Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
konyol


__ADS_3

“Bram. Kenapa?” tanya Adel.


Budi menatap wajah istrinya untuk beberapa saat.


“Kaya mimpi, Ta. Berasa abis naik roller coster. Naik, turun, muter sono, muter sini”


“Dan akhirnya kita dipersatukan juga, Bram” potong Adel.


“Iya. Akhirnya kita dipersatukan” jawab Budi.


Dia menatap Adel lekat-lekat. Riasan sederhana Adel terasa sangat menawan di matanya.


“Saatnya kita naik tangga, Bram” kata Adel. Budi tersentak dari terpananya.


“Tata kasih yang lebih amazing dari roller coster. Dan, nggak dosa. Malah berpahala” lanjut Adel menggoda suami barunya. Budi tersenyum lebar.


“Nggak perlu lewat video call lagi dong?” tanya Budi.


“Nggak perlu” jawab Adel sambil tergelak.


“Kalo ketahuan ibu, nggak dimarahin lagi, kan?”


“Hempf. Ibu siapa?"


“Ya dua-duanya” jawab Budi.


“Kali, Tata iseng lagi” lanjutnya.


“Hempf. Ha ha ha ha” Adel tertawa, mengenang momen video call tiga arah.


“Oke. Kalo gitu, kasih liat dong, dikit!” pinta Budi.


“Ha? Masa di sini, Bram?” tanya Adel agak khawatir.


“Kenapa? Kan udah sah” sahut Budi.


Adel menatap Budi lekat-lekat. Dia menimbang-nimbang, apakah dia akan menuruti keinginan suaminya di tempat ini juga, atau membujuk suaminya agar mau ke kamar saja.


“Oke. Dikit, ya?” kata Adel setuju.


Dia melepas kancing demi kancing baju kebayanya. Memperlihatkan ********** yang berwarna senada dengan kulitnya. Tinggal menarik turun tanktop cream itu, maka terpampanglah sedikit, apa yang diinginkan Budi.


“Heee. Kan?”


Budi dan Adel sama-sama terkejut mendengar seruan dari arah kamar itu. Tak lama kemudian, terdengar tawa dari arah yang sama.


“Abram, ih. Ketahuan, kan?” Sungut Adel. Namun dia tertawa juga, melihat suaminya tertawa.


“Yuk, ke atas, ih!” ajak Adel. Tak sekedar ajakan, Adel langsung menarik tangan Budi untuk beranjak.


“Ada apa, bu?” terdengar suara Madina beratnya.


“Kepo, deh”


“Ibu, iiih” sungut Madina. Melihat ibunya malah berlalu begitu saja ke kamar mandi belakang.


Namun dia segera mengalihkan pandangannya ke depan. Dia mencoba mencari jawaban atas seruan ibunya. Namun kedua kakaknya telah pergi dari ruang tengah.


“Aww”


Adel memekik terkejut, mendapati dirinya didorong Budi ke kasur, begitu masuk ke dalam kamar.


“Kunci dulu pintunya!” seru Adel.


*Bleemmm*


“Abraaam”


Tapi Budi sudah terlebih dahulu melompat dan mendarat di kasur empuknya. Dan dirinya langsung diterkam tubuh atletis Budi.


***


Pagi harinya, duo Madina dan Putri sudah sibuk di dapur. Sedangkan Stevani dan bu Ratih bersih-bersih dalam rumah.


Sambil memasak, duo sahabat itu juga asyik membicarakan kedua kakak mereka. Karena sampai jam enam lewat, Budi dan Adel belum juga terlihat turun dari lantai dua.


Di dalam kamar, baik Adel maupun Budi, sama-sama masih tertidur. Adel masih nyaman menikmati tidurnya dengan berbantal tangan kekar suaminya.


Namun sinar matahari pagi rupanya sanggup menerobos barikade gorden kamar Adel. Membuat Adel merasa silau dan perlahan membuka matanya.


*Silau amat*?


“Astaghfirulloh. Bram” pekiknya terkejut. Budi sampai terbangun karena suaranya.


“Ada apa, Ta?”


Saking terkejutnya, Budi langsung mengambil sikap waspada. Karena di benaknya, pertempuran yang terjadi seratus hari yang lalu masih terasa seperti baru kemarin saja.


“Udah jam enam lewat, Bram. Kita nggak subuhan” jawab Adel.


“Loh, lah? Udah terang aja?” respon Budi bingung.


“Ya orang udah jam enem lewat, Bram” sahut Adel.


“Terus, gimana dong?” tanya Adel.


“Hempf. Hi hi hi” Budi malah cekikikan.


“Malah ketawa. Abram, ih” sungut Adel sambil mengulurkan tangannya.


“Ha ha ha ha"

__ADS_1


Budi tertawa lepas, mendapati dadanya dicubit sang istri.


“Ya mandi, lah. Terus adzan”


“Kok Adzan?”


“Ya syaratnya gitu”


“Haaa? Kalo kedengeran Madin, alamat dicengin seharian, Bram” rengek Adel.


“Tata sih. Gaya-gayaan, nantangin. Giliran diterkam, ampun-ampunan” komentar Budi. Adel tersipu malu. Rona merah menghiasi pipinya.


“Abram, bener-bener” komentar Adel.


“Ini pinggul isinya tulang apa per daun, hem? Nggak ada capek-capeknya” lanjut Adel.


“Weees, Abram gitu loh” jawab Budi.


“Mau lagi?” godanya.


“Enggak” seru Adel heboh.


“Sini!”


“Awww. Udah siang, Abraaam” seru Adel berusaha menghindari terkaman Budi.


“Udah ah, entar malem aja” seru Adel sembari beranjak bangun.


“Pasti udah pada sibuk di bawah” lanjut Adel.


“Aauuhh”


“Kenapa, Ta?”


Budi beranjak bangun, melihat istrinya merintih saat baru saja berdiri. Adel duduk lagi di tepian ranjang.


“Gila. Berasa perawan lagi, Bram” jawab Adel.


“Hem?”


“Nyerinya ini lho, mirip”


“Tapi nggak ada darahnya, kan?”


“Nggak ada sih, Bram. Kalo ada sih, lecet dong? Tanggung jawab, lho!” jawab Adel. Budi tertawa mendengar kelakar istrinya.


“Yuk, Abram papah” ajak Budi.


“Nggak ah, Bram. Yang ada nggak jadi mandi, malah” tolak Adel sambil tersenyum menggoda.


“Enggak” kilah Budi sambil tersenyum lebar.


“Tuh, kan. Senyumnya ngibul banget” komentar Adel.


“Modus. Dari kecil juga Tata udah mandi sendiri, Abram” kilah Adel.


“Lha kan itunya lagi megar. Nyeri, bilangnya”


*Plak*


“Yuh”


“Sembarangan. Abram kata punya Tata, landak?” sungut Adel.


“Megar?”


Adel malah tertawa sendiri mengingat kata ‘megar’. Dan tawanya bertambah lepas, saat dia melihat sang suami menunjukkan ekspresi muka bingung.


“Udah ah, Tata mau mandi. Jangan modus!” seru Adel.


Dia berdiri kembali. Perlahan, dia mencoba berjalan lagi. Memang bisa, tapi langkah kakinya jadi agak aneh. Budi tertawa lirih melihat gaya berjalan istrinya itu.


Adel yang mendengar tawa lirih Budi, langsung menoleh dan berkacak pinggang. Namun itu hanya sesaat. Diapun kembali melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi yang ada di kamar itu.


Budi bangkit mengambil ponselnya. Dia memeriksa lalu-lintas pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Beberapa pesan singkat dari Aldo tentang pekerjaan langsung dia tanggapi. Termasuk pesan dari pak Paul yang mengatakan tentang rencana ibunya untuk ziarah ke tiga makam berbeda. Yang intinya, hari ini dia diberikan libur satu hari.


Budi tersenyum membaca pesan itu. Sebagai seorang lelaki, Budi tahu, pak Paul sedang berusaha untuk mendapatkan ijin darinya untuk menikahi ibunya.


Setelah itu, Budi beranjak untuk menyusul istrinya ke kamar mandi. Sempat Adel terkejut melihat kedatangan Budi. Namun kemudian dia hanya tersenyum penuh arti.


“Abram mau ngapain?” tanya Adel menggoda.


“Mau ikut mandi” jawab Budi dari luar shower box.


“Wudhu dulu, lah!”


“Ya bebersih dulu, kali” jawab Budi sambil masuk ke dalam shower box.


Adel tersenyum sambil mengambil sikap waspada, seolah sedang berhadapan dengan orang lain. Membuat Budi tertawa.


“Emang Tata udah kelar?” tanya Budi, sembari mengambil selang shower.


“Baru juga bebersih ini” jawab Adel. dia menunjuk area yang sama dengan yang sedang dibersihkan Budi.


“Ya udah, mandi biasa dulu aja. Toh keran wudhunya juga di situ” komentar Budi.


Adel hanya tersenyum sambil berkacak pinggang. Diapun menyalakan kembali shower bar yang ada di atas kepala.


Semburan airnya menyirami mereka berdua sekaligus. Budi acuh saja. Dia masih sibuk membersihkan sisa-sisa malam pertama semalam.


Adel masih saja asyik menikmati guyuran air. Sejuknya air itu membuat matanya terpejam. Sehingga dia tidak tahu, kalau dia sedang diperhatikan oleh sang suami.

__ADS_1


“Bram?”


Adel terkejut melihat Budi menatapnya lalu tersenyum lebar.


“Gitu amat ngeliatinnya?” tanya Adel.


Budi tergelak, namun tak langsung menjawab. Seperti sedang berusaha merangkai kata.


“Yang namanya permata, memang sangat indah” jawab Budi kemudian.


Adel tersenyum dipuji Budi sebagai permata. Tapi di antara senyum itu, terselip juga senyum geli, saat teringat bagaimana Budi memujinya sebagai mutiara di palung Mariana. Yang untuk mendapatkannya harus menyelam terlebih dahulu, bertemu paus, pari, ikan petromax, layur yang tidak pernah gosok gigi tapi merenges terus, bahkan harus berhadapan dengan hiu paling bar-bar.


“Di vila dulu aja, Abram nggak bosen-bosen ngeliatin wajah cantik Tata. Apalagi sekarang” lanjut Budi.


“Gombal” sahut Adel sambil tersenyum lebih lebar.


“Beneran” seru Budi sambil mengambil sabun cair.


“Balik kanan!” perintah Budi.


“Mau ngapain?” tanya Adel sambil berkacak pinggang. Raut wajahnya dia buat sok galak. Namun malah terlihat imut di mata Budi.


“Mau nyabunin tubuh istriku tercinta” jawab Budi sambil memegang pundak Adel, lalu memutar tubuh langsing itu.


“Tuh kan, modus”


“Hempf. Ha ha ha ha. Enggak”


“Terus ini?” tanya Adel sambil mengulurkan tangannya ke belakang, menggapai sesuatu.


“Enggak. Beneran, deh. Abram cuman mau nyabunin Tata” jawab Budi.


Adel tak lagi mendebat. Dia tersenyum memperhatikan setiap gerakan tangan suaminya di cermin. Dia sudah bisa membaca kemana arah tangan suaminya menuju. Namun dia tidak protes. Dia hanya tergelak, mendapati tebakannya benar. namun dia masih membiarkannya beberapa saat.


“Braam!” tegur Adel.


“Iya. Ini turun ke perut” jawab Budi.


Adel hanya tergelak dan geleng-geleng kepala. Dia menatap ke bawah, memperhatikan bagaimana perutnya memutih oleh busa dari tangan suaminya.


“Braam!”


Adel memekik kencang. Membuat Budi terkejut.


“Kenapa?” tanya Budi.


“Enggak” jawab Adel singkat.


Nada bicaranya ketus. Dia juga berkacak pinggang, membuat Budi tertawa.


“Braaam!” Adel memekik lagi.


“Kenapa?” tanya Budi sok tak mengerti.


Untuk kedua kalinya Adel merasa seperti tersengat listrik, saat Budi menyentuh sesaat salah satu titik di tubuhnya, namun dengan penekanan.


“Baaam!”


Untuk ketiga kalinya Adel memekik. Budi kembali tertawa.


“Abam bener-bener, ih” komentar Adel.


“Belum kelar, Ta”


Budi protes saat Adel menyalakan shower di atas kepala mereka. Namun Adel tidak menggubris. Dia membersihkan sabun di badannya sambil menatap kesal Budi yang beranjak dari jongkoknya.


“Abram harus tanggung jawab!” kata Adel sambil mematikan shower.


“Tanggung jawab apa?” tanya Budi sok tidak tahu.


Adel tidak menjawab. Dia menatap Budi kesal, dan menariknya keluar dari kamar mandi.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Budi tertawa melihat kelakuan istrinya. Tawanya semakin menjadi, saat dirinya didorong sampai terjerembab ke kasur sang istri. Dan Adel langsung menerkam sang suami dengan semangat empat-lima.


Dia tidak sadar, kalau di balik pintu kamar, ada seseorang yang sedang berdiri. Orang yang sedarinya ingin mengetuk pintu kamar, urung jadinya. Karena dia mendengar suara ranjang Adel yang seperti tertimpa benda besar dan berat. Lalu berderit lirih. Orang itupun hadap kiri maju jalan, kembali ke lantai dasar.


“Gimana, Put?”


Suara Madina menggema saat orang itu sampai di dapur. Dia tergelak.


“Untung semalem kamu ngajakin kita tidur di bawah, Din” sahut orang yang ternyata adalah Putri.


“Kenapa?” tanya Madin lagi.


“Kedengeran dari depan pintu” jawab Putri.


“Semalem, pasti lebih heboh lagi, deh” lanjut Putri.


“Sok tahu”


Bu Ratih yang baru saja masuk dapur, mengomentari ucapan Putri.


“Ha ha ha ha” Putri tertawa lepas, mendengar komentar ibunya.


“Kalo mereka tinggal di Arjosari, gimana dong, Put?” goda Madina.


“Waduh. Alamat ada yang baper deh, pengen buru-buru nyusul” jawab Putri.


“Sembarangan” protes bu Ratih.

__ADS_1


“Ha ha ha ha” Putri tertawa mendapat tepukan di pundaknya.


Merekapun kembali meneruskan acara memasak. Pagi ini, bu Lusi punya hajat, ingin melakukan syukuran. Meski tidak dibarengi dengan doa bersama. Hanya membagikan makanan kepada para pekerja bengkel, dan kepada para tetangga. Termasuk juga untuk di kirim ke sanggar seni, tempat Adel pernah bergabung menjadi seorang biduan.


__ADS_2