Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
Ta. Siaga penuh, ya!


__ADS_3

Setelah pesawat lepas landas, rasa sedih seperti kembali menghinggapi hati Adel. Tak bisa dipungkiri, antara cinta dan benci kembali berkecamuk di dalam sanubarinya. Antara kecewa dan juga bingung, atas rentetan kejadian beberapa hari belakangan.


Budi membiarkan saja Adel tenggelam dalam kesedihannya. Dia hanya memberikan isyarat tepukan pada bahu kirinya. Yang artinya, dia memberikan bahunya, jika Adel ingin bersandar.


Dan gayungpun bersambut. Adel benar-benar menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Budi. Dia terus terisak selama penerbangan.


Jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang, saat mereka landing di Adi Sumarmo. Budi mengajak Adel untuk sholat dan makan siang terlebih dahulu.


Dia juga mengabarkan kepada ibunya kalau mereka sudah sampai di solo. Dari Pacitan, bu Ratih mengabarkan kalau bu Lusi telah sembuh dari sakitnya, dan kini sedang menunggu kedatangan mereka di galeri.


“Kok sumpitnya disimpen, Bram?”


Adel bingung, sumpit bekas makan mie ayam, malah dilap menggunakan tisue oleh Budi. Dan dia juga membungkusnya dengan tisue. Tapi Budi tidak segera menjawab.


Panggilan sayang yang kembali diucapkan Adel, membuat hatinya bertanya-tanya, apakah Adel sudah sadar, atau masih tenggelam dalam kesedihannya.


“Kita harus waspada, Del. Suamimu bukan orang sembarangan” jawab Budi kemudian.


“Suamiku udah mati” sahut Adel.


Tampak raut marah tergambar di wajahnya. Budi terkesiap.


“Dia udah mati, bahkan saat masih bernapas. Kalopun dia masih hidup, Adel udah jijik sama dia” lanjut Adel semakin emosi.


“Oke, oke. Tenangkan dirimu, Del! Kita nggak boleh lengah. Stay focus!”


Adel terkesiap mendengar Budi berbicara dengan suara lirih. Perlahan tapi pasti, dia berusaha meredam emosinya. Dia masih ingat sorot mata serius itu.


“Ada apa emangnya, Bram?” tanya Adel.


Gantian Budi yang termenung. Panggilan sayang itu jauh lebih memabukkan baginya daripada bisikan setan. Tapi jadi menyakitkan kala teringat komitmennya pada Erika.


“Eem, maaf mas. Ijinkan Adel pake panggilan sayang itu selama perjalanan, mas! Adel pengen ngerasa bahagia walau sejenak. Dan walaupun itu semu” kata Adel meralat sapaannya.


“Huuufft” Budi menghela nafas berat.


“Iya, Ta” jawab Budi singkat.

__ADS_1


Walau singkat, tapi Adel langsung paham. Budi benar-benar mengijinkannya menggunakan sapaan sayang itu.


“Asal jangan kelepasan di depan Erika! kasihan anak-anak PRAM” kelakar Budi.


“Iya, Bram. Cuman selama perjalanan aja. Tata tahu, Abram udah punya Erika. Dan Abram bukan orang yang mudah ingkar janji. Tapi ya, seperti kata Abram. Kita harus tetep fokus, kan? Cuman panggilan sayang itu yang bikin Tata tetep fokus, Bram. Magical word that make me happy in the midst of confusing realities” jawab Adel. Budi mengangguk-angguk sambil tersenyum.


“Ya udah. Bawa, gih!” pinta Budi, sambil menyodorkan sumpit yang dia bungkus tisue tadi. Adel sempat ragu.


“Jangan nanya dulu, ikuti aja!” kata Budi, menjawab keraguan Adel.


Adelpun menerima sumpit itu, dan memasukkannya ke dalam tas slempangnya. Merekapun berjalan menuju parkiran.


Dalam perjalanan menuju parkiran, Budi menyempatkan diri menelepon Erika, namun tidak mendapatkan respon. Dia berpikir kalau Erika sedang sibuk membantu ibunya, atau sudah jalan dengan pak Paul mengurusi kerjaan.


*Tolong jagain Putri ya, Ka*!


Budi mengirimkan pesan singkat pada Erika. Dengan harapan Erika bisa membacanya ketika senggang. Budi menerima kunci mobil dari Adel, dan langsung bersiap di dalam mobil. Saat baru menstart mobil, ponselnya berbunyi. Ternyata Erika membalas pesannya.


*Maaf, mas. Baru kelar ngurus legalitas masker medis. Ini baru mau balik ke kantor. Putri sih, udah di galeri, mas. Ada mantan camer mas juga noh. Udah pasti aman. Mau dijagain dari apa coba*?


Pesan balasan dari Erika itu diakhiri dengan emoticon sebal. Budi tergelak karenanya.


Budi membalas pesan itu tanpa memperhatikan Adel yang cemburu.


*Ada juga mas Budi yang harus jaga diri. RC cepek sangat mengundang tuh. Apalagi cuman berduaan. Nggak cuman demit mesum yang nyamper, embahnya demit juga nyamper tuh. Awas aja kalo sampe tangannya kemana-mana*!


Budi terkekeh membaca balasan dari Erika. Memangnya embahnya demit, mesum juga? Begitu pikirnya.


*Tenang! Aku nggak bakal macem-macem, kok. Tolong jagain Putri, ya! Demit mesum nggak mandang orang lagi sakit. Tolong dicek, ya! Aku mau jalan, nyetir*.


Adel semakin cemburu melihat Budi tampak mesra berchatting ria dengan Erika.


*Oh, udah sampe solo? Awas, itu mobil matic! Jangan pura-pura ingetnya manual! Tuasnya ditengah-tengan cabin. Lebih kirian lagi, itu paha. Awas kalo pura-pura meleset*!


Budi tidak sanggup menahan tawanya. Walau hanya sebentar, tapi sudah mampu membuat Adel menatap tajam.


*Iya, sayang. Melesetnya pas bawa mobil kamu aja, deh. He he*

__ADS_1


Adel menurunkan kaca jendelanya, dia merasa kegerahan, sekalipun pendingin ruangan sudah dinyalakan.


*Ya udah. Ati-ati ya, sayang! Sampe ketemu di galeri. Emmuach*


Erika masih menambahkan akhir pesanya dengan emoticon kecup.


*Eemmuoh. Hi hi hi*.



*Mas Budi, iiih*


Budi menyimpan ponselnya sambil tertawa. Dia membayangkan seperti apa ekspresi wajah Erika yang sedang kesal.


“Hebat kamu, mas. Seorang Erika aja bisa melting sama kamu” komentar Adel. Sontak perhatian Budi teralihkan kepada Adel.


“Kamu lebih hebat, Del. Sekelas Erika sekalipun belum bisa bikin aku bener-bener move on” jawab Budi.


Ada senyum tipis yang mengembang di bibir Adel. Cukup indah diantara kusutnya wajah itu. Budipun kembali menatap ke depan dan melajukan kendaraan Adel keluar dari parkiran bandara.


Di tempat lain, Erika sedang termenung. Dia merasa ada yang tersembunyi dalam pesan Budi itu. Permintaan Budi untuk menjaga Putri diulang sampai tiga kali.


Walaupun kesannya bercanda, tapi Erika yakin, seorang Budi tidak akan mengirimkan pesan seperti itu jika hanya untuk menjaga agar Zulfikar tidak berbuat mesum pada Putri. Karena Zulfikar memang tidak pernah melakukan itu.


*Lalu, siapa demit mesum yang dimaksud mas Budi? Apa jangan-jangan ada kaitannya sama Bejo? Astaga*.


Erika segera menelepon seseorang. Dia masuk ke dalam mobilnya sekalipun tidak kemana-mana. Tidak terdengar dari luar, apa yang dia bicarakan.


Sejak keluar dari bandara, Budi tidak banyak bicara. Dia fokus memperhatikan sekitarnya. Dia memindai setiap kendaraan yang ada di depan, menyalip, ataupun yang ada di belakangnya. Benar-benar siaga satu.


Tapi karena banyak sekali kendaraan yang searah dengan mereka, Budi merasa agak kesulitan mengidentifikasi, apakah ada yang mengancam atau tidak.


Tapi dia sempat melihat beberapa motor yang tidak mendahului mereka semenjak tadi. Bahkan disaat banyak kesempatan untuk mendahului. Sampai di situ Budi tidak menaikkan status kewaspadaan. Karena manurutnya, ada banyak sekali kebetulan di jalan raya.


Kecurigaannya mulai timbul, saat mereka sudah memasuki kota yang memiliki arti hutan di atas gunung, beberapa motor yang ada di belakang mereka masih saja berkendara dengan santai, tanpa ada keinginan untuk mendahului.


Sebentar lagi mereka akan memasuki jalan yang membelah ladang luas dengan trek yang cukup panjang. Jalan yang cukup menakutkan kalau dilewati malam hari. Jauh dari rumah penduduk.

__ADS_1


“Ta. Siaga penuh, ya!”


__ADS_2