Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
adel berkunjung ke galeri


__ADS_3

Keesokan harinya, bu Ratih terlihat sudah lebih segar. Dia sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Madina ikut membantu, karena dia menginap di galeri, semalam. Putri tampak sibuk bebersih.


Budi sendiri tampak sibuk dengan laptopnya. Erika meminta bantuan Budi untuk menyelesaikan laporan penggajian. Acara kemarin membuat pekerjaan Erika menjadi bertambah. Dengan senang hati Budi membantu Erika. Mereka sempat texting, dan diketahui kalau Erika baru saja menyelesaikan mandinya.


“Kopinya, mas”


Suara Madina mengejutkannya. Budi sempat tertegun sejenak, tapi kemudian dia tersenyum. Bukannya tidak tahu, tapi Madina memilih untuk cuek. Dia paham, masih susah untuk Budi melupakan kakaknya. Dan kehadirannya pastilah akan selalu membangkitkan kenangan keduanya.


*Inal habibal mustofa*


Tiba-tiba ponsel Madina berdering.


“Halo assalamu’alaikum”


Tanpa permisi, Madina langsung mengangkat telepon itu. Jarak yang masih dekat membuat Budi teralihkan perhatiannya. Dia menatap Madina yang kini memunggunginya. Tapi pesan singkat dari Erika juga sanggup menarik kembali perhatiannya menuju layar laptop.


Saking seriusnya dia memperhatikan baris demi baris angka absensi karyawan, Budi sampai tidak menyadari kalau ada tamu yang datang berkunjung. Belum lagi headset yang terpasang di telinganya, membuatnya tidak mendengar kondisi sekitarnya.


“Mohon dimaklum ya Lus. Budi lagi dikejar laporan penggajian. Takut didemo, bilangnya” kata bu Ratih.


“Nggak papa, Mbak. Aku malah salut” komentar bu Lusi.


“Ibu, beneran nggak papa, kan?”


Pertanyaan Adel untuk bu Ratih terdengar agak aneh. Seolah-olah dia masih berada di masa lalu, dimana dia masih menjadi calon menantu bu Ratih.


“Alhamdulillah, nggak papa, mbak Adel. Tapi emang kemarin itu bikin ibu stress. Nanyanya itu lho, kaya nuduh. Udah dijawab sejujur-jujurnya, masih aja nggak percaya. Kan emosi jadinya, ibu” jawab bu Ratih.


“Penyidik emang begitu, bu. Karena banyak yang bohong juga”


“Hempf. Emangnya wajah ibu ada raut kriminalnya?” tanya bu Ratih sambil tergelak.


“Ada”


Suara kencang Budi sontak membuat bu Ratih terkejut. Semua mata sontak beralih menatap Budi. Tapi Budi masih tak bergeming dari posisinya. Dia masih sibuk dengan komputernya.


“Hape lu kan sempet eror, Do. Pernah nggak lu kunci. Pas gua masuk kubik, maria ozawa nongol. Ikeh ikeh kimochi” lanjut Budi.


“Huufft”


Bu Ratih menghela nafas lega sambil berkacak pinggang. Dia juga mengeleng-gelengkan kepalanya.


Sontak Madina, Putri dan Adel tertawa melihat ekspresi bu Ratih. Termasuk juga dengan bu Lusi.


Suara Putri yang terlewat kencang, ternyata sanggup menembus barikade karet headset Budi. Suara tawa itu membuat Budi penasaran dan menoleh.


“Eh, ada tamu” komentar Budi, setelah melepas headsetnya.


Dia bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri bu Lusi.


“Sudah fit, bu?” tanya budi sambil salim.


“Loh. Kamu abis sakit, Lus?” tanya bu Ratih kaget.


“Nggak enak badan aja, mbak. Cuacanya kan panas-dingin panas-dingin nggak nentu” jawab bu Lusi.


“Oh”


“Makanya kemarin nggak nungguin di sana. Dan waktu mbak Dewi pulang, aku juga nggak ke sini. Dinginnya itu lho mbak, bikin bersin mulu. Nggak kuat, aku. Abis maghrib aja udah selimutan aku, di kasur”


“Udah berobat kan?”


“Udah”


Percakapan kedua ibu itu luput dari pendengaran Budi. Karena perhatiannya kini tersita oleh wanita cantik di depannya. Balutan make up natural itu, sungguh mempesona dirinya.


“Mas” tegur Putri lirih.


Budipun tergagap. Seketika rasa sakit di hatinya menyeruak. Diapun segera menyalami Adel, untuk menghormatinya sebagai tamu.


“Kamu udah kelar apa belum, ngger? kita sarapan dulu” tanya bu Ratih.


“Oh. Eeem”


“Terusin di kantor lah, mas!” pinta Putri lirih. Budi tersenyum.


“Monggo, silakan duluan! Saya beresin laptop dulu” jawab Budi.


Bu Lusipun tersenyum. Bu Ratih mempersilakan tamunya untuk menuju meja makan. Sedangkan Budi kembali ke laptopnya.


“Saya masih kenyang, bu. Semalam kebanyakan, makannya” tolak Adel halus.


“Makan apa?” tanya Madina dengan senyum penuh arti. Adel memelototkan matanya.


“Udah hayu! Maksa banget boongnya. Ha ha ha” sahut Putri. Dia menarik tangan Adel untuk ikut ke meja makan.


“Gaes, aku harus udahan dulu, nih. Ibu butuh aku” kata Budi melalui headsetnya.


Di seberangnya, Adel masih memperhatikan gerak-gerik Budi. Wajah tampan itu masih sulit dia lupakan. Tapi terlalu halu untuk dirinya mengharap Budi kembali.


“Loh. Kok belum dimulai, sarapannya?” tanya Budi, saat bergabung ke meja makan.


“Kan tuan rumahnya belum gabung” jawab Madina.


“Ya Alloh, formal banget kesannya” komentar Budi.


“Kan bakal lebih nikmat kalo makannya disamping mas ganteng” sahut Madina sambil menyandarkan kepalanya di pundak Budi.


“Jangan bikin gosip!” seru Budi.


“Udah delapan belas tahun, belum?” lanjutnya.


“Udah, keles” seru Madina.


“Wah. Nggak bener, nih. Ogah gua jadi adek lu” seru Putri.


“Ha ha ha ha” Madina tertawa lepas.


Budi dan yang lain juga ikut tertawa. Akhirnya mereka paham, kalau Madina hanya bercanda saja.


Adel geleng-geleng kepala. Dia baru tahu kalau adiknya bisa ganjen juga. Setelah beberapa saat saling melempar candaan, acara sarapan pagi itupun dilangsungkan.


“Bud” panggil bu Lusi, setelah acara sarapan itu selesai.


“Ya, bu?” sahut Budi.


“Kamu harus lebih berhati-hati lagi, ngger!” kata bu Ratih. Budi mengernyitkan keningnya.


“Sandi itu nggak sebaik yang kamu duga” lanjut bu Lusi.

__ADS_1


“Hem? Maaf, maksudnya dalam hal apa ya, bu?” tanya Budi.


“Udah sejak lama sebenernya ibu denger desas-desus tentang Sandi. Dan bukan sekedar desas-desus. Makanya ibu marah banget waktu dulu Adel punya hubungan sama dia”


“Eeem. Berarti ibu juga tahu tentang saya dong, dari dulu?” tanya Budi lagi.


“Kalo kamu justru ibu nggak tahu. Karena nggak ada desas-desus tentang kamu”


“Emang desas-desusnya apa, Lus?” tanya bu Ratih.


“Sandi itu, ditengarai sebagai pengedar” jawab bu Lusi.


“Ha?” Putri berseru tidak percaya.


“Darimana ibu dapat kabar itu?” tanya Budi memastikan.


“Pak Daud. Seterumu, tapi juga calon bagian dari keluargamu”


“Loh. Kok ibu bisa kenal pak Daud?” tanya Putri heran.


“Pak Daud itu, mantan pacar ibu” jawab bu Lusi.


“What?”


Lagi-lagi Putri berseru kencang. Kali ini bersamaan dengan Madina. Adel hanya terbelalak saja.


“Makanya dia ngingetin ibu buat jagain Adel. Biar nggak keseret sama kasus yang sedang diselidiki sama bagian narkoba” lanjut bu Lusi.


“Prasangka tannpa dasar bukti yang valid, tidak akan menghasilkan apa-apa, bu” komentar Budi.


“Memang. Tapi bukankah peristiwa kemarin cukup menjadi bukti, kalau peredaran itu memang ada”


“Dan marahnya mas Sandi sama mas Budi kemarin, bisa dijadikan pertimbangan, mas” tambah Madina.


“Bener tuh, mas” sahut Putri.


“Analisanya mbak Erika juga masuk akal” kata Madina.


Di sini Adel terbelalak, dan menatap adiknya dengan tatapan tidak suka, mendengar adiknya berkomentar positif tentang Erika.


“Kalo emang mas Sandi nggak ada hubungannya sama narkoba itu, harusnya bukan sama mas Budi dia marah, melainkan sama mas Eko” lanjut Madina.


“Terus?” tanya Budi.


“Kalo Madin jadi mas Sandi, Madin pasti hanya minta ijin sama mas Budi untuk dibolehin berbuat tidak sopan pada mas Eko maupun keluarganya. Subyeknya kan mas Eko, bukan mas Budi. Dan mas Sandi juga tahu kan, kalo mas Eko itu nggak pernah ngedukung mas Budi, sewaktu masih aktif di Tarantula. Sering kontra, malah. Pernah juga kan, mas Budi sama mas Eko bertengkar di pasar? Baru mau baikan setelah mas Budi balik dari merantau. Bener kan, Put?” jawab Madina.


“Eh. Iya, bener” jawab Putri.


“Aku mikirnya kok mas Budi ini dilihat sebagai aset yang sangat berharga. Seolah-olah, siapa yang bisa menguasai mas Budi, dia akan mendapat kekuasaan absolut di kota ini. Nggak ada yang berani ganggu, sih”


“Jadi menurutmu, peristiwa kemarin itu jebakanya mas Sandi?” tanya Putri.


“Yap” jawab Madina pendek.


“Tapi ini omongan antara kita aja, Put. Jangan sampe keluar!” lanjut Madina.


“Yup. Pastinya, lah” jawab Putri.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Budi sebenarnya mau angkat bicara lagi, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Perhatianyapun teralihkan ke meja yang dia buat untuk bekerja. Budipun meminta ijin untuk menerima telepon.


“Halo, polsek pringkuku, selamat pagi” sapa Budi.


“Ka?” panggil Budi.


“Mas ih. Bikin kaget aja” komentar orang di seberang telepon.


“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar komentar itu.


“Seorang Erika, takut sama polisi. Pernah ngapain hayo?” goda Budi dengan suara lirih.


“Ih. Aku sih cinta damai ya. Nggak pernah berurusan sama polisi. Tapi yang ganjen sama aku, banyak” jawab Erika.


“Pantesan galak. Bergaulnya sama polisi, sih” komentar Budi.


“Ha ha”


“Untung polisi. Coba kalo kopassus, bisa mati berdiri si Riki” lanjut Budi.


“Ha ha ha. Suek” komentar Erika.


Suara tawa Budi tak pelak mengobarkan bara cemburu di hati Adel. Dia belum sepenuhnya terima atas takdir yang sekarang berlaku. Dia cemburu melihat Budi tertawa lepas di telepon itu. Dia tahu dengan siapa Budi berbincang.


“Mas. udah siap berangkat kerja, belum?” tanya Erika.


“Belum. Baru abis sarapan”


“Aku jemput, ya?”


“Lah, ngapain? Jauh, Ka” sahut Budi.


“Kan motor mas ada di kantor. Mau ngesot?”


“Kan ada Putri”


“Yah. Udah OTW, mas. Cancel aja sama Putrinya!”


“Hempf” Budi tergelak.


“Gitu amat ketawanya? Kenapa, sih?”


“Enggak” jawab Budi singkat.


“Abis mimpi apa, sih? Pagi-pagi udah grasak-grusuk?” lanjut Budi.


“Ha? Eeem. Enggak. Nggak mimpi apa-apa” jawab Erika.


“Ya udah kalo gitu. Ati-ati, jalannya!”


“Oke, mas"


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Tuuut


__ADS_1


*Aduh. Gimana kalo mereka ketemu, ya? Geger, nggak? Dasar Erika. Kebiasaan gerak cepet, jadi kebawa sampai ke urusan pribadi. Jadi nggak enak sama bu Lusi, kalo sampe mereka ketemu*.


“Mbak. Kita ijin pamit ya, mbak?”


Suara bu Lusi menyentakkan angan Budi.


“Buru-buru amat? Mau kemana sih, Lus?”


“Adel mau ada urusan di kampusnya. Lagian bengkel lagi nggak ada yang jaga” jawab bu Lusi.


*Hem? Bengekel nggak ada yang jaga? Kemana si manusia tengik, itu*?


“Oh. Lah, kalo udah urusan dasar gitu, ya aku nggak bisa nahan” komentar bu Ratih.


“Makasih banget ya Lus, udah nengokin aku” lanjut bu Ratih.


“Pastilah mbak, aku nengok” sahut bu Lusi.


“Makasih ya mbak, sarapannya. Jadi enak, aku. He he”


“Iya. sama-sama” jawab bu Ratih.


“Lu juga mau pulang, Din?” tanya Putri.


“Ya iya, lah. Emang kenapa?” sahut Madina.


“Serius?” tanya Putri lagi. Semua orang bingung dengan maksud Putri.


“Entar-entaran aja! Biar dianter mas Budi” bisik Putri di telinga Madina.


“Ha?” Madina terkesiap.


Sejenak dia menoleh ke arah Budi. Budipun bingung ditatap begitu.


“Ciaaa, ha ha ha” Putri berseru lalu tertawa.


“ADOWW” dia memekik terkena cubitan Madina.


“Ha ha ha ha”


Tawa Putri semakin kencang. Akhirnya semuanya paham, kalau Putri hanya menggoda Madina. Dan Budi tergelak, melihat ekspresi Madina, yang tampak menaruh hati padanya. Merekapun berjalan menuju galeri.


“Kami pulang ya, mbak?” pamit bu Lusi.


“Ati-ati, ya!” jawab bu Ratih.


“Jangan ngebut ya, mbak Adel!” pesen bu Ratih, saat menyalami Adel.


“Iya, bu” jawab Adel.


“Nyetir pake tangan!” celetuk Budi, saat menyalami Adel.


“Lha emang, pake apa?” seru Putri.


“Hempf. Jangan akrobat!” jawab Budi sambil tergelak.


Adelpun tergelak. Ada senyum manis tersungging di bibirnya. Tapi Budi memilih untuk melihat Putri yang sedang geleng-geleng kepala. Karena menurutnya, senyum indah itu hanya akan menjadi luka di hatinya.


“Beneran nggak nunggu entar?” goda Putri, saat cipika-cipiki dengan Madina.


“Apaan, sih?” tukas Madina.


“Sama aku, nggak cipika-cipiki?” goda Budi saat menyalami Madina.


“Jangan nakal!” seru Putri


“ADOWW”


Budi memekik, mendapatkan injakan di kakinya. Madinapun tergelak. Dan, pada akhirnya mereka masuk ke dalam mobil.


“Assalamu’alaikum” seru mereka. sambil melambaikan tangan.


“Wa’alaikum salam” jawab Bu Ratih, Budi dan Putri.


Halaman depan yang luas, membuat Adel tidak kesulitan bermanuver putar balik. Dan langsung meluncur perlahan meninggalkan halaman galeri. Hanya berselang sekian detik, ada sebuah mobil lain memasuki halaman galeri.


“Mbak Rika, mas” kata Putri.


“Iya” jawab Budi singkat.


Dan benar, wanita yang turun dari mobil itu adalah Erika. Dia tersenyum dan langsung berjalan menghampiri bu Ratih.


“Assalamu’alaikum, bu” sapa Erika.


“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih, sambil menyalami Erika.


“Sudah seger, bu?”


“Alhamdulillah. Sudah, mbak Rika. Masuk, yuk!” ajak bu Ratih.


“Eem” Erika tampak keberatan.


“Kenapa, mbak Rika?” tanya bu Ratih, bingung.


“Sebenarnya Rika cuman mau jemput mas Budi. Terus, mau Rika ajak sarapan dulu” jawab Erika.


“Ya udah, sarapan di sini aja, mbak!” seru Putri. Erika menoleh padanya.


“Orangnya juga masih pake kolor” lanjut Putri.


Erika termenung beberapa saat. Dia menatap Budi yang sedang tersenyum kepadanya.


“Jangan ditolak! Daripada dilaporin kalagondang” saran Budi.


“Kalagondang? Siapa?” tanya Putri bingung.


“Ibnu Daud” jawab Budi, sambil berlalu pergi.


“Nggak ngerti, deh” komentar Putri.


“Ibnu itu, anak” celetuk bu Ratih.


“Ibnu Daud, anaknya pak Daud?” tanya Putri. Bu Ratih mengangguk dengan tersenyum geli.


“Mas Zul, dong?” seru Putri.


“MAS BUDIIII” teriak Putri.


“Ha ha ha ha”

__ADS_1


Bu Ratih tertawa melihat ekspresi anak bungsunya. Erikapun juga tertawa. Masih sambil tertawa, bu Ratih mengajak Erika masuk, mengikuti Putri yang sudah terlebih dahulu masuk, dengan menghentak-hentakkan kakinya.


***


__ADS_2