Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
jangan bermain api


__ADS_3

Selesai makan siang, Budi bermaksud kembali ke rumah sakit. Tapi mendadak ada dua orang polisi yang memanggilnya di jalan. Mereka memberikan surat pemanggilan resmi kepada Budi, untuk dimintai keterangannya sehubungan dengan penggerebekan di laut semalam.


Budi bersikap kooperatif. Dia menyanggupi panggilan yang harus saat ini juga dipenuhi. Tapi dia minta ijin untuk pamit pada keluarganya dulu. Polisi itu mengijinkan. Budi mencoba menghubungi ibunya, namun tidak ada jawaban. Begitu juga saat dia menghubungi Putri. Diapun mengambil inisiatif untuk menghubungi Adel.


“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel dari seberang telepon.


“Wa’alaikum salam, Ta” jawab Budi.


Baik Adel maupun Budi sendiri terkejut dengan sapaan sayang yang kembali keluar dari mulut Budi. Sempat hening untuk beberapa saat.


“Ada apa, Bram?” tanya Adel.


Adel mencoba peruntungannya, memanggil Budi dengan panggilan sayangnya dulu. Di seberang telepon, Budi memejamkan matanya. Hatinya terasa sakit saat teringat bagaimana setiap malam Adel pasti dinikmati lelaki yang dulu menjadi rivalnya. Tapi jauh di lubuk hatinya, Budi juga merasa senang, Adel masih mau memanggilnya dengan sapaan sayangnya dulu.


“Putri masih belum kelar ya, sama petugas itu?” Budi balik bertanya.


“Iya. Kenapa?” sahut Adel. Agak kecewa dia, mendengar Budi tak lagi menyebut panggilan sayangnya.


“Eem. Minta tolong kasih tahu ibu, aku juga mau diperiksa. Ini ada petugas yang nemuin aku” jawab Budi.


“Oh. Waduh. Tapi bukannya mau ditahan kan, Bram?” tanya Adel.


Dia menutupi mulutnya, menyadari kalau dia keceplosan memanggil Budi dengan panggilan sayangnya. Budi tersenyum kali ini.


“Enggak kok, Ta” jawab Budi.


Senyum lebar tersungging di bibir Adel. Hatinya berbunga-bunga, seperti saat awal jadian dulu. Nama Luki seolah hilang dari benaknya. Tergantikan dengan nama Budi.


“Dari keterangan di surat ini, aku cuman mau diambil keterangan seputar penangkapan Sandi” lanjut Budi.


Senyum Adel sejenak pudar, saat Budi menyebut ‘aku’, bukan ‘Abram’. Tapi dia sadar, Budi pasti sedang bimbang. Awal yang bagus baginya.


“Oh. Oke. Entar Tata sampein. Ati-ati ya, Bram”


Adel mencoba peruntungannya lagi. Berharap budi akan merespon peruntungannya.


“Makasih ya, Ta?” sahut Budi.


Adel tersenyum lebar lagi. Senang sekali dia, mendengar Budi merespon panggilan sayangnya.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


*Tuuut*


Budi mengangguk ke polisi yang menunggunya. Kemudian dia ikut kedua polisi itu dengan mengendarai mobil.


Di sisi lain, Adel sedang senyum-senyum sendiri. Khayalannya tentang Budi kian melambung tinggi. Setelah peristiwa pesan singkat tempo hari, dan semalaman ditinggal pergi tak jelas tujuannya, ditambah dari pagi juga ditinggal pergi menemui klien yang tak jelas siapa dan dimananya, rasa sayang Adel terhadap Luki kian memudar. Bayangan akan kenyataan bahwa suaminya ternyata selingkuh, membuatnya bimbang dengan kelanjutan pernikahannya.


“Jangan main api, mbak!”


Sebuah suara sangat mengejutkannya. Sontak Adel menoleh ke arah suara. Dan ternyata itu adalah Madina. Madina datang dari arah taman di belakangnya.


“Jangan ada pertumpahan darah lagi!” lanjut Madina.

__ADS_1


Adel masih tertegun, melihat adiknya duduk menyejajarinya. Dia masih terkejut melihat adiknya datang tiba-tiba. Dia berpikir, pasti Madina sudah mendengar percakapannya dengan Budi.


“Mbak Rika itu bukan orang sembarangan, mbak. Dan mas Luki, duitnya banyak” kata Madina lagi.


Adel mengernyitkan keningnya. Dia mencoba menganalisa, kemana arah pembicaraan adiknya itu. Terdengar hanya memperingatkan bahayanya, bukan mencegahnya secara langsung. Seolah Madina tidak menentang apa yang ada di pikirannya.


“Bukan hanya pertumpahan darah saja, mbak. Persahabatan Madin sama Putri juga menjadi taruhannya"


Adel menghela nafas berat. Dia paham apa yang dimaksud Madina. Memang, bu Ratih sudah mulai suka dengan Erika. Termasuk juga Putri. Belum tentu juga dia akan mendapatkan hatinya bu Ratih lagi, sekalipun Budi sudah bertindak untuk merebutnya.


“Maafin embak ya, dek!” kata Adel kemudian.


“Embak cuman, cuman, “


“Madin ngerti kok, mbak” potong Madina. Adel terkesiap.


“Tapi pernikahan itu bukan kaya pacaran, mbak. Nggak bisa seenaknya berpindah ke lain hati” lanjut Madina.


“Iya. Tapi, “ sahut Adel.


“Mas Budi bukan orang yang gampang ingkar janji, mbak” potong Madina.


“Seperti janjinya sama mbak Adel, pasti mas Budi juga bakal memegang teguh janjinya pada mbak Rika” lanjut Madina.


“Tahu dari mana, Abram udah bikin janji sama Rika?” tanya Adel.


“Madin emang baru ketemu mas Budi, setelah dia pacaran sama mbak Adel. Tapi Putri sering cerita sama Madin tentang mas Budi. sekalipun nakal, tapi ungkapan cintanya, sama aja sama janji setianya. Dan belum pernah Putri cerita kalau mas Budi pernah ninggalin ceweknya. Selalu aja dia yang ditinggal. Artinya, mas Budi selalu bertanggung jawab dengan janjinya. Termasuk dengan mbak Rika” jawab Madina.


Adel tertegun mendengar penjelasan adiknya. Ingin dia mementahkan penjelasan adiknya. Tapi sudah sekian kali Madina menyampaikan pendapat yang sangat logis.


“Maksudnya?” tanya Adel heran.


“Madin pikir, ada yang bermain di belakang kita, mbak”


“Hem? Makin nggak ngerti, deh” komentar Adel.


“Ya. Emang ngebingungin, sih” sahut Madin.


Adel semakin bingung dibuatnya. Tatapannya sampe tidak berkedip menatap wajah adiknya.


“Inget nggak sih mbak, saat nganter Madin ke sini? Keliatan banget kan, kalo mbak Rika itu cemburu banget sama mbak Adel. sama Madin aja cemburu banget. Orang Madin salim cuman menghormati mas Budi, masa mas Budinya dicubit” tanya Madin.


“Iya, ih. Gitu amat, bucinnya” komentar Adel.


“Pas mbak Adel senyum juga, dia langsung nginjek kakinya mas Budi” lanjut Madina.


“Terus, maksud kamu gimana?” tanya Adel tidak sabar.


“Tapi inget nggak mbak, waktu embak nyalamin dia, pas mau pulang?” Madina ganti bertanya.


“Iya. Kenapa?”


“Madin emang nggak denger embak bilang apa. Tebakan Madin sih, semacam ucapan selamat gitu”


“Eh. Wah bahaya kamu, dek. Bisa tepat gitu?” sahut Adel terkejut. Madina tersenyum.

__ADS_1


“Tapi sadar nggak sih mbak, kalo mbak Rika tuh, wajahnya mendadak sendu?”


“Sendu?”


“Ya. Kaya sedih, gitu. Harusnya kan seneng ya, bisa dapetin mas Budi? Apalagi mbak Rika udah nganggep mbak Adel tuh, rival banget, semenjak tragedi yang pertama dulu”


“Iya juga, ya” sahut Adel.


“Dan inget nggak mbak, waktu embak mau pulang, mbak Rika bilang apa?” tanya Madina.


“Watch your back!” jawab Adel.


“Itu kan artinya dia nyuruh mbak Adel buat hati-hati. Mana ada rival ngingetin rivalnya buat ati-ati? Yang ada juga, doainnya yang jelek-jelek. Biar rivalnya celaka terus mundur. Biar nggak ada rival lagi. Baik langsung maupun nggak langsung. Sekalipun mbak Adel udah punya suami, tapi mbak Adel masih punya tempat spesial di hatinya mas Budi. Makanya mbak Rika cemburu banget sama mbak Adel. Alih-alih ngedoain yang jelek, malah mbak Rika ngingetin mbak Adel buat ati-ati. Kalo mbak Adel masih baik-baik saja, artinya kan dia masih punya rival. Aneh banget nggak sih?” kata Madina panjang lebar.


“Kamu mau bilang, kalo sebenernya kebakaran bengkel bapak itu, perbuatan mas Luki?” tanya Adel. Wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar serius bertanya.


“Terlalu banyak orang di lingkarannya mbak Adel. Termasuk juga di lingkarannya almarhum bapak. Dan apa yang Madin katakan, juga baru berasal dari feeling Madin. Belum ada bukti yang bisa Madin jadikan pegangan” jawab Madina.


“Terus?”


“Saran Madin, jangan memantik kenangan manis dulu! Tunggu sampe terjadi sesuatu! Madin ngerasa, bakal terjadi sesuatu di rumah kita. Meskipun entah itu apa, dan kapan terjadinya” jawab Madina.


Adel manggut-manggut mengerti. Sekalipun masih terlalu buram untuk bisa memetakan apa yang Madin maksudkan, tapi Adel percaya sepenuhnya pada analisa adiknya itu.


“Emmm”


Adel hendak mengatakan sesuatu, tapi dia masih mempertimbangkan kembali. Sebuah rasa yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba menggelitik hatinya.


“Kenapa, mbak?” tanya Madina. Adel tersenyum.


“Kamu suka ya, sama Abram?”


Akhirnya Adel mengungkapkan juga apa yang menggelitik di dalam hatinya. Madina tersentak mendengar pertanyaan itu.


“Emm. Mbak Adel menanyai Madin dalam kapasitas Madin sebagai cewek, atau sebagai adiknya mbak Adel?” Madina ganti bertanya.


“Maksudnya?”


Adel tergelak. Pertanyaan Madin seperti sudah separuh dari jawaban yang dia pertanyakan tadi.


“Kalo sebagai cewek. Madin akui, Madin juga tertarik sama pesona mas Budi” jawab Madina. Adel tergelak mendengar jawaban itu.


“Tapi sebagai adiknya embak, Madin nggak akan colak-colek mas Budi, selama mbak Adel masih menginginkan mas Budi balik sama mbak Adel” lanjut Madina.


Adel terkesiap. Tatapan mata adiknya itu, sarat akan kesungguhan. Yang berarti Madina tidak sedang bercanda. Itu kesungguhan yang hanya satu tingkat dibawah sorot murkanya tempo hari.


“Makasih ya dek, atas sarannya. Ingetin ya, kalo mbak Adel terlaluan!” kata Adel mengomentari ucapan Madina.


“Embak akui, embak masih berharap banget bisa balikan sama Abram. Terlebih, setelah semalam mas Luki nggak pulang, tapi nggak jelas kemana. Mana pagi-pagi langsung pergi lagi. Embak sampe curiga, jangan-jangan dia beneran ketemu sama si bangs*** Sofia itu. Awas aja kalo sampe bener” lanjut Adel.


“Apapun itu, jangan gegabah ya, mbak!” pinta Madina.


Adel tersenyum. Dari permintaan itu, Adel mengerti, kalau sebenarnya Madina itu mendukungnya. Dia hanya khawatir akan keadaannya.


“Iya” jawab Del singkat.

__ADS_1


***


__ADS_2