Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sakitnya kepalaku sekarang ini, nggak lebih sakit dari makianmu


__ADS_3

Budi sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi masih pusing jika harus berjalan sendiri. Masih perlu bantuan untuk menjaganya agar tidak terjatuh, saat orientasinya mulai kacau.


Semenjak ditinggal sandi tadi, beberapa tamu terus berdatangan. Termasuk juga pak Paul. Dia datang bersama Erika. Pak Paul menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang dialami Budi. Dan mendoakan agar Budi cepat sembuh.


Saat Erika mengantarkan pak Paul saat pamitan, Budi kembali tenggelam dalam lamunannya. Dia tidak habis pikir, ada wanita yang sesadis itu di dunia ini. Tanpa perasaan, wanita itu menghancurkan hubungannya dengan Adel hanya dengan sebuah pesan singkat.


*Pesan singkat? Gimana ceritanya Vani bisa pegang hapenya? Siapa polisi yang bisa dia suap? Segampang itu dia bisa dapetin hapenya lagi. Masa aku harus nyurigain semua orang*?


Budi mengulang kembali ingatannya sejak seminggu yang lalu. Terakhir bertemu Stevani, Budi ingat Stevani akan mengucapkan sumpah, tapi terpotong dering ponselnya. Pulang dari polres, dia kecelakaan. Dan terus dia putar ingatannya sampai penangkapan pelaku pembakaran.


Haaaah. Ta, kenapa kamu segampang itu percaya sama tulisan itu? Apa kamu udah mikir dulu sebelum maki-maki aku? Apa kamu udah simulasikan keadaannya, sebelum kamu ngehardik aku? Ta, sakitnya kebanting di aspal, bahkan sakitnya kepalaku sekarang ini, nggak lebih sakit dari makianmu. Tanpa bertanya kamu bikin aku kaya anj*** budukan. Ya Alloh, ya Fattah. Berilah hamba petujuk, untuk mengurai benang kusut ini, ya Alloh!


“Hei, mikirin apa?”


Sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Ternyata Erika yang datang. Sejenak mereka saling pandang. Tanpa ada suara di antara mereka.


“Sabar ya, Bud! semua masalah, pasti ada jalan keluarnya” Kata Erika lagi, saat Budi melengos.


Budi memegangi kepalanya. Terasa pusing di bagian belakangnya. Seperti tidak mau dipakai untuk berpikir keras.


“Ratna, udah nyampe, Mbak?” tanya Budi.


“Bud, istirahat aja dulu! Banyak kok yang bantuin kamu”kata Erika, tanpa menjawab apa yang ditanya Budi.


Merasa tidak mendapat jawaban, Budi meraih ponselnya. Dan langsung menelepon Ratna yang sedang berada di berlin.


“Halo”


Terdengar suara lemah khasnya orang mengantuk. Budi tergelak. Kan panggilannya panggilan video. Jadi terlihat bagamana bentuk Ratna ketika tertidur.


“E eh, sory, Na. Masih istirahat, ya?” kata Budi.


“Eh, mas Budi?”


Sontak Ratna bangun dari tidurnya, begitu mendengar suara Budi. Terlebih saat menyadari kalau panggilan itu panggilan video. Terlihat dia cuci muka, lalu kembali lagi untuk mengambil ponselnya.


“Mas, udah sembuh?” tanya Ratna heboh.


“Udah” jawab Budi singkat. Tapi dengan senyum lebar.


“Alhamdulillah. Aku berasa kaya ayam keilangan induk tahu, denger mas Budi masuk rumah sakit” kata Ratna.


“Ampun si Ratna, aku nggak dianggep induk, nih?” seru Erika.


“Loh, ada mbak Erika, mas?” tanya Ratna dengan suara berbisik.


“Ada” jawab Budi sambil tergelak.

__ADS_1


“Aduh. Mati aku” keluh Ratna.


“Ha ha ha ha”


Suara gumaman Ratna yang cukup kencang, sampai juga di telinga Erika. Dia dan Budi tertawa mendengar ucapan Ratna itu.


“Semua aman, kan? Udah ketemu sama local asset?” tanya Budi.


“Alhamdulillah mas, aman. Perbekalan lengkap semua, utuh. Local asset udah ketemu. Dia juga yang anter aku ke hotel”


“Nggak minta nginep situ, kan?” goda Budi.


“Wooo. Jotos kalo sampe berani ngomong gitu” jawab Ratna heboh.


“Ha ha ha ha ha” Budi tertawa kencang.


“Oke. Entar pagi jadinya kemana dulu?”


“Eeem. Aku mau liat lokasinya dulu, mas. Kan entar pagi juga langsung dibagi, kavlingnya. Lanjut bikin sketsa, koordinasi lay out, baru nyari dekorasinya”


“Sip. Kabar-kabarin ya, kalo mau jalan!”


“Baik, mas” jawab Ratna.


“Na, mbak Rika TF. Udah masuk, belum?” tanya Budi asal.


“Tadi, yang buat ngopi?"


“Apaan? Gua ngomong apa-apa, juga”


“Ini, nih. Induk nggak bertanggung jawab. Pantes nggak dianggep. Ha ha ha ha” komentar Budi.


“Suek, lo Bud” seru Erika sambil menepuk paha Budi.


“Ha ha ha ha. Aduuh” Budi tertawa lagi. Tapi kemudian kepalanya terasa sakit.


“Nah, kan. Nah, kan. Jahil, sih” komentar Erika. Ratna tertawa karena candaan Budi.


“Ya udah, Na. Istirahat lagi, gih! Sory, kepagian nelponnya”


“Ya, mas Budi. Nggak papa, kok”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Selepas memutuskan sambungan telepon, Budi menuliskan beberapa buah catatan digital di ponselnya. Mencatat tentang Ratna di Berlin, Budi jadi teringat progres ekspo kabupaten. Ada beberapa agenda yang dia telewatkan. Mengingat agenda-agenda itu, Budi jadi teringat tentang agenda hariannya di bengkel kayu miliknya sendiri.

__ADS_1


*Haiih, Ta. Kenapa harus jadi kaya gini, sih? Selalu ada kamu disetiap aktivitasku. Selalu ada kamu yang ngelengkapin perjalananku. Apapun yang aku ingat, dirimu selalu muncul. Terhubung sama apapun yang aku lakuin. Ya Alloh, sakit banget hati ini ya Alloh. Lebih sakit dari kepala*.


Tanpa sadar Budi memejamkan matanya. Membiarkan ponselnya terjatuh begitu saja di dadanya. Keberadaan Erika seolah hilang dari ingatannya. Bukannya tidak tahu, tapi Erika sadar kalau Budi sedang kalut. Dia hanya bisa membiarkan Budi tenang barang sejenak.


“Bud. Aku tahu kamu lagi pusing. Tapi please, letakkan dulu masalah itu! sembuh dulu, baru diurus” kata Erika, setelah beberapa lama.


“Huuuuffttt”


Budi menghela nafas berat. Perlahan dibukanya kembali kedua matanya. Dia menoleh kearah Erika. Seulas seyum tersungging manis untuknya.


“Aku belum pernah sekacau ini, mbak” kata Budi. Erika menggenggam jemari Budi.


“Semua orang pernah ngalamin kok, Bud. Cuman beda cerita aja” jawab Erika. Budi menatapnya tanpa senyum sedikitpun.


“Ada kalanya, melepaskan itu jauh lebih baik. Kalo emang yang di sana udah nggak mau bersama” kata Erika lagi. Budi mengernyitkan dahinya.


“Ya, aku tahu. Kamu pasti nggak suka. Seorang petarung, pasti akan milih berjuang sampe titik darah penghabisan” lanjut Erika. Ada senyum tipis tersungging di bibir Budi.


“Makanya, kamu mesti sembuh dulu. Jangankan buat tarung, kalo kamu masih sakit begini, “


Erika sengaja menggantung kalimatnya, memancing reaksi Budi. Sudah barang tentu Budi penasaran sama kelanjutan kalimat itu.


“Aku telanjang sekalipun, kayaknya kamu nggak kepikiran buat khilaf, deh” lanjut Erika. Kontan saja Budi melotot.


“Ha ha ha ha”


Erika tak kuasa menahan tawanya, melihat ekspresi melotot Budi.


“Ati-ati! Kepala atas sama kepala bawah kadang nggak konek. Kalo aku udah bisa jalan sendiri, kamu dalam bahaya, mbak” jawab Budi. Gantian Erika yang melotot.


“Itu namanya udah sembuh, Budi” komentar Erika, sambil mencubit pinggang Budi. Budi tergelak. Erika senang melihat senyum geli yang muncul di bibir Budi.


Dua hari kemudian, Budi sudah bisa berjalan dengan baik, tanpa bantuan orang lain. Sudah tidak pusing, sudah tidak bermasalah lagi keseimbangannya. Dokterpun mengijinkan Budi untuk pulang.


Seperti dua hari terakhir, hari inipun Erika sigap membantu Budi berkemas. Bu Ratih sampai tak enak hati melihat Erika tetap membantunya, sekalipun sepertinya Erika punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan.


Erika selalu bilang tidak apa-apa, waktu bu Ratih menyarankannya untuk kembali saja ke kantor. Erika juga mengatakan kalau tugasnya bisa dikerjakan di mana saja. Kalaupun harus kembali ke kantor, akan dia lakukan setelah mengantarkan Budi pulang.


Bu Ratih tidak berani menolak. Walaupun dia merasa kalau Erika ada maksud lain terhadap Budi, tapi ada orang paling berpengaruh di belakangnya. Bu Ratih tidak ingin karir anaknya bermasalah hanya gara-gara hal sepele. Menjelang siang, akhirnya Budi keluar dari rumah sakit.


Budi duduk di depan, menemani Erika. Sedangkan bu Ratih dan Putri duduk di tengah. Hampir di sepanjang jalan, Budi memejamkan matanya. Tapi bukan tidur.


Dia hanya sedih, mengingat kenangan-kenangan manis saat bersama Adel. Kenangan yang saling berhubungan satu sama lain itu, seolah berlomba-lomba untuk keluar. Dia baru membuka matanya saat merasakan mobil yang membawanya ini berganti arah dengan sudut cukup tajam. Ternyata sudah masuk ke gang ligkungan rumahnya.


Ada banyak tetangga Budi yang datang menjenguk. Tak peduli dulu kontra, sekarang para tetangga itu membaur lesehan bersama. Budi senang melihatnya. Persatuan terlihat lebih indah. Dan perbedaan pendapat, ternyata malah bisa menjadi pemanis. Bisa menjadi bahan untuk bercanda dan tertawa bersama.


*Ternyata masih ada setitik hikmah di balik sebuah musibah*.

__ADS_1


__ADS_2