih!” jawab Hilda.


“Oke” sahut Budi sambil berlalu.


*Semoga ini hanya kecemburuanku aja. Semoga ini cuman karena masalah waktu aja. Emang kepagian sih, kalo janjian jam enam. Semoga ini cuman karena pak Fajar nganggep nggak pantes buat seorang gadis nemuin cowok sepagi ini. Bukan karena ada Luki di sana. Ya Alloh, aku berlindung padaMu dari rasa cemburu dan curiga yang sekarang kurasa*.


***


Di warung sederhana, di pinggir jalan, Luki sedang lahap menikmati bubur ayam yang terhidang di depannya. Cukup ramai pagi ini, menu yang dihadapi setiap pengunjung juga beragam. Tidak hanya bubur ayam, ada nasi uduk dan nasi kuning juga.


“Hei. Kok malah bengong? Nggak suka bubur? Mau ganti?” tegur Luki.


“Oh, enggak. Bukan” jawab Adel mengambang.


“Masih jamnya sarapan, Del. Mau aku anter? Aku nunggu di parkiran aja” tawar Luki, seolah bisa membaca pikiran Adel.


“Oh, nggak usah, mas. Adel udah bilang kok, tadi. Udah dijawab juga, nggak papa”


“Duh, jadi nggak enak, aku. Gara-gara aku maen sepagi ini, Adelnya jadi kerepotan”


“Kok ngomongnya gitu, mas? Enggak, lah. Nggak gitu juga, kali” jawab Adel.


Luki terdiam. Dia memandangi wajah Adel, lekat. Mendapat tatapan yang mengandung banyak makna itu, Adel menjadi salah tingkah. Dia mengalihkan suasana dengan menyendok bubur di hadapannya.


“Makasih ya, Del. Kamu mau nemenin aku sarapan” kata Luki beberapa saat kemudian. Adel mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk.


“Adel yang terimakasih, mas. Kalo mas Luki nggak maen, mungkin kita udah jadi gelandangan”


“Kok gitu, ngomongnya?”

__ADS_1


“Bener, kan?”


“Aku cuman satu diantara sekian banyak perantara. Kebetulan aja, aku yang dipilih” kata Luki. Adel tertegun mendengar jawaban itu. Jawaban yang rendah hati.


“Adel minta waktu ya, mas? Adel bakal balikin uangnya mas Luki. Tapi nyicil. Dan nggak tahu sampe berapa lama bisa lunasnya” pinta Adel. Luki tergelak.


“Yang minta dibalikin juga siapa, Del?” tanya Luki.


“Lah. Ya nggak diminta juga wajib balikin, lah. Namanya juga hutang” jawab Adel.


“Ya nggak usah dianggep utang!”


“What? Mas, itu duit semua lho, bukan daun” sahut Adel dengan nada lirih.


“Iya. Aku iklas, kok” jawab Luki.


Adel terkesiap. Dia menatap lekat mata Luki. Seolah dia bisa membaca isi hati Luki dari tatapan matanya. Bukannya tidak tahu, Luki paham dengan apa yang disangkakan Adel padanya.


“Terlepas memang aku suka sama Adel, aku iklas kok sama yang tadi. Nggak usah dijadiin faktor pertimbangan Adel! Anggep yang tadi nggak pernah terjadi!” lanjut Luki.


“Nggak bisa gitu, mas. Kamu nganggep Adel ini, jompo?” sahut Adel dengan wajah tidak suka. Luki terkesiap. Dia bingung dengan jawaban Adel.


“Kalo cuman sejuta-dua juta, okelah. Adel anggep itu bukti perjuangannya seorang cowok. Tapi segede itu, maaf. Adel nggak bisa nerima. Adel bakal lunasin. Adel kuat nyicil, kok” lanjut Adel. Mereka beradu pandang sekali lagi. Beberapa saat berlalu tanpa suara.


“Hempf. Pantes, “ komentar Luki menggantung. Ekspresinya saat tergelak itu menimbulkan tanda tanya bagi Adel.


“Kamu dicintai banyak orang. Kamu lain dari yang lain, Del” lanjut Luki.


Adel tidak menjawab. Dia masih menerka-nerka arah kalimat yang baru saja diucapkan Luki. Apakah itu pujian, atau sindiran.


“Kalo cewek lain, malah kegirangan aku bilang begitu. Malah bangga. Diceritain ke sana ke mari. Tapi Adel, malah tersinggung. Itu value yang belum pernah aku lihat di cewek lain, “ lanjut Luki, tapi menggantung lagi. Adel mengernyitkan dahinya.


“Yang pernah deket sama aku” lanjut Luki menutup kalimatnya.


Adel menyeruput teh hangatnya. Tapi dari sorot matanya, tampak kalau angannya mengawang entah kemana.


“Maaf, mas. Adel emang jarang bisa nerima bantuan. Apalagi dalam bentuk uang. Selalu aja keinget waktu dulu ada yang ngasih bantuan sembako. Tapi ngasihnya sambil divideoin. Apalagi keliatan sama tetangga. Malunya itu mas, masih berasa sampe sekarang” kata Adel kemudian.


“Astaga. Maaf, del. Aku nggak bermaksud, “


“Iya, mas. Adel tahu” potong Adel.


“Ya udah, kita puang aja, yuk! Masih keburu buat Adel nganter sarapan ke stand ekspo” ajak Luki.


“Nggak usah, mas” jawab Adel sambil tersenyum.


“Adel udah niatin buat nemenin mas Luki”


“Jangan gitu, dong! Aku nggak mau Adel ngerasa terpaksa. Adel punya hak nolak kalo emang nggak sejalan sama perintah bapak”


“Tapi ridho Alloh, tergantung sama ridho orang tua, mas” sahut Adel. Luki terkesiap.


“Terus?”


“Adel yakin, Alloh akan bantu Adel, selama Adel patuh sama orang tua” jawab Adel. Luki manggut-manggut megerti.


“Justru sama mas Luki, Adel punya banyak previlage” kata Adel lagi. Luki bingung dibuatnya.


“Mau nampar, mau nonjok, mau nendang, nggak bakal ada kualatnya” lanjut Adel sambil tergelak. Luki malah semakin bingung.


“Jadi, jangan pernah berpikir buat nakalin Adel! Auto gaplok. Ha ha ha ha” lanjut Adel mengakhiri kalimatnya.


Dia tertawa sambil mengacungkan telapak tangan kanannya. Luki yang kaget sontak membuat tawa Adel semakin kencang.

__ADS_1


__ADS_2