
Berhasil membalas kelakuan ibu – ibu itu tak lantas perundungan terhadap dirinya berhenti. Memang, membicarakan keburukan orang itu asyik sekali. Tak memandang siapa, dan latar belakang apa. Kalau hatinya dihinggapi penyakit dengki, apapun yang dilakukan orang yang dia tidak sukai, akan terlihat buruk di matanya.
Mungkin Budi bukanlah satu – satunya korban, tapi masih menjadi isu terhangat saat ini. Karena segala tentang keburukannya selalu diberitakan dengan sangat menarik oleh kumpulan ibu – ibu kemarin.
Pagi ini, Budi masih semangat menjalankan pekerjaan barunya. Pekerjaan serabutan, menjadi kuli bangunan. Walau terkesan remeh, tapi Budi suka. Tawaran dari salah satu tetangganya itu tak dia sia – siakan.
Agak terkejut awalnya, saat baru tiba di lokasi kerjanya. Ternyata dia harus bekerja bersama suami – suami dari ibu – ibu kemarin. Hanya tukang yang mengajaknya itu yang bukan. Berarti ada tiga orang yang sifatnya kurang lebih sama, suka membicarakan aib orang lain, dan suka merundung orang yang menurut mereka lemah.
Tapi Budi tak ambil pusing. Yang terpenting baginya adalah bekerja dan mendapatkan pemasukan. Budi tahu, di belakangnya, mereka suka berkasak – kusuk membicarakannya. Dia juga sempat mendengar, nama ibunya disebut – sebut. Hatinya beranjak memanas. Sepanas sinar mentari yang beranjak meninggi. Tapi masih dia tahan, karena tidak mereka ucapkan terang – terangan.
“Eh, ngger. Kamu ngapain? Ikut pak Tino?”
Sebuah suara menyita perhatian mereka. Budi juga, sejenak menghentikan pekerjaan mencangkulnya. Ternyata itu adalah budenya.
“Eh, bu Kusno. Mau kemana bu?” tanya pak Tino, si tukang yang mengajak Budi bekerja.
“Ini, pak Tino. Saya mau ke rumah bu Aminah. Eh, liat ada keponakan di sini” jawab bu Kusno.
“Iya bu, memang dia ikut saya. Ya walau nggak seberapa, tapi lumayankan, daripada nganggur” kata pak Tino.
“Kamu ini gimana sih, Bud. Kalo bude yang nolongin kok nolak mulu. Kalo pak Tino yang ngajakin kok langsung mau?” tanya bu Kusno.
“Memang Budi mau dikasih kerjaan apa bu Kusno? Kalo kerjaannya enak dan bayarannya gede sih, kita juga mau, bu” sahut salah satu dari tiga kuli tadi.
“Ada dua,”
“Dua? Satu buat kita kenapa, bu?” sahut orang itu.
“Iya, bu. Emang apa kerjaannya, bu?”
“Nguras septik tank WC. Udah penuh tuh, sama e*k. Nyari tukang sedot wc nggak nemu – nemu” jawab bu Kusno, seperti kemarin.
“Hmpf. Ha ha ha ha, nyedot WC” tawa orang yang bertanya tadi.
“Nyedot e*k bu Kusno. Ha ha ha ha” sahut yang satunya.
“Weeek, jijik, bu. Buat kamu aja, Bud. Cocok banget buat kamu. Sama – sama ta*. Ha ha ha”
__ADS_1
“Hus, ngomong sembarangan” bentak pak Tino.
“Lha wong sama – sama nggak berguna lagi. Sekampung juga iklas kehilangan dia. Nggak bakal ada yang nyariin”
“HEEH, itu keponakanku, ya. Tai, tai. Mulutmu tu ta*. Denger nggak, ngger? Kamu dikatain begitu” bentak bu Kusno. Membuat ketiga orang itu bingung dan terdiam.
“Daripada kamu kepanasan nyangkul, capek. Udah, mending ikut bude. Nguras septik tank sih, enteng” lanjut bu Kusno.
“Hmpf. Ha ha ha ha” ketiga kuli itu tertawa terbahak – bahak.
“Udah, sono aja, ikut budemu. Ha ha ha ha” kata salah satu dari mereka.
“Nanti bayaranmu juga tetep kok. biar aku yang mintain ke pak Tino. Minimal setengah hari deh. Ha ha ha” sahut yang satunya.
Budi masih berusaha menahan amarahnya. Ketiga orang itu sebenarnya masuk kriteria untuk dia berikan tindakan. Mereka semua laki – laki. Dikeroyok bertiga juga dia tidak mundur. Tapi tujuannya kesini adalah mencari rejeki, bukan berkelahi.
“Iya, kasihan kamu nyangkul. Di jakarta kan, kamu pegangnya to***, empuk” ledek salah satu kuli itu.
“Bulet, mont**” sahut yang lain.
“Oh, kamu selama di jakarta suka pegang to***? Pegang me*** juga dong pastinya?” tanya bu Kusno vulgar.
“Ya masa enggak bu? Diobok – obok juga pastinya” sahut kuli itu.
“Pasti juga die***” sahut yang satunya.
“Dipe***** “ sahut yang satunya lagi.
“Oh, gitu. Ya wajarlah, keponakanku kan ganteng, gagah, nggak kaya kamu, kamu, kamu. Butek” kata bu Kusno. Lagi – lagi ketiga orang itu terdiam bingung.
“Jadi gig*** aja, gimana?” tanya bu Kusno.
“Wuuu, gig***kang”
“Aku mau dong bu” sahut yang lain.
“Tu, mereka aja mau. Yuk, ada yang lagi nyari” kata bu Kusno.
__ADS_1
“Aku aja bu” sahut si kuli.
“Heh, ini buat keponakanku, bukan buat kalian. Nyahut aja kerjaannya” bentak bu Kusno.
“Nggak usah peduliin umurnya, udah tua sih, enam puluhan” lanjut bu Kusno
“Hmpf. Ha ha ha ha, lunglit” kata salah satu kuli.
“Apa itu?” tanya temannya.
“Balung karo kulit. Enam puluh tahun, mau diraba apanya?”
“Ha ha ha ha ha” mereka tertawa sangat lepas.
Tiba – tiba pak Tino membungkuk ke arah kiri sambil tersenyum tanpa bicara. Sontak perhatian semua orang tertuju ke arah pak Tino membungkuk. Tak terkecuali dengan bu Kusno.
“Pak?” kata bu kusno.
“Tadi pamitnya kemana?”
Ternyata yang disapa pak Tino dengan membungkukkan badan adalah pak Kusno, pakdenya Budi. Pertanyaan bernada datar, tapi sanggup membuat bu Kusno terdiam. Dia tidak menjawab, tapi membalikkan badan lalu pergi ke tujuan yang sebenarnya.
“Maafin budemu ya, ngger! Jangan masukin ke hati! Pakde bangga, kamu mau bersusah payah cari rejeki sendiri” kata pak kusno sambil menepuk bahu Budi.
“Nggeh, pakde. Budi nggak marah kok” jawab Budi.
“Kalian bertiga, pulang aja. Nggak usah kerja di sini!” kata pak Kusno menunjuk ketiga kuli itu.
“Loh, kita kan kerja sama pak Tino, bukan sama pak Kusno” elak salah satu dari mereka.
“Aku mandornya di sini. Aku yang pegang duitnya. Terserah aku mau bilang apa. Kalian nggak terima? Mau aku polisikan?” kata pak kusno dengan nada marah.
“Tapi pak?”
“MINGGAAT!” bentak pak kusno penuh emosi.
Budi sampai harus memegangi pakdenya itu. Karena pak kusno mau melemparkan cangkul yang dipegang Budi. Ketiga kuli itu berlari terbirit – birit. Budi lega, pakdenya datang membelanya.
__ADS_1