
Semenjak kemarin sore, Budi dan Adel belum berkomunikasi lagi. Hanya via pesan singkat saja. Saling menanyakan kabar. Budi bisa memaklumi kesibukan Adel, yang pastinya cukup menguras energinya.
Dia tidak mau seperti anak baru gede, yang setiap saat harus mengirimkan kabar. Kalau tidak ada kabar, ditelepon. Kalau ditelepon tidak diangkat, marah.
Dia ingin belajar bersikap dewasa. Pacar buanlah istri. Jadi Budi merasa belum ada hak untuk mengatur kehidupan Adel. Kalau Adel memang cinta padanya, pasti akan mengabarinya.
Di sisi lain, kevakuman komunikasi mereka ini, dimanfaatkan Budi untuk menata hatinya. Agar bisa tenang, jika sewaktu-waktu bertemu dengan Adel. Karena sampai pagi inipun, Budi masih belum tenang hatinya. Keinginannya untuk jujur, kerap kali muncul. Tapi logikanya memerintahkannya untuk menunda. Sampai di tempat kerja juga, dia masih belum sepenuhnya fokus.
“Hei, kamu kenapa? Bengong aja?” Sebuah suara mengejutkannya.
“Van?” sapa Budi.
Sumber dari segala keresahannya semalaman tadi, justru cengengesan di sebelahnya. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
“Biasalah, belum gajian” lanjut Budi, menjawab pertanyaan Stevani.
“Kamu, bisa aja”
“Hai, Van” terdengar sapaan dari arah belakang mereka.
“Hei, Do. Sehat?” sahut Budi.
“Sehat, Dong. As always” jawab Aldo dengan senyum lebar.
“Kamu, apa kabar, Van? Mudik, kemarin?” tanya Aldo pada Stevani.
“Enggak. Abis weekend bareng Budi” jawab Stevani.
Sontak Budi terkejut mendengar jawaban itu. Tapi dia buat sedemikian rupa, agar Aldo tidak menyadarinya.
“Ha? maksudnya?” tanya Aldo kaget. Raut wajahnya berubah. Rasa cemburunya terlihat jelas.
“Buatmu, kemarin hari apa, Bud?” tanya Stevani.
“Hari minggu” jawab Budi.
“Nah, minggu, kan? Berarti bareng, weekendnya” kata Stevani menjelaskan.
“Ye, itu sih, harinya doang, barengan” sahut Aldo.
“Ya kan aku bilang juga gitu, weekend bareng. Cuman, akunya di kontrakan. Kalo Budi sih, ngedate”
“Hah, sama siapa, Van?” tanya Aldo penasaran.
“Sama Erika, kali"
“Sembarangan”
Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Sesosok wanita dengan setelan formal berjalan ke arah mereka.
“Jangan ngegosip deh! Masih pagi, juga”
“Ha ha ha ha. Panjang umur, mbak Rika. Digosipin, nongol. Hi hi hi” sahut Stevani.
“Bud. Gear up! Aku dapet bocoran, kita bakal dapet proyek besar. Kuantitas tinggi” kata Erika.
“Oh, yang dari brunei itu, mbak?” tanya Stevani.
“Yups” jawab Erika.
“Manfaatin man power sebaik mungkin! Jangan ambil pusing. Ada yang nggak nurut, laporin ke dalem! Jangan sampe delay! Pertaruhannya, masa depan kita” perintah Erika.
__ADS_1
“Yes, mam” jawab Budi.
Aldo tampak keheranan. Tidak biasanya Erika membicarakan mengenai produksi. Selama dia bekerja di perusahaan ini, yang dia dengar dari Erika, selalu mengenai peraturan, kinerja individu, attitude, dan salary. Tapi tidak pernah mau tahu soal management di ranah produksi.
Buat Budi, kalau orang HRD saja sudah memberikan peringatan mengenai produksi, itu artinya memang situasinya sangat berbeda dengan sebelumnya.
Apalagi dia menyebut soal masa depan. Itu artinya, ada hubungannya dengan keuangan dan perputaran dana di perusahaan ini.
Berita dari Erika tadi, ditanggapi Budi seperti sebuah tantangan yang harus bisa dia jawab.
Mulai dari bel berbunyi, Budi benar-benar menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Dia menyusun anggaran pribadi.
Mengenai kemampuran rekan-rekan produksi, hasil produksi per item per hari. Kemudian skenario-skenario darurat dari setiap item jika terjadi penambahan permintaan yang signifikan. termasuk di dalamnya, meninjau kembali batas maksimal dan batas minimal kualitas, sehubungan dengan percepatan proses, maupun penambahan operator dari bagian lain yang belum berkualifikasi.
“Bud”
“Astaghfirulloh” Budi terkejut mendengar ada yang memanggilnya.
“Ih, gitu amat kagetnya? Emangnya aku dedemit, apa?”
Ternyata yang memanggilnya adalah Stevani. Budi sempat berpikir, dari sekian banyak orang, kenapa dia lagi, dia lagi yang muncul?
“Kenapa, Van?”
“Aldo mana?”
“Ciee. Ehm, ehm” goda Budi.
“Apaan, sih?”
“Enggak” jawab Budi sambil cengengesan.
“Ini, aku mau kasih target buat hari ini” kata Stevani. Dia memberikan selembar kertas. Dan sebundel lainnya.
“Oke” jawab Budi singkat.
Jawaban singkat itu membuat Stevani merasa aneh.
“Oke doang?” tanya Stevani.
“Iya. kenapa?”
“Hello, itu lima kali kapasitas harian kita, Bud? kamu mau gimana?”
Budi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum saja.
“Kamu mau minta aku nego?” tembak Stevani.
“Enggak”
“Kamu mau minta subcont?”
“Enggak juga”
“Terus? Kamu mau sulapan, gitu?”
“Aku udah nyiapin beberapa sekenario, Van. Kita lihat entar sore, ya!” jawab Budi.
Stevani masih tertegun. Dia masih belum mengerti dengan kata-kata yang baru saja dikatakan Budi. Dia sendiri sudah adu argumen dengan atasannya, mengenai jadwal yang menurutnya mustahil. Tapi Budi malah menganggapnya enteng saja. Dia tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Selepas kepergian Stevani, Budi langsung mengkalkulasi seluruh sumber daya yang ada, dan waktu yang dibutuhkan. Dia aplikasikan target dari Stevani ke dalam skenario yang sudah dia buat sebelumnya.
__ADS_1
Dengan cepat dia susun penambahan man power dari bagian maupun departemen lain. Juga perubahan total durasi kerja dari setiap proses. Sampai ke detik-detiknya sekalipun, dia hitung dengan detail.
Begitu jadi, dia langsung menghadap pak Supri, kepala divisi produksi. Dia sampaikan rencananya kepada beliau. Pak Supri langsung memanggil pak teguh dan bu Tami. Berempat, mereka berdiskusi, mengenai pengaturan ulang, man power mereka. Beberapa menit berdiskusi, muncullah beberapa kesepakatan.
Budi mengawasi betul-betul kinerja departemen frame. Dia bahkan tidak mempedulikan bel break time. Dia lebih peduli dengan kinerja tim finishing. Dia tunggui terus, tidak pernah dia kasih kesempatan untuk berleha-leha. Terutama di jam-jam rawan, yang suka mereka pakai untuk bersantai ria.
Penambahan welder, dengan mesin cadangan, cukup menggenjot kunatitas produksi mereka. Tukang gergaji itu, ternyata boleh juga kemampuan mengelasnya. Ibu-ibu yang biasa menganyam, ternyata cukup lihai juga mengoperasikan mesin gergaji dan mesin bending. Yang ditugasi untuk membantu tim poles, juga bukan kaeng-kaleng. Walau dia dituntut bekerja dalam waktu singkat, tapi hasilnya tidak kalah bagus dengan yang sudah ahli.
Walau sudah begitu cepatnya, ternyata Pak Supri masih mencarikan bala bantuan lagi. Mereka orang maintenance, dan juga office Boy, yang sedang tidak melakukan pekerjaan utamanya, atau yang sedang kosong, dia tarik ke jalur produksi.
Mereka diberi tugas menjadi helper. Membantu tukang las, agar lebih efisien lagi kerjanya. Dan hal itu, memang cukup berhasil.
Yang lebih hebat lagi, mereka sama sekali tidak ada yang keluar dari jalur, sekalipun sudah jatah mereka untuk menikmati break time. Mereka memilih untuk terus benerja. Seolah-olah, ada kesenangan tersendiri, bekerja dengan kecepatan tinggi, dan rame-rame seperti ini.
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Budi tersentak mendengar ponselnya berdering. Dia menyingkir sejenak, setelah tahu siapa yang meneleponnya.
“Assalamu’alaikum” sapanya.
“Wa’alaikum salam” jawab penelepon di seberang sana.
“Sibuk banget ya, bram? Dari tadi nggak bales WA tata”
“Aduh, iya. sori banget, Ta. Abram emang lagi fokus sama produksi. Denger sih, deringnya. Tapi sengaja abram nggak respon. Kan nggak enak, abram udah ngepush orang buat kerja kaya mesin, masa abram mainan hape?” jawab Budi.
Hatinya bergetar. Rasa takut itu muncul kembali. Terlebih, suara Adel terdengar manja begitu.
“Iya, deh. Tata ngerti. Emang Abram nggak boleh meleng”
“Lagi apa, nih?” tanya Budi menyelidik.
“Lagi kuliah, bram. Baru kelar satu kelas”
“Oh. Jangan lupa makan siang, ya!” saran Budi.
“Ini justru tata mau ngajakin abram makan siang di kafe deket tempat kerja abram”
JEDEEERR
Bagai disamber petir di siang bolong, Budi terkejut mendengar ajakan itu. seperti pencuri yang diajak ketemuan sama polisi. Sejenak, pikrannya kosong. Ilmu menaklukkan wanita, yang dia pelajari, dan dia terapkan selama ini, seolah menghilang begitu saja.
“Em, terus, kalo abram makan di luar, bekel abram siapa yang makan?” tanya Budi mencoba menghindar.
“Bram, tata tahu, abram ngambek. Iya, deh. Tata minta maf, kemarin nyuekin abram terus seharian. Sampe malem juga tata nggak nanggepin abram. Suer, tata kecapekan, bram” jawab Adel.
Budi merasakan hatinya seperti teriris, mendengar nada merengek dari Adel. Seperti anak kecil yang memohon dibelikan sesuatu pada orang tuanya. Dia bertanya dalam hati, sampai kapan dia harus membohongi hati yang tulus itu.
“Iya, nggak papa, ta. Abram ngerti, kok”
“Ya udah, yuk! Kita makan siang bareng, ya!”
“Terus, bekel abram giamana, ta?” Budi masih berusaha menghindar. Dia merasa belum siap untuk bertatap muka dengannya.
“Bram, ayo dong! Jangan bikin tata cemas gini! Tata tahu, abram nggak bawa bekel hari ini” rengek Adel. Budi jadi bimbang. Dia tidak punya alasan untuk mengelak lagi. Tadi pasti Adel habis menelepon ibunya.
“Ya udah. Tata ke sana aja dulu! Abram nyusul” jawab Budi mengalah.
“Alhamdulillah, ya Alloh” seru Adel bersyukur.
Budi merasakan hatinya semakin perih. Andai dia hanya sendirian, dia ingin menangis dan bersujud. Memanjatkan beribu ampun, karena telah menodai kepercayaan dari seorang gadis yang tulus mencintainya.
__ADS_1
“Sampai ketemu, bram. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”