Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
amarah yang semakin memuncak


__ADS_3

Masih ada yang mengganjal di hati Budi. Dia masih sangat menantikan kata-kata perpisahan dari mantan kekasihnya.


Berkali-kali dia menelepon, tapi sama sekali tidak ada respon. Dia kirimkan salam lewat tulisan, sama sekali tidak dibalas. Sikap acuh dan terkesan menghindar dari Adel itulah yang membuat Budi tambah tidak fokus mengerjakan laporannya. Alih-alih memantau kinerja Aldo, Budi malah lebih banyak melamun. Dia terus memikirkan bagaimana caranya bisa terhubung dengan Adel.


“Udah, nggak usah dipaksa kerja! Istirahat aja! jangan sampe drop! Rumah sakit jauh” tegur Erika.


“Ish. Gitu amat, ngomongnya?” kata Deni, menegur Erika.


“Ya bener, kan?” kilah Erika, membela diri.


Mendengar kata rumah sakit, Budi jadi teringat dengan sahabatnya. Sudah sekian lama dia tidak mengabarkan Sandi. Mungkin dia sudah keluar dari rumah sakit, dan dia bisa menjembataninya dengan Adel. Begitu pikir Budi.


“Aku ke toilet dulu, ya?” ijin Budi.


“Oh, ya. silakan” jawab Erika.


Budipun pergi ke toilet Erika. Saat yang lain berpikir bahwa Budi memang ingin buang hajat, Erika punya pemikiran lain. Ke toilet sambil membawa ponsel, cukup aneh baginya. Dia merasa akan terjadi sesuatu. Walau dia belum bisa menebak apa itu, tapi dia langsung memasang sikap waspada.


“Halo, Ndi” sapa Budi saat panggilan teleponnya mendapat sambutan.


“Hei, Bud. Sombong lu, nyampe jerman nggak ngabarin gua” sahut Sandi dari seberang telepon.


“He he. Ya maaf. Terlalu banyak yang mesti gua kerjain”


“Iya deh, percaya. Secara, pak ketua gitu loh”


“Eh, lu ceria banget suaranya, udah pulang ya?”


“Udah, dong. Kan kaya yang lu bilang, di rumah sakit sih, nggak bisa begituan. Ha ha”


“Alhamdulillah. Syukur deh”


“Eh, gimana kabar di sana? Lu nggak kemana-mana, kan?” tanya Sandi. Di sini Budi sudah mulai tidak sabar.


“Eemm, Ndi. Sori, gua mau to the point dulu” kata Budi mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh” sahut Sandi pendek.


Nada suara dari jawaban pendek itu membuat Budi berpikir. Apakah mungkin Sandi sudah tahu apa yang terjadi belakangan ini? Apa mungkin Sandi juga sudah berbicara dengan keluarganya Adel? Atau malah langsung sama Adel? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.


“Ndi. Gua butuh bantuan lu” kata Budi tanpa awalan lagi.


“Kenapa Bud? Berat banget suara lo? Apa yang bisa gua bantu?” tanya Sandi.


“Gua pengen ngomong sama Adel” jawab Budi.


“Ya tinggal telepon, dong”


“Kalo bisa sih nggak usah dibahas. Dari kemarin gua hubungi dia nggak direspon. Sekarang hapenya dimatiin. Gua nelepon Madina nggak direspon juga. Gua nelepon bu Lusi, nggak direspon juga. Tati, Nike, Diki, semua nggak ada yang jawab telepon gua. Kan gua jadi penasaran, Ndi. Sebenernya emang Adel yang ngindar dari gua, apa ini semua kerjaannya si brengsek Luki tengik itu? Kalo ini semua kerjaannya si Luki brengsek itu, gua pengen bikin perhitungan sama dia” kilah Budi panjang-lebar.


“Bud. Lu kan baru abis kelar kasus, tahan dulu emosi lu! Jangan bikin kesimpulan kalo lu lagi nggak tenang gitu!”


“Ya gimana gua bisa tenang? Timbang ngomong aja pada nggak mau”


“Mereka kan masih berkabung, Bud. Kasih kesempatan mereka buat nenangin diri!”


“Aaah. Lu kok jadi kaya belain mereka, sih? Kenapa, lu?” tanya Budi sewot.


“Bud. Gua baru aja ketemu ibu. Ibu cerita semuanya sama gua. Lu juga pasti udah diceritain kan, kenapanya?”


“Ya kalo memang bener semua itu karena wasiat almarhum, apa beratnya buat nerima telepon gua? Kan gua cuman pengen denger langsung. Tinggal ngomong aja apa adanya. Selesai. Ya, nggak?”


“Gini-gini. Lu kan ahli ibadah. Istighfar dulu, Bud! Jangan kaya gua! Gua aja istighfar mulu kemarin, pas mau operasi”


“Ah, lu mah. Dimintain tolong malah kemana-mana. Timbang ngerjain satu orang aja, apa susahnya, sih? Bukan kombatan, juga”


“Bud. Lu paham apa belum yang diceritain ibu tadi? Kata Putri, lu juga udah nyatain pasrah? Kok masih penasaran? Jangan maen-maen sama kalimat Alloh!” tanya Sandi pelan. Budi tidak menjawab.


“Gua bukannya nggak mau bantu. Tapi duduk perkaranya harus jelas dulu. Lu harus paham dulu. Soalnya ini menyangkut rumah tangga orang. Kan lu sendiri yang bikin kode etiknya. Jangan pakai keluarga, buat mancing target kita keluar. Kerjaan dari pelakor aja dulu lu tolak, bud. Padahal kerjaan gampang. Terus, masa sekarang lu nyuruh gua ngerjain kerjaan serupa?”


“Oke. Kalo lo nggak bisa bantu gua. Nggak papa. Makasih buat waktunya”


TUUUUT


Sambungan telepon dia putus begitu saja. Emosinya semakin menjadi. Hampir saja dia meninju pintu toilet. Beruntung bayangan wajah Farah berkelebat di pikirannya. Dia berpikir, Farah ada kepentingan di sana, dan dia pasti akan disambut dengan baik.


“Halo, mbak” sapa Budi tanpa salam lagi.


“Hei, Bud. Tumben nggak video call?” sahut Farah pura-pura ceria. Padahal aslinya dia ketakutan.


“Eeh, ya. Lagi di toilet” jawab Budi.

__ADS_1


“Diih. Sembarangan banget, sih?” respon Farah, masih pura-pura asyik.


“Mbak, to the point aja, ya? Aku perlu bantuan mbak Farah” kata Budi.


“Eeem. Apa, nih?” tanya Farah. Jantungnya semakin berdegup tak karuan.


“Bisa ke rumahnya Adel, nggak? Aku pengen ngomong sama dia. Tapi dia dan semua yang deket sama dia nggak ada yang mau angkat teleponku. Aku butuh mbak Farah buat jadi perantara. Kan mbak Farah juga ada kepentingan di sana, kan?”


“Eem. Iya, sih. Tapi Bud, “


“Mbak, please” potong Budi.


“Harus berapa kali aku ngemis kaya gini?” lanjut Budi.


“Eemm. I.. iya. Aku coba, ya? semoga berhasil” jawab Farah. Dia tidak punya pilihan lain. Perasaan bersalahnya membuatnya semakin takut.


“Makasih ya, mbak”


“Iya, sama-sama”


*Tuuuuut*


Budi menghela nafas berat, setelah memutuskan sambungan telepon. Dia basuh wajahnya di washtafel. Saat melihat wajahnya di cermin, bukan wajahnya yang terlihat di matanya. Tapi justru wajah Luki. Membuat hatinya meradang. Giginya sampai gemeretak saking menahan emosinya. Beberapa saat kemudian, dia kembali bergabung dengan rekan-rekannya.


“Sakit perut ya, mas?” sapa Ratna.


“Enggak” jawab Budi singkat.


Ratna tak meneruskan percakapan. Dia memilih memalingkan wajahnya. Dia takut melihat wajah Budi saat ini. Wajah yang dipenuhi dengan amarah, dan siap meledak kapan saja.


“Ada yang salah, mbak?” tanya Budi, saat melihat laptopnya dipakai Erika.


“Enggak. Aku butuh datanya. Kirain masih lama” jawab Erika. Dia berikan seulas senyum. Tapi Budi cuek saja.


“Oke. Sini aku terusin” kata Budi.


Nada bicaranya masih ketus. Raut wajahnya belum berubah. Erika segera menggeser posisinya. Dia tahu, Budi sedang tidak menerima penolakan dan teguran. Sekalipun dia punya kuasa sebagai pimpinan, tapi dia berpikir, bakal terjadi keributan kalau dia menegur Budi seperti biasanya.


Budi berusaha fokus mengerjakan pekerjaannya. Walau nyatanya, terlalu susah untuk dia berkonsentrasi. Hatinya gelisah menantian kabar dari Farah. Sudah kesekian kalinya Budi menghela nafas berat. Sesekali gigi-geliginya juga gemeretak.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


“Assalamu’alaikum. Mbak, gimana?” sapa Budi setelah tiba di kamarnya sendiri.


“Bud. Sori, nih. Aku nggak dapet ijin buat ketemu sama Adel. Katanya Adel lagi nggak enak badan”


“Siapa yang nerima mbak Farah?” potong Budi.


“Mas Luki sama bu Lusi. Ada Madina juga, tadi” jawab Farah.


“Kasihin Luki mbak, teleponnya! Masih ada kan, orangnya?”


“I.. Iya” jawab Farah.


“Mas. Maaf, mas Budinya mau bicara sama mas” kata Farah kepada Luki.


“Halo” sapa Luki.


“Luk. Gua mau bicara sama Adel. Tolong kasihin ponselnya sama dia!” pinta Budi tanpa basa-basi.


“Sori, nggak bisa. Adel lagi nggak enak badan. Kita lagi nggak nerima tamu maupun telepon dari siapapun. Maaf, ya” jawab Luki.


“Luk. Gua cuman mau bicara sebentar. Nggak nyampe lima menit. Gua cuman mau denger langsung dari Adel. Itu doang”


“Adel nggak berani ngomong langsung sama kamu. Dia nitip pesen sama bu Ratih. Harusnya udah disampein, kan?”


“Omong kosong. Apanya yang nggak berani? Buruan kasih!”


“Maaf mas, nggak bisa”


“Oke, gini aja deh. Lu yang nanya. Gua cuman pengen denger suara dia. Udah, gitu aja”


“Maaf. Kamu nggak bisa maksa-maksa kita. Kita lebih tahu keadaan Adel ketimbang kamu”


“Eh, bocah. Songong banget lagak lu? Gua udah ngerendah, ngehormatin lu, kaya gini sikap lu? Oke. Lu jual, gua beli kontan”


*Tuuut*


“BANG***”


*DUAAAARRR*

__ADS_1


“Astaghfirulloh”


Ratna dan yang lain terkejut mendengar suara benturan keras. Erika bangkit dan berlari keluar. Dia sudah sangat yakin kalau suara keras tai berasal dari kamar Budi. Dan benar saja, daun pintu kayu di kamar Budi itu, terlihat menonjol keluar sebesar kepalan tangan.


Tok tok tok


“Buud. Lu kenapa?” tanya Erika.


*Tok tok tok*


“Budi! Lu kenapa? Jawab dong!”


“Minta bantuan lagi aja, mbak!” saran Hilda.


“Ya udah. Salah satu, turun, deh!” jawab Erika. Bayupun berinisiatif turun ke lantai dasar untuk meminta bantuan.


*Tok tok tok*


“Budi. Jangan bikin orang panik, dong! Jawab, ih!” panggil Erika lagi.


Tapi Budi masih saja tidak menjawab. Deni berlari masuk ke kamar Erika, dan melihat ke arah balkon kamar Budi. Tapi Budi tidak terlihat di sana.


“Gimana, Den?” tanya Ratna.


“Nggak ada di balkon. Masih di kamar, dia” jawab Deni.


“Ya Alloh, tu orang kenapa sih?” keluh Ratna.


Erika yang sempat melihat nama Farah di ponsel Budi, langsung menghubungi Farah. Tapi sempat tidak mendapatkan respon.


“Halo, Far. Barusan lu nelpon Budi, ya?” tanya Erika, begitu tersambung.


“Iya, mbak. Kenapa?”


“Lu ngomong apa? Kok Budi sampe ngamuk gini?”


“Astaghfirullohal ‘adzim. Ya Alloh. Kok jadi gini, sih?”


“Emang lu ngomong apa, sih?” tanya Erika lagi.


“Tadi tuh si Budi minta tolong sama aku buat jadi perantara antara dia sama Adel, “


“Ha? Terus, lu ke sana?”


“Karena mintanya sampe mohon-mohon, ya aku nggak tega, mbak”


“Terus? Ketemu orangnya?”


“Enggak. Nggak dibolehin ketemu Adel”


“Yang nggak ngebolehin?”


“Luki”


“Astaga” keluh Erika.


“Bu Lusi nggak ada, emang?” lanjut Erika.


“Ada. Awalnya bu Lusi dulu yang nerima aku. Dia juga bilang kalo Adel lagi nggak enak badan. Cuman nggak langsung ngelarang. Yang tegas ngelarang sih, si Luki”


“Terus? Udah, gitu aja?”


“Tadi sih Budi sempet minta hape aku buat dikasihin ke Luki”


“Budi ngobrol sama Luki? Masih nggak dibolehin juga?”


“Iya”


“Astaga” keluh Erika lagi.


“Emang Budi, kenapa, mbak?”


“Gua juga belum tahu, dia ngapain di dalem. Yang pasti kita semua kaget denger suara benturan kenceng banget. Dia nonjok pintu depan, kayaknya. Sampe ngejendol gini kayunya”


“Astaghfirulloh. Ya Alloh. Kok jadi ruwet gini, sih?” keluh Farah.


“Mbak, mbak. Mas Budi nelepon” seru Ratna.


“Far. Udah dulu, ya”


*Tuuuut*

__ADS_1


__ADS_2