Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mengejar si bejo


__ADS_3

“Kita siap makan malam” kata si Cobra.


“Appetizer siap dihidangkan” sahut Alligator.


*Ting*


Terdengar denting peringatan kalau pintu lift akan terbuka. Mereka bersiap dengan senjata mereka.


*Duuuaaarrr*


“AAAAA”


Terdengar suara ledakan dan keributan tak jauh dari lift.


*Darrr*



*Darr darr darrr*


Budi, si Cobra, dan Erika langsung memainkan senapan mereka. Musuh yang bersiaga di depan lift langsung mereka hajar begitu pintu lift terbuka.


Sebuah submachine gun yang tadi ditenteng musuh, kini direbut Budi. Menjadikannya lebih mudah membabat para musuh yang ada di depan mereka.


Sedangkan si Cobra dan Erika harus lompat sana, berlari ke sini untuk bersembunyi dari tembakan gencar para musuh.


Namun dari arah depan, terlihat banyak juga musuh yang tumbang. Ledakan demi ledakan masih terus terjadi.


Rupanya si Alligator menyabotase banyak sekali rangkaian kelistrikan. Sehingga banyak terjadi konsleting.


Dikolaborasikan dengan bahan pembuat narkotika, yang sebagiannya mudah terbakar, membuat konsleting listrik itu tak ubahnya seperti ledakan bom.


Banjir kimia terjadi di ruang produksi. Pekerja yang selamat dari tembakan, banyak yang tumbang karena menghirup atau terpapar cairan kimia hasil produksi mereka sendiri.


Dari arah lift, ternyata tim Garuda dan alap-alap turun membantu. Rupanya di atas telah bersih, setelah jalur suplai dari bawah dipotong oleh tim Elang.


Bersama-sama mereka terus merangsek ke ruangan paling ujung, dimana Moreno dan si Bejo bersembunyi. Dari jauh ruangan itu terlihat seperti benteng baja dengan beberapa kamera.


“Gator. Sabot fuse box di kanan atasmu! Masih ada pintu di bunker Moreno yang belum kekunci”


Suara Sephia menggema di handy talky. Langsung saja si Gator melakukan apa yang diinfokan oleh si Sephia. Benar saja, ada dua orang keluar dari dalam bunker itu.


“Elang masuk, Elang masuk!” terdengar suara si Cobra memberi perintah.


Budi dan Erika segera berlari menyusul si Cobra. Sedangkan tim Alap-alap ikut berlari memberikan perlindungan.


“Hind. Siap-siap! Kereta pelarian udah dinyalain. Pastiin ada ide!” lapor Sephia.


“I’m working on it” jawab Hind.


“Where are you?”


“*La*biin"


“Panel kontrolnya ada di dalam. Kita nggak bisa geser rel secara remote”


“****. Bener. Konslet malah” terdengar keluhan Hind. Rupanya dia gagal menyabotase rel dari arah labirin.


“Gator merapat ke Elang” lapor Alligator.


Di depan bunker si Moreno, Budi dan yang lain masih kesulitan mencapai pintu itu. Di dalam bunker juga ternyata masih banyak penjaganya.


“Ka. Bisa main pisau?” tanya si Cobra.


“Bisa” jawab Erika.


“Masuk!” Perintah si Cobra.


“No no no no! Aku aja” tolak Budi.


“Kamu cover dia, aku cover kalian” jawab si Cobra mengungkapkan rencananya.


“Oke”


“Erika sasar depan, kamu sasar kanan, aku sasar belakang”

__ADS_1


“Oke”


“Three two one, go!”


*Beerrrrtt*



*Dar dar dar dar*



*Ciu ciu ciuuu*



*Bratak bratak bratak*


Mereka berlari bersamaan dengan saling menjaga. Tembakan demi tembakan yang mereka lepaskan, sukses membuat para musuh mereka merunduk. Hal itu memberikan kesempatan untuk mereka mendekati pintu menuju bunker.


“HYAAAAT"


Erika berlari dan melompat pada seseorang yang haru muncul dari balik pintu. Langsung dia putar dan banting. Dia kunci tangannya dan dia tusukkan pisau belati yang dia bawa ke jantung orang itu. Seketika orang itu tewas.


“Masuk!” perintah si Cobra.


*Dar dar dar dar*



*Dar dar dar dar*


Jual beli serangan masih terus terjadi. Erika menyelinap saat musuh di dalam bunker bersembunyi daritembakan musuh. Begitu muncul lagi, lehernya sudah menjadi sasaran pisau Erika.


Teman di sebelahnyapun tak sempat membantu, kepalanya sudah lebih dulu disasar Budi. Begitu terus sampai si Cobra masuk bersama si Alligator. Sekarang pemain pisaunya pertambah satu.


Si Cobra tampak lebih beringas dalam bermain pisau. Seolah senapan serbu yang terus menyalak itu hanyalah petasan saja. Dengan gesitnya dia menyelinap lalu menghabisi lawan dari belakang.


“Ka. Moreno” seru Budi.


Budi merangsek maju dilindungi oleh Alligator. Melihat kekasihnya membukakan jalan untuknya, Erika kembali berdiri dan berlari menuju kereta pelarian.


“Ka. Naik dari belakang!” perintah Budi.


*Dar dar dar dar*


Tembakan perlidungan diberikan Budi. Erika keluar dari perlindungannya dan berlari sejajar dengan buritan gerbong kereta. Titik buta itu memberikannya keuntungan.


“Astaga”


Kereta itu mulai berjalan. Erika mempercepat larinya. Beruntung, dia masih bisa menggapai gerbong kereta itu.


“Bud!”


Si Cobra memberikan teguran. Paham dengan maksud si Cobra, Budi berlari ke arah kereta yang sudah berjalan pelan. Si Cobra dan Alligator melindunginya dari jarak tembak.


“Buruan, mas!” seru Erika.


Budi mempercepat larinya. Dia mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Erika. sempat dia terseok-seok karena salah berpijak.


“Buruan!” teriak Erika.


Budi mempercepat larinya sambil memperhatikan langkahnya.


*Happ*


Akhirnya Budi berhasil naik ke gerbong itu.


*Dar dar dar dar*


Bisa ikut naik bukan berarti masalah selesai. Saat menghadap ke belakang, mereka langsung disambut dengan tembakan dari arah kanan mereka.


*Dar dar dar dar*


Budi dengan sigap mengambil pistol Erika dengan tangan kirinya.

__ADS_1


*Dar*


“AAA”


*gubrak gubrak gubrak*


Satu musuh tumbang. Tapi masalah lain muncul kereta ini berjalan semakin cepat, dan mereka harus segera masuk gerbong.


Budi mengajak Erika bergeser ke kanan. Setiap ada yang muncul, langsung dia hadiahi sebutir peluru. Sedikit demi sedikit, Budi berhasil mendorong para pengawal Moreno untuk menjauh dari pintu.


Gerbong ini posisi pintunya tak biasa. Bukannya di belakang sebagai akses sambungan, melainkan di samping kiri belakang. Mirip pintu bus besar.


*Dar dar dar dar*


*Dar dar dar dar*


*Dar dar dar dar*


Budi harus terus berlindung sembari terus menyerang. Beruntungnya, terowongannya masih punya jarak aman untuknya bergelantungan di samping. Hanya telinganya saja yang semakin pekak oleh suara tembakan yang menggaung di terowongan.


*Dar dar dar dar*


*Dar dar dar dar*


“Ka” panggilnya.


Budi berhasil masuk ke dalam gerbong. Rupanya gerbong ini adalah gerbong logistik. Banyak barang beralas palet. Entah untuk apa.


*Dar dar dar dar*


Di antara kontainer beralas palet itu, ternyata masih banyak pengawal Moreno yang bersembunyi.


Jual beli tembakanpun tak terelakkan. Budi meladeni mereka sembari memberikan perlindungan pada Erika untuk masuk ke dalam gerbong.


*Dar dar dar dar*


Kali ini Erika sudah masuk dan ikut memberikan perlawanan.


*Dar dar dar dar*


“AHH”


“Mass”


Erika terkejut mendapati Budi terkena tembakan. Bukan pada rompinya, melainkan menyerempet perutnya. Darah segar langsung mengalir.


Erika langsung mengeluarkan kotak pertolongan darurat di saku rompinya, sembari terus melawan menggunakan pistol Budi.


Menyadari keadaannya tidak ideal, Budi terpaksa merawat dirinya sendiri. Dia mengambil kasa dan menekannya ke arah lukanya. Dengan tujuan untuk menghentikan pendarahannya. Walau hanya terserempet, tapi cukup dalam juga lukanya.


Sebuah plaster dia ambil untuk merekatkan kasa itu pada perutnya. Dan sebuah suntikan pereda nyeri dia suntikkan ke tubuhnya. Perlahan rasa sakitnya berkurang.


“Mas. mas nggak papa?” tanya Erika.


“Apa ada jawaban lain?” sahut Budi dengan membalik pertanyaan.


*Dar dar dar dar*


Budi langsung memainkan sebapan serbunya. Dia mengajak Erika untuk merangsek maju sedikit-demi sedikit. Langkah kakinya sudah tidak setegak sebelumnya. Suntikan pereda nyeri itu tak banyak membantu. Namun Budi tak mau mengeluh. Lagipula percuma juga.


*Dar dar dar dar*


Budi masih bisa melompat berpindah posisi, walaupun sering meringis menahan sakit.


*Dar dar dar dar*



*Klikk*


“Hem?” Erika menatap senapannya. Dia juga meraba kantong magazinenya.


“Mas. Amunisiku abis” kata Erika.


Budi langsung meraba rompi amunisinya.

__ADS_1


“Astaga. Tinggal dua” gumamnya.


__ADS_2