
Sampai beberapa jam kemudian, belum ada orang yang menerima panggilannya. Matanya terus enggan untuk terpejam disaat yang lain tertidur tanpa sadar. Sampai subuh hampir tiba, Budi tidak henti-hentinya mencoba menghubungi semua orang.
“Halo. Assalamu’alaikum, Ta”
Setengah berteriak Budi menyapa kekasihnya. Suara kencangnya sontak membangunkan rekan-rekannya.
“Wa’alaikum salam, Bram” jawab Adel dengan suara parau. Terlihat di layar ponsel Budi, mata Adel sembab dan merah. Wajah dan rambutnya acak-acakan tak karuan.
“Ya Alloh, Ta. Tata di rumah sakit? Siapa yang itu, emm, “ Budi tidak enak hati untuk menanyakan siapa yang menjadi korban.
“Bapak, Bram” jawab Adel.
“Astaghfirulloh. Bapak kenapa? Bapak baik-baik aja, kan?” sahut Budi. Ratna dan yang lain terduduk dan fokus memperhatikan Budi.
“Alhamdulillah. Bapak nggak papa. Bapak cuman syok aja. Abis semuanya, Bram” jawab Adel.
Dia menangis di akhir jawabannya. Tampak Budi sebenarnya ingin bertanya lebih banyak. Tapi dia menahan diri. Menanti kekasihnya selesai menumpahkan kesedihannya.
“Tata nggak tahu mesti ngapain lagi, Bram. Bengkel bapak ludes. Nggak ada yang tersisa” kata Adel lagi.
“Tapi rumah nggak papa, kan?” tanya Budi.
Adel menggelengkan kepalanya. Di dalam hati Budi mengucap syukur. Paling tidak, yang lebih berharga masih bisa diselamatkan.
“Mebelnya, gimana? Punya Luki, aman?” tanya Budi lagi.
Adel sempat mengernyitkan dahinya. Aneh bagi dia, saat kekasihnya malah menanyakan mebel pesanan Luki.
“Pesenan Luki aman, Bram. Udah diambil. Tapi,”
Jawaban Adel menggantung. Budi sudah bisa menebak apa yang ingin Adel katakan selanjutnya. Dia tampak berpikir sejenak.
“Oke. Berapa yang mesti dikejar?” tanya Budi.
Untuk beberapa saat, Adel tidak menjawab. Air matanya meleleh lagi, mewakili kebingungan yang kini menguasai pikirannya.
“Semuanya, Bram”
“Allohu Akbar. Semuanya?” tanya Budi tanpa sadar.
Adel menangis lagi saat mengangguk. Dia benar-benar merasa kacau. Sudah terbayang di benaknya apa yang akan terjadi kalau bapaknya gagal memenuhi permintaan yang sudah dibayar itu.
“Buat pengiriman besok ludes semua, Bram” jawab Adel kemudian.
“Maafin Tata, Bram. Ini semua kesalahan Tata” lanjut Adel.
Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Budi bingung harus berkomentar apa. Dia yakin, pernyataan itu hanyalah ungkapan kesedihan hatinya Adel semata.
“Hei. Kok salahnya Tata? Kan Tata nggak berurusan sama kelistrikan, Tata juga nggak ngerokok” hibur Budi.
“Ini semua gara-gara ngatain karyawannya Bapak, Bram”
“Hem?”
“Ya, ya, kaya, kaya Abram sama Dino, gitu”
“Dino? Oh, terus?” Budi mengerti maksud Adel.
“Tata jengkel banget sama karyawannya bapak yang tua itu. Udah setua itu masih aja susah diatur. Kerjanya itu Bram, semaunya sendiri. Mentang-mentang paling senior, paling pinter,paling, ah”
__ADS_1
Adel meninju tiang besi penyangga atap di dekatnya. Dia merasa sangat marah kepada orang itu.
“Eeem”
Budi merasa agak tidak terhubung antara apa yang diceritakan Adel dengan kebakaran yang terjadi. Sebagai laki-laki, dia merasa akan lebih puas kalau melampiaskan dendamnya kepada wanita yang menghinanya. Seperti pelecehan, atau mungkin pemerkosaan.
“Ya, memang. Nggak serta merta begitu, Bram” kata Adel mengerti kebingungan kekasihnya.
“Dia sempat marah. Dan sempat duel sama Luki” lanjut Adel.
“Luki?”
“Ya. kemarin dia juga nagih pesanannya. Makanya Tata marah sampai ngatain orang itu, karena strategi yang kita bahas subuh itu, nggak dijalanin sama dia. Malah kaya disepelein, gitu. Jadinya pesanan Luki molor pengerjaannya”
“Kok dia bisa duel sama karyawan Bapak?”
“Ya, karena dia marah, saat orang itu ngatain Tata, lont*” jawab Adel hati-hati. Setengah takut akan membuat Budi tersinggung.
“Apa?”
“Maafin Tata, Bram. Tata nggak tahu kalo dia ngedeket pas Tata marah-marah”
“Haih. Tu bocah ada-ada aja, sih?” keluh Budi. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ckk. Nggak ngerti caranya berantem pake sok-sokan berantem. Terus kemana bocahnya? Nongol nggak dia?” lanjut Budi kesal. Adel menggelengkan kepala.
“Abram malah curiga sama dia” kata Budi.
“Maksud Abram?” tanya Adel bingung.
Untuk sejenak mata mereka beradu pandang.
“Ah, udahlah. Abram cuman jealous aja” jawab Budi sambil geleng-geleng kepala. Adel sempat tergelak mendengar jawaban itu, walau sesaat.
“Tapi, Bram?” sahut Adel, seperti keberatan.
“Kenapa?” tanya Budi bingung.
Adel menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mengamati keadaan.
“Uangnya abis, Bram” jawab Adel lirih.
“Modalnya nggak ada lagi” lanjutnya.
Budi terkesiap. Untuk beberapa saat dia tidak merespon jawaban kekasihnya. Hanya matanya yang bergerak-gerak ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah bergantian. Dia sedang memperhitungkan kemampuan keuangannya untuk membantu kesulitan kekasihnya itu.
“Abram bisa bantu. Nggak usah pikirin soal itu!” kata Budi kemudian.
“Braam”
Adel menangis lagi. Dia merasakan sedikit kelegaan diantara himpitan yang sangat berat itu. Budi mendiamkannya beberapa saat.
“Ibu disitu, nggak?” tanya Budi, beberapa saat kemudian.
“Oh, ada. Lagi di dalem nemein ibu, Bram. Ada Putri juga, lagi nemenin Madin. Dia juga syok, bram” jawab Adel lengkap.
“Maafin Abram ya, ta! Abram nggak ada di saat genting kaya gini”
“Ada yang lebih penting buat Tata, Bram. Dan Tata akan sangat berterimakasih kalo Abram beneran bisa bantu Tata” jawab Adel.
__ADS_1
“Oke. Kirim gambarnya! Abram akan urus selebihnya” jawab Budi.
“Oke, Bram”
“Jaga kesehatan, ya! Tata harus tetep kuat. Bapak bergantung sama Tata”
“Iya, Bram”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Budi masih tetap memandangi layar ponselnya, sekalipun sambungan telepon itu telah terputus.
Otaknya mengembara membuat strategi, bagaimana caranya agar terget pengiriman kloter ke dua itu tetap bisa dipenuhi. Saking kerasnya dia berpikir, sampai-sampai dia tidak sadar diperhatikan semua rekan-rekannya. Dia baru tersadar disaat dia menurunkan ponselnya.
“Apa yang bisa kita bantu, mas?” tanya Ratna.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Budi jadi terpikirkan mengenai negosiasi waktu. Force major adalah suatu hal yang bisa dipertimbangkan meminta perpanjangan waktu.
“Mbak Hilda. Bisa minta Farah nanyain ke mr. Isaac nggak, buat minta tambahan waktu? Berapapun tambahan waktunya, akan sangat aku apresiasi” tanya Budi.
“Oh, siap. Aku hubungi mbak Farah dulu” jawab Hilda.
“Na?” panggil Budi.
“Ya, mas. Apa yang bisa aku bantu?” sahut Ratna.
“Di tempat om kamu, masih ada slot kosong nggak?” tanya Budi.
“Oh, oke. Aku tanyain dulu” jawab Ratna.
“Tapi kayaknya, aku butuh tempo, Na. Bisa nggak?” tanya Budi lagi. Ratna tersenyum.
“Insya Alloh bisa” jawab Ratna.
Budi sebenarnya tidak begitu yakin dengan jawaban Ratna. Dia merasa kalau Ratna sebenarnya sudah menyiapkan strategi lain soal pembayaran. Budi berpikir kalau Ratna akan membantunya dengan keuangan pribadinya terlebih dahulu.
“Makasih ya, Na” kata Budi.
Kedua orang itu langsung bergerak sesuai permintaan Budi. Sedangkan dia sendiri langsung menghubungi kang Supri. Dia mengutarakan maksudnya membantu kesulitan calon mertuanya.
Awalnya kang Supri agak keberatan. Alasannya, akhir-akhir ini jumlah kunjungan di galeri meningkat. Dan penjualan souvenirnya juga meningkat. Tapi Budi bersikeras kalau mereka harus mengikuti perintahnya.
Budi juga mengatakan, kalau pengunjung diberikan edukasi yang tepat, mungkin justru akan menjadi kesempatan baik untuk menunjukkan kebisaan apa saja yang dimiliki bengkel kayu ini.
Ketika gambar sudah didapat, perpanjangan waktu juga sudah didapatkan, bantuan dari omnya Ratna juga sudah didapat, Budi langsung menggelar strateginya.
Pembagian tugas berdasarkan kemampuan masing-masing, target yang harus didapatkan, sampai strategi pengirimannya.
Deni, yang sedari tadi pasif, kini menawarkan mobil pick up milik kakaknya untuk membantu mengangkut bahan baku maupun produk jadinya.
Bayu juga menawarkan hal serupa. Dengan maksud, agar bengkel kayunya Budi bisa dimaksimalkan untuk mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Yaitu part-part yang nantinya akan dirakit.
Sedangkan bengkel kayu omnya Ratna, dikhususkan untuk merakit part-part yang sudah dibuat di bengkel kayunya Budi.
Sudah pasti Budi menerima tawaran mereka berdua. Terlebih, disaat Budi meminta nota sewa kendaraan itu jika sudah selesai nanti, keduanya mengatakan kalau itu tidak perlu dipikirkan. Mereka niatnya membantu, bukan berbisnis.
Tinggallah Erika yang tidak menawarkan bantuan. Dan semuanya memaklumi. Mereka tahu kalau Erika itu ternyata menyukai Budi. Dan mereka juga tahu, Adel yang notabene kini adalah rival, tidak akan masuk daftar orang yang akan mendapat bantuan dari seorang Erika.
__ADS_1
Hanya hal-hal kecil saja yang dilakukan Erika untuk seorang Budi. seperti memasakkan sarapan, membuatkan kopi, dan semacam itu. Dalam balutan dinginnya salju yang masih turun, banyak sekali hal yang Budi lakukan. Hal yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.
***