
Menjelang jam kerja, Stevani pamit kepada bu Ratih, Putri dan Budi. Bu Ratih tak hentinya mengucapkan terimakasih padanya. Dibekalinya juga Stevani dengan doa yang ikhlas sepenuh hati, agar Stevani selalu diberikan kelancaran dimanapun dia berada.
Stevani merasa tersanjung mendapatkan doa yang begitu mengena di hatinya.
Setibanya di pabrik, Stevani tidak langsung masuk kantor. Dia langsung menuju lapangan, ke tempat dimana Dino dan kawan-kawannnya suka berkumpul. Tapi sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
“Awas kalo nongol!” sungutnya.
Dia kembali ke kantor. Sontak saja kantor menjadi heboh, lantaran banyak yang menanyakan kabar tentang Budi yang kecelakaan. Termasuk pak Paul juga.
Satu per satu pertanyaan itu dia jawab. Sebatas apa yang dia tahu. Dan pertanyaan bagaimana Budi bisa terjatuh dari motornya, itu yang Stevani katakan, tidak bisa menjawab. Karena dia sendiri juga tidak tahu.
Mendengar penjelasan Stevani, pak Paul langsung keluar kantor. Erika sempat bertanya, mau kemana. Dan dijawab, mau nengok Budi. Dia tampak khawatir dengan kondisi Budi. Terlebih saat Stevani bilang kalau Budi sedang mengalami amnesia.
Erika mengingatkan semua yang sedang berkumpul, bahwa jam kerja sudah dimulai. Dan mereka semua membubarkan diri, kembali ke pos masing-masing. Stevani sendiri juga langsung diserbu Isma dengan berbagai pertanyaan, seputar keuangan.
Sempat emosinya terpancing mendengar suara Isma dengan nada bicaranya yang cenderung meninggi. Tapi Farah, yang berdiri di belakang Isma, mengingatkannya untuk bersabar. Dia sempatkan menghela nafas berat. Satu helaan saja sudah cukup untuk mengurangi emosinya.
Saking sibuknya melayani setiap pertanyaan dari Isma, Stevani sampai tidak sadar, kalau jam makan siang tinggal beberapa menit lagi. Isma memutuskan untuk menunda sementara diskusi mereka sampai jam istirahat siang selesai. Stevani langsung keluar kantor. Hanya ada satu tujuannya, area finishing. Dan terlihat kalau Dino sudah bersiap untuk makan siang.
“Dino” pangil Stevani. Sontak Dino menengok ke arahnya.
“Lo punya omongan bisa dipegang nggak sih?” tanya Stevani lirih, tapi dengan tatapan mata tajam.
“Apaan sih?”
“Apaan? Lo mau maen-maen sama gua?”
“Eh, Per**. Bang***-bang*** begini, gua tahu kapan gua bisa sembarangan dan kapan gua harus komitmen sama omongan gua”
“Ya terus, nyatanya? Jangan pura-pura nggak tahu lo ya!”
“Lo nuduh gua yang udah bikin Budi masuk UGD?”
“Siapa lagi?"
“Bego bener jadi orang. Kita berlima aja nggak bisa numbangin dia. Yang bener aja, masa cuman sekali senggolan motor langsung terkapar gitu? Kalo ketabrak truk, iya. Itu sih dikeroyok, anj***”
“Ya berlima juga apa namanya kalo bukan keroyokan? Tinggal nambah orang, kan gampang”
“Liar banget nih bac**. Lo pikir aja! Cuman pake tangan kosong aja, dia bisa dengan gampangnya ngejatohin kita. Kalo dia bisa rebut senjata penyerangnya, butuh berapa orang buat numbangin dia, Van? Sepuluh orang juga kurang kali. Bisa dua puluh orang baru bisa bikin dia tumbang. Apalagi kalo nggak boleh sampe celaka”
“Kan anak buah lo banyak”
“Nih orang. Gua habisin juga lo. Duitnya dari mana, lon**? nggak mugkin gua bawa yang ecek-ecek, yang level tarungnya dibawah kita. Kalo gua yang maju, pasti gua nyari yang udah jagoan. Dan itu butuh duit”
“Awas, kalo gua tahu, itu perbuatan lo” ancam Stevani.
Dino hanya tersenyum geli mendengar ancaman itu. Dia bersiul saat Stevani berbalik arah dan meninggalkannya. Kawan-kawannya tertawa mengetahui apa yang disiuli Dino.
***
Selepas dari rumah Adel, Tati langsung meluncur ke rumah Budi. Nike ikut, menemani. Dia juga merasakan penasaran dengan kejadian yang menimpa Adel. karena belum pernah ke sana, Tati jadi harus bertanya-tanya dahulu dengan orang yang ada di pinggir jalan.
Apesnya, hari itu adalah hari pasaran. Ada banyak sekali orang dari luar kecamatan yang datang untuk berdagang ataupun berbelanja. Dan ternyata yang dia tanyai bukankanlah orang asli desa ini.
Nike menyarankan Tati untuk masuk ke salah satu lingkungan, untuk menanyakan alamat yang mereka cari. Beruntung, orang-orang di lingkungan itu mengenal Budi. sekalipun rumah Budi bukan di lingkungan itu. warga sekitar memberitahu mereka arah jalan menuju rumah Budi.
Tanpa membuang waktu, Tati langsung meluncur ke jalan yang dimaksud. Tapi dia masih merasa bingung. Karena apa yang tergambar di benaknya, berbeda dengan apa yang dia lihat. Dia mereasa ada informasi yang dia salah dalam memahaminya. Nike menyarankannya untuk bertanya lagi dengan orang yang sedang asik rumpi di salah satu rumah.
“Assalamu’alaikum” sapa Tati.
Dia turun dari motornya, dan berjalan menaiki anak tangga menuju teras rumah salah satu warga.
“Wa’alaikum salam” jawab ibu-ibu yang sedang merumpi itu.
“Maaf, bu. saya sedang mencari rumahnya Budi, putranya bu Ratih. Kalau boleh tahu, yang mana ya, bu?” tanya Tati sopan.
“Itu” jawab ibu-ibu itu kompak. Mereka menunjuk arah yang sama, yaitu depan rumah ini.
“Oh, itu. tapi kok sepi, bu? Bu Ratihnya ke pasar ya, Bu?” tanya Tati lagi.
“Lagi di rumah sakit”
“Loh, siapa yang sakit, Bu?"
“Budi”
“Astaghfirulloh. Mas Budi sakit apa, bu?”
“Sekarat. Orang suka tawuran, sih” jawab seorang ibu-ibu yang berada di pojok kanan.
“Bu Kusno, mbok jangan gitu” tegur ibu-ibu yang lain.
“Biarin aja! emang bener, kan?” jawab Bu Kusno tidak mau ditegur.
“Oh. Baik bu, terimakasih atas informasinya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Tati langsung pergi. Sepanjang perjalanan, Nike menggerutu. Kesal juga dia mendengar omongan bu Kusno. Dia bilang, seumur hidup baru kali ini mendengar ada orang yang sebegitu tidak sukanya sama Budi.
***
Di rumah sakit, bu Ratih sedang duduk-duduk di depan ruang perawatan. Dia sedang berbincang dengan keluarga pasien lain. Sedangkan Stevani terlihat kesal saat menerima telepon.
Bu Ratih sampai geleng-geleng kepala. Kepada Putri dia katakan kalau dia memuji Budi, yang selalu bisa membuat hati wanita takluk kepadanya. Sebegitu takluknya, sampai rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani Budi. Putri tersenyum setengah tergelak.
“Kenapa, nduk?” tanya bu Ratih, sekembalinya Stevani dari ujung lorong.
“Ini, atasan Vani. Barusan bilang kalau ada problem data sama orang finance”jawab Stevani.
“Terus?”
“Vani disuruh ke kantor”
“Oh, ya kalau udah tugas, kenapa sebel?”
“Ya kan, Vani udah ngajuin ijin, bu. Kaya nggak ada hari lain aja. Tadi juga bilangnya nggak papa ”
“He he. Ya terserah kamu sih, nduk. Budi juga pernah kaya gitu, di tempat sebelumnya. Tapi sekalipun ngomel, dia tetep jalan”
“Masa, bu?”
“Ya, ibu denger sendiri obrolannya”
“Huufff” Vani menghela nafas berat.
“Saran ibu sih, kamu dateng aja dulu, ke kantor. Kalo udah kelar, baru ke sini lagi. Toh, paling masih besok Budi, pulangnya” saran bu Ratih.
“Iya deh, bu. Vani ke kantor dulu, ya. Kalo butuh apa-apa, telepon Vani aja!”
“Iya” jawab Bu Ratih sambil tersenyum.
Stevani pergi setelah mengucapkan salam. Keluarga pasien lain ada yang menanyakan perihal dia. Bu Ratih hanya tersenyum saat ditanya, apakah Stevani adalah calon menantunya. Mereka juga memuji kecantikan Stevani.
Beberapa saat setelah Stevani pergi, Tati dan Nike sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju meja resepsionis, dan menanyakan keberadaan Budi.
Petugas resepsionis yang berjaga, memberikan nomor kamar Budi dan menunjukkan arah menuju kamar itu. Dari kejauhan, Tati seperti mengenali seseorang yang sedang lesehan bersama beberapa orang lainnya.
“Assalamu’alaikum” sapa Tati dan Nike.
Sontak bu Ratih dan Putri memutar kepala, menoleh ke arah sumber suara.
“Wa’alaikum salam” jawab semua yang ada di depan Tati.
__ADS_1
“Eh, ya Alloh. Ini mbak Tati kan, temennya mbak Adel?” seru bu Ratih. Dia langsung bangkit dari duduknya.
“Iya, bener bu” jawab Tati.
Dia langsung salim dan mencium tangan bu Ratih. Nike juga melakukan hal serupa. Perlakuan terbalik saat bersalaman dengan Putri.
“Bu, mas Budi kenapa?” tanya Tati tanpa basa-basi.
“Budi kecelakaan, mbak Tati” jawab Bu Ratih.
“Ya Alloh. Kondisinya gimana, bu?” Tati hawatir.
“Alhamdulillah, fisiknya udah baikan”
“Fisiknya? Maksud ibu?”
“Kita ke dalam aja, yuk!” ajak bu Ratih.
Tati dan Nikepun ikut masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, ada dua ranjang yang disekat oleh tirai. Dan kedua ranjang itu, telah terisi oleh dua pasien. Yang salah satunya adalah Budi. Saat melihat ada yang masuk, Budi seperti terganggu tidurnya. Diapun bangun.
“Eh, maaf mas Bud. Tadi ganggu tidurnya, ya?” kata Tati. Budi hanya tersenyum mendengar permintaan maaf dari Tati.
“Nggak papa, kok” jawab Budi.
“Mas, kamu jatuh dimana?” tanya Tati pelan. Tapi Budi tidak menjawab. Dia juga melihatnya seperti orang yang belum pernah ketemu.
“Budi, mengalami amnesia” celetuk bu Ratih.
“Apa?” sahut Tati reflek, karena kaget.
“Iya mbak. Mas Budi tidak ingat kejadian yang telah nimpa dia. Bahkan, sama ibu, sama Putri aja, mas Budi nggak ingat”
“Astaghfirulloh”
Tati menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Dia berusaha menyembunyikan tangis yang tidak bisa dia tahan.
“Emang mas Budi jatuh di mana, bu?”
“Kata Stevani, dia jatuh di ujung jembatan grindulu, JLS. Yang deket angkringan”
“Ya Alloh” Tati tak kuasa menahan tangisnya lagi.
“Emang kenapa mbak? Oh, ya. mbak Adel gimana kabarnya, mbak? Dari semalam nggak bisa dihubungi” tanya Putri.
“Stevani itu, yang bawa mas Budi ke sini, bu? Dia siapa, bu?”tanya Tati, tanpa menghiraukan pertanyaan Putri.
“Ya, dia teman sekantornya Budi. Katanya, dia abis dari soge. Pas lewat jembatan itu, dia kaya liat pantulan spion, dari pinggir jalan. Pas deket, keliatan ada motor nyusruk. Pas dia deketin lagi, ternyata itu Budi”
“Ya Alloh, untung pada ada yang nolongin, ya bu”
“Hem? Maksud mbak Tati?” tanya bu Ratih memastikan.
Karena kalimat Tati itu, bisa berarti jamak. Atau bisa dibilang, ada lebih dari satu orang yang mengalami kejadian yang sama. Tati tidak segera menjawab. Dia menata hatinya dulu.
“Adel juga kecelakaan, bu” jawab Tati.
“Apa?” bu Ratih dan Putri memekik bersamaan.
“Serius kamu nduk? Dimana?”
“Di hutan kota, bu. Di jalur Bis itu”
“Kok bisa jauhan sama Budi, ya?”
“Selamat siang”
Seseorang menyapa dari dari arah pintu kamar rawat. Mereka bertiga menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata seorang dokter wanita yang masih muda.
“Gimana kondisinya, mas..” pertanyaan dokter muda itu menggantung.
“Loh, mas? Kok?” tanya doktrer itu lagi. Dia seperti orang bingung, atau tidak percaya.
“Eh, eng, enggak. Saya, saya, nggak percaya aja, bu” jawab Dokter itu.
“Nggak percaya apanya?’
“Ya, kemarin, saya sempat ketemu, sama masnya ini. Di jalan, JLS”
“Lalu?”
“Ya, mengenai pertemuannya sih, nggak ada apa-apa, bu. Saya juga nggak merhatiin. Tapi saya agak geli juga waktu itu. Dua orang cewek, rebutan satu cowok di pinggir jalan”
“Dua cewek? Ini bukan, dok?” tanya Putri. Dia memberikan foto Stevani.
“Bukan”
“Yang ini?” Putri menunjukkan foto Adel.
“Iya. Yang satu itu. Kayaknya yang dibonceng”
“Terus, yang satunya?” tanya Tati.
“Saya nggak begitu merhatiin. Tapi yang jelas, perutnya udah agak gede” jawab dokter itu, sambil memperagakan perut yang membuncit karena sedang isi.
Melihat peragaan tangan itu, sontak wajah Tati berubah menjadi merah. Tampak sekali dia marah. Sebenarnya dia hendak memaki-maki Budi. Tapi karena Budi sedang lupa ingatan, menurutnya akan percuma. Dia lantas balik badan, dan peri begitu saja tanpa pamitan.
“Mbak Tati”
Putri memanggil sambil mengejar Tati. Tappi Tati tidak menghiraukannya. Dia tetap berjalan cepat dengan berderai air mata.
“Mbak, tunggu bentar!” pinta Putri. Dia menghalangi jalan Tati.
“Minggir, nggak?” bentak Tati.
“Mbak, jangan marah dulu! Kita kan belum dengar cerita versi mas Budi sama mbak Adel”
“Apa mereka ingat? Kalopun ingat, apa Budi mau ngakuin perbuatannya?” tanya Tati. Adel terkesiap.
“Mbak, mas Budi nggak pernah lari dari tanggung jawab. Kalo emang ada cewek yang ngaku dihamili sama mas Budi, kenapa nunggu gede baru ngomong? Kenapa nggak dari awal? Toh mas Budi juga nggak kemana-mana, rumah kita juga masih di situ”
“Kamu mau ngomong, kalo seorang dokter akan segampang itu bicara bohong?”
“Oh, ya. pasti. Apa susahnya? Putri juga bisa aja kalo cuman asal ngomong, tanpa bukti”
“Motovasinya apa, Put? Dia dokter, udah disumpah”
“Emang kalo ngelanggar sumpah, terus mati gitu, mbak? Enggak kan?”
Tati tidak menjawab. Dia hanya balik badan, lalu melangkahkan kaki menjauh dari Putri.
“Mbak” panggil Putri.
“Jangan ikuti gua!” kata Tati dengan nada penuh amarah. Lalu dia pergi.
“Yang sabar, ya! Kayaknya ada salah paham di sini” kata Nike menghibur Putri.
Putri tidak menjawab. Dia masih menangis karena hatinya bagai dikoyak. Sudah sedih melihat kakaknya lupa ingatan, masih ada juga yang tega memfitnah.
Nike pamit untuk pulang. Dia titip salam untuk bu Ratih, sekaligus ucapan permintaan maaf,atas sikap Tati. Putri langsung mengambil ponselnya. Dia ingin membendung fitnah ini agar tidak berlanjut. Dia menelepon Madina.
“Halo Din, assalamu’alaikum” sapa Putri begitu panggilan tersambung.
“Wa’alaikum salam” jawab Madina.
“Din, tolong banget, entar kalo mbak Tati ngomong yang aneh-aneh tentang mas Budi, kamu jangan telen bulet-bulet, ya! Please!”
__ADS_1
“Emang ada apa, Put?”
“Ada yang memfitnah mas Budi” jawab Putri.
“Fitnah? Emang mas Budi sekarang di mana?”
“Di rumah sakit, Din. Dia abis kecelakaan”
“Astaghfirulloh. Di mana?”
“Kata mbak Stevani, orang yang nemuin mas Budi, di ujung jembatan Grindulu. Deket angkringan yang kita pernah makan, dulu”
“Ya Alloh, di situ? Terus fitnahnya, apa?”
“Barusan ada dokter cewek, baru pertama kita lihat dia. Pas meriksa mas Budi, dia kaya kaget gitu pas pertama liat mas Budi. pas ditanya ibu, kenapa. Dokter itu cerita, kalo kemarin sore, dia abis ketemu mas Budi, di jalan JLS. dia lagi direbutin sama dua cewek. Pas aku kasih lihat fotonya mbak Stevani, dia bilang bukan. Aku kasih lihat fotonya mbak Adel, dia bilang bener”
“Satunya lagi?”
“Itu dia, yang aku nggak tahu. Cuman dokter itu bilang kalo cewek itu rambutnya pendek, dan perutnya buncit”
“Buncit?”
“Bilangnya gitu. Tapi nggak spesifik. Eh, mbak Tati udah nyimpulin aja, kalo buncit yang dimaksud itu, hamil”
Untuk beberapa lama, tidak terdengar jawaban dari seberang telepon. Suasana menjadi hening. Membuat Putri semakin hawatir. Karena kalau Madina juga mempercayai fitnah itu, habislah sudah.
“Din?” panggil Putri.
“Bentar” jawab Madina. Suaranya lirih, terkesan berbisik. Terdengar juga suara langkah kaki.
“Put?” panggil Madina.
“Ya” jawab Putri.
“Aku tahu, kamu jujur. Aku percaya sama kamu” Kata madina. Putri lega mendengar kalimat itu.
“Aku sempat video call sama mbak Adel, pas maghrib. Mereka masih berdua di masjid agung, abis sholat” lanjut Madina dengan suara berbisik.
“Ya Alloh, terus?”
“Itu mas Budi, belum sadar ya?”
“Udah, Din. Tapi dia lupa ingatan”
“Astaghfirulloh. Kok samaan, ya?”
“Maksud kamu?”
“Iya. mbak Adel juga amnesia. Dia nggak kenal sama aku”
“Emang mbak Adel jatuh dimana? Maksud aku, menurut orang yang bawa mbak Adel”
“Kata yang bawa mbak Adel, dia nemuin mbak Adel di jalan deket Puskesmas. Itu lho, yang deket pertigaan, pertemuan jalur bis sama jalur sedeng”
“Oh, di situ?”
“Iya. kata yang bawa, dia pas melintas, terus denger ada orang minta tolong. Pas di deketin ternyata seorang ojol”
“Ojol?”
“Cerita dari bapak ojol itu, dia ngangkut mbak Adel dari JLS. Bilangnya dia di stop gitu aja, dan mbak Adel numpang tanpa lewat aplikasi. Kata dia juga, mbak Adel kaya lagi kesel banget gitu”
“Ya Alloh, kok kaya nyambung gitu sih, ceritanya” keluh Putri.
“Justru itu. Aku nganggepnya kaya sebuah konspirasi, Put”
“Konspirasi?”
“Iya, lah. Kaya ada yang sengaja pengen jatuhin atau misahin mbak Adel sama mas Budi”
“Terus, gimana dong? Percuma juga kita tahu siapa dalang dibalik musibah ini, kalo fitnahnya udah nyebar ke mana-mana. Dan orang-orang nganggep fitnah itu sebagai sebuah kebenaran”
“Eem, gini. Kalo mbak Tati sih, nggak akan bilang sama bapak atau ibu. Karena dia udah janji sama mbak Adel buat nggak bilang-bilang, sebelum dia kasih ijin. Paling dia ceritanya ke aku”
“Terus?”
“Gini. Aku bakal pura-pura percaya sama dia. Kan dia seneng, tuh. Nah abis itu, aku bakal minta dia buat rahasiain hal itu. Kan kasihan mbak Adel, kalo sampe berita ini nyebar kemana-mana. Kalopun nanti mereka bubar, kita harus bikin skenario yang baik. Gitu, Put”
“Berarti, kamu harus pura-pura marah dong, sama aku?”
“Ya, begitulah”
“Ya Alloh, Din. Marahan sama kamu sama aja marahan sama ibu. Mana bisa, aku?”
“Oh so sweet” Madina merasa tersanjung, dianggap penting dalam hati sahabatnya itu.
“Demi mereka, kita pasti bisa. Yang paling penting sekarang, adalah ngembaliin ingatan mereka dulu”
“Tapi, kamu percaya kan, sama aku?”
“Put, belum pernah aku punya temen yang bisa jaga kepercayaan yang aku kasih, lebih dari kamu. Kalopun toh, katakanlah memang bener ceritanya begitu, aku nggak bakal benci kok sama kamu. Itu kan cerita mbak Adel sama mas Budi. Bukan cerita persahabatan kita”
“Ya Alloh, Din. Kamu udah bisa mikir sampe ke situ. Oke deh. Aku ikut. Kasih kode ya, nanti”
“Kalo aku lagi akting marah? Oke. Entar aku kasih kode”
“Makasih ya, Din. Lega aku jadinya”
“Iya, Put. Bay the way, sori nih, aku belum bisa nengokin mas Budi. Aku cuman bisa kasih do’a, semoga cepet sembuh”
“Semoga mbak Adel juga cepet pulih, ya”
*TOK TOK TOK*
“Ya udah, aku harus pergi dulu. Ibu nyariin”
“Iya, Din. Makasih, ya”
“Oke. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Putri menghela nafas lega, setelah mengetahui kalau Madina masih percaya padanya. Dia kembali ke kamar rawat kakaknya.
Saat hampir sampai, langkah kakinya terhenti, saat melihat dokter perempuan tadi keluar dari ruang rawat kakaknya. Putri melihat ada sebuah senyum geli tersungging di bibirnya. Walau hanya sesaat, karena dokter itu tidak berjalan ke arahnya, melainkan arah sebaliknya.
“Apa kata dokter itu, bu?” tanya Putri tanpa mengucap salam.
“Ya Cuman mengenai medis. Terapi memori untuk membangkitkan lagi ingatan mas Budi” jawab bu Ratih.
“Gimana mbak Tati?” tanya bu ratih. Putri menggelengkan kepalanya.
“Dia marah banget, Bu. Sampe Putri dibentak” jawab Putri.
“Sabar, nduk! Mbak Tati itu, terlalu sayang sama mbak Adel. Makanya dia bereaksi keras seperti itu”
“Tapi itu kan fitnah, bu?”
“Iya, ibu tahu”
“Put” panggil Budi.
“Iya, mas”
“Kalo emang aku kakak kamu, bantu aku buat inget semuanya, ya!” pinta Budi.
__ADS_1
Putri tak kuasa menahan air matanya. Dia memeluk tubuh Budi, untuk menyembunyikan tangisnya. Budi hanya bisa terdiam, dan melihat bu Ratih. Bu Ratih memberikan seulas senyum. Budi mengernyitkan dahinya. Baginya, terasa ada sesuatu dengan senyum itu.
***