Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tresno waranggono


__ADS_3

Sore tadi, bu Ratih mengajak Budi untuk pergi ke hajatan. Sebagai tetangga, bu Ratih merasa tidak enak kalau tidak hadir di hajatan itu. Budi sempat menolak. Hatinya masih sensitif untuk melihat pasangan yang sedang berbahagia, terlebih dalam ikatan pernikahan.


Bu Ratih paham dengan perasaan Budi. Dia lantas meminta Putri untuk mengantarkannya. Bu Ratih bilang, dirinya belum sempat membalas bantuan pak RW, yang meminjamkan mobilnya untuk membawa bapak ke rumah sakit, saat bapak dulu tiba-tiba pingsan.


Bagi Putri, permintaan ibunya itu bukan masalah. Lagipula memang dirinya berniat akan ke sana juga. Secara, pengantin perempuannya adalah teman sekelasnya. Jadi, langsung dia iyakan saja permintaan ibunya itu.


Tapi bagi Budi, kata-kata ibunya itu terasa sekali sebagai sebuah sindiran. Budi merasa kalau ibunya tidak tega untuk memaksanya, tapi juga punya harapan besar agar permintaannya dikabulkan. Setelah sekian lama merenung, Budi memutuskan untuk menuruti keinginan ibunya.


“Mas. Jadi orang tuh mbok jangan kebangetan!” celetuk Putri.


“Hem?”


Budi yang sedang membenahi kancing lengan kemeja batik lengan panjangnya, bingung dengan komentar adiknya. Dia mencari-cari sesuatu yang sekiranya salah dalam penampilannya. Tapi dia tidakmenemukan sesuatu yang aneh.


“Pake batik aja gantengnya nggak ketulungan” lanjut Putri memuji.


Dia juga mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu membenahi kerah kemeja kakaknya.


“Bilangin Zulfikar, aah”


Bu Ratih yang lewat di sebelah mereka, menyeletuk. Tangannya juga tampak memainkan ponselnya, sambil berlalu keluar rumah.


“Ibuuu”


Sontak Putri berseru memangil ibunya. Budi tergelak melihat adiknya dikerjai sama ibunya. Dan terdengarlah perdebatan antara ibu dan adiknya di teras rumah. Bu Ratih tertawa lepas, merasa berhasil menggoda bungsu kesayangannya.


“Hayuk, bu!” ajak Budi.


“Hayuk” jawab bu Ratih.


Dia menggelendot manja di lengan kiri Budi, sambil memeletkan lidahnya ke arah Putri.


“Tutup pintunya, Put!” pinta Budi.


“Sekalian di kunci. Hi hi hi” tambah bu Ratih.


“Aaaaaaa, ibu iiiih” sungut Putri.


Dia menutup pintu dengan agak kencang. Lalu turun dari teras dengan kaki dihentak-hentakkan ke tangga.


“Ha ha ha. Udah ah, kaya anak kecil” kata Budi menghibur Putri.


“Ibu tuh. Nyebelin” sahut Putri masih merajuk.


“Udah hayu, keburu malem!” ajak Budi.


Cuppp


Budi menghadiahkan sebuah kecupan di kening adiknya. Walau sudah biasa, tapi bagi Putri, kecupan kali ini terasa berbeda. Seperti kecupan dari seorang idola.


“Hush. Kumat. Pikirannya kemana-mana” tegur bu Ratih.


“He he”


Putri tersentak dari lamunannya. Dia hanya bisa nyengir saat ketahuan sedang berkhayal tentang kakaknya. Merekapun segera melajukan motor mereka menuju tempat hajatan.


Beberapa tetangga menyapa mereka. dengan tanpa berhenti, bu Ratih menjawab seadanya. Begitu juga dengan Budi.


Walaupun prosesi serah terima pengantin telah selesai dilaksanakan sore tadi, tidak berarti sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Kenyataannya masih banyak tamu dari kolega tuan rumah, maupun teman-teman dari kedua mempelai. Dan terlihat semarak dengan hiburan campur sari.


“Mbak Rika”


Seruan itu menyentakkan angan Budi. Dia yang tadinya hendak menganalisa grup campur sari mana yang sedang perform itu, tertarik perhatiannya untuk menoleh ke sumber suara.


“Eee. Putri, bu Ratih”


Terlebih saat seruan tadi bersambut. Perhatian Budi kini sepenuhnya tertuju pada orang yang saling bertegur sapa itu.


“Ibu kondangan juga?”


Erika, yang baru saja turun dari mobilnya, langsung mendekati bu Ratih dan menyalaminya.


“Iya. Harusnya sih tadi siang, bareng besan. Tapi kan ngepasin Budi pulang. Jadi ibu nggak ikut rombongan” jawab bu Ratih.


“Besan? Loh, emang deket sama rumah mempelai prianya, bu?” tanya Erika.


“Deket lah, mbak” sahut Putri.


“Kalo dari perempatan pos kamling itu kita ke kiri, rumah pengantin cowoknya sih, lurus aja. Deket kali”


“Oh, gitu” komentar Erika, pendek.


“Mbak Rika sendiri, apa temennya dari mempelai perempuan?” tanya bu Ratih.


Erika tidak segera menjawab. Dia tersenyum dulu. Membuat bu Ratih bertanya-tanya.


“Mempelai wanitanya itu, sepupu saya, bu” jawab Erika.


“Apa?” seru Putri terkejut.


“Sepupu mbak Rika?”lanjut Putri.


“Iya” jawab Erika singkat. Dia bertanya-tanya, apa maksud Putri bertanya demikian.

__ADS_1


“Dunia sempit banget ternyata ya, bu?” komentar Putri.


“Tapi kok nggak pernah cerita sih, si Tya? Padahal Putri sering cerita soal mas Budi, yang kerja di PT.PRAM. Wah, perlu disidang nih, si Tya” kata Putri, bicara pada diri sendiri.


“Ha ha ha ha. Ya, aku emang jauh sih, dari mereka. Terlebih setelah mama meninggal, dan papa kawin lagi” kata Erika.


“Innalillahi. Maaf mbak Rika, Putri nggak tahu” kata Putri meralat bicaranya.


“Nggak papa Putri. Aku cuman jawab pertanyaan kamu tadi” jawab Erika.


“Jangan sekarang sidangnya, ya! Masa mau asik-asik, pake di sidang dulu. Kasihan” lanjutnya.


“Ha ha ha. Iya, mbak. Bercanda” kata Putri.


“Oh, iya. Kangmasmu nggak diajak?” tanya Erika.


“Cie cie, ada yang udah kangen, nih. Belum juga sehari ditinggal” goda Putri.


“Bukan gitu, Put. Kasihan bener ditinggal sendiri di rumah. Tahu gitu kan, aku ajakin”


“Jangan! Lagi nyebelin, orangnya” potong Putri.


“Put!” tegur bu Ratih.


“Lah. Emang bener” kilah Putri.


Erika mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud Putri.


“Udah, mending mbak Rika sendiri dulu aja!” saran Putri. Dia menggamit tangan Erika, mengajaknya berjalan.


“Emang mas Budi kenapa, Put?” tanya Erika penasaran. Matanya menatap penasaran ke wajah Putri.


“Nyebelin pokoknya. Bikin baper” jawab Putri.


“Hem?” jawaban yang aneh menurut Erika.


“Tuh” kata Putri sambil memajukan dagunya, menunjuk ke arah depan. Sontak Erika menoleh ke depan.


“Ha”


Erika sempat memekik tanpa suara, saat melihat ada seseorang hanya terpaut dua meter dengannya. Lalu dia terpana saat mengenali siapa yang berada di depannya, dan bagaimana penampilannya.


“Tuh, kan. Putri bilang juga apa. Nyebelin. Bikin orang baper, kan? Sungguh terlalu” komentar Putri, diakhiri dengan jargon khas bang haji Roma Irama.


“Hempf”


Erika tergelak mendengar komentar Putri. Di dalam hati dia mengakui ketampanan Budi dalam balutan kemeja batik lengan panjang itu. potongan yang pas dengan tubuhnya, membuat tubuh tegap itu tampak menggoda. Dipadu celana bahan berwarna hitam, semakin menambah aura kegagahannya.


“Apa mau sekalian jadi pengantin?” lanjut Budi.


“Tuh kan, makin nyebelin. Segala nanya-nanya. Emang situ mau jadi penghulunya apa?” sahut Putri.


“Lah, aku jadi pengantinnya, dong. Udah batikan keren begini, masa jadi penghulu?” kilah Budi.


“Aduuh. Mas Zul pake piket segala, ih. Udah yuk bu! orang ganteng sih, bebas” ajak Putri, sambil menggamit tangan ibunya.


“Haih. Joko tingkir jadi santri” celetuk bu Ratih.


“Maksud ibu?” tanya Putri.


“Ngapain dipikir, Putri? Ada ada aja kamu, ih” jawab bu Ratih, meneruskan pantunnya.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Erika tak kuasa menahan tawanya. Walau dia terlihat sangat berusaha menahan suaranya, agar tidak terlewat kencang. Masih dengan berlagak kesal, Putri menarik ibunya agar mau diajak jalan lebih dulu.


Budi terpana melihat penampilan Erika malam ini. Di dalam hati dia mengakui keanggunan dan keberanian Erika dalam balutan busana itu. Kebaya beludru berwarna hitam, yang identik dipakai oleh pengantin wanita, kini dikenakannya.


Bedanya, kebaya beludru Erika sudah mengalami modifikasi. Dengan sentuhan batikan gold di sepanjang tepian depan. Dan batik menyerupai sayap burung terkepak di kiri-kananya. Terlihat moderen, namun tetap mengeluarkan aura wanita jawa yang kental.


Terlebih ditambah bawahan jarik. Walaupun tidak bersanggul, hanya menggulung rambut aslinya saja, tapi aura kecantikan Erika tak kalah dengan kalau dia memakai sanggul. Dan kebetulan sekali, warna dan corak batik Budi terlihat serasi jika berdampingan dengan kebaya beludru hitam Erika.


“Tebakanku, pengantin ceweknya pasti jealous sama mbak Rika” celetuk Budi.


“Hempf. Masa sih?” sahut Erika malu-malu. Dia senang, menadapat pujian dari Budi.


“Let’s find out!” ajak Budi.


“Yuk” jawab Erika sambil tergelak.


Merekapun berjalan beriringan. Tiba di depan gapura tempat hajatan, terlihat Putri dan bu Ratih tengah berbincang hangat dengan orang tua mempelai perempuan. Sedangkan kedua mempelai sedang bernyanyi diiringi alunan campur sari. Beberapa tamu undangan tampak berjoget di depan panggung.


Rupanya acara malam ini dibuat tidak seformal resepsi biasanya. Seselesainya bernyanyi, kedua mempelai langsung kembali ke kursi pelaminan. Mereka kembali menerima tamu-tamu yang ingin bersalaman dengan mereka. Termasuk juga dengan bu Ratih dan Putri.


Sedangkan Budi sempat tertahan di gapura, karena terlibat perbincangan dengan tuan rumah. Itu disebabkan karena ada Erika di sebelahnya.


Sontak Erika menjadi pusat perhatian bagi mereka. Beberapa orang tua, yang masih kerabat tuan rumah, memuji keberhasilan Erika dalam meniti karir, walaupun tanpa peran orang tua.


Ada juga yang terang-terangan berpesan kepada Budi untuk melindungi Erika. Karena Erika kurang merasakan kasih sayang semenjak kecil. Seolah-olah Budi itu sudah pasti akan menjadi pendamping Erika.


“Mbak Rikaaaa”


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara orang yang memanggil. Ternyata itu adalah suara dari pengantin perempuan. Dengan langkah cepat dia menghampiri Erika, dan langsung memeluknya. Budi yang tidak tahu sejarah mereka, hanya bisa garuk-garuk kepala. Dia lebih memilih membuka pembicaraan dengan Basuki

__ADS_1


“Mas, bude Angela gimana kabarnya?’ tanya si Basuki, pengantin laki-lakinya.


“Angela siapa?” tanya Budi bingung.


“Angela merkel” jawab Basuki.


“Hempf. Bude, gundulmu” komentar Budi sambil tergelak.


Merekapun lantas kembali berbincang-bincang. Dia berikan ucapan selamat kepada Basuki dan Tya, pastinya dengan amplopnya juga.


Setelah sekian lama berdiri, akhirnya sang tuan rumah mempersilakan keduanya untuk duduk menikmati jamuan.


Di saat itu, alunan musik campur sari terdengar semarak mengiringi joged beberapa tamu undangan.


Duh kangmas sak tenane aku ngerti atimu


Ning wes pesthine aku du jodomu


Pancen roso kari roso, kudu lilo nggonmu nerimo


Lilakno aku nyanding priyo liyo


Budi terkesiap mendengar lantunan lagu itu mengalun dengan indah. Tak hanya liriknya saja yang sangat pas dengan kisah cintanya, tapi suara itu, dia hafal sekali suara itu.


Ra keroso wes sewindu, nggonku ora ketemu


Kegugah atiku krungu suaramu.


Budi semakin tertarik untuk melihat ke atas panggung. Dia mengurangi laju jalannya, lalu menoleh ke kiri.


Tata?


Budi terkejut bukan main, saat melihat siapa yang sedang melantunkan tembang itu. Dia sampai berhenti dari jalannya.


Aku mung biso ndedungo, waranggono seng tak tresno


Mugo biso urip tentrem mulyo.


Erika yang merasa kehilangan budi, sontak memutar tubuhnya. Dia juga akhirnya melihat ke arah yang ditatap Budi. Dan, dia juga terkejut melihat Adel sedang berduet dengan salah satu gitaris pengiringnya.


Tak tulis lakon....


Adel seperti tercekat suaranya. Dia tampak sangat terkejut saat tanpa sengaja dia melihat ke arah gapura masuk. Semua orang melihat ke arah yang sama. Beruntung Tati tanggap dengan apa yang terjadi dengan Adel. Dia langsung menyambar mikrofon dari tangan MC


Sak tenane aku nangis, nanging tresno wes ginaris


Dia mengambil alih tugas Adel, sambil bersiap ke tengah panggung.


Tak lakoni kanthi iklas ati


Tati mendatangi Adel, dan menegurnya.


Wuyungku ngelayung, ngamboro ing awang-awang


Saat rekan duetnya menyanyikan bagiannya, Adel tidak merespon. Dia terpaku karena melihat seseorang yang sangat dia kenal.


Tanpo biso nyanding aku mung biso nyawang


Tak kuasa Adel beradu pandang dengan Budi. Dia memutar tubuhnya, menyembunyikan air mata yang meluncur begitu saja tanpa sanggup dia bendung.


Tumetese eluhku mbrebes mili ono pipi


Opo pancen tresno iki ra kudu nduweni


Tati kembali bersiap dengan mikrofonnya. Karena tangis Adel masih deras.


Wes lilakno aku kangmas! Wes cukup, lalekno!


Lelakon tresno iki bakal dadi cerito, tresno waranggono.


Tak ada senggakan maupun candaan, saat satu part sudah selesai mereka bawakan. Musik yang berubah menjadi setengah dangdut itu membawa suasana ceria, tapi tidak berpengaruh pada Adel. Hatinya penuh sesak dengan perasaan bersalah, perasaan ingin berontak, ingin kembali pada Budi. Tapi logikanya mengekang semua perasaan itu. Sehingga menyisakan perasaan pilu yang lebih menyakitkan daripada disayat sembilu.


Saat tangisnya mulai mereda, Adel mengumpulkan segenap keberaniannya untuk membuka mata dan memutar badannya.


Bram?


Tapi Budi sudah tidak ada di tempat dimana tadi dia berdiri. Adel celingukan mencari dimana keberadaan Budi. Dia berpikir kalau Budi sedang duduk menikmati hidangan. Tapi tati memberitahunya kalau Budi sudah pergi.


Allohu Akbar


Untuk beberapa saat, air matanya kembali meluncur dengan bebasnya. Walau sekuat tenaga dia berusaha untuk mengatasi kesedihannya. Butuh beberapa saat untuk bisa kembali menguasai keadaan, dan kembali melanjutkan tugasnya, membawakan lagu Tresno Waranggono itu sampai selesai.


Di sisi lain, Budi sudah berada di jalan, memacu motornya dengan kecepatan rendah. Ada Erika di belakangnya.


Ya, Erika memaksa ikut, karena dia hawatir, Budi akan main kebut-kebutan. Beberapa kali dia mengelus dada Budi, setiap kali dia merasakan Budi menghela nafas berat. Budi sendiri merasakan dadanya sesak, jauh lebih sesak dari saat tertembus peluru.


Ya Alloh, karena Engkau telah memberikan keputusan, maka jauhkanlah hamba dari dia, ya Alloh! Hamba belum sanggup bertatap muka dengannya. Rasa tidak terima itu selalu muncul.


Hamba lebih sanggup menahan sabetan pedang yang mengoyak punggung hamba, daripada melihatnya menjadi milik orang lain. Jauhkan dia dari hamba, ya Alloh! Dan pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba!


Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang,Ta. Semoga kalian langgeng.


Selamat jalan sayang. Selamat jalan, Tata.

__ADS_1


__ADS_2