
*Lu, udah bikin Putri celaka, Ndi. Kalo aja lu nggak diincer sama polisi-polisi itu, gua pasti bakal bikin perhitungan sama lu. Dan jangan sampe gua tahu, kalo semua tragedi yang terjadi selama gua sama Tata adalah perbuatan lu. kalo gua sampe tahu, udah pasti, gua bakal bikin hidup lu sengsara, Ndi*.
“Kamu nggak papa, ngger?”
Sebuah suara menyeret Budi kembali ke alam sadar. Dia terkejut melihat ibunya menatapnya dengan raut wajah khawatir.
“Kamu nggak terluka, kan?”
Bu Ratih bertanya lagi, sambil memutar-mutar tubuh Budi. Dia memeriksa jikalau ada tanda-tanda luka di tubuh Budi.
“Emangnya Budi ngapain, bu?” Budi balik bertanya.
“Sejak kapan kamu pake kaos polisi?” tanya bu Ratih, menunjuk kaos turn back narcotics yang Budi pakai.
“Dan dari mana kamu dapet kaos itu, kalo bukan dari dermaga?” lanjut bu Ratih. Budi tidak mengelak, namun dia juga tidak mengiyakan.
“Geger tadi, ada yang ngasih kabar kalo terjadi tembak-tembakan di tengah laut. Mana kamu ngilang gitu aja, Zulfikar nggak bisa ditelpon” lanjut bu Ratih dengan nada bicara yang masih khawatir.
“Budi nggak papa, bu. Ini baju dikasih Nungki. Tadi ketemu di alun-alun” kata Budi berbohong.
“Bajumu kemana?”
“Dibawa Nungki. Mau diloundry, bilangnya” jawab Budi.
“Kok bisa?”
“Temennya Panjul nih, rese. Mentang-mentang dapet panggilan darurat, main tancep gas aja. Udah tahu ada genangan air, maen sikat aja. Basah semua, Budi. Udah kaya ayam trondol” jawab Budi.
“Hempf”
Madina yang berada di belakang bu Ratih, tergelak mendengar kata, ayam trondol. Yang artinya ayam yang bulunya kusut karena habis tercebur ke air.
“Untung ada Nungki. Dikasih deh, ini” lanjut Budi.
Bu Ratih tidak segera berkomentar. Masih ada rasa tidak percaya dengan jawaban putranya itu.
“Ini juga nggak tahu, celana cowok apa cewek. Dalemannya juga nggak enak lagi, rasanya” kata Budi lagi.
“Mbrojol, mas?” celetuk Zulfikar.
“Hampir” jawab Budi.
“Ha ha ha ha”
Madina tidak kuasa lagi menahan gelinya. Dia kelepasan tertawa dengan kencangnya. Karena mbrojol itu artinya lolos. Dan Madina sudah cukup dewasa untuk bisa mengerti apa yang mbrojol itu. Bu Ratih ikut tertawa juga. Terlihat raut khawatir di wajahnya perlahan memudar.
“Syukurlah ngger, kalo kamu nggak terlibat tembak-tembakan itu” komentar bu Ratih.
“Ya enggak lah, bu. Buat apa? tujuan Budi kan cuman mastiin, bukan buat nindak. Yang penting Budi udah yakin, paketnya sampe pada tujuannya. Perkara mau diapain, dan buat apa, selagi nggak nyelakain kita, mending dibiarin kan, bu?” sahut Budi.
“Iya. Udah, nggak usah berurusan sama Sandi lagi! Biarin aja dia mau ngapain juga! Kamu jangan ikut-ikutan, ngger!” jawab bu Ratih.
“Soal Putri, gimana, bu?”
Madina angkat bicara dari belakang. Membuat bu Ratih terkesiap. Mata Budi juga berubah menajdi merah. Teringat keadaan Putri, ditambah kenyataan yang baru saja dia lihat, kalau Sandi adalah dalang dari celakanya Putri, membuat emosinya meninggi.
“Udah, udah! Terlalu banyak kerugiannya malah, kalo kita perkarakan Sandi karena celakanya Putri. Toh polisi juga udah ngusut kasus ini. Pasti polisi bakal sampe ke bocah itu” kata bu Ratih menengahi keadaan kaku itu.
__ADS_1
Dia tahu, merahnya mata Budi, menjadi pertanda jelas kalau yang mengirimkan orang untuk mengambil dongle itu adalah Sandi. Dan kalau dia menuruti kata hatinya, putranya pasti akan berbuat nekat lagi. Dan pasti akan ada luka lagi ditubuh putranya, seperti yang sudah-sudah.
“Lebih baik, kamu istirahat, ngger! Besok kamu masuk kerja”
Budi tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. Lalu berlalu masuk ke dalam ruang rawat.
Terdengar dari dalam, Zulfikar pamit untuk pergi ke kantornya, karena ada panggilan mendadak.
Budi menatap adiknya beberapa lama. Emosinya masih belum hilang. Ingatannya justru bertumpuk dengan kenangan saat Adel terluka akibat kecelakaan. Hatinya perlahan terasa sakit.
Kata-kata Nungki alias Salma tadi, sangat mempengaruhi pikirannya. Akal sehatnya mengingatkannya kalau kata-kata tanpa bukti, tidak bisa dijadikan untuk mengambil sikap. Tapi apa yang dia lihat di atas kapal tadi, seolah menjadi bukti yang berkorelasi dengan ucapan Nungki.
Budi mengecup kening Putri, lalu pergi keluar kamar kembali. Dia duduk di taman di depan kamar. Dia termenung lagi, banyak sekali yang melintas di pikirannya.
*Kenapa Sephia malah nendang gua, ya? Terlepas dari penyergapan itu, sangat aneh kalo Sephia nggak mengekspos keberadaan gua, dan malah nendang gua keluar kapal. Bukannya bakal lebih nguntungin kalo dia neriakin nama gua? Sandi bisa tahu. Dia bisa nyekap gua, dan maksa gua buat ikut gerombolan mereka*.
Budi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya mulai terasa berdenyut.
*Salma juga aneh. Dia nyuruh gua make buff lagi, ngegiring gua kaya gua bagian dari gerombolan Sandi, dibawa ke polres lagi. Tapi sampe di sana, nggak diapa-apain. Apa Sandi punya orang di kepolisian? Canggih bener itu bocah. Didikan siapa, dia bisa begitu? Dia yang ngatain gua belajar Klandestin, nyatanya dia yang nerapin Klandestin*.
“Loh. Kamu nggak tidur, ngger”
Budi terkejut mendengar teguran dari sebelah kanannya. Ternyata itu adalah ibunya. Dan di belakangnya, ada Madina yang muncul dari balik pintu ruang tunggu.
“Belum bisa tidur, bu” jawab Budi.
“Tapi kamu harus istirahat, ngger! Jangan sampe ngajuin ijin lagi! Ibu nggak enak sama pak Paul” saran bu Ratih. Budi tersenyum.
“Iya, bu. Budi pasti istirahat, kok. Ibu langsung istirahat aja!” jawab Budi.
“Kalo kamu belum ngantuk, mending kita tuker posisi. Ibu pengen nemenin Putri di dalem” pinta bu Ratih.
“Kamu kata ibu udah jompo, tidur di tiker masuk angin?” kelakar bu Ratih.
“He he” Budi hanya bisa tergelak.
“Udah, ibu aja yang di dalem. Kamu tidur di ruang tunggu aja!” kata bu Ratih, menggunakan hak vetonya.
“Tapi jangan macem-maem sama Madina!” lanjut bu Ratih.
“Hyaaa. Ha ha ha. Nggak janji” goda Budi.
“Weeh, bocah” seru bu Ratih.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa lepas, dengan suara dipelankan.
Madina yang menyaksikan percakapan itu juga tertawa. Dia tahu, Budi hanya bercanda saja. Bu Ratihpun tetap masuk ke ruang rawat Putri.
“Teh?”
Madina datang dengan dua cangkir berisi teh hangat. Budi tersenyum lalu menerima salah satu cangkir itu.
“Kok tahu, aku mau keluar kamar?” tanya Budi.
Madina tidak segera menjawab. Itu karena dia sedang menyeruput tehnya. Budipun ikut menyeruput teh di tangannya.
“Nggak tahu juga sih, mas. Sengaja aja mau bikinin teh buat mas Budi. Abisnya, mas Budi kayaknya lagi kacau” jawab Madina.
__ADS_1
“Oh, thanks” sahut Budi, berterimakasih.
“Right gift, in the right time” lanjut Budi.
Madina tersenyum mendengar pujian Budi. Dia merasa tersanjung. Walau dia tahu, pujian itu hanya sebatas sebagai ungkapan terimakasih.
“Apa kamu nggak sebaiknya pulang dulu, Din? Udah dua hari penuh kamu nemenin Putri. Kamu juga perlu istirahat” tanya Budi.
Madina tidak langsung menjawab. Dia malah menatap mata Budi dengan lekat. Membuat Budi bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan pertanyaannya?
“Aku bukannya ngusir, Din. Aku malah terbantu banget dengan adanya kamu” kata Budi, menyadari salah satu kemungkinan kesalahan bicaranya.
“Aku cuman nggak mau kamu kecapekan. Putri pasti butuh kamu buat waktu yang nggak sebentar” lanjut Budi.
“Ya. Mungkin mas Budi bener” sahut Madina. Budi mengernyitkan keningnya.
“Tapi Madin nggak bisa boong sama diri Madin sendiri, kalo Madin masih nggak suka sama mas Luki” lanjut Madina.
Mendengar nama itu disebut Madina, emosi Budi seketika menggelegak. Tapi dia segera menepis perasaan itu. Karena bukan waktu yang tepat untuk mengumbar perasaan itu.
“Sekalipun dia udah janji bakal kasih waktu buat Madin ngobrol sama mbak Adel, nyatanya Madin hampir nggak kebagian waktu. Kalo bukan sibuk karena kerjaan, ya mereka suka ngabisin waktu berdua aja. Madin nggak suka, mas. Mending Madin sekalian nggak di rumah” lanjut Madina.
Budi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu, Madina tidak butuh dikomentari. Terlebih, rasa cemburunya menyeruak tanpa bisa dia bendung, mendengar Adel suka menghabiskan waktu besama Luki.
“Madin sekarang malah ngerasa nyaman, bisa nemenin Putri, mas” lanjut Madina lagi.
“Oke. Yang penting, kamu bisa jaga kesehatan. Istirahat yang cukup, ya!” sahut Budi.
“Ya udah, yuk istirahat!” ajak Madina.
Budi terkesiap. Dia bingung dengan ucapan Madina.
“Ha ha ha ha”
Madina tertawa lepas. Barulah Budi sadar, kalau Madina hanya mencandainya.
“Yuk! Aku juga udah ngantuk”
“Ha?”
Jawaban Budi sontak membuat Madina berhenti tertawa. Dia langsung tertegun dan menatap Budi dengan lekatnya.
“Nggak ah, mas. Takut tiba-tiba disamperin macan” kata Madina.
“Macan?” Budi belum mengerti.
“Mbak Rika” jawab Madina sambil tergelak.
“Eh, iya. Dia nelpon ibu nggak, selama aku pergi?”
Budi baru tersadar akan Erika. Belum ada kabar semenjak terakhir berbincang di telepon.
“Enggak, mas. Emang mbak Rika kemana?” jawab Madina, diakhiri pertanyaan.
“Hem?”
Budi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Madina. Dia memainkan ponselnya lalu memberikan isyarat untuk menelepon dulu. Madina hanya mengangguk. Dia paham, ada hal yang Budi tidak mau bagi dengannya. Dan dia mengerti, itu ranah privasinya Budi.
__ADS_1
*Kemana itu bocah? Udah sampe rumah apa belum*?