
Di lapangan, Budi langsung memonitor jalannya produksi. Pastinya dengan mengedepankan permintaan existing product. Dia sendiri sempat ikut turun langsung membantu proses produksi.
Kewajiban untuk membatasi jumlah karyawan yang hadir maksimal lima puluh persen, mengakibatkan mesin gergaji dan mesin pengupas rotan tidak ada operatornya.
Saat dia membantu mengoperasikan mesin pengupas rotan, dia menemukan hal yang tidak biasa pada bahan baku rotannya. Kode pada gambar, cocok dengan kode pada rak, tapi dari warna dan tekstur permukaannya, dia merasa berbeda dari yang selama ini dia lihat. Diapun mencari Aldo.
“Do. Rotan dengan kode ini, kok beda, ya?” tanya Budi.
“Yang mana?” Aldo belum sepaham.
“Itu yang mau aku kupas. Kok teksturnya beda, ya?”
“Oh. Iya. Emang kita ganti, Bud. harganya lebih murah” jawab Aldo.
“Kualitasnya gimana? Jangan mentang-mentang lagi cost down, terus kita down grade kualitas!”
“Enggak. Masih masuk”
“Beneran? Sejak kapan digantinya?”
“Sebulanan, lah. Sejak finance & purchasing dipegang Resti”
Budi merasa ada yang aneh dengan jawaban Aldo. Kalau dimulainya sejak pergantian manajer, berarti dulu pernah menawarkan, tapi ditolak sama manajer sebelumnya, Isma.
“Oke. Jangan dikupas dulu, ya! Aku mau lihat spek dulu” pinta Budi.
“Udah ACC pak Paul, Bud. Mau lu apain, sih?” tanya Aldo.
“Nggak semua bos ngerti teknis, Do” jawab Budi.
Dia tersenyum lalu pergi meninggalkan Aldo. Dia menuju kubiknya orang produksi. Dia mencari desainer dan juga orang QC. Dia menanyakan spek asli dari rotan yang dipakai untuk item yang sedang dikerjakan. Termasuk spek dari rotan baru yang masuk. Dia sampai memanggil Resti juga untuk ikut berdiskusi.
“Jawaban kalian aneh, guys. Kalo emang serupa dan hanya beda supplier, kenapa mbak Isma ngotot nggak mau ambil? Padahal kan lebih murah” tanya Budi.
“Memang sebenernya ada satu perbedaan pada propertiesnya, Bud. Yang artikel ini” jawab orang QC.
“Implikasinya?”
“Lebih ke ketahanan masa pakai. Ibarat logam, ketahanan terhadap karat, yang ini masih kalah sama yang sebelumnya” jawab orang QC.
“Berarti, misalkan ini sudah jadi kursi, dikasih beban seratus kilo, yang lama misal sanggup bertahan setahun penuh baru jebol, yang ini cuman sembilan bulan, gitu?” tanya Budi.
“Uji labnya sih belum ada. Tapi kurang lebihnya, ya, begitu” jawab orang QC.
“Gaes. Kenapa nggak rangkanya dulu kalian cari pembandingnya? Stainless lagi naik, lho” tanya Budi.
“Semua yang bisa kita hemat, akan kita hemat, mas. Untuk stainless, lagi kita carikan yang speknya sama dengan harga yang lebih murah. Kita butuh waktu untuk itu” jawab Resti.
“Sementara untuk rotannya, udah dari dulu pengen masuk, tapi nggak diterima sama mbak Isma. Cuman karena satu properties itu. Padahal itu kan hanya di atas kertas. Kenyataan di lapangan, tergantung penggunaan dari end usernya” lanjut Resti.
Tampak Budi masih belum puas dengan jawaban itu. Masih ada keraguan di hatinya. Tapi dia sendiri tidak punya data yang bisa menjelaskan keraguannya. Diapun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Oke. Semoga keputusan kalian tepat. Bukan karena ada sesuatu di balik semua ini”
“Busyet. Lu nuduh kita dapet ceperan gitu, Bud?” tanya orang QC.
“Aku nggak bilang gitu. Tapi emang aku belum puas sama jawaban kalian. Sayangnya, kita nggak bisa nanya sama mbak Isma. Dan aku juga nggak bisa jelasin secara data, apa yang bikin aku belum puas. Jadi aku cuman bisa berharap, kalian ngelakuin perubahan ini murni karena cost saving. Bukan karena ceperan” jawab Budi tanpa basa-basi.
“Wah. Bener-bener lu, Bud” komentar orang QC. Dia agak tersulut emosinya.
“Aku sih nggak masalah kalian mau dapet ceperan dari supplier. Udah hal lumrah. Aku bukannya pengen dapet juga. Cuman, kalian harus inget! Ini tempat kita nyari makan. Jangan sampe produk kita jadi mengecewakan! Taruhannya kita semua. Boleh kalian dapet ceperan, tapi pastikan kualitas produk kita nggak turun! Bisa dikutuk orang sepabrik, kita, kalo sampe terjadi cacat dan berakibat pada anjloknya penjualan. Apalagi kalo sampe perusahaan goyang dan terjadi pengurangan karyawan” jawab Budi.
Walau masih terlihat tersinggung, tapi orang QC itu tidak bisa membalikkan ucapan Budi. Terlalu menohok dan terlalu nyata apa yang Budi katakan, untuk hanya sekedar dibilang cari muka semata.
“Jadi gimana, mas? Mau dipake apa enggak rotan yang ini?” tanya Resti.
“Kalo pak Paul udah acc, ya lanjut aja dulu! Tapi tim kamu harus mantau terus perkembangan produk-produk yang pake rotan itu! Jangan ada toleransi! Sekali ada masalah di end user, kita bahas langsung kelanjutannya” perintah Budi.
“Baik, mas” jawab Resti.
Merekapun membubarkan diri, setelah Budi mengucapkan terimakasih. Budi mampir dulu ke bekas kubiknya. Budi menelepon pak Paul untuk menanyakan final acceptance yang ditandatanganinya.
Dari jawaban pak Paul, Budi mengerti kalau pak Paul tidak sepenuhnya mengerti soal teknis lapangan. Jadi, dia hanya bisa berharap, apa yang menjadi kekhawatirannya tidak terjadi. Lalu dia kembali ke lapangan untuk memantau dan membantu proses produksi.
Saat sedang sibuk mengoperasikan mesin pengupas rotan, Erika datang menghampirinya. Dia mengatakan kalau pak Paul sudah datang, dan mengundangnya untuk ikut serta dalam meeting terkait dengan rencana pembuatan jalur produksi masker.
***
Saat sedang meeting membahas rencana roduksi masker, ponsel Erika berdering. Untuk kali pertama, Erika mematikannya, lalu deringnya juga dia senyapkan. Tapi pemanggil tadi tampaknya perlu penting, karena dia menelepon dan menelepon lagi. Sampai akhirnya pak Paul tahu. Erikapun diberi kesempatan untuk menerima telepon itu di luar.
“Halo, Assalamu’alaikum” sapa Erika sesampainya di ujung koridor.
“Wa’alaikum salam. Wuiih, udah pake salam, sekarang” jawab orang di seberang telepon.
“Sephia? Ada apa?” tanya Erika terkejut, mengenali siapa yang meneleponnya.
“Selamat ya, mbak. Akhirnya jadian juga”
“Ih. Ada Sandi, nggak? Sembarangan banget ngomongnya?”
“Lha emang kenapa kalo ada mas Sandi? Orang dia juga udah tahu kok, mbak Rika jadian sama Budi. Kan kemarin lusa mereka ketemu”
“Ya. Tapi kondisi sekarang kan beda, Phia. Mereka lagi bertengkar. Entar malah tambah menjadi-jadi, kalo Sandi sampe tahu kamu nelpon aku”
“Ha ha ha. Iya, aku tahu. Mas Sandi lagi pergi, kok”
“Terus, ada perlu apa?”
__ADS_1
“Nikahnya kapan, mbak?” Sephia balik bertanya.
“Ha? Nikah?” Erika bingung.
“Iya, lah. Ngapain lama-lama? Budi sih, udah nggak mau ho oh-ho oh diluar nikah. Ha ha ha”
“Gila lu, ya? Gua bela-belain keluar ruang meeting cuman mau dicengin begini?”
“Awas lho mbak, mas Budi banyak yang ngincer, lho. Kalian juga. Kalo nggak buru-buru. Aduh, kerja keras lagi, deh”
*Mas Budi banyak yang ngincer? Maksudnya? ‘Kok kalian juga’? Harusnya kan, ‘kamu juga*’?
“Ya kan aku cewek, Phia. Yang gerak duluan ya mas Budi, dong” jawab Erika.
“Ya dipancing, lah” seru Sephia.
“Lu kata ikan”
“Lah. Semua cowok itu butuh dipancing, mbak. Termasuk mas Budi”
“Umpannya apa coba, cacing?”
“Aduh. Dikata mujaer, pake cacing. Pake itu, lah”
“Enggak mempan, Phia. Kan lu sendiri udah bilang, tadi”
“Bisnisnya ortu, mbak Rika” seru Sephia.
“Oh. Ha ha ha” Erika tergelak menyadari kesalahpahamannya.
“Aku yakin, rekan bisnisnya papanya mbak Rika ada yang punya anak cowok, dan pengen ngejodohin anaknya sama mbak Rika. Pasti kepancing deh, buat buru-buru”
*Kalo aja papa di sini, udah dilamar, kali*.
“Iya juga, sih” jawab Erika.
“Tapi situasinya lagi kayak gini, Phia. Ekonomi mulai kerasa gonjang-ganjing. Mas Budi juga bentar lagi bakal kepusingan nih, ngurusin PRAM sama galerinya”
“Kamu kok kaya belum kenal cowok kamu sendiri sih, mbak? Tukeran, yuk!” goda Sephia.
“Enak aja. ogah”
“Ha ha ha ha”
“Maksud kamu apa, Phia? Apa coba, yang aku belum tahu dari mas Budi? Jangan bilang soal ukuran, ya!”
“Ha ha ha ha”
“Bukan, mbak. Tapi track recordnya dia”
“Yang apa, tuh?”
“Ya saat Sandi sendiri udah nggak sanggup ngatasin, lah”
“Kira-kira, ada nggak kata gonjang-ganjing dalam kamusnya Budi?”
“Eeem” Erika berpikir sejenak.
“Dia ada emang untuk situasi gonjang-ganjing. Tugasnya adalah membuat situasi gonjang-ganjing itu menjadi aman” ujar Sephia. Erika tidak menyahut.
“Jadi, kalo buat orang kebanyakan, situasi ini sangat berpotensi membuat mereka kolaps, buat Budi, situasi ini malah sangat berpotensi untuk menggandakan pemasukan. Bisa bikin gedung lagi itu, PRAM” lanjut Sephia.
“Terus?” tanya Erika.
“Coba aja mbak Rika pancing pake apa, gitu! Cost down gitu. Pasti ada temuan, deh. Iseng aja, minta laporan bahan terpakai sama pembelian! Singkron nggak sama sisanya? Pasti seminggu lagi ada yang heboh”
“Jadi menurut kamu, Keuangan kita nggak akan bermasalah, ya?”
“Yes” jawab Sephia cepat.
“Tapi sekitaranmu yang akan jadi masalah, kalo kalian nggak cepet-cepet ngamanin dia” lanjut Sephia.
*Kok ‘kalian’ lagi? Kayaknya dia mau ngasih tahu sesuatu. Tapi apa*?
“Siapa? Ratna? Liza? Farah?”
“Adel” jawab Sephia.
“Adel?”
“Yap. Bukannya mbak Rika udah liat sendiri, gimana bengkelnya sekarang? Menarik banget, kan? Mesin-mesinnya ganti, orang-orangnya juga ganti. Seksi banget, tahu. Seorang Budi, seorang visioner, kalo sampe tertawan di sana, nangis kamu, mbak” jawab Sephia.
“Kan ada Luki, suaminya?"
“Come on, mbak. Apa susahnya ngedepak dia? Kayaknya kamu emang bener-bener belum kenal Budi, deh. Ha ha ha”
“Suek” komentar Erika, pendek.
“Ha ha ha ha"
“Jadi deg-degan gua, Phia. Suek banget lu, ah. Adel emang masih punya pamor kuat di mata mas Budi”
“Ha ha ha ha. Makanya, mbak. Kalo bukan karena kamu tuh guru aku, nggak bakalan aku kasih tahu”
“Jangan bilang lu juga suka sama mas Budi!”
“Ha ha ha ha. Abisnya sebanding sih, sama mas Sandi. Kalo aja poliandri legal”
__ADS_1
“Waduuh. Kemaruk. Kuat, emang?”
“Ha ha ha” Sephia tertawa dengan lepasnya.
“Ya udah, mbak. Gitu aja, dulu. Cepetan nikah! Yang ngincer doi, banyak”
“Iya. Termasuk lu”
“Ha ha ha ha. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
*Tuuut*
Erika masih belum menurunkan tangannya, sekalipun sambungan telepon telah terputus.
*Adel? Ada apa lagi di sana? Ya Alloh, selamatkan mereka ya Alloh! Jauhkan dari orang-orang itu! kalo sampe ada yang masuk lagi, dengan cara apa lagi aku harus bertindak, ya Alloh*?
Dia memejamkan matanya. Angannya mengembara, jauh memutar kembali segala peristiwa yang telah terjadi belakangan ini. Sampai-sampai tidak menyadari kalau meeting tadi telah selesai, dan peserta meeting itu membubarkan diri, keluar dari ruangan. Bahkan dia juga belum menyadari kalau ada yang berjalan mendekatinya.
“Ka”
“Astaghfirullohal’adzim”
Dia terkejut bukan main, saat mendapat teguran disertai tepukan di pundaknya. Dan saat dia membuka mata, wajah tampan Budi terlihat sangat dekat dengannya. Wajah itu menyiratkan kebingungan.
“Kenapa, sih? Telepon dari siapa?” tanya Budi.
*Aduh. Harus jawab apa, gue? Kenapa pake merem segala, sih? Haduuh*.
“Hei?” tegur Budi sambil tersenyum. Erika tersentak.
“Eee... anu, eee, ini, dari, dari Sephia” jawab Erika tergagap.
“Sephia? Kenapa? Ada pesen dari Sandi?” tanya Budi sedikit tegang.
“Enggak” jawab Erika singkat. Budi mengernyitkan keningnya.
“Dia cuman ngasih ucapan selamat, sama ngecengin aku” lanjut Erika.
“Selamat? Buat apa?”
“Buat jadiannya kita”
“Oh” komentar Budi pendek. Diapun tersenyum lebar.
“Ngecenginnya yang lama. Mana pake godain, lagi”
“Godain gimana?”
“Aku, disuruh mancing mas Budi, biar cepet nikahin aku. Kalo enggak, dia juga mau sama mas Budi"
“Lah. Kan dia punya Sandi?”
“Poliandri, bilangnya”
“Poliandri? Mana ada?” seru Budi sambil tergelak.
“Tahu. Lagi gesrek kali, otaknya” jawab Erika sambil tergelak.
“Terus, kenapa dipikir dalem?”
“Ya, emang bener sih, kata dia. Banyak yang mau sama mas Budi. Kalo papa nggak pulang-pulang, kapan nikahnya?” jawab Erika.
“Ya ngapain bingung? Jerman aja kita langkahin, Manado lagi. Terbanglah kita, ke sana”
Erika terkesiap mendengar jawaban Budi. Matanya berbinar-binar mendengar ucapan penuh keseriusan itu.
“Beneran, mas?” tanya Erika memastikan.
“Ya bener. Selagi bisa, why not?’ jawab Budi.
Seketika air mata Erika meluncur membasahi pipinya.
“Ya Alloh. Segitu terharunya, Ka?”
Erika tidak menjawab. Dia menangkap tangan Budi yang hendak mengusap air matanya. Tapi hanya sesaat saja. Setelah dia cium tangan itu, dia lepaskan lagi. Dia biarkan Budi menyeka air matanya.
“Makan, yuk!” ajak Budi.
“Yuk” jawab Erika.
Merekapun beranjak menuju tangga turun. Tak lupa tangan mereka bergandengan erat, seolah takut terpisah.
“Tadi bahas apa mas, sama anak QC? Kok kayaknya serius banget?” tanya Erika sembari jalan.
“Oh. Itu, rotan. Ada yang diganti speknya. Bilangnya lebih murah. Tapi speknya dibawah sedikit dari yang biasanya”
“Terus?”
“Ya karena udah acc pak Paul, aku bisa apa. Ya, semoga aja nggak ada masalah”
“Emang kita serba salah saat ini. Banyak yang harus dihitung ulang. Termasuk raw material. Mas Budi harus itung lagi tuh, jumlah pembelian, pemakaian, sama sisa. Jangan sampe ada yang terbuang sia-sia. Kalo ada yang motongnya asal, nggak pake mikir dulu, SP aja langsung! Kita harus bener-bener cost saving” kata Erika.
“Itu curhat apa perintah?” tanya Budi.
“Hempf. Mas Budi sih, macarin atasannya. Bingung, kan? Ha ha” komentar Erika sambil tergelak.
__ADS_1
“Itu tadi perintah, mas. Bagianku, pasti soal SP. Urusan materialnya, mas koordinasiin sendiri ya, sama Resti sama Aldo! Intinya, cost saving” lanjut Erika menjawab pertanyaan Budi.
***