
“Astaghfirulloh”
Seruan suster itu membuyarkan lamunannya. Sontak Adel mengalihkan pandangannya ke depan.
“BAPAAK” serunya tanpa sadar.
Terlihat pak Fajar sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Tubuh dan pakaiannya basah. Tercium aroma pesing di sekitar tubuhnya.
“Ya Alloh, bapak kenapa?”
Adel berusaha memperbaiki posisi bapaknya. Sedangkan suster tadi menekan sebuah tombol. Tak lama kemudian datang beberapa perawat dai arah depan. Dua perawat laki-laki dan seorang perawat perempuan.
“Bantu angkat pasien ke ranjang!” pinta suster itu.
“Baik” jawab mereka.
Dengan gerakan sigap, mereka mengangkat dan memindahkan pak Fajar ke ranjang. Merekapun dengan sigap mengganti pakaian pak Fajar.
Salah satu dari mereka diperintahkan untuk memanggil dokter. Ada juga yang pergi mengambil alat pel, lalu membersihkan genangan air kencing yang diduga milik pak Fajar.
“Mbak, sebaiknya embak menunggu di luar. Biar pasien kami yang menangani” kata suster tadi.
“Enggak. Saya mau nemenin bapak, sus. Saya mau nemenin bapak” tolak Adel.
“Percayakan kepada kami, mbak! Kami akan merawat pasien sebaik-baiknya” kata suster itu menenangkan. Adelpun mengalah. Dengan berlinang air mata, Adel keluar dari ruang rawat.
“Kenapa, nduk?”
Bu Lusi yang sedang berbincang-bincang, merasa aneh dengan kedatangan Adel dengan mata sembab. Adel bingung harus menjawab apa.
“Loh. Kok dokter buru-buru? Bapak kenapa, nduk?” tanya bu Lusi lagi.
Adel sama sekali tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menangis, merasakan kalau kejadian tadi adalah salahnya.
“Nduk. Bapak kenapa?” tanya bu Lusi lagi, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Adel.
“Bapak jatuh, bu” jawab Adel dalam tangisnya.
“Apa? kok bisa?” tanya bu Lusi kaget. Tak hanya bu Lusi, semua yang ada di situ juga merasakan keterkejutan yang sama.
“Tadi bapak bilang pengen pipis. Terus Adel bilang mau manggil ibu, bapak nggak mau. Bapak maunya ke toilet.
“Loh. Kan belum boleh” potong bu Lusi.
“Itu dia. Adel bilang juga, Adel nggak berani ambil tindakan sendiri”
“Terus, kok bisa jatuh?”
“Nggak tahu”
“Nggak tahu gimana?”
“Kan Adel sempet pergi, manggil suster. Maksud Adel, kalo emang boleh ke toilet, biar sama suster aja. atau kalo belum boleh, ya biar suster yang jelasin sama bapak”
“Terus?”
“Nah. Pas balik, suster itu teriak. Bapak udah di lantai, bu. Bapak nggak sadar”
“Ya Alloh, bapaak”
“Ibuuu”
__ADS_1
Bu Lusi lemas seketika. Tubuhnya merosot hampir terjatuh. Beruntung ada bu Ratih di belakangnya. Dengan sigap bu Ratih menangkap tubuh bu Lusi. Dibantu Luki, bu Ratih memapah bu Ratih untuk kembali ke ruang tunggu. Dia didudukkan di lantai beralas tikar.
“Maafin Adel, bu!” pinta Adel dalam tangisnya. Dia bersimpuh di pangkuan ibunya.
Tapi bu Lusi tidak menjawab. Dia masih menangis. Bu Ratih berinisiatif melonggarkan pakaian bu Lusi. Memberinya ruang agar bisa bernafas lebih lega.
“Udah, nduk! Ibumu masih syok. Berikan dia waktu!” saran bu Ratih. Dia menepuk-nepuk pelan punggung Adel.
“Kamu nggak salah, kok” kata bu Lusi lagi, saat Adel bangkit dari posisi sungkemnya.
Mereka sempat saling menatap, beberapa saat. Rasa sedih itu masih menggelayut saat dia melihat ibunya menangis sesenggukan. Bersandar pada pundak Madina.
“Keluarga bapak fajar”
Seorang suster memanggil dari depan pintu ruang tunggu. Mereka semua menoleh, termasuk bu Lusi. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk menjawab.
“Saya, sus” jawab Adel, kemudian.
Dia bangkit dan menghampiri suster itu. Dia diajak suster itu untuk masuk ke dalam ruang rawat lagi. Dan betapa terkejutnya saat dia melihat bapaknya tergolek tanpa daya, dengan sekian banyak kabel dan selang menempel di tubuhnya. Kabel dan selang yang terhubung dengan peralatan pengontrol dan penunjang kehidupan.
“Ya Alloh, bapak” kata Adel pelan.
Tubuhnya juga melemah, melihat keadaan bapaknya. Tapi dia berusaha untuk tetap kuat. Suaranya tadi membuat dokter yang merawat bapaknya menoleh.
“Selamat pagi, mbak” sapa dokter itu.
“Pagi, dok. Gimana kondisi bapak saya, dok?” tanya Adel. Dia tidak berusaha menyembunyikan lelehan air matanya.
“Maafkan kami, mbak. Dengan berat hati kami harus menyampaikan kalau pasien kembali ke fase koma” jawab dokter itu.
“Ya Alloh”
“Apa bapak saya bisa disembuhkan, dok?” tanya Adel.
“Eem. Kami belum bisa memastikan”
“Maksud dokter, apa?” tanya Adel agak sewot.
“Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi kondisi pasca koma, bisa berbeda-beda antara satu pesien dengan yang lainnya. Ada yang bisa sembuh tanpa ada kecacatan. Tapi ada juga yang setelah sadar mengalami kelumpuhan”
“Tapi bapak saya masih bisa sembuh kan, dok?”
“Insya Alloh, masih bisa. Bantu kamu dengan doa ya, mbak!” jawab dokter itu.
Adel mendekati bapaknya. Dia duduk di kursi dan menggenggam tangan bapaknya. Dia cium tangan itu dengan berderai air mata.
Dia meminta ijin kepada dokter untuk menunggui bapaknya. Dokter itu mengijinkan. Dia dan suster yang membantunya, pergi meninggalkan ruangan itu. Dia bisa mendengar percakapan di luar ruangan. Dia yakin, kalau keluarganya sedang meminta keterangan dari sang dokter.
Sampai hari berganti malam, Adel sama sekali tidak mau digantikan. Makan saja kalau tidak diingatkan suster, dia sendiri tidak punya selera untuk makan. Dia hanya ingin menunggui bapaknya, sampai bapaknya sadar.
Beberapa kali ibunya meminta untuk gantian, tapi Adel menolak. Dibujuk untuk mandi, ganti pakaian, tetap dia tidak mau. Dia hanya beranjak untuk buang hajat. Tidurpun dia lakukan di pinggir ranjang bapaknya.
Di tempat lain, budi yang sedari pagi gelisah, karena Adel tidak bisa dihubungi, terkejut mendapatkan kabar dari ibunya. Dia menjadi lebih emosian, dan tidak sabaran.
Keinginannya untuk pulang hari itu juga membuatnya seperti orang stress. Seolah-olah pulang dari berlin ini sama seperti pulang dari jakarta, yang bisa dilakukan dengan mengendarai motor.
“Bud. lu nggak bisa grasak-grusuk begini” tegur Erika.
Dia kesal melihat tingkah Budi yang memaksa semua orang untuk mengijinkannya pulang. Bahkan petugas KBRI jermanpun dia marahi karena tidak bersedia membantunya.
“Lu nggak tahu apa yang gua rasain, mbak” jawab Budi kalem tapi penuh amarah.
__ADS_1
“Ya wajarnya, lah. Gua bukan dukun yang bisa baca pikiran orang. Kalo lu nggak cerita, gimana gua bisa tahu? Yang lain juga nggak bakalan tahu, Bud” sahut Erika tak kalah sewot.
“Haiih”
Budi mengeluh dan pergi menjauh dari Erika. Dia kembali menelepon seseorang. Membuat Erika semakin kesal.
“Budi pernah cerita sesuatu nggak na, sama kamu?” tanya Deni.
“Enggak. Kan deketnya kalo nggak sama mbak Rika, sama mbak Farah” jawab Ratna.
“Setahu kamu, Budi pernah begini nggak, sih?”
“Emang aku pengasuhnya? Ya nggak tahu, lah”
“Mbak. Aku pulang duluan, ya? Ada celah di perbatasan sana” kata Budi.
Sontak semua yang mendengar ucapan Budi terkejut dan menoleh.
“Lu jangan sembarangan, Bud! Lu pemimpin di sini. Harusnya lu kasih contoh yang bener, bukan malah semaunya sendiri” tolak Erika.
“Tapi gua nggak bisa terus-terusan diem di sini. Urusan umur nggak ada yang bisa mastiin. Jadi gua harus ada di sana, mumpung masih ada waktu”
“Umur siapa, Bud?”
“Ya umur bapaknya Adel, lah”
“Maksud lu?”
“Haaah. Percuma juga ngomong sama mbak Rika”
Budi keluar dari kamar Erika, dan masuk ke dalam kamarnya.
“Gua nggak kasih ijin lu pergi dari sini” kata Erika di ambang pintu kamar Budi.
Tapi Budi tidak bergeming. Dia tetap mengemasi barang-barangnya. Dia bawa hanya yang sekiranya dia perlukan. Sesuai dengan rencana yang sudah dia susun di kepalanya.
“BUDII”
Erika memekik saat Budi menabraknya begitu saja. Sampai dia terhuyung-huyung ke belakang. Dan Budi terus melangkah menuju lift.
“Mas, please! Kita masih butuh mas Budi di sini” kata Ratna, saat menghalangi langkah Budi di depan pintu lift.
Budi menatapnya dengan tatapan tajam. Menunjukkan kalau dia tidak suka dengan sikap Ratna yang menghalangi jalannya. Erika dan yang lain hanya bisa menatap mereka dari jauh.
“Mas Budi harus inget, ada jasa siapa mas Budi bisa sampai di sini?” lanjut Ratna.
Dalam ketakutannya, dia berusaha mengetuk pintu hati Budi. Kata-kata lirih itu sudah pasti tidak terdengar oleh yang lain. Sehingga mereka bertanya-tanya.
“Aku sepupunya mbak Liza. Apa yang bakal mbak Liza lakuin kalo dia tahu, sepupunya, mas Budi telantarin di sini?” lanjut ratna lagi.
Kali ini tatapan tajam Budi memudar. Dia teringat jasa Liza saat dia terbelit kasus fitnah dulu. Karena hacker dari Liza, dan pengacara dari Armitalah dia bisa terbebas dari status tersangka. Walau Liza bukanlah seorang fighter, tapi kalau sampai dia dibenci wanita itu, buatnya itu juga masalah besar.
“Huuuffft”
Budi menghela nafas berat sambil mengangguk-angguk. Dia memutar haluan dan berjalan kembali menuju kamarnya. Tidak ada yang berani menegur Budi. Tidak ada yang protes saat Budi menutup pintu kamarnya dengan kencang.
“Na. Kamu ngomong apa sama Budi? Kok bisa luluh sama kamu?” tanya Hilda saat mendekatinya.
“Enggak. Bukan apa-apa” jawab Ratna. Dia sendiri lantas pergi, masuk ke dalam kamarnya sendiri.
***
__ADS_1