Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
on the way


__ADS_3

“Bu. Ibu yakin, bisa ngatasin Erika? Karakternya beda banget lho bu, dibanding Adel” tanya Budi memastikan.


Bu Ratih terdiam beberapa saat. Tampak dia menghela nafas. Tapi kemudian ada senyum merekah di bibirnya.


“Ibu juga pernah berada dalam posisi Erika, ngger” jawab bu Ratih. Budi mengernyitkan keningnya.


“Ibu pikir, ini akan menjadi momen yang tepat, buat ibu berkenalan lebih jauh dengan mbak Rika. Apakah dia benar-benar orang yang tepat untuk menggantikan posisi mbak Adel, atau malah sebaliknya” lanjut bu Ratih.


“Oke” komentar Budi pendek, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Eeem”


Budi hendak mengutarakan sesuatu, tapi dia takut menyinggung perasaan ibunya lagi.


“Kenapa, ngger? kamu takut diambegin mbak Rika?” tanya bu Ratih menggoda.


“Bukan, bu” Seru Budi heboh.


“Terus?”


Budi tidak segera menjawab. Dia menatap mata ibunya lekat-lekat.


“Bu. Seberapa ridho ibu sama Budi?” tanya Budi langsung pada intinya.


“Ngger?”


Bu Ratih terkejut mendengar pertanyaan itu. Ingatannya melayang mengenang momen Budi mencuci kakinya. Dan berakhir dengan pertempuran Budi dengan Sandi.


“Kenapa kamu nanya begitu, ngger?” bu Ratih ganti bertanya.


Budi menatap wajah ibunya lekat-lekat. Dia masih menyusun kata yang tepat untuk menjawab.


“Entahlah, bu. Barusan Icha VC Budi. Dia cerita tentang mimpinya lagi”


“Oh, ya?”


“Iya, bu. Tentang Adel, tentang Luki, beberapa orang lain juga”


“Terus?”


“Beberapa bagian dari mimpi yang dia ceritakan itu, ada yang nyambung sama tragedi Budi sama Adel dulu, bu. Yang Budi amnesia, paling enggak”


“Oh. Emang, perbuatan siapa itu? Isma, kan?”


“Icha nggak berani bilang sih, bu. Takut kena pasal kali”


“Terus?”


“Budi malah jadi teringat sama ibu, saat dia bilang masih punya dosa sama ibunya”


“Nggak ngerti deh” komentar bu Ratih.


“Panjang kalo diceritain. Nanti Budi ceritain. Tapi yang jelas. Budi jadi kepikiran sama ibu”


“Emang ibu kenapa? Ibu nggak ngapa-ngapain, kok” tanya bu Ratih, sambil menoleh ke arah pak Paul.


“Bukan” sahut Budi sambil tergelak.


“Terus?”


“Belum lama ini, Budi ketemu sama simbah-simbah yang dulu nyuruh Budi nyuci kaki ibu. inget kan, bu?”


“Iya. Terus?”


“Simbah itu bilang, Budi masih punya dosa sama ibu. Dari perbuatan Budi di masa lalu, yang bikin ibu sakit hati sama Budi. Memangnya, ada ya bu, perbuatan Budi yang bikin ibu sakit hati?” tanya Budi dengan hati-hati.


“Ya Alloh, ngger” respon bu Ratih, reflek.


“Kenapa kamu nanyain itu? Ibu udah berusaha banget buat ngelupain itu” tanya bu Ratih.


“Ya Alloh, bu. Perbuatan Budi yang mana, bu?” budi ganti bertanya. Ada yang mengembang di pelupuk matanya.


“Enggak kok, ngger. Nggak ada. Ibu aja yang terlalu baper”


“Bu” rengek Budi. Bu Ratih tersenyum.


“Kotak itu lho, ngger. Kotak yang kamu buang dulu” jawab bu Ratih.


“Kotak? Oh. Koyak kayu punya bapak?”


“Iya”


“Ya Alloh, bu. Emang isinya apa, bu? Tinggalannya simbah?”


“Bukan”

__ADS_1


Bu ratih tersenyum melihat ekspresi Budi. Dia bersyukur, diberikan putra yang berbakti dan takut pada dirinya.


“Bapak pernah bilang, di dalam kotak itu, ada sebagian dari masa lalu bapak. Masa lalu, yang belum bapak ceritakan sama ibu”


“Eeem” Budi merasa ada yang aneh di sini.


“Kenapa? Kok ibu mau gitu, nikah sama bapak, padahal ada yang masih bapak rahasiakan?” seru bu ratih, menanggapi kebingungan Budi.


“He he. Iya. Itu, bu” jawab Budi.


“Bapak bilang gitu, waktu ibu udah mengandung kamu, ngger”


“Waduh”


“Ya. Jujur, ibu juga bertanya-tanya. Pengen banget ibu buka kotak itu. Tapi, saat liat bapak itu yang dipikirin cuman ibu, Budi, ibu, Budi, ibu ngerasa, nggak pantes, kalo ibu nggak patuh sama bapak. Jadi ya, ibu cuman bisa nunggu, waktu yang tepat untuk bapak membuka kotak itu”


“Ya Alloh. Harusnya kapan, bu?” tanya Budi.


“Bapak bilang, nanti kalo Budi udah dewasa. Sekarang ada Putri, ya nunggu sampe Putri dewasa juga. Sampe kalian bisa mikir, bisa bedain antara yang baik sama yang buruk”


“Astaghfirulloh” keluh Budi.


“Ibu sempet sakit hati, itu karena ibu sangat menantikan momen kotak itu akan dibuka. Eh, malah kamu buang”


Budi terkesiap. Dia tida bisa berkomentar. Raut sedih di wajah ibunya seperti tamparan keras di wajahnya. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


“Tapi, ya sudahlah, ngger. Mungkin itu udah takdir dari Gusti Alloh. Bisa jadi, ibu nggak kuat buat liat apa yang ada dalam kotak itu. Alloh kan lebih tahu”


“Eeem”


“Udah. Nggak usah dipikirin. Ibu udah iklasin kok, ngger. Perubahanmu jadi lebih baik ini, sudah lebih dari cukup, buat nebus perbuatanmu waktu itu”


“Sebenarnya bukan Budi buang, bu” kata Budi.


“Apa?”


“Tapi Budi umpetin di suatu tempat”


“Dimana?”


“Eem. Di rumah mbah Ratmi”


Bu Ratih tampak terkejut. Berbagai pikiran melintas di pikirannya.


“Nggak usah, nggak usah! Entar aja, kalo kondisinya udah memungkinkan” tolak bu Ratih.


“Sekarang, kamu siap-siap aja!” lanjut bu Ratih.


“Apa ibu sudah ridho sama Budi, bu?” tanya Budi memastikan.


“Sudah, ngger. Sudah sembilan puluh sembilan persen”


“Yang satu persen?” celetuk pak Paul.


“Nanti ya ngger, kalo kamu udah balikin kotak itu” jawab bu Ratih.


“Maafin Budi ya, bu” kata Budi sambil sungkem”


“Iya, ngger. Ibu maafin. Ibu udah ridho, kok. Satu persen itu, nggak akan mempengaruhi restu ibu padamu, ngger” jawab bu Ratih.


Budipun bangkit dari sungkemnya, lalu pergi mempersiapkan perlengkapannya. Kebetulan ada beberapa pakaiannya yang baru saja selesai diloundry, dan tinggal memasukkan ke dalam tas. Dia juga sempat mengirimkan pesan singkat pada Erika. dia jelaskan kondisinya saat ini, dan meminta Erika untuk tidak over thingking.


“Bud. Mobilnya udah dateng, tuh”


Pak Paul memberitahukan dengan suara lirih, di dekat Budi.


“Oh. Siap”


Budi yang sedang menyiapkan tasnya, menoleh ke belakang. Dan dia menyatakan kesiapannya, saat tahu siapa yang menegurnya. Beberapa saat kemudian, Budi keluar dari kamar rawat Putri, sambil membawa tasnya. Sempat dia kecup kening Putri. Karena Putri sedang tidur saat dia mau pamitan.


“Loh. Ada Tika” seru Budi saat baru keluar dari kamar rawat.


“Libur apa Tik, besok?” tanya Budi, sambil menyalami Tika.


“Enggak mas, masuk. Ini diajakin bapak sama ibu” jawab Tika.


“Bu, Mar” sapa Budi sambil menyalami ibunya Tika.


“Icha udah nelepon, belum?” tanya bu Maryati.


“Udah, bu”


“Jadi kayaknya, kita besanan, mbak” komentar bu Maryati pada bu Ratih.


“Besanan gimana, bu? Orang Icha sudah punya cowok” kilah Budi.

__ADS_1


“Masa, seorang Budi takut bersaing?” goda bu Maryati.


“Aduh. Minder saya, bu. keren sih, orangnya. Ha ha ha”


“Jangan ngajarin nggak bener, ah!”


Seorang laki-laki seumuran pak Paul, menegur bu Maryati. Membuat semuanya tertawa.


“Kenapa, mas? Gitu amat ngeliatin bapak?” tegur Tika.


“Bapak, bukannya yang dulu ngejar-ngejar orang ya, di lapangan ngguntur? Yang kepleset terus guling-guling?” tanya Budi.


“Lah. Kok tahu?” seru bapak itu kaget.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Si Tika malah tertawa lepas. Sampai ditegur ibunya, agar mengecilkan suaranya.


“Ini pak Sigit, ngger. Bapaknya mbak Icha sama mbak Tika” kata ibu memperkenalkan laki-laki itu.


“Oh” sahut Budi sambil tergelak. Dia kemudian menyalami pak Sigit itu.


“Terus, ini? Dengan siapa, maaf?” tanya Budi, merujuk pada seorang laki-laki di sebelah pak Sigit.


“Ini Jupri. Karyawannya bapak, Bud. Dia yang akan anter kamu ke Tangerang” jawab pak Sigit.


“Loh. Kok bisa kebetulan?”


“Nggak kebetulan juga, mas Bud” jawab pak Sigit.


“Icha, yang minta ibu buat nelpon ibumu. Dan minta buat nyiapin kendaraan. Icha udah ngobrol banyak kan, sama mas Budi?” timpal bu Maryati.


“Oh. Iya sih, bu” jawab Budi.


“Nah, itu”


“Eeem”


“Kenapa? Bingung, kok ibu sama bapak langsung setuju?” tanya bu Maryati.


“Iya, bu. Berasa jadi orang penting, saya” jawab Budi.


“Bapakmu yang orang penting, mas Bud” sahut pak Sigit. Perhatian semua orang tertuju padanya.


“Maksud pak Sigit?” tanya Budi bingung.


“Ya. Bapak pernah ditolong sama bapakmu, waktu bapak kecelakaan. Udah lama banget, sih. Kamu juga belum dibikin” jawab pak Sigit. Budi tergelak mendengar kata belum dibikin.


“Di jalan yang jauh dari mana-mana, bapak ngantuk, mobil yang bapak bawa, bablas, masuk jurang. Satu-satunya orang yang lewat waktu itu, ya cuman bapakmu. Dan bapakmu nolongin bapak, mulai dari dasar jurang, naik ke jalan, sampe bawa bapak ke sini” lanjut pak Sigit. Budi manggut-manggut.


“Yang konyol, pak Rouf waktu itu bawanya mobil ambulance jenazah. Punya desa kalian. Baru beli dari kota reog. Wah. Langsung keinget semua, dosa-dosa” lanjut pak Sigit lagi. Budi tergelak lagi. yang lain juga tertawa.


“Masya Alloh” komentar Budi.


“Dari saat itulah, kita jadi berteman. Apalagi rumah bapakmu kan deket sama rumah simbahnya Tika” kata pak Sigit lagi.


“Jangan-jangan dicomblangin pak Sigit, dulu” goda Budi, sambil melirik ibunya.


“Emang iya” sahut pak Sigit.


“Serius, pak?”


“Bener. Kan dulu blok unggas sama ikan laut, sebelahan, di pasar wetan. Awal mulanya, pas bapakmu nyamperin bapak, tuh. Awalnya sih, biasa aja. Eh, meleng dia, liat ibumu. Ada tukang soto lewat, main ditabrak aja sama bapakmu. Sampe ngamuk, orangnya”


“Hempf. Bu Dian?” tanya Budi pada ibunya.


“Iya” jawab bu Ratih sambil tergelak.


Budi manggut-manggut lagi. Kini dia paham, mengapa keluarga bu Maryati bisa setanggap dan seringan itu untuk membantu keluarganya. dan dia sangat bersyukur untuk hal itu.


“Tapi, urusan bensin sama ibu ya, bu?” kelakar Budi, beberapa lama kemudian.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Bu Maryati tertawa mendengar kelakar Budi. Begitu juga dengan yang lain. Briefing singkatpun Budi lakukan, agar sepaham dengan apa yang dia rencanakan. Si Jupri itu sepertinya sudah paham seluk beluk daerah tangerang. Dia langsung mengerti apa yang Budi bicarakan.


“Kalau begitu, Budi langsung berangkat aja ya, bu? Biar nggak kesiangan sampe sananya” pamit Budi.


“Ati-ati ya, ngger! Kabari ibu, kalo udah nyampe!” jawab bu Ratih.


“Iya, bu”


Budipun menyalami semua yang ada. Lalu berangkat bersama si Jupri.


***

__ADS_1


__ADS_2