
Siang hari ini, udara terasa lumayan terik. Kipas mushola ini rasanya tidak cukup sejuk. Membuat ibadah sholat dzuhur kali ini terasa lebih menantang. Setelah sholat ini, Budi bermaksud untuk pergi ke kantin. Hari ini dia tidak ingin makan ke luar. Dia ingin makan di kantin saja.
“Bud”
Seseorang menyapanya saat sedang memakai sepatu. Sontak dia mendongakkan kepalanya. Ternyata yang memanggilnya adalah orang yang paling berkuasa di tempat ini.
“Ya pak. Ada yang bisa saya bantu?” sahut Budi.
“Kamu udah makan?” tanya pak Paul.
“Belum, pak. Baru mau ke kantin” jawab Budi.
“Em, kita makan di sana aja”
“Maksud bapak?
“Bapak butuh bantuan kamu”
“Bantuan apa pak?”
“Bapak dapet undangan dari kolega lama. Temen kuliah dulu. Dia nikahin anaknya hari ini. Kamu temenin saya ke sana, ya!” pinta pak Paul.
“Oh, baik pak” jawab Budi tanpa ragu.
Di lihat dari sisi manapun, dia berpikir, memang harus mau. Di lihat dari sisi pekerjaan, perintah pak Paul adalah tugas untuknya. Sekalipun itu menjadi supirnya. Di sisi lain, dia telah berhutang jasa pada pak Paul, di saat ibunya sakit.
Ternyata tempat hajatan ini cukup jauh juga dari lokasi pabrik. Mengarah ke timur, tapi melewati jalan baru di sisi selatan kota. Sepanjang jalan ini adalah tempat yang asyik untuk berduaan dengan kekasih. Dengan mengendarai motor, pastinya.
Saat sampai, terlihat rombongan pengantin sudah datang. Karena jam di mobil sudah menunjukkan pukul tiga belas tepat. Pak Paul menunggu rombongan pengantin menyelesaikan prosesi pertemuan kedua mempelai dalam adat jawa. Barulah kemudian beranjak turun.
Baru juga mau bersantai, ternyata pak Paul juga mengajaknya untuk turun. Walau terkesan aneh, tapi dia tidak bisa menolak. dengan tertawa kecil, dia ikut turun dari mobil.
Saat mulai memasuki area hajatan, budi melihat Adel sedang tampil, membawakan sebuah lagu campur sari. Bukan lagu campur sari asli memang, lagu kontemporer dalam bahasa jawa. Iringan musik yang setengah dangdut, membuat beberapa tamu bergoyang. Bahkan beberapa orang juga mendekat dan memberikan saweran.
Pak Paul memberi isyarat untuk ikut naik ke panggung pelaminan, berfoto bersama kedua mempelai. Tapi Budi menolak dengan bahasa isyarat. Dia memilih untuk duduk di kursi yang berada di barisan belakang. Dari tempat itu, Budi bisa menonton dengan jelas, penampilan panggung Adel. Tapi tidak dengan Adel.
Dia yang sama sekali tidak mendapatkan kabar kalau Budi akan datang, benar-benar tidak mengetahui keberadaan Budi. Dia asyik menyanyi, bergoyang, dan menerima saweran.
“Aih, bisa goyang juga ternyata ya?” goda Adel pada seorang lelaki.
“Bisa dong” jawab lelaki itu.
“Awas jangan nempel! Lemes lho” goda Adel lagi.
Dia terlihat tidak menolak saat ada lelaki yang mepet-mepet tubuhnya saat bergoyang. Saat membawakan lagu yang ke dua, dia berduet dengan salah satu tamu. Goyangannya semakin panas saja.
“Masnya goyangnya berani banget, nggak takut sama istrinya, apa?” goda Adel. Di sela-sela menyanyinya.
“Aku belum punya istri” jawab lawan duetnya.
“Jomblo?"
“Jomblo mbak”
“Pantes, nyarinya biduan. Kita goyang lagi, ya! Masnya ke sini!”
Dia tidak menegur saat lawan duetnya mengeluarkan godaan bernada vulgar padanya. Dia malah menanggapi godaan itu dengan kata-kata vulgar juga. Bahkan dia malah memposisikan tamu itu nyaris menempel ke tubuh bagian belakangnya.
“Siap, ya! ikuti iramanya! Satu, dua, tiga, empat. Ha ha ha”
Adel menghitung goyangannya sesuai dengan irama musik. Lelaki itu mengikuti gerakan goyangan Adel. Hampir saja ******** lelaki itu menyentuh ke pantat Adel.
Pak Paul hanya tertawa kecil saat melihat Budi begitu fokus pada penampilan Adel. Sampai tidak sadar kalau nasi rames yang dia makan sudah habis. Dia masih menyendok lagi piring yang sudah bersih dari nasi.
Lagu itu belum berakhir saat Budi dan pak Paul telah menghabiskan jamuan hajatan itu. pak Paulpun mengajak Budi untuk kembali ke pabrik.
Sempat tergagap Budi, saat diajak pulang. Membuat pak Paul tertawa. Di saat Budi garuk-garuk kepala itulah, secara kebetulan, Adel melihatnya.
Seketika Adel terdiam. Bagai disengat petir, dia tertegun untuk beberapa saat. Pandangannya tertuju pada satu titik, Budi.
Karena dia sudah profesional, dia bisa mengkamuflasekan keterkejutannya itu dengan goyangan. Sehingga orang lain tidak menyadari keterkejutan Adel. Kalaupun ada, hanya satu orang saja, Tati. Dia paham apa yang dilihat Adel. Walaupun bukan masalahnya, tapi dia juga ikut merasa was-was.
“Kamu kenapa berhenti goyang, sih? Ayo goyang lagi!”
Lelaki yang terlanjur dikasih hati oleh Adel, menagih goyangannya lagi. Karena bagi dia, lagu yang dia minta belum selesai. Tapi Adel menolak. Dia tetap meneruskan menyanyi, tetap tersenyum, tapi menolak untuk bergoyang panas seperti tadi.
“Eh, kamu niat tampil nggak sih? Yang kaya tadi, goyangnya!” seru orang itu lagi.
Adel hanya diam tidak menjawab. Akhirnya pihak keamanan mengamankan orang itu. Dia ditengarai baru saja mengkonsumsi minuman keras.
Budi langsung melajukan mobil pak Paul pergi dari tempat hajatan itu. Berbagai macam praduga berseliweran di kepalanya.
__ADS_1
Apakah ini adalah kebetulan, atau memang adel seperti itu? Baginya, Adel yang dia kenal, Adel yang dia suka adalah Adel yang anggun dan elegan penampilannya.
Dari perjumpaan pertama, dan kali kedua melihatnya mengisi acara di cafe itu, Budi selalu melihat penampilan Adel yang begitu mempesona.
Sosok itulah yang menggetarkan hatinya. Sosok itulah yang membuatnya jatuh cinta. Tapi dia juga berpikir, terlalu jahat kiranya, kalau menuduh Adel hanya dari satu kebetulan saja. Kalaupun benar begitu adanya, bukan salah Adel juga. Namanya juga biduan, sangat wajar kalau dia menggoyangkan tubuhnya menghibur para penonton.
*Ah, aku aja yang terlewat, nggak memperhitungkan sisi itu. Aku lupa kalo kemungkinan seperti itu pasti ada. Tapi apakah hanya dari satu kebetulan, terus aku ngambil sikap berlawanan? Kayaknya jahat banget*.
Budi terus menimbang dan memikirkan hal itu. Dia seolah terlupa, kalau bosnya duduk di sampingnya. Bukan di belakang seperti tadi. Dia terus tersenyum dan tergelak melihat Budi terus kepikiran dengan biduan tadi.
*Kalo lihat perubahan sebelum pulang tadi, sepertinya dia ada rasa takut sama aku. Emm kayaknya dia lupa kalo udah punya pacar. Biasanya kan emang ngak perlu mikirin orang lain. Jomblo kan bebas. Mau gimana-gimana juga, belum punya tanggung jawab. Kita jadian baru kemarin. Ngubah kebiasaan, emang nggak gampang. Sabar aja, Bud! Lo juga bukan makhluk sempurna. Nggak usah sok deh, nuntut kesempurnaan dari dia! Maklumin aja, terima aja! cepat atau lambat, dia pasti akan ngerti. Toh dia tadi udah nunjukin rasa takutnya, kan*?
Dia manggut-manggut sendiri, membuat pak Paul tertawa lagi. Tapi seperti sebelumnya, Budi bahkan tidak mendengar tawa atasannya itu.
“Selera kamu bagus juga, ya?” celetuk pak Paul sambil menepuk pundak Budi.
“Eh, maksud Bapak?” tanya Budi terkejut mendapatkan tepukan.
“Ya. Dari lima sinden yang ada, kamu liatnya yang itu aja. Nggak ngelirik yang lain” jawab pak Paul.
“Kan yang lagi perform emang yang itu, pak” kilah Budi.
“Iya, sih. Tapi kalo sampe bengong mulu kaya gini, kamu nggak bisa ngelak. Kamu ada rasa kan, sama dia?” tembak pak Paul.
Budi tersentak. Dia tidak bisa mengelak lagi. Dia hanya meringis malu sambil garuk-garuk kepala. Pak Paul tertawa dengan kerasnya. Dia memberi wejangan, agar Budi berani mengejar apa yang dia mau. Seperti yang sudah dia lakukan di tempat kerja, lakukan juga pada biduan itu.
“Buat dia mengenalmu, dan taklukin hatinya!” tutup pak Paul.
Di tempat lain, Adel sedang gelisah. Berkali-kali dia menghubungi Budi, tapi tidak diangkat. Teman-temannya bingung melihat sikap Adel yang aneh. Tapi sejauh ini, mereka hanya bisa menebak-nebak. Karena Adel belum mau menjawab.
“Udah, del. Paling lagi di jalan. Kan sama bosnya, nggak mungkin kan mainan hape? Di silent tuh, hapenya”
Tati mencoba menghibur sahabatnya. Tentunya hanya Adel yang bisa mendengar suara Tati. Dia berbicara di dekat telinga Adel.
“Ya Alloh, gimana ini, Ti? Aku takut banget dia marah” jawab Adel.
“Enggak bakal. Percaya, deh!”
“Dari mana kamu bisa yakin?”
“Dia pasti udah tahu konsekuensinya punya pacar biduan. Pasti udah diperhitungkan” jawab Tati.
“Ha ha ha. Emang tadi sarapan apa, non?”
“Sarapan omelan bapak, lah. Apa lagi?”
“Iya deh, sabar ya! Yakin aja, mas Budi nggak akan marah!”
“Amin” jawab Adel.
Dia masih gelisah. Seperti apa kata Tati, dia berharap kalau hape Budi di silent. Dia menuliskan permintaan maafnya lewat pesan singkat. Dia memohon agar Budi tidak meninggalkannya. Dia juga berjanji, tidak lagi bergoyang panas begitu lagi. Apalagi sampai menggoda tamu seperti tadi.
Sampai di pabrik, Budi langsung kembali bekerja seperti biasanya. Dia sudah iklas dan menerima kekurangan Adel. Dia menerima kalau Adel suka melakukan itu di atas panggung. Hanya saja dia juga berdoa, supaya Adel mau berubah.
“Bud, hapemu kenapa sih? Ditelpon dari tadi nggak diangkat-angkat?”
Budi tersentak mendengar suara perempuan menegurnya. Dia yang sedang asyik diskusi dengan pak Teguh, sontak balik kanan.
“Loh, iya. Hapeku di mana, ya?” respon Budi kebingungan.
“Hapemu ilang? Kok masih nyambung? Jatuh?”
“Sebentar, van! Aku inget-inget dulu” pinta Budi. dia mengingat-ingat beberapa saat.
“Oh, iya. Kan tadi aku cas di kantor. Di atas CPU, Van. Tadi aku silent, emang. Hehe” jawab Budi begitu ingat.
“Hu, gimana sih? Untung bukan bini yang nyelip” komentar Stevani.
“Heis, belum punya. Kenapa, ada perlu apa, Van?”
“Ada reques dadakan nih, urgent” jawab Stevani. Dia memberikan berkas unit yang dipesan.
“Kirim kapan?” tanya Budi.
“Hari ini, jam lima”
Budi melihat lembar jadwalnya, kemudian melihat ke arah tembok belakang. Dalam pikirannya dia sedang mensimulasikan tim welding.
“Aku diskusiin bentar sama pak Teguh, ya? lima menit lagi, aku kabari”
“Oke. Ditunggu kabarnya” jawab Stevani.
__ADS_1
Sepeninggal Stevani, Budi langsung berdiskusi dengan leader departemen frame.
Budi senang, apa yang menjadi pemikirannya ternyata disanggupi oleh pak Teguh. Bagi pak Teguh, pola pararel yang diminta Budi, masih bisa dilaukan, sekalipun menjadi tantangan tersendiri.
Selanjutnya dia menemui Riki. Da meminta Riki untuk menyiapkan satu slot anyaman untuk unit dadakan ini. Bu Tami, yang kebetulan lewat, langsung dipanggil oleh Riki. Mereka langsung berdiskusi tiga arah. Dan ternyata Bu Tami menyanggupi permintaan itu.
Budi pergi ke kantor, tapi tidak ke kubiknya sendiri. Dia langsung menuju kubiknya departemen marketing. Dia menemui Stevani dan mengatakan kalau apa yang menjadi permintaannya disanggupi oleh bagian produksi. Stevani terlihat lega. Seolah request yang satu ini adalah hidup dan matinya dia di perusahaan ini.
Budi pamit untuk kembali ke jalur Frame. Dia harus memastikan kalau ide yang dia sampaikan tadi terlaksana sebagaimana yang dia maksudkan. Saking seriusnya mengawal unit dadakan itu, dia sampai lupa lagi dengan ponselnya.
Adel masih tampak gelisah. Berkali-kali dia telepon Budi belum juga dijawab. Dia kirimkan pesan singkat berkali-kali juga tidak direspon. Sampai sore ini juga, sama sekali ada kabar dari Budi. Dia tersentak saat pembawa acara memanggil namanya untuk kembali naik ke atas pentas.
“Ti, abis lagu ini, aku pamit, ya. aku mau pulang” kata Adel.
Tati tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak sempat menjawab. Karena Adel bilangnya sambil berjalan menjauh. Tati hanya menghela nafas berat. Dia tergelak saat Nike bertanya kenapa.
Adel tetap berusaha membawakan lagui itu sebaik mungkin. Tetap tersenyum dan bercanda ringan. Sehingga para tamu tetap menikmati penampilannya. Tetap ada yang menyawernya, sekalipun para tamu kini tahu, Adel tidak mau diajak goyang panas seperti sebelumnya.
Mereka seperti merasakan, kalau Adel sedang ada masalah. Dan mereka yang menyawernya, sempat memberikan kata-kata penyemangat dengan mikrofon. Adel tak kuasa menahan air mata, mendengar perhatian tulus dari penggemarnya.
Diucapkannya rasa terimakasih kepada orang itu. Dan orang itu bilang, bahwa dia dan penggemar Adel lainnya akan selalu support dan sopan kepada Adel. Tepuk tangan dari segenap tamu bergemuruh membahana. Membuat lagu yang sendu itu, semakin mengharu biru.
“Kamu beneran pulang duluan?” tanya Tati.
“Iya. Bawa motor, ini” jawab Adel.
“Kamu kenapa sih, Del? Cerita dong!” pinta Nike.
“Entar aja ceritanya” tolak Adel.
“Om Diki, aku pulang dulu, ya?” pamit Adel.
“Ati-ati di jalan, ya! Apapun masalahmu, tetep safety riding!” pesan om Diki.
“Iya, om. Makasih” jawab Adel. Di langsung pergi.
Sudah menjelang jam pulang, Budi kembali ke kubiknya. Pastinya semua target di departemen Frame tercapai.
Dia terkejut saat melihat layar ponselnya. Sudah ada tiga puluh panggilan tak terjawab, dan dua belas pesan masuk. Dan kesemuanya, bersumber dari satu orang, Adel. Membaca tulisan demi tulisan dalam pesan singkat itu, Budi tersenyum.
*Alhamdulillah, ternyata Adel mau berubah. Semoga dia istiqomah buat nggak lagi goyang seronok gitu*.
Budi berinisiatif untuk menelepon balik kekasihnya itu. tapi tidak mendapatkan jawaban. Sampai lima kali dia telepon, tak juga kunjung mendapatkan jawaban.
*Kayaknya lagi perform, deh. Ya udah, entar lagi aja. kalo udah kelar perform kan pasti telepon balik*.
Dia kantongi ponselnya. Lalu dia membereskan lembar kontrol progresnya, memasukkannya ke dalam laporan harian.
Di tempat lain, Adel sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Dia langsung meluncur tanpa berganti pakaian. Dia masih memakai kebaya, masih dengan makeup penuh. Dia merasa sudah tidak punya waktu lagi. Hatinya terlalu sumpek untuk mengurusi penampilannya. Baginya sekarang, kesalah-paham ini harus diluruskan secepat mungkin.
Tiba saat bel tanda pulang berbunyi, Budi sudah selesai dengan laporannya. Dia langsung pamit pada Aldo dan Riki.
Masih ada satu tugas yang rutin harus dikerjakannya setiap sore. Karena keduanya juga sudah siap untuk pulang, akhirnya mereka berjalan bersama menuju parkiran.
Tiba di gerbang depan, Budi berhenti. Ada anggota tim Welder yang menanyakannya mengenai bengkel vespa. Budi turun dari motornya, dan berbincang sambil berdiri. Budi memberitahunya sesuai yang dia tahu. Tiba-tiba Budi dikejutkan dengan sebuah tarikan di tangan kanannya.
*Adel*?
Mata Adel tampak sembab, dia terus menarik Budi hingga menjauh dari pintu gerbang. Mungkin di jarak lima belas meter.
Budi tersenyum. Dia bisa membaca kalau Adel sangat hawatir kalau dirinya marah. Sampai-sampai dia menyusul ke pabrik, masih dengan penampilan yang sama dengan yang dilihatnya tadi siang.
“Bram, tata minta maaf, ya? Tata hilaf” kata Adel langsung pada inti permasalahan. Budi tersenyum.
“Bram, jangan cuman senyum, dong! Bilang apa, kek! Tata beneran lupa, kalo tata udah punya abram. Tata beneran lupa, kalo tata udah punya hati yang harus tata jaga. Tata minta maaf, bram” lanjut Adel.
“Iya, armataku sayang. Abram ngerti, kok. Tadi abram juga lihat, gimana tata berubah sikap. Sampe-sampe terjadi keributan sama orang mabuk, kan?” jawab Budi. mata Adel lekat menatap mata Budi.
“Buat Abram, itu adalah usaha yang luar biasa” lanjut Budi.
Adel masih menatap lekat mata Budi. dia masih mencari kebenaran atas kata-kata itu.
“Iya, sih. Abram cemburu. Tapi abram sadar, ngerubah setingan itu, nggak semudah ngegoreng ikan. Butuh waktu dan usaha terus-menerus. Tata langsung nunjukin itu seketika aja, abram rasa itu sebuah kehormatan buat abram” lanjut Budi lagi.
“Abram nggak marah sama tata?” tanya Adel.
“Enggak, abram udah bisa nerima kok, untuk yang tadi” jawab Budi.
Seketika adel maju dan memeluk Budi dengan serta-merta. Praktis mereka langsung mendapat sorak-sorai dan tepuk tangan dari para karyawan yang hendak pulang.
Adel tampak tidak peduli. Terlalu lama sudah dia memendam rasa hawatir itu. Dan ingin dia tumpahkan semua rasa lega di hati dengan memeluk sang pujaan hati.
__ADS_1