Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
penyergapan


__ADS_3

Sebuah kapal, dengan ukuran yang bisa disebut dengan yacht, merapat di dermaga. Tampak sangat mencolok, karena hanya satu-satunya di antara sekian banyak kapal penangkap ikan. Merekapun naik.


*Ngeeeeeeng*


Setelah mereka berlima naik, kapal itu langsung tancap gas, keluar dari dermaga tangkap ikan. Keempatnya masuk ke dalam ruangan kapal, menyisakan Budi yang berjaga di belakang, selayaknya satpam.


“Bos Iskander”


Sapaan salah seorang dari ketiga laki-laki itu berhasil menyita perhatian Budi. Dan betapa terkejutnya Budi, saat melihat ke dalam ruangan itu.


*Sandi*?


Terkonfirmasi sudah, siapa Iskander yang ketiga orang itu maksudkan. Tak lain dan tak bukan adalah Sandi. Mereka tampak berjabat tangan dengan senyum merekah.


“Bisa diperiksa, Nat?”


Suara yang sangat familiar di telinga Budi. membuat Budi tertegun beberapa saat. Namun dia segera bergeser posisi saat Sandi akan menoleh ke arahnya.


“Duduk dulu kawan! Biarkan Natasya ngecek donglenya dulu”


“Tapi bayaran kita cash kan, bos?” tanya salah satu dari ketiga laki-laki itu.


“Tenang aja! cash” jawab Sandi.


“Bos Daniel juga hadir malam ini. Jadi bisa dipastikan, cash” lanjut Budi.


“Mantap” seru mereka bertiga.


Budi penasaran dengan bos Daniel yang dimaksudkan Sandi. Sambil dengan pura-pura patroli, Budi menyempatkan diri menatap ke dalam ruangan.


Apa?


Budi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seseorang yang sangat tidak masuk akal baginya, bisa ikut dalam gerombolan Sandi. Saking tidak percayanya, Budi sampai tertegun cukup lama, dengan tatapan matanya tetap mengarah pada orang yang dipanggil bos Daniel. Dan tanpa sadar, dirinya sudah masuk dalam radar kecurigaannya sephia.


“Bener, bos. Donglenya ada”


Suara Sephia menyentakkan Budi dari ketertegunannya. Dia balik kanan, dan kembali berpatroli selayaknya satpam.


“Sip” suara Sandi ikut menggema.


“Kalo gitu, gimana bos Daniel?” lanjut Budi.


*Brukk*


Tek tek


Terdengar suara benda berat baru saja ditaruh di atas meja. Sekilas Budi bisa melihat kalau benda itu adalah sebuah koper. Dan setelah dibuka, isinya adalah uang dalam jumlah cukup banyak.


Budi membuang muka, dan kembali berpatroli saat Sephia menatap ke arahnya. Sikap Budi itu membuat Sephia semakin curiga. Tapi dia tidak menunjukkan kecurigaannya. Dia juga tidak memberitahukan kecurigaannya kepada Sandi.


“Senang berbisnis dengan bos Iskander”


Suara laki-laki itu mengalihkan perhatian Sephia. Dia mengalihkan pandangannya ke meja itu. Tapi dia sudut matanya, dia bisa melihat kalau satpam itu kembali menatap ke dalam ruangan. Diapun beranjak tanpa bersuara. Dia mendekati Budi.


“Hei” tegur Sephia lirih. Reflek, Budi menoleh.


*Sreet*


Tanpa permisi, Sephia menarik masker buuf yang dikenakan Budi.


*Astaga*


Tanpa sempat menahan, Budi hanya bisa tertegun saat wajahnya terlihat dengan jelas oleh Sephia.


“BANG\*\*\*”


__ADS_1


*BUAAKKK*


“AAAA”


Tanpa ampun, setelah mengumpat, Sephia menjejakkan kakinya di dada Budi. Karena masih terkejut, Budi terlambat menyadari. Dan kini diapun sudah melayang di udara. Karena dia berada di tepian kapal, kini dia sudah tertinggal oleh kapal yang melaju kencang itu.


*Byuuurrr*


Tanpa ampun, Budi mendarat di laut. Tapi karena bukan pertama kalinya dia harus berjibaku melewati perairan, Budi tetap tenang, meski tanpa pelampung. Dia berenang meluncur ke permukaan.


*DUAAARRRR*


“Astaghfirulloh”


Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang sangat kencang tak jauh dari posisi Budi mengapung. Sebuah kilatan api disertai semburan air muncul dari bagian buritan kapal yang baru saja meninggalkannya.


Asap hitam menyusul, membumbung ke angkasa. Kapal itupun berhenti, meski suara mesinnya masih meraung-raung tak ada masalah.


*Ngeeeeng*


Terdengar suara raungan mesin perahu di sekitaran Budi. Kemudian, dari berbagai arah, muncul lampu-lampu sorot yang bergerak cepat mendekati kapal Sandi.


*Dor dor dor dor*


Terdengar suara tembakan dari arah kapal Sandi.


*Dor dor dor dor*


Tembakan itupun mendapat sambutan. Sehingga terjadilah jual beli tembakan.


*Ngueeeeng*



*Byuur*


Jual beli tembakan masih terus berlangsung hingga setengah jam lamanya. Sampai kapal itu berlubang di sana-sini karena tertembus peluru. Hingga akhirnya merea kehabisan peluru, dan perahu-perahu di sekitaran kapal yacht itu mendekat.


Strobo biru yang baru saja dinyalakan itu, menjadi penanda jelas buat Budi, kalau perahu-perahu tadi adalah milik polisi air.


Tapi keberadaan polisi-polisi itu malah membuat tanda tanya baru buat Budi. Karena di kota ini tidak ada polisi air. Jadi dari manakah mereka datangnya?


“Butuh tumpangan?”


Sebuah suara mengejutkan Budi. Tanpa dia dengar kedatanganya, tiba-tiba saja sudah ada speed boat di sebelah kanannya. Dan sebuah senyuman manis merekah untuknya.


Sebuah uluran tangan terasa sayang untuk dia sia-siakan. Budipun menyambut uluran tangan itu. Dia naik ke atas speedboat itu.


Budi tertegun menatap wanita yang baru saja menolongnya. Wanita itu tetap sama, hanya dengan tampilan outfit yang berbeda.


“Kenapa? Gitu amat liatinya?”


Teguran dari wanita itu, membuat Budi tersentak. Diapun tersenyum tersipu malu.


“Ternyata kamu nggak seoneng yang Putri bilang” sahut Budi.


“Hem?”


“Ha ha ha ha”


Wanita itu tertawa, setelah sempat bingung dengan maksud Budi. Mereka saling menatap kembali.


“Kamu udah liat sendiri kan, sisi lain dari sahabatmu itu?” tanya wanita itu. Budi terdiam.


“Dia nggak sebaik yang kami kira, mas” lanjut wanita itu. Budi masih belum menjawab.


“Pura-pura aja dia nurut sama kamu, hormat sama ibu. Aslinya, bolak-balik dia ngejebak kamu, mas. Untung kamu masih selamat” lanjut wanita itu lagi. Budi mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


“Nggak perlu dipikiran semua sekarang. Terlalu ruwet emang. Dan bakal banyak yang bakal bikin kamu nggak percaya, mas. Tapi yang jelas, Sandi itu bukan orang yang baik buat dijadiin sahabat. Dan aku, belum jadi jenderal, yang bisa setiap saat ngelindungin kamu, Putri, sama ibu”


“Oh” sahut Budi pendek.


Mereka saling menatap. Wanita itu tahu, ada banyak hal yang ingin Budi katakan, Tapi bingung harus mulai dari mana.


“Makasih ya, Nung? Eh, Salma” Kata Budi.


Wanita itu tersenyum geli, melihat Budi kebingungan harus memanggilnya dengan nama yang mana.


“Sama-sama, mas. Salam ya, buat Putri, sama ibu” sahut Salma.


“Insya Alloh” jawab Budi.


“Jujur, dulu aku nyaman ada di deket ibu sama Putri, mas. Tapi sayang, ada tugas lain yang harus aku laksanakan. Jadi dengan sangat terpaksa, aku harus pergi” kata Salma.


“Dengan cara yang nggak baik begitu?” tanya Budi.


“Apa dengan cara baik-baik bakal mas Budi ngelepas aku? I don’t think so” jawab Salma.


“Dan udah kebukti, kan? Tempur aja rela mas Budi jabanin” lanjut Salma.


“Hemm. Mudah-mudahan si Panjul nggak dapet tugas aneh-aneh” doa Budi.


“Amin” kata Salma mengaminkan sambil tersenyum.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di dermaga. Dan sudah banyak polisi yang berjaga. Banyak juga warga yang berdatangan untuk melihat apa yang terjadi di laut sana. Salma menyarankan Budi untuk memakai masker buffnya kembali.


“Mas. Kamu nggak papa?”


Sebuah suara menyita perhatian Budi. Suara yang lirih, tapi ada nada kekhawatiran. Diapun tersenyum.


“Kok tahu kalo ini aku?” Budi balik bertanya.


“Ya siapa lagi yang suka iseng? Orang lagi kerja dibugilin. Kasihan noh, masuk angin dia” jawab orang itu lirih.


“Hempf. Ha ha ha ha. Iya, dingin Jul” Budi tertawa mendengar kelakar orang itu.


“Untung belum aku gebet, mas Bud”


Suara Salma mengalihkan perhatian Budi.


“Siapa?” tanya Budi.


“Zulfikar” jawab Salma sambil tersenyum. Tangannya menunjuk laki-laki di depan Budi.


“Apa lu senyam-senyum? Slepet juga, lu” seru Budi, saat Zulfikar tersenyum kepada Salma.


“Ha ha ha ha” Salmapun tertawa melihat Zulfikar salah tingkah ditegur Budi.


Merekapun naik ke dermaga. Salma memegang punggung Budi dan mengajaknya menuju salah satu mobil polisi. Budi merasa seperti menjadi salah satu dari gerombolannya Sandi.


Banyak warga yang menatapnya penuh tanya, namun belum ada yang berkomentar apalagi meneriakinya. Di mobil polisi, salah seorang teman Salma, dari reserse narkoba, memberikan pakaian ganti buat Budi.


“Makasih ya Nung, udah nolongin aku” kata Budi, setelah berganti pakaian.


Salma tersenyum mendengar Budi memanggilnya masih menggunakan nama samarannya saat under cover dulu.


“Iya, mas. Sama-sama” jawab Salma.


“Temenku akan bawa mas ke polres, nanti ketemu Zulfikar di sana” lanjut Salma.


Budi mengernyitkan keningnya. Perasaannya tidak enak.


“Jangan nanya dulu! Ikuti aja! Mas Budi aman, kok” kata Salma menjawab keraguan Budi.


“Assalamu’alaikum”

__ADS_1


“Wa’alaikum salam”


__ADS_2