
Di tempat lain, Erika sedang berkendara sendirian, setelah mengantarkan orang tuanya ke bandara. Ke pangkalan udara lebih tepatnya.
Karena ternyata, papanya itu berangkat tidak menggunakan pesawat komersil, melainkan menumpang pada pesawat hercules. Dia hanya geleng-geleng kepala, saat papanya pamit dengan senyum geli.
Itu karena Erika tertegun takjub, melihat papanya punya kenalan orang dalam seragam loreng. Hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, tapi tengah terjadi. Ya sudah, Erika balik kanan meninggalkan pangkalan udara itu.
Tiba di jalan yang penuh dengan jagung di kanan-kirinya, Erika mengurangi laju kendaraannya. Selain karena kondisi aspal yang banyak terkelupas, tadi saat berangkat dia melihat adanya pasir yang tercecer di lajur yang dilewatinya saat ini.
Dan benar, dia menemukan pasir itu. Dia menghindar ke kanan. Sekilas, dari pantulan lampu depannya, Erika melihat cairan berwarna merah yang sudah mengering di aspal.
“Apa di sini kejadiannya, ya?” gumam Erika.
Dia terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah.
“Emang jauh dari penduduk, sih. Wajar kalau nggak ada yang ngeributin. Untung mereka nggak kenapa-kenapa” lanjut Erika.
Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul kendaraan dalam jumlah banyak. dari sorot lampunya, Erika bisa menebak kalau yang akan lewat itu adalah kendaraan roda dua. Deru kenalpotnya sanggup memecah kesunyian malam ini.
*DOK DOK DOK*
“Aww”
Erika terkejut mendapati pintu kanannya digedor orang dari luar. Saat ia menengok ke kanan, ada salah seorang pemotor yang memintanya menepi dengan bahasa isyarat. Di depannya, ada beberapa motor yang menghalangi jalannya.
“Haiih. Mau ngapain lagi sih, mereka?” keluh Erika.
Dari jaket yang dipakai para pemotor itu, Erika tampak mengenali siapa mereka. Diapun menepikan mobilnya.
Langsung saja, puluhan motor mengepung dirinya dari berbagai arah. Sampai-sampai, untuk membuka pintupun, harus menunggu beberapa motor bergeser terlebih dahulu.
*Tok tok tok*
Kaca pintu kanannya diketuk orang. Erikapun menurunkan kacanya.
“Selamat malam nona cantik. Silakan keluar, nona! Maaf mengganggu perjalanannya”
Seorang laki-laki berpenampilan rapi, tersenyum padanya. Sangat kontras jika dibandingkan dengan para pemotor lain yang mengelilinginya. Diapun membuka pintu dan turun dari mobilnya.
“Ada apa lagi? Pembayaran udah masuk, kan?” tanya Erika tanpa basa-basi.
“Fuiuu. Erika, Erika, Erika” sahut laki-laki paruh baya itu sambil bersiul.
“Cantik, mulus, mont*k, selalu to the point. Aku suka itu” komentar laki-laki itu.
“Klewang. Waktuku nggak banyak. Ada masalah apa lu sama gua?” tanya Erika dengan menatap tegas lelaki di hadapannya.
“Masalah gua, lu nggak bilang kalo yang bakal kita hadapi itu, psikopat” jawab si klewang.
“Psikopat? Siapa?”
“Yang bawa mobil itu, siapa?” sahut si Klewang setengah membentak.
“Lima orang anak buahku patah tulang dilindas mobil perempuan itu”
“Kan dari awal gua udah peringatin lu. Yang lu adepin itu si Budi. Lu tahu kan, reputasinya si Budi kaya apa? Resiko lu, lah. Kata lu juga oke”
“Tapi bukan dilindas juga, bang***” sahut si Klewang sambil mencengkeram kerah baju Erika.
“Nggak usah sok galak deh, sama gua!” sergah Erika, sambil mendorong si Klewang.
__ADS_1
“Lu juga kerjanya nggak bener an****”
“Nggak bener gimana?”
“Gua bilang cuman cuman neror. Gua cuman pengen nakut-nakutin mereka aja, biar mereka siaga. Ngapain pada bawa senjata tajam?”
“Halah, tergores doang. Cemen banget, sih”
“Tergores matamu buta. Kalo aja kena perut apa leher, gua pecahin kepala lu”
“HOE”
“HOE HOE HOE HOE”
Riuh suara para pemotor itu menanggapi ancaman Erika. Tapi Erika tidak gentar sedikitpun. Dia malah melotot kepada orang-orang yang sok gagah itu.
suara deru motor dari arah belakang juga semakin membuat riuh suasana. Perlu beberapa saat bagi si Klewang untuk menenangkan anak buahnya.
“Udahlah, Erika! Gua masih nganggep lu temen. Lu partner paling asyik. Makanya gua minta baik-baik. Nggak usah gontok-gontokan, lah!” kata si Klewang, setelah anak buahnya diam.
Erika tak segera menjawab. Dia masih menatap si Klewang dengan tatapan tajam. Dia belum terima jika laki-laki itu meminta uang lagi padanya. Tapi dia juga memikirkan hal lain.
“Oke” jawabnya singkat.
Erika mengeluarkan ponselnya. Dia mengetikkan sejumlah angka pada aplikasi mobile banking.
“Tuh, udah” katanya kemudian.
Si Klewang tersenyum, lalu memeriksa ponselnya.
“Seriusan, cuman segini?” tanya Klewang tak percaya.
“Eh, Klewang. Gua udah bayar lu lebih dari biasanya. Dan gua udah turutin permintaan lu. lu masih mau malak gua? Lu harus nyadar! Di atas langit, masih ada satelit” kata Erika pelan. Jarak kepala mereka hanya tinggal hitungan mili.
“Lu, mungkin bisa ngabisin gua. Tapi kalo lu sampe nekat ngelakuin itu, gua pastiin, orang sebanyak ini nggak akan liat sun rise lagi besok pagi” lanjut Erika.
Si Klewang tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam dengan perasaan tidak suka. Sepertinya dia paham, kalau ancaman Erika bukan isapan jempol semata. Perlahan tapi pasti, si Klewang mundur dengan teratur. Dia kembali menunggangi mogenya.
“Gua mau aja sih, nambahin. Gua ada kerjaan lagi buat lu” seru Erika.
Klewang menoleh pada Erika. Dia batalkan penyalaan mesin motor yang hanya tinggal pencet tombol.
“Kalo cocok harganya, why not” sahut si Klewang. Dia turun lagi dari motornya.
“Aku pengen, lu ambilin barang ini, di galerinya Budi” kata Erika memulai penjelasannya.
“Segitu tadi lagi lu kasih ke gua, gua ambilin buat Erikaku tersem*k” sahut Klewang sambil tersenyum.
“Inget. Ini misinya pengalihan perhatian. Targetnya, bukan lu berhasil apa enggak ambil barang itu. Tapi lu harus bikin semua orang terbangun dari tidurnya!”
“Lah. Kok gitu?”
“Kenapa? Gampang, kan?”
Klewang tersenyum geli mendengar permintaan Erika.
“Siapa yang lu adepin, Ka?” tanya si Klewang. Tapi Erika tidak segera menjawab.
“Semalam aja lu temenin gua, gua abisin orang itu buat lu” lanjut si Klewang.
__ADS_1
“Justru dia harus tetep hidup. Lu nggak boleh ngelukain siapa-siapa. Cukup masuk, bikin keributan, dan keluar. Sisanya, itu urusan gua. Lu nggak boleh ikut campur. Ngerti?”
Jawaban yang disertai penegasan itu, membuat si Klewang terdiam. Sepertinya dia paham, penegasan yang dikeluarkan Erika, pertanda kalau Erika punya rencana besar, dan dia hanyalah pembuka jalan.
“Oke” jawab si Klewang mengalah.
Erika kembali memainkan ponselnya. Lalu menunjukkan layarnya pada si klewang. Si klewangpun mengangguk sambil tersenyum.
“Inget, jangan ngelukain orang! Kalo sampe ketangkep, pasrah aja dulu!” kata Erika kembali menegaskan.
“Baik, nona” jawab si Klewang sambil mengangkat topinya.
Tak lama kemudian, si Klewang dan anak buahnya pergi meninggalkan Erika. Beberapa orang yang melintas, menyempatkan diri bertanya kepada Erika tentang kondisinya. Dan Erika mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Diapun melanjutkan perjalanannya.
Di bengkel kayu Budi, acara bakar jagung itu masih berlangsung. Dan Adel sudah mau diajak bergabung. Mereka lesehan sekitar dua meter dari tempat membakar jagungnya.
Dan kali ini, Budi yang mendapat jatah membakar jagung. Madina, yang sedari tadi hanya mengurusi perbumbuan, ikut membantu Budi membakar jagung itu.
“Din” panggil Budi dengan suara lirih.
“Ya?”
Madina yang sedang membolak-balik jagung, mengalihkan pandangannya ke arah Budi.
“Aku perlu bantuanmu malam ini” kata Budi langsung pada inti.
“Bantuan apa, mas?”
“Matiin dulu hapemu!” pinta Budi dengan suara lirih, hampir berbisik.
Madinpun mengangguk mengerti. Dia ambil ponselnya, lalu dia matikan.
“Udah, mas. bantuan apa?” kata Madina lirih.
“Bantuan buat jaga rumah”
“Jaga rumah? Maksudnya gimana, mas? Madin sih mau aja. Cuman belum ngerti”
“Terlalu banyak buat diceritain, din. Antara peredaran, perebutan, entah apalagi yang lain” jawab Budi. Madina mengernyitkan keningnya.
“Intinya, tolong bantu awasin keadaan di dalam bengkel! Kalo scurity di depan terlihat mencurigakan, kasih kedipan Flash ke hutan di belakang bengkel!”
“Mencurigakannya kaya gimana, mas?”
“Aku juga belum punya gambaran, sih. Intinya, kalo dari dalem sih, bukan nyakitin kita secara langsung. Tapi bikin kita nggak sadar, atau terlelap tidur, sampe kita nggak tahu kalo sebenernya ada orang yang masuk” jawab Budi, lirih juga.
“Loh. Kalo seberbahaya itu, kenapa masih dipake, mas?” tanya Madin, merujuk pada si Brandon.
“Kan kamu denger sendiri, tadi” jawab Budi.
“Oh. Iya”
“Terus?”
“Oke. Madin mau, mas” jawab Madina. Budi tersenyum senang, mendengarnya.
“Lalu, di luar ada siapa, mas?”
“Nggak usah tahu. Yang penting, kasih tanda SOS aja pake flash! Oke?”
__ADS_1
“Oke” jawab Madina.