Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
benih-benih khilaf


__ADS_3

Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...


Ponsel Budi berdering. Awalnya dia berpikir, itu adalah telepon dari Putri. Tapi ternyata bukan.


Vani?


“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam” jawab Stevani. Suaranya terdengar serak.


“Van, kamu kenapa?” tanya Budi.


“Lagi nggak enak badan” jawab Stevani.


“Kamu masih di pasar, Bud?” lanjutnya.


“Enggak. Hari ini adek aku yang bantuin ibu”


“Yah, kirain di pasar”


“Kenapa emang? Butuh obat?”


“Enggak, tadinya pengen minta tolong”


“Tolong apa?”


“Nggak usah deh, nggak jadi”


“Udah, bilang aja! minta tolong apa?”


“Aku pengen minta tolong dikerikin. Uhuk, uhuk”


“Oh, oke. Kosan kamu dimana?”


“Emang kamu mau ke sini, Bud?”


“Kebetulan aku lagi jogging nih. Tadi abis dari teleng. Share lokasi, deh! Aku ke situ. Tapi agak lama kali. Nggak bawa motor, aku”


“Busyet, dari rumah sampe ke pantai, lari?”


“Iya. kenapa, emang?”


“Kuat banget, sih” komentar Stevani.


“Buruan! Mumpung belum jauh dari teleng, nih”


“Oke-oke. Aku share lokasi, ya”


“Oke, see you”


Budi langsung mematikan saluran teleponnya. Tak perlu menunggu lama, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Pesan itu dari Stevani. Dia mengirimkan lokasi dimana dia tinggal. Dan itu tak jauh dari posisi Budi sekarang.


Budi berpikir sejenak, mengingat-ingat lagi jalan pintas menuju lokasi tersebut. Begitu ketemu, dia langsung memulai larinya.


Tok tok tok


“Assalamu’alaikum”


Hanya butuh beberapa menit lari, Budi sudah sampai di tempat tujuan. Tidak segera dapat jawaban, tapi dari dalam sana, terdengar ada pergerakan orang.


Menurut Budi, kontrakan ini belum lama berdiri. Seingatnya, jaman dia sekolah dulu, tempat ini masih berupa lahan kosong, yang ditumbuhi semak belukar.


Dari cat temboknya juga bisa diperkirakan, kalau pembangunannya, kira-kira baru setahun yang lalu. Posisinya yang diapit rumah-rumah warga, membuat akses masuk ke sini agak terbatas. Walau mobil juga bisa masuk.


Terlihat jejak kehidupan di setiap kamar. Hanya saja, sepertinya penghuninya sedang pada keluar. Menyisakan satu kamar, yang terlihat sandalnya.

__ADS_1


Klek


“Wa’alaikum salam”


Lamunan Budi buyar, saat mendengar ada yang membuka pintu, dan menjawab salamnya. Setelah dia menghadap kembali ke arah pintu, dia menemukan sesosok wanita, yang rambutnya awut-awutan.


Dia tampak kepayahan, hingga membuka pintu saja, dia tidak bisa sepenuhnya berdiri. Dia hanya bertumpu pada lututnya.


Astaghfirulloh


“Van. Kamu kenapa?”


Sontak Budi mendekat, setengah lompat dia berusaha menangkap Stevani yang hendak terjatuh.


Beruntung, dia datang tepat waktu. Dia masih sempat menangkap tubuh Stevani. Sejenak dia benahi posisi Stevani, lalu dia bopong kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia letakkan perlahan di atas kasurnya.


“Van, kita ke rumah sakit aja, yuk! Badan kamu panas banget, nih” saran Budi.


“Nggak usah, aku nggak papa, kok” tolak Stevani. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.


“Nggak papa, gimana? Tuh, sebadan-badan panas semua, Van”


Budi menempelkan telapak tangannya di beberapa tempat di tubuh Stevani. Mulai dari kening, leher, tangan, juga kaki.


“Udah, kerikin dulu, Bud! tolong” pinta Stevani.


“Oke, koin sama minyaknya, dimana?” tanya Budi.


“Itu, di kotak P tiga K, di kamar dalam” jawab Stevani.


Budi terkejut mendengar kata, kamar dalam. Berarti masih ada kamar satu lagi. Dan ternyata benar. Di sini ternyata tiga ruang.


Dan sepertinya, kasur busa usang di depan itu, bukanlah tempat tidur Stevani yang sebenarnya. Karena di sini ada kasur springbed yang jauh lebih besar.


Tak mau ambil pusing, Budi langsung mengambil minyak angin dari kotak pe tiga ka. Sejenak Budi terpukau dengan penataan kamar Stevani yang serba rapi. Dan khas cewek sekali.


“Van, apa nggak sebaiknya kamu pindah dulu ke kasur dalam? Lebih nyaman kayaknya” tanya Budi.


Stevani tidak menjawab. Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Budi jadi bingung melihat senyum Stevani yang tidak biasa itu.


“Ye, ini bukan modus, van” lanjut Budi, menolak tuduhan dalam senyuman Stevani itu.


“Ha ha ha” Stevani tergelak. Dalam keadaan kepayahan, dia berusaha bangun.


“Sini aku bopong” tawar Budi.


Untuk kedua kalinya, Budi membopongnya. Membuat Stevani terpana akan kekuatan otot Budi. Tubuhnya bisa dibilang semok, dan pasti bobotnya lumayan juga.


Tapi, walau dengan postur yang sepantar, seolah Budi tidak punya kendala untuk mengangkat tubuhnya. Matanya tak bisa lepas dari wajah Budi.


Dia tidak menyadari, kalau tanktop yang dia pakai, melorot ke bawah. Memamerkan sebagian dari apa yang seharusnya tertutupi olehnya.


Di tempat lain, Adel yang baru saja selesai mandi, dan bersiap untuk berangkat ke sanggar. Sinta juga bersiap-siap mengantarkan sepupunya itu. Walau dia tidak mandi terlebih dahulu.


Adel pergi ke depan. Di tangannya ada tas punggung yang masih terbuka. Dengan satu tangan, dia memeriksa kembali barang bawaannya. Terutama yang penting dan pasti dipakai saat tampil di hajatan nanti.


Bang – bang wes rahino. Bang –bang wes rahino


Ponsel Adel berdering. Dengan agak bergumam dia melontarkan kekesalannya. Karena dia sedang buru-buru, malah ada yang menelepon.


“Halo bu” sapa Adel. Setelah mengetahui siapa yang menelepon.


“Halo, Del. Kamu lagi dimana?”


“Di rumah Sinta, Bu. Kenapa?”

__ADS_1


“Tati udah bilang kan, kalo kamu disuruh ke sanggar?”


“Udah. Ini juga lagi beres-beres, mau ke sono”


“Sama siapa?”


“Sama Sinta lah, bu. Siapa lagi? Kan Adel nggak bawa motor”


“Kirain sama ojol semalem”


“Hmf” Adel menghela nafas berat.


“Ya udah, bu. Adel berangkat dulu. Tuh, Sinta udah siap” pamit Adel.


“Nggak usah sama Sinta!” larang ibunya.


“Loh, terus? Jalan kaki?”


“Mas Luki lagi jalan ke sana. Harusnya udah nyampe”


“Luki? Ibu ngigau? Kan dia lagi di lombok?”


“Udah balik, lah. Kamu, sih. Pake nggak mau ngikut”


“Loh, kok ibu jadi ikutan bapak, nyalahin Adel, sih?’


“Udah, udah. Pokonya kamu baliknya sama mas Luki, ya! Bilangin sinta, nggak usah anterin!”


TUUUT


“Dih, langsung ditutup?”


Di depan rumah sinta, sebuah mobil SUV papan atas berhenti tepat di depan Sinta. Tanpa mematikan mesin, pengemudinya turun, dan bertanya pada Sinta mengenai alamat yang tertera di peta digital. Adel keluar dari dalam rumah, karena tahu siapa orang itu.


“Sin, sori ya. Perubahan rencana” seru Adel dari belakang Sinta. Sinta menoleh dan tampak bingung.


“Ini mas Luki, yang aku bilang kemarin” lanjut Adel.


“Oh, maaf, mas. Aku lupa. Iya sih, mbak Adel pernah kasih lihat foto mas Luki. Tapi cuman sekilas, jadi aku lupa” respon Sinta.


“Iya. nggak papa, kok” jawab Luki dengan ramah. Senyumnya Luki terlihat cukup menggoda bagi Sinta. Dia sempat terpana.


“Gimana mas, lombok?” tanya Adel basa-basi.


“Alhamdulillah, lancar” jawab Luki singkat.


“Aku kaget banget, kok mas Luki udah balik aja. Katanya kan seminggu”


“Ya, yang seminggu sih, biar papa sama mama aja. Aku, balik aja. Kan yang aku cari juga adanya di sini”


“Aduh, maaf banget ya, mas”


“Iya, kalem. Yuk!”


“Iya” jawab Adel.


“Sin, maaf, ya?” lanjut Adel.


“Iya. Tenang aja, mbak. Ati-ati, ya!”


“Assalamu’alaikum"


“Wa’alaikum salam”


Adel masuk ke dalam mobil, setelah pintunya dibukakan oleh Luki. Sinta tidak banyak bertanya, karena dia sudah paham situasinya. Ini semua pasti ulah pakde dan budenya. Bukan sekali/dua kali Adel curhat padanya mengenai perjodohan orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2