Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pertemuan adel dengan sang mantan


__ADS_3

Tak jauh dari tempat Budi, Adel sedang berdiri sambil memainkan ponselnya. Dia sedang memesan ojol, tapi belum ada satu ojolpun yang berada di dekatnya. Dia mencoba dengan aplikasi lainnya, juga belum ada yang menyambut pesanannya.


Ya Alloh, kenapa di cuaca yang sepanas ini, engkau uji hamba dengan ujian yang membakar hati? Dan mengapa pula Engkau pertemukan kami disaat mas Budi bersama wanita yang lebih cantik dari hamba, ya Alloh? Hamba tahu, wanita itu pasti seniornya mas Budi. Mungkin salah satu manager di pabrik itu. Tapi hamba cemburu ya Alloh.


“Adel”


Adel tersentak dari lamunannya, mendengar namanya dipanggil. Seseorang yang menaiki motor, memutar haluan, dan mendekatinya.


“Udah sembuh?” tanya orang itu lagi.


“Eh, mas Dino. Udah. Alhamdulillah” jawab Adel.


“Oh, udah inget semuanya lagi?” tanya Dino dengan suara dipelankan.


“Belum. Beberapa ingatan penting belum kembali. Justru aku ingetnya, kuliah, nyanyi, makan di situ. He he” jawab Adel.


“Cowok kamu mana, kok sendirian aja”


“Cowok? Kapan saya punya cowok?”


“Budi. Yang sebelumnya sama kamu?”


“Budi? Budi yang mana? Aku ngak punya kenalan namanya Budi. Luki, kali? Yang kemarin main ke rumah"


“Oh, itu namanya Luki? kirain”


“Terus, ini mau kemana?” lanjut Dino.


“Oh, mau pulang sih. Ini nyari ojol nggak dapet-dapet”


“Emang tadi ke sini sama siapa?”


“Sama temen. Bilangnya ada urusan di pub sana. Eh nggak balik-balik”


“Ya udah, aku anterin yuk!” tawar Dino.


“Nggak usah, makasih. Mas Dino kan masih kerja. Entar udah bel masuk, belum nyampe tempat kerja, berabe” tolak Adel halus.


“Tenang aja! Buat Adel, dimarahin juragan juga, siap. Daripada kerja, tapi kepikiran Adel mulu kepanasan di sini. Sama aja” kata Dino kekeh.


“Aduh, gimana, ya?”


Adel sebenarnya takut. Tapi berhubung dia masih dalam status bersandiwara, jadi dia harus memerankan perannya dalam sandiwara ini sebaik mungkin. Itu artinya, Adel harus menganggap kalau Dino ini adalah orang yang pernah berjasa menolongnya. Jadi, akan tampak tidak menghargai kalau dia menolak tawarannya.


“Kalo nggak ngerepotin mas Dino” jawab Adel, beberapa saat kemudian.


“Tenang, nggak ngerepotin, kok. Sebuah kebanggaan buat Dino, bisa nganterin pulang artis kebanggaan tanah kelahiran” jawab Dino. Adel tersenyum. Seolah dia tersipu mendapat pujian dari Dino. Padahal dia muak.


“Makasih sebelumnya, mas” kata Adel.


Diapun naik ke atas motor jenis sport miik Dino. Sembari tangannya menyiapkan sisir bergagang runcing. Dia posisikan sisir itu di saku belakang celananya. Dengan ujung runcingnya menghadap ke bawah. Sehingga pas dia butuhkan, sekali cabut, langsung bisa dia hunuskan ujung runcingnya.


Di rumah makan lesehan itu, Budi tampak bingung, ingin memilih makanan apa. Dia berusaha menebak, makanan apa yang cocok untuk seorang wanita di hadapannya itu. walau tidak menemukan jawaban pasti, akhirnya Budi memesan dua buah menu berbeda, dan dua minuman berbeda pula.


“Kenapa sih mbak, marah-marah? Suaminya letoy, ya?” tanya Budi urakan.


“Hem?”


Isma yang sedang sibuk dengan ponselnya, tertarik perhatiannya dengan pertanyaan Budi.


“Ha ha ha ha, letoy? Ha ha ha ha. Aku masih single, keles” jawab Isma sambil tertawa.


“Oh, masa sih? kirain, udah berkeluarga”


“Harusnya sih, tapi, belum ketemu jodohnya”


“Ya udah sih, mbak. Nggak usah dibawa pusing! Sampe marah-marah gitu”


“Bukan marah soal jodoh Budi. Apalagi soal letoy. Aku lagi kesel sama gebetan kamu, tuh”

__ADS_1


“Siapa lagi, itu?"


“Halah, pura-pura. Ya Stevani, lah”


“Oh” komentar Budi pendek.


“Gebetan? Ha ha ha” lanjutnya sambil tertawa.


“Ya kan emang deket sama kamu. Sampe Aldo ngambek”


“Oke, oke. Whatever. Terus, kenapa, kok mbak Isma bisa sampe kesel sama dia? Cowok mbak Isma, digebet juga sama dia? Pantes letoy. Abis duluan. Ha ha ha ha”


“Budi, ih”


“Aduh. Kenapa nyubit?”


“Sembarangan banget kalo ngomong. Cowok aku setia, kali”


“Ha ha ha ha. Ya terus, kenapa kesel?”


“Ya abisnya, dia banyak banget hambur-hamburin duit. Buat entertaint, lah. Buat eksibisi, lah. Buat transport, lah. Ini, lah. Itu, lah. Banyak banget pokoknya” jawab Isma langsung pada masalahnya.


“Em, sori nih, mbak. Bukannya ngebelain. Tapi, bukannya yang mbak Isma sebutin tadi, wajar buat seorang sales marketing?” tanya Budi.


“Iya sih, emang. Tapi nggak gitu juga caranya. Emang dia pikir, purchasing nggak punya channel, apa? Udah nggak keitung, berapakali dia mark up harga. Dia main mata sama marketing vendor. Dari penawaran aja, udah dimanipulasi. Pelaksanaannya? Eksibisi di singapura, pakai properti dekorasi mewah. Wuih, difoto tuh, mewah banget. Menjanjikan banget. Tapi tahu nggak apa?”


“Apa?"


“Cuman pas dokumentasi doang. Abis itu temen aku, yang kebetulan lagi di expo itu, kasih foto yang sama sekali berbeda. Sederhana banget”


“Loh, kok bisa?”


“Ternyata, properti dekorasi mewah itu, kontraknya cuman sejam aja. cuman buat foto-foto doang. Abis itu bongkar lagi, ganti yang sederhana. Aku ngeluarin anggaran sewa buat tiga hari. Dia bayar ke sana cuman buat satu jam. Itu ada lebihan dana sampai tujuh puluh persen, Bud. Masuk kantong dia. Aku yang dicecer sama pak Paul”


“Loh, kalo pak Paul tahu, harusnya Vani dong, yang dicecer”


“Hadeh. Dia itu super banget kalo suruh ngeboong. Laporannya tuh, perfect, boongnya”


“Hem?”


“Tapi nyampe target nggak, dia?"


“Ya, target sih, target. Tapi bayangin, bud! uang segitu kalo buat makan-makan, sepabrik juga kebagian semua. Itu masuk kantong dia sendiri. Giliran pak Paul sadar, udah telat. Buktiku buat bilang kalo Vani curang, kurang kuat. Pak Paul juga sama. Aku yang jadi sasaran”


“Oke”


Komentar Budi hanya pendek saja. Sambil dia mengunyah lauk dari hidangan yang sudah tersedia. Isma sadar, kalau tujuan awal mereka ke sini, adalah untuk makan.


“Maaf ya, Bud. Kamu laper ya, dengerin aku ngomel?”


“Dari tadi juga, saya udah laper, mbak. Perutku udah demo. Bukannya aku dengerin aspirasi dia, malah dengerin curhatan mbak Isma. Untung tadi pagi aku nggak sarapan toa” jawab Budi.


“Ha ha ha ha”


Isma tertawa mendengar kelakar Budi.


***


Saat ini motor yang ditumpangi Adel sudah menuju tengah kota. Sudah mengarah ke alun-alun kota. Tapi tiba-tiba, Dino menepikan motornya.


“Del, aku mau nengokin kakakku dulu. Boleh, nggak?” tanya Dino.


“Di mana?”


“Di polres. Dia lagi ditahan” jawab Dino.


“Oh, lama nggak? Kalo lama, aku turun aja”


“Enggak kok. Cuman mau ngasih makanan kesukaan dia”

__ADS_1


“Oh, ya udah. Nggak papa” jawab Adel setuju.


Dino langsung mengarahkan motornya menuju polres. Walau dia dikenal sebagai preman di kota ini, tapi dia belum masuk dalam daftar kejahatan. Makanya polisi juga diam saja saat melihat kedatangannya.


Dia mendapatkan akses sebagaimana warga sipil lainnya. Adel ikut masuk menemani Dino. Karena di parkiran juga panas. Perlu menunggu beberapa saat, hingga orang yang dipanggil kakak oleh Dino ini, dibawa untuk menemuinya.


Disaat orang itu muncul, betapa terkejutnya Adel. Ternyata orang yang disebut kakak oleh Dino, tak lain dan tak bukan adalah mantan pacarnya sendiri. setelah sekian lama menghilang, dan setelah dia bisa melupakannya, melupakan pedihnya akhir kisah mereka, kini orang itu berdiri lagi di hadapannya.


Adel langsung teringat lagi, masa-masa dia sering bertengkar dengan orang tuanya, lantaran dia berpacaran dengan preman paling ditakuti di kota ini. Hampir setiap hari dia dimarahi, karena setiap pulang sekolah, selalu mampir dulu di markas pacarnya.


Dan selalu ikut kena marah, setiap kali ada berita pembegalan, tawuran, atau semacamnya yang bahkan hanya dilakukan oleh anak buah pacarnya. Apalagi ketahuan kalau pelakunya adalah pacarnya. Bisa sebulan penuh kena omel.


Dan setiap gerak-geriknya, selalu diawasi oleh bapaknya. Dia tahu pacarnya kejam. Tapi dia merasa, cowok itu adalah pacarnya yang paling menyayanginya. Dia satu-satunya cowok yang berpacaran dengannya, tapi tidak pernah maksa buat ciuman, pelukan, apalagi sampai berhubungan badan.


Kalau dia bilang tidak mau, cowoknya itu tidak memaksa. Bukan seperti yang lain. Yang terlihat elegan, terlihat pinter, terlihat mapan, tapi di otaknya hanya mesum saja.


Andai tragedi itu tidak terjadi, mungkin kita masih berpacaran. Sayangnya, kamu percaya banget sama jebakan itu. Kamu percaya sama intel yang salah. Gimana aku bisa maafin kamu, coba? Kamu udah pernah aku kasih tahu, kalo cowok itu, sepupu aku. Dia kakaknya Shinta. Masih aja kamu cemburu buta. Kalo aja dia masih hidup, mungkin aku bisa maafin kamu. Sayangnya, perbuatan kamu itu udah terlalu susah buat aku terima.


“Mas, apa kabar?” sapa Dino.


“Eits, ini siapa Din? Tanya kakaknya.


“Oh, ini Adel, mas” jawab Dino.


“Del, ini kakak, yang tadi aku bilang” kata Dino memperkenalkan kakaknya. Adel bersikap seolah tak kenal. Meskipun dia bingung. Karena setahu dia, mantannya itu anak tunggal. Lalu Dino ini, sepupu atau apa?


“Halo mas, aku Adel” kata Adel sambil mengulurkan tangannya.


“Oh, aku Sandi” jawab kakak Dino, menerima uluran tangan Adel. Mereka berjabat tangan dengan erat.


“Adel ini, sebenernya artis mas” kata Dino.


“Oh, ya? artis apa?”


“Dia lebih ke campur sari, sih”


“Oh. Oke”


“Sayangnya, dia sempet kecelakaan, dan sempet hilang ingatan”


“Waduh. Gitu, ya? udah sembuh gitu, kok bisa jalan sama Dino?” tanya sandi.


“Alhamdulillah. Sudah” jawab Adel.


“Terus, ketemu Dino dimana?”


“Kebetulan banget, aku yang nemuin dia, saat terjadinya kecelakaan itu”


“Oh, gitu. Gimana kejadiannya?” tanya sandi ulai menyelidik.


Dino menceritakan kronologi kejadian versi dia. Si sandi mendengarkan dengan antusias. Dia seperti mengerti, mengapa Adel tidak mengenalinya.


Tapi dia juga merasa janggal. Karena sejak awal Dino bercerita, Adel tak henti-hentinya menggesek-gesekkan ujung jempol kanannya dengan jari tengahnya.


Bagi orang lain, mungkin gerakan itu adalah ekspresi gugup, atau semacamnya. Tapi bagi sandi, gerakan itu mengandung pesan khusus. Itu adalah salah satu isyarat yang dia ajarkan pada Adel, yang berarti menolak dengan keras, setiap pernyataan yang disampaikan oleh seseorang.


Berarti di sini, Adel menolak setiap detil dai cerita Dino. Buat Sandi, kalau semua orang yang ada di sekitarnya ternyata berbohong, termasuk Adel. Maka orang terakhir yang masih Sandi percaya kata-katanya, adalah Adel. Jadi, dalam hal ini, Sandi memilih untuk mempercayai Adel. Dan menganggap semua cerita Dino, adalah dusta.


“Wah, seneng dengernya. Gitu, dong. Sekali-sekali, berbuat kebaikan kan, nggak ada salahnya” komentar Sandi.


“Ya udah, mas. Kita cabut dulu, ya?”pamit sandi.


“Oke. Ati-ati, ya! mendung langitnya” pesan sandi.


“Hem? Ngigau lu bang?” sahut Adel.


“Hmpf. Ha ha ha ha. Maklumin aja, del! Di sini emang remang-remang” kata Dino sambi tertawa.


“Oh, terik, ya? ha ha ha. sori deh. Emang remang-remang di sini. Kirain mendung” sahut Sandi.

__ADS_1


Mereka berduapun akhirnya pergi, setelah Sandi kembali ke sel tahanan. Adel kembali ke sikap siaga satu. Setelah ini, perjalanannya akan melewati daerah-daerah yang menguntungkan bagi Dino. Dia bisa melakukan apapun terhadapnya. Tapi, akhirnya dia bisa bernafas lega. Karena Dino mengantarkannya sampai ke rumah, tanpa ada drama ataupun tragedi.


__ADS_2