
Setelah makan, Budi mengajak Erika untuk melihat kondisi motornya dan motor Putri. Dia mengarahkan mobil Erika ke rumah warga tempat kedua motor itu dititipkan.
“Assalamu’alaikum”
Budi memberikan salam, setibanya di depan rumah tujuannya.
“Wa’alaikum salam” jawab sang tuan rumah.
“Eh, mas Budi. Adiknya, gimana kabarnya? Udah sembuh, kah?” tanya si tuan rumah.
“Masih di rawat, pak” jawab Budi.
“Silakan masuk mas, Budi!” kata si tuan rumah, mempersilakan.
“Terimakasih, pak. Kami hanya ingin mengecek kondisi motor kami. Mungkin sebaiknya, saya di luar saja” tolak Budi, halus.
“Oh. Begitu, ya? Ya sudah kalau gitu” komentar si tuan rumah.
“Motor kalian, aman di sini” lanjutnya.
Budi tidak menjawab. Dia mulai fokus memperhatikan motornya dan motor Putri. Dia menganalisa apa saja yang perlu diperbaiki, atau mungkin perlu diganti. Beberapa saat kemudian, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kami nitip lagi ya, pak. Mungkin besok atau lusa kami ambil” kata Budi.
“Tenang. Aman sama saya” jawab si tuan rumah.
“Ajakin ke dalem dulu, pak. Tehnya di dalem”
Terdengar seruan dari ambang pintu depan. terlihat seorang wanita seumuran si tuan rumah. Siapa lagi kalau bukan istrinya.
“Walah. Kok repot-repot segala, bu? Kita cuman bentar, kok” seru Erika.
“Cuman air kok, mbak” jawab wanita itu.
“Hayu! Rejeki jangan ditolak!” ajak si tuan rumah.
“Waduh. Jadi ngerepotin nih, pak” jawab Budi.
“Enggak” sahut si tuan rumah.
Merekapun masuk ke ruang tamu. Si tuan ruamh langsung mempersilakan Budi dan Erika untuk meminum teh hangat yang sudah terhidang. Tanpa diminta dua kali, mereka menuruti permintaan si tuan rumah.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, kalo bapak boleh tahu, mas Budi ini apa gabung lagi sama mas Sandi?” tanya si tuan rumah. Sontak Budi terkejut.
“Loh. Kok bapak punya pertanyaan semacam itu, apa bapak mengenal siapa saya?” tanya Budi. Sia merujuk pada jati dirinya, bukan sekedar nama.
“Rasanya saya juga nggak asing sama bapak. Tapi siapa, mohon maaf, saya kok lupa, pak” lanjut Budi.
“Makanya, jangan suka bolos! Mentang-mentang orang Indonesia asli, tiap pelajaran bahasa Indonesia selalu bolos. Giliran ditanya kata depan sama kata sambung bedanya apa, nggak tahu. patut dipertanyakan ini, asli Indonesia apa pindahan dari filipina, ini?” sahut si tuan Rumah.
“Allohu Akbar. Pak Syukur?” seru Budi.
“Nah, kan. Inget” komentar si tuan rumah.
“Ya Alloh, bapak. Hormat saya, pak” kata Budi sambil sungkem kepada si tuan rumah yang dia panggil pak Syukur itu.
“Iya, ngger, iya. Alhamdulillah, kamu masih inget sama bapak” jawab pak Syukur.
Budipun bangkit dari sungkemnya, dan kembali duduk. Terlihat ada yang meleleh dari pelupuk matanya.
“Alhamdulillah. Bapak masih diberi panjang umur” komentar Budi.
“Alhamdulillah juga, adikmu nggak badung” sahut pak Syukur.
“Tapi kenapa dia bisa berurusan sama dua orang itu? Apa kamu berurusan lagi sama duniamu yang dulu itu?” tanya pak Syukur.
“Loh. Memangnya bapak tahu soal dua orang itu, pak?” Budi balik bertanya.
“Jauhi mereka selagi bisa, mas Budi!” saran pak Syukur.
“Saya pernah melihat dua orang itu, beberapa bulan yang lalu” lanjut pak Syukur.
“Dimana, pak?” tanya Budi.
Pak Syukur tidak langsung menjawab. Dia membuka ponselnya, dan menunjukkan sebuah video. Video penagihan hutang dengan kekerasan oleh dua orang.
“Loh, iya. Sama, pak” kata Budi, mengomentari kedua orang dalam video itu.
“Mereka itu anggota dari sindikat pembunuh bayaran” kata pak Syukur. Sontak perhatian Budi teralihkan pada pak Syukur.
“Yang ditagih itu adik saya. Di sana dia sukanya main ke nigh club. Dugem mulu kerjaannya. Dan sukanya dugem di bar yang ada tempat judinya. Ada beberapa bar yang punya casino tersembunyi. Hampir tiap malam dia berjudi. Hasil nyopir dia habisin buat berjudi. Bukannya untung, dia malah utang mulu. Sampe numpuk nggak bisa Bayar. Dateng deh dua orang itu. Yang di video itu udah tenggat waktu. Kalo sampe nggak bisa bayar, ancamannya digorok lehernya. Abis sawah berhektar-hektar bapak jual demi bayarin utang dia. Untung masih sempet. Kalo kelewat aja, nggak kebayang deh, apa yang bakal terjadi” lanjut pak Syukur menjelaskan. Budi manggut-manggut mengerti.
“Mereka sebut nama nggak, pak?”
__ADS_1
“Enggak, sih. Tapi kata adik saya, sindikat mereka bernama golok setan. Kata dia, gorokan leher itu hanya gertakan. Tapi aslinya, pasti dibuat hilang dulu. Dan matinya si korban, dibuat seolah kecelakaan”
“Tapi kemarin mereka berani menembak di keramaian, pak?” tanya Erika.
“Saya kurang mengerti urusan premanisme apalagi sindikat” jawab pak Syukur.
“Yang paling penting adalah, mas Budi jangan kembali lagi ke dunia mas Budi yang dahulu! Terlepas apapun masalahnya, kasihan adiknya, kalau jadi sasaran mulu” saran pak Syukur.
“Saya tidak kembali sama Sandi, pak. Saya sudah mantap buat mundur. Saya sudah bekerja, dan saya juga punya usaha. Alhamdulillah, sudah cukup kok, buat makan” kata Budi menjelaskan statusnya.
“Loh. Terus, kenapa bisa berurusan dengan orang-orang itu?” tanya pak Syukur heran.
“Bukan adik saya pak, yang sebenarnya mereka cari, melainkan yang dibonceng Putri” jawab Budi.
“Oh. Kenapa dibantuin?”
“Eemm” Budi bingung harus menjawab bagaimana.
“Putri kan orangnya penolong, pak. Pasti dia tidak bisa tinggal diam, melihat ada orang yang diberondong peluru. Kalau dia merasa mampu, ya sudah bisa ditebak sikap apa yang akan dia ambil. Pasti dia akan membantu menyelamatkan orang itu, pak” kata Erika, membantu Budi menjawab.
“Kalau boleh tahu, adik bapak tinggalnya di mana, pak? Dan nama bar yang menyewa sindikat itu, namanya apa, pak?”
Pak Syukur memberikan sebuah catatan buat Budi. Kertas dari buku saku itu dia sobek, lalu dia berikan kepada Budi.
“Baik, pak. Terimakasih atas informasinya. Kami akan teruskan ke pihak yang berwenang” kata Budi.
“Sama-sama, ngger. Cuman itu yang bapak bisa bantu” jawab pak Syukur.
“Kalau begitu, kami langsung pamit ya, pak?”
“Loh. Kok buru-buru amat? kita makan siang dulu, lah”
“Terimakasih pak Syukur. Tapi kami baru saja makan. Ini, kami mau ke rumah sakit” tolak Budi.
“Oh. Ya sudah kalo gitu. Ati-ati, ya!” komentar pak Syukur, sambil menerima uluran tangan Budi.
“Baik, pak. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Mereka langsung pergi ke rumah sakit. Budi sempat memerintahkan kang Supri untuk mengambil motornya dan motor Putri, untuk selanjutnya dibawa ke bengkel, untuk diperbaiki. Sesampainya di rumah sakit, ternyata bu Lusi dan Adel sudah tidak ada di sana. Hanya tinggal Madina, yang sama sekali tidak mau meninggalkan Putri. Tapi ada tamu lain yang sedang berkunjung.
__ADS_1