
Saat dibuka oleh Budi, yang pertama terlihat adalah album foto. Album yang berisi foto-foto pak Rouf semasa muda.
“Masya Alloh” komentar bu Ratih.
“Ada apa, bu?” tanya Budi.
Bu Ratih tersenyum sambil menunjuk beberapa orang yang ada di dalam album itu.
“Mereka ini yang disebut si Cobra dan yang lain. Mirip kan, sama mereka. Sama kaya bapak, mirip banget sama kamu” jawab bu Ratih. Budi ikut tersenyum mendengar jawaban ibunya.
“Nggak nyangka ya, bu. Ternyata mereka orang-orang hebat” komentar Budi.
Bu Ratih tersenyum setengah tergelak. Budi jadi bertanya-tanya, mengapa ibunya tergelak. pasti ada kenangan lucu, entah tentang bapaknya, atau tentang teman-teman bapaknya.
“Heboh mereka itu, kalo lagi nengokin bapakmu” celetuk bu Ratih. Dia menunjuk salah satu foto, saat mereka makan bakso bersama di sebuah warung.
“Oh. Emang mereka tinggal dimana, bu? Waktu itu, maksud Budi”
“Waktu itu, ibu juga nggak tahu. Jarang banget bisa ngumpul bareng gitu. Ini aja ibu masih gadis. Bapak baru PDKT sama ibu. Eh, mereka dateng. Kacau, deh”
“Hempf. Kacau gimana, bu?” tanya Budi sambil tergelak.
“Ya, orang belum jadian, dibilang udah pacaran. Mana diumumin sepasar, lagi. Heboh, lah. Ngamuk, mbah Lasmi”
“Oh. Mbah Lasmi masih ada, waktu itu, bu?"
“Masih. Masih jualan juga. Wah, ngamuknya udah bener-bener, tuh. Pentolan preman jaman itu aja sampe minggir, tahu”
“Hempf. Ha ha ha ha. Ternyata Budi emang punya titisan darah preman. Ha ha ha ha” komentar Budi.
“Cuman, kalo kamu sih, mirip bapak banget. Putri tuh, yang mirip mbah Lasmi. Kenceng suaranya”
“Hempf. Iya, bener. Ha ha ha”
“Emang bapak suka berantem, bu?” tanya Budi, beberapa saat kemudian.
“Enggak juga, sih. lebih ke over protective. Senggol bacok, kalo kata pakde Baskoro” jawab bu Ratih.
“Oh”
Budi tergelak mendengar kata senggol bacok. Walau sebenarnya agak bingung juga. Karena dia belum pernah melihat bapaknya berkelahi.
“Pokonya, kalo ada yang deketin ibu, langsung dipepet sama bapak. Untung pada ngeper. Kalo enggak, wuu, nggak tahu deh, berapa orang yang ditonjokin bapak”
“Walah. Kok ngalahin Budi, ya? Ha ha ha ha” komentar Budi.
Bu Ratihpun ikut tertawa. Terlebih, saat ada beberapa foto yang mengabadikan momen pak Rouf adu mulut dengan beberapa pria berbeda, yang mendekati bu Ratih. Tapi saat ditanya Budi tentang siapa yang mengabadikan momen itu, bu Ratih juga tidak tahu.
“Itu map apa, ngger?” tanya bu Ratih, setelah foto-foto itu habis mereka nikmati.
“Wah iya. canggih bener bapak, tahun segitu udah punya map berklip, covernya plastik. Di kantor guru aja, dulu masih pake yang cover kertas” komentar Budi, sambil mengangkat map itu dari dalam kotak. Tebal juga isinya.
“Wow”
Perhatian Budi langsung terbetot saat membuka map itu. Bukan plastik clear holder ukuran A empat, yang tersaji di dalamnya. Melainkan folder dari kertas, yang bentuknya seprti amplop, tapi ada lubangnya untuk dikaitkan ke klipnya. Ada tulisan jawa yang terpampang di bagian depan amplop itu.
“Kagem ibu” kata Budi, membaca tulisan jawa itu.
“Buat ibu” lanjutnya, tertuju pada ibunya.
“Keluarin, ngger!” pinta bu Ratih.
__ADS_1
Budipun mengeluarkan apa yang ada di dalam folder amplop itu. Di lembar paling depan, ada surat yang sama dengan yang diberikan Nungki tadi siang.
“Surat nikahnya bapak, bu” kata Budi.
“Ya. sama seperti tadi” jawab bu Ratih.
Budi sempat menoleh ke ibunya. Suara datar ibunya membuatnya bingung. Solah-olah ibunya sudah ikhlas menerima kenyataan, bahwa suaminya pernah menikah sebelum bersamanya.
“Kenapa? Ko ngeliatin ibu?” tanya bu Ratih. Budi tersenyum.
“Syukurlah, ibu udah nggak oleng” jawab Budi setengah tergelak.
“Adow”
Budi terkejut mendapat cubitan cukup keras di lengannya.
“Kok dicubit, bu?” protes Budi.
“Udah bisa ngecengin ibu, ya?” sahut bu Ratih.
“Hempf. Ha ha ha ha” Budi hanya tertawa saja, menanggapi ucapan ibunya.
Tiga lembar kertas paling depan, adalah salinan kertas yang diberikan Nungki tadi siang. Surat nikah, keterangan hamil, dan surat cerai.
Selebihnya, ada sekian lembar foto-foto masa lalu pak Rouf. Dimana ada foto pernikahan pak Rouf dengan Gita Shella Syarifah, Momen kebersamaan di beberapa tempak ikonik, dan ada satu foto yang menceritakan tentang kehamilan Gita Shella. Tepatnya saat diperiksa oleh seorang bidan.
“Heeh. Aurot”
Seru bu Ratih, sambil merebut foto Gita Shella, yang sedang dipegang Budi. Foto Gita yang tersingkap bajunya saat diperiksa bidan itu langsung dibuang bu Ratih ke dekat pintu. Budi tertawa melihat ekspresi cemburu ibunya.
“Itu apa, ngger?” tanya bu Ratih, merujuk pada amplop selanjutnya.
Budi mengeluarkan isi dari amplop itu. Isinya lembaran-lembaran berkas yang format tulisannya sangat tidak biasa. Sepenuhnya ditulis menggunakan tulisan jawa. Tapi dari foto yang distepless di berkas itu, Budi jadi mengerti, kalau itu adalah laporan intelejen.
“Apa sih itu, ngger? Ibu nggak paham cara bacanya” tanya bu ratih.
Budi mengerti apa yang dimaksud ibunya. bukannya bu Ratih tidak bisa membaca tulisan jawa, tapi kalimatnya memang bukan bahasa jawa.
“Ini kalimat dalam bahasa sunda halus, bu” jawab Budi.
“Pantesan. Ibu pikir bahasa arab. Tapi kok kaya bukan” komentar bu Ratih.
“Kayaknya ini duplikat dari berkas milik temannya bapak, bu. Fathoni pernah bilang, kalau kepolisian pernah hampir menangkap komplotannya moreno. Tapi bukti-buktinya hilang, karena rumah rekannya bapak itu, terbakar. Jadi mereka bebas, deh” kata Budi, menjelaskan apa yang tertulis di kertas itu.
“Lah. Kalo bapak nyimpen duplikatnya, kenapa nggak dilanjut aja, sama bapak?” tanya bu Ratih.
“Nggak tahu” jawab Budi singkat.
Budi menjawab tanpa menoleh ke arah sang ibu. Itu karena Budi sedang fokus membaca tulisan-tulisan jawa dengan kalimat bahasa sunda itu.
Bu Ratih membiarkan Budi membaca lembar demi lembar, tanpa menginterupsi. Dia sendiri tertarik untuk mengamati setiap foto yang dilampirkan pada setiap lembar kertas itu.
“Kok ada yang kebakar, ngger? Isinya apa, sih?” tanya bu Ratih penasaran.
“Isinya tentang hasil penelusuran bapak dan kawan-kawannya, bu” jawab Budi.
Dia menggantung jawabannya, karena masih fokus membaca.
“Intinya, komplotan Moreno, Bejo, Handono itu, sudah terbentuk sejak jaman orde baru. Dan ada keterkaitan dengan keluarga cendana. Berkaitan dengan keluarga cendana, sudah barang tentu, ada banyak punggawa berbintang yang melindungi mereka” lanjut Budi, sambil menunjukkan salah satu foto.
Ada beberapa perwira ABRI kala itu yang berkumpul dengan salah seorang dari keluarga cendana. Ada Moreno, Bejo, juga Handono.
__ADS_1
“Itu kan bapak?” seru bu Ratih, lirih.
“Yap. Under cover. Yang ambil gambar ini, Gita Syarifah” jawab Budi, sambil menunjuk salah satu penggalan kalimat dalam tulisan jawa.
“Loh. Terus itu siapa?” tanya bu Ratih, sambi menunjuk foto si kembar.
“Pacarnya bapak” jawab Budi sambil tersenyum menggoda ibunya.
“Kok bisa? Yang polisi kan Gita Syarifah. Kok yang menyamar, kembarannya?”
“Penjelasannya panjang, bu. Intinya, yang manapun yang ada di sana, bakal dipastikan aman. Karena ada Handono, dan pastinya juga ada bapak. Lebih penting untuk bisa mendokumentasikan pertemuan itu dalam bentuk laporan intelejen”
“Oh”
Bu Ratih manggut-manggut mengerti. Meski masih banak sekali pertanyaan dalam benaknya.
Budi masih membolak-balik lembar demi lembar laporan itu. Ada banyak perwira menengah sampai tinggi, dari tiga matra plus kepolisian, yang dirincikan keterlibatannya di komplotan si Bejo.
“Oh” celetuk Budi, setelah lama terdiam.
“Kenapa, ngger?” tanya bu Ratih.
“Atasannya bapak itu, adalah satu dari sedikit perwira tinggi ABRI yang masih bersih. Hanya tiga orang, bu. Hanya tiga orang ini yang merasa risih dengan aktifitas perlindungan terhadap peredaran narkotika” kata Budi, sambil menunjuk pada berkas tiga orang perwira, yang dirangkum menjadi satu.
“Ternyata ada keluarga ketiganya yang menjadi korban peredaran narkotika. Kaya dicekokin gitu, bu” lanjut Budi.
“Dicekokin?” tanya bu Ratih bingung.
“Ya. Di sini dituliskan, awalnya nongkrong-nongkrong, terus pada nyabu. Nah, anaknya perwira ini, dipaksa menghirup sabu itu, bu. Dicengin gitu, bu. Kalo nggak ikut menghirup, nggak jantan. Anak perwira kok nggak jantan. Nggak terima kan dia, bu. Ikutlah dia. Sebagai pembuktian kalo dia itu jantan. Namanya sabu, sekali kena, ya keterusan” jawab Budi lirih.
“Kecanduan langsung?” sahut bu Ratih.
“Nggak dijelaskan sih, bu. Cuman di sini ditulis kecanduan. Sampai lupa diri, nggak bisa dibilangin, sampai over dosis, sempat koma, pada akhirnya, meninggal”
“Inalillahi wa inna ilaihi roji’un”
“Dua perwira lainnya, kasusnya mirip. Dan, ketika mereka menelusuri asal muasalnya, terbukalah fakta, kalau narkotika itu berasal dari salah satu bandar besar bernama Moreno alias camat cerbon”
“Itu bosnya, ya?”
“Iya, bu”
“Berarti si Bejo itu masih anak buah, dong?"
“Iya. Bejo alias Respati, Handono alias Karto Marmo, Frida alias Sekar, sama ada satu lagi. Siapa nih?” jawab Budi. Dia sendiri kaget saat membaca akhir tulisan di lembar itu. Dia membalik kertas itu untuk mencari kelanjutannya.
“Priyagung alias Indrajid. Ahli riset di pabrik obat milik Andra Dika Moreno. Dialah otak dari munculnya narkotika-arkotika jenis baru, pengembangan dari sabu-sabu, ekstasi, dan metafemamin lainnya. Diantaranya, “
Budi tidak mengucapkan daftar obat yang dicurigai sebagai bahan pembuat narkotika jenis baru. Dari daftar itu, berkembang menjadi laporan tersendiri. Ada rumus kimia, cara pembuatan, dan foto-foto pendukung.
“Gila. Fotonya candid semua. Jaman itu pake kamera apa, ya?” gumam Budi.
“Mereka juga sedang mengembangkan narkotika jenis lain yang belum terlihat akan seperti apa bentuknya. Dan tidak diproyeksikan untuk produksi masal jarak dekat. Mungkin baru akan diproduksi sepuluh atau dua puluh tahun kemudian” lanjut Budi. masih dengan suara lirih.
“Loh, kok?”
Budi merasa menemukan sesuatu saat membaca daftar kimia yang membentuk senyawa narkoba itu. Walaupun dibilang baru rumusan awal, tapi komposisinya mirip seperti yang terdapat pada rotan yang dia tes di laboratorium tempo hari.
“Kenapa, ngger” tanya bu Ratih, lirih.
“Komposisinya mirip"
__ADS_1