
Siang hari, menjelang dzuhur, Budi dan Adel memutuskan untuk pulang. Adel juga sudah terlihat lelah, setelah sekian jam mejalani sesi pemotretan.
Tanpa ditawari dan tanpa diajak, Adel tidak menolak saat Budi mengarahkan motornya menuju rumahnya. Karena motor Adel memang ada di halaman rumah Budi.
Saat memasuki jalan lingkungan, mereka bertanya-tanya. Terlihat banyak warga berkmpul di depan rumahnya. Juga terdapat dua unit dump truck yang terparkir. Semakin dekat, terlihat pula oleh mereka, dua gundukan tanah urug yang memakan separuh badan jalan.
“Nah, ini nih, orangnya” seru bu RT. Sontak dua orang laki-laki bertubuh gempal mendekati motor Budi.
“Kamu yang namanya Budi?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, betul. Ada apa mas?” jawab Budi.
“Itu, tanah urug pesananmu udah kita bawain. Kita taruh sesuai permintaanmu. Kita lagi nunggu duitnya, nih” jawab supir dump truck itu.
“Iya, udah hampir sejam kita nunggu. Warga udah mulai ribut, nih”sahut yang satunya.
“Loh, saya nggak mesen urug, mas” kata Budi.
“Eh, lo udah nawar murah, kaya emak-emak. Udah gua bawain, udah lo gantung kita sejam di sini. Sekarang lo bilang nggak pesen urug, ha? enak banget bacot lo”
Sopir yang berambut gondrong, yang menanyai Budi pertama kali itu, langsung marah. Dia cengkeram kerah kemeja Budi, lalu dia tarik mendekat ke mukanya.
“Mas, kalem dulu, dong! Bukannya nggak mau bayar. Ini kita klarifikasi dulu”
Tanpa Budi duga, Adel turun dari motor dan mendorong tubuh sopir berambut gondrong itu.
“Tampolin aja, mas! Emang rese dia, orangnya. Udah sering nipu orang” kata bu RT mengompori.
“Iya, mas. Saya juga pernah ditipu sama dia” seru ibu-ibu lain, di belakang Bu RT.
“Oke, oke. Saya bayar. Berapa semua?”
“Tiga ratus ribu” jawab sopir itu.
“Busyet, mahal amat?” tanya Budi terkejut.
“Siapa suruh ngerjain kita?” bentak si sopir itu.
“Sikat aja, Mas! Orang sok, kaya gini, nggak usah kasih ampun!” seru Bu RT.
“Nih, mas!” kata Budi. Dia menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.
“Dari tadi, kek! Dasar bocah tengik, lo. Ngerjain gua aja” jawab si sopir gondrong. Dia menerima uang itu dengan sikap kasar.
“Mas, lihat nomor hape orang yang yang mesen urug ini, dong!” pinta Budi.
“Siapa lo, nyuruh-nyuruh gua? Eh, dari kemarin gua udah kesel sama lo, ya. Nggak usah bikin sandiwara, deh!” bentak si sopir itu.
__ADS_1
“Iya, woo. Urugnya aja pikirin! Ngalangin jalan, nih. Segala nomer hape diurusin” sahut Bu RT mengompori.
“Mas, saya kan, nanya baik-baik. Kok sampeyan nyolot gitu?”
“BAJ****N TENGIK. LO BIKIN EMOSI GUA AJA”
Si sopir gondrong itu mendekati Budi lagi. Dia sengkeram lagi kerah baju Budi, dan bersiap-siap meninjunya.
“Gua kasih tambahan seratus ribu. Tapi lu bilang sama gua, siapa yang nyuruh lo datang kemari!” kata Budi sambil memamerkan lembaran-lembaran uang merah di tangannya. Suaranya menggeram, dan matanya mulai memerah.
“Tambah seratus lagi, lah! Cingcay kita sih” sahut sopir yang berambut cepak.
“Mumpung gua belum berubah pikiran pikiran, nih” lanjut Budi, tanpa menghiraukan omongan si sopir berambut cepak.
“Apa? lo mau ngapain? Ngajak kita ribut? Jangan, deh! Kasihan cewek lo, nggak ada jil*tin”
“Ha ha ha ha” si rambut cepak tertawa, menanggapi ledekan temannya.
BUUUKKK
“AAA”
Si gondrong melayang di udara, setelah satu tonjokan dari Budi mendarat di dadanya.
*BRUAAAAKKK*
Tinju tanpa ancang-ancang itu, sanggup melemparkan si gondrong itu sampai lima meteran lebih. Dia mendarat di pagar depan rumah Budi. Tulang ekornya, mendarat tepat di sebuah batu besar yang dia bawa sendiri bersama urugnya.
“AAAAAA”
Ibu-ibu yang menonton, sontak berteriak histeris. Pasti tidak ada yang menyangka, kalau orang sebesar dan sekekar itu, akan terpelanting, hanya karena satu tonjokan Budi.
“ABRAAM”
Adel memekik saat Budi tiba-tiba turun dari motornya, dan berjalan cepat menuju ke tempat dimana si gondrong mendarat.
“HOEEEK”
Si gondrong muntah-muntah. Si rambut cepak berusaha membantunya kembali duduk, karena si gondrong tiba-tiba tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya, lalu tersungkur.
“Oke mas, sabar mas!” pinta si rambut cepak.
Ternyata dia takut juga, saat melihat temannya sampai muntah darah begitu. Dia berpikir, kalau si gondrong yang badannya lebih besar darinya saja, bisa tersungkur, apalagi dirinya.
“Kalo lo berdua masih pengen keluar dari sini idup-idup, bilang sama gua, siapa yang nyuruh kalian datang kemari!” perintah Budi.
Dia berdiri tepat di depan si gondrong. Matanya sudah sepenuhnya memerah. Giginya gemeretak, menahan amarah. Kata-kata si gondrong yang melecehkan Adel, membuatnya tidak bisa lagi menahan diri.
__ADS_1
Tetangga-tetangga Budi, sama sekali tidak ada yang berani mendekat. satu peringatan yang diberikan Budi, cukup ampuh membuat semuanya berpikir seribu kali untuk menghalanginya.
Si gondrong meraih saku celananya. Dia mengeluarkan ponselnya. Dia berikan ponsel itu kepada si rambut cepak. Dia tahu apa yang dimaksud si grondrong. Segera dia menekan menekan beberapa kali layar sentuh ponsel itu.
“Ini, mas” kata si rambut cepak.
Budi menekan tombol dial. Beberapa saat lamanya, panggilan itu tidak mendapatkan jawaban. Dia telepon sekali lagi. Dia tidak mempedulikan Adel yang datang memberikan sebotol air mineral kepada si rambut cepak.
*Halo. Gimana, ndrong? Udah di rumah, ya? taruh aja dulu! Aku otw nih. Tadi abis ketemu klient*
Tanpa memperkenalkan diri juga, Budi sudah bisa menebak, suara siapakah yang ada di seberang telepon sana. Di belakang suara itu, terdengar suara musik. Jingle yang sangat khas. Jingle yang juga menyebutkan identitas tempatnya. Ada lagi suara perempuan bertanya kepada orang yang dia telepon. Dan dia juga mengenali suara itu.
“Jawab!” perintah Budi pada si rambut cepak, dengan suara lirih. Si rambut cepak mengerti.
“Udah dari tadi, beg*. Buruan!” kata si ranbut cepak.
*Iya. Ini otewe*.
*Tuuuut*
Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Sontak membuat emosi Budi semakin menggelegak.
“BRAAM”
Adel memekik lagi, saat Budi membalikkan badan. Dalam pandangan Adel, Budi tampak sudah mengetahui siapa targetnya, dan dimana lokasi targetnya berada. Tapi tiba-tiba langkah kaki Budi terhenti. Di depannya, berdiri seorang laki-laki yang menghadang jalannya.
“Biar pakde aja”
Orang itu tak lain dan tak bukan adalah pak Kusno. Budi jadi salah tingkah. Walau tidak bisa menutupi raut wajah dan mata merahnya. Beberapa saat mereka saling pandang, tapi sama-sama terdiam.
“Buana Asri”
Budi menyebutkan nama salah satu tempat. Seolah dia mengetahui apa yang diinginkan pakdenya, sekalipun tidak disampaikan secara verbal.
Pak Kusno mengangguk. Dia lantas balik kanan, dan pergi diiringi anak buahnya. Budi masih terdiam. Hasrat ingin menghajar seseorang masih sangat tinggi.
“Istighfar, bram!”
Suara Adel terdengar merdu dan menyejukkan telinga. Begitulah yang dirasakan Budi. Dia lantas mengambil nafas panjang, dan dia hembuskan sembari mengucap istighfar di dalam hatinya. Beberapa kali dia ulangi hal itu, sampai dia merasakan emosinya mereda.
Beberapa orang datang menghampiri Budi. Mereka mengatakan kalau mereka disuruh pak Kusno untuk memasukkan urug itu ke pekarangan Budi. Budi hanya menganggukkan kepalanya.
Adel mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Saat dia tak sengaja melihat keberadaan bu RT, emosinya menggelegak lagi. Hasrat untuk menyakiti bu RT, sama besarnya dengan hasrat untuk membalas orang yang mengerjainya. Sekalipun ada pak RT di sebelahnya.
Sekuat tenaga, Adel membujuk Budi untuk mengabaikan mereka. Dibantu para sesepuh kampung, akhirnya Budi melunak. Tanpa pamit, dia pergi, masuk ke dalam rumah.
__ADS_1