
Setelah melewati penerbangan selama lebih dari lima belas jam, dan sempat transit di jakarta, akhirnya Budi dan rekan-rekannya menginjakkan kaki kembali di yogyakarta. Pak Paul dan Farah menyambut mereka dengan gembira.
Serta merta ketiga gadis yang ikut bersamanya, menghambur ke arah Farah. Mereka berpelukan bagai sudah tak berjumpa setahun lamanya. Deni dan Bayu juga tak kalah antusiasnya. Mereka bersalaman dan sempat berpelukan dengan pak Paul.
Tapi tidak dengan Budi. Sama sekali dia tidak merasakan kegembiraan itu. Tidak ada lagi Adel, yang sebelumnya melepas kepergiannya dengan penuh keharuan. Bahkan sudah tidak ada lagi kisah di antara mereka. Terminal bandara ini, seakan menjadi saksi, pertemuan terakhirnya dengan Adel sebagai sepasang kekasih. Sebelum takdir merenggutnya pergi.
“Jangan melawan Tuhan!” tegur pak Paul.
“Kamu nggak akan bisa“ Dia mendekat dan menyalami Budi. Budi hanya bisa tersenyum getir.
“Ikhlaskan! Tuhan pasti sudah menyiapkan yang terbaik buat kamu” lanjut pak Paul.
“Iya, pak” jawab Budi.
Dia berusaha tersenyum lagi. Tapi tak dapat dipungkiri, matanya terlihat sangat sendu.
“Bud. Maafin aku, ya!”
Farah menyela dari belakang pak Paul. Perhatian Budi teralihkan padanya.
“Kok minta maaf? Perasaan, mbak farah nggak ada salah, deh” jawab Budi.
“Ya, kan kamu sampe syok gitu karena kamu tahu kebenarannya dari aku. Aku takut banget lah, kamu kenapa-kenapa” kata Farah.
“Aduh. Berasa punya pacar baru, pak” komentar Budi.
“Setuju” seru Deni.
“Adoow” sesaat kemudian dia mengaduh kesakitan. Ratna tertawa cekikikan.
“Yang diajak ngomong siapa, yang setuju siapa” komentar pak Paul.
Sontak komentar itu mengundang tawa yang lain.
“Emang kenapa, kok maen setuju aja?” tanya pak Paul.
“Ya karena saya mau deketin adeknya Budi, pak. Kalo Budi pacarannya sama Farah, kan asyik. Farah orangnya kalem. Pasti woles. Beda sama Erika. Sepabrik juga tahu, galaknya dia” jawab Deni.
“ADOOOW”
Untuk kedua kalinya dia mengaduh lagi.
“Ha ha ha ha”
Sontak semuanya tertawa lepas. Karena kali ini, semua tahu kalau ternyata dia mengaduh itu karena kakinya diinjak oleh Erika. Pak Paulpun mengajak mereka untuk sarapan terlebih dahulu. Mengisi tenaga untuk kemudian melanjutkan perjalanan.
Hari ini sengaja bu Ratih tidak berdagang ikan. Dia ingin menyambut kepulangan putranya. Sedari pagi dia sibuk menyiapkan pakaian yang terbaik. Agar tidak terlihat katrok disaat berkumpul dengan keluarga rekan-rekannya Budi di pabrik, nanti.
Bu Ratih juga meminta Putri untuk mengajarinya tata rias terkini. Agar putranya bangga saat melihatnya. Sekalipun hanya pedagang ikan, dan sudah berumur, tapi tidak kalah dengan yang muda.
Mereka berangkat ke PT.PRAM sekitar jam setengah dua belas. Setelah ada pemberitahuan dari Budi kalau mereka sudah dekat. Dan di sana, sudah berkumpul orang tua dari Ratna, Hilda, dan dua orang wanita yang mengaku sebagai kekasih dari Deni dan Bayu.
__ADS_1
Tapi bu Ratih tidak menemukan seseorang yang mengaku sebagai keluarga atau kerabatnya Erika. Putripun juga bilang tidak tahu, saat ibunya bertanya padanya.
Tepat pukul dua belas siang, dan tepat di saat bel tanda istirahat berbunyi, Budi dan rekan-rekannya telah sampai di pabrik dengan selamat. Sorak-sorai para karyawan yang hendak makan, riuh menyambut mereka.
Bak kumpulan artis yang akan mengadakan pertunjukan, mereka disambut dengan tepuk tangan meriah. Satu per satu mereka turun dari mobil. Budi yang duduk paling belakang, sudah barang tentu turun paling akhir.
“Sayaaaang”
Seorang wanita berlari ke arah pintu mobil, tepat di saat Budi hendak keluar. Dia jadi terpana dan bertanya-tanya. Dia sempat berpikir kalau wanita itu sedang berlari ke arahnya. Tidak tahunya dia menghambur dan memeluk Deni, yang kebetulan memang berada di depannya.
“Suek lu. Dasar, kadal” kata Budi sambil menepuk pundak Deni.
Sontak celetukan Budi mengundang tanda tanya wanita yang sedang memeluk Deni.
“Ha ha ha. bercanda, bro. Biar lo nggak bengong. Lo nggak berwibawa kalo kebanyakan bengong” jawab Deni.
“Iya iya iya” komentar Budi sambil tergelak.
“Thanks, ya” kata Budi sambil mengulurkan tangannya.
“Sama-sama. Jangan bengong lagi!” jawab Deni. Budi tersenyum.
“Dia punya adek, cakep. Kali, lu mau jadi adek gua” goda Deni.
“Makasih. Mending bengong” jawab Budi.
“Ha ha ha. Suek”
“Assalamu’alaikum”
Budi memberi salam dan langsung berlutut, sungkem di hadapan ibunya.
“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih.
Perasaan rindu yang sudah menggunung itu berubah menjadi keharuan. Dan tangis bu ratih pecah, saat dia bisa mengelus kepala putranya. Dan di saat Budi berdiri, bu Ratih langsung menghujaninya dengan ciuman.
Tanpa malu, Budi langsung memeluk tubuh ibunya. Hatinya ambyar, tangisnya pecah. berbagai macam perasaan berebut ingin keluar. Setelah perjalan berat yang sudah dia lalui, Budi seperti mendapatkan pelabuhan untuk beristirahat sejenak.
Budi terkejut saat mendapat cubitan di pinggangnya. Dan ternyata Putri yang mencubitnya. Ternyata dia cemburu, karena hanya ibunya yang dia peluk. Dan menurut Putri, itu sudah terlalu lama. Dengan tertawa, Budi beralih kepada Putri.
Beberapa rekan kerja juga datang menyalami Budi. Mereka menanyakan banyak hal kepada Budi. terutama duo Aldo dan Riki, yang tidak jadi dibawa ke berlin. Tidak semua pertanyaan bisa dia jawab. Dan mereka memakluminya.
Saat bu Ratih menanyakan rencana makan siang bersama, Budi mendapati rekan-rekannya sudah pada bubar. Hanya tersisa Erika di depan galeri pabrik. Sepertinya tidak ada sama sekali yang menyambutnya. Budi mengajak ibu dan adiknya untuk mendekati Erika.
“Makan, yuk!” ajak Budi tanpa sapaan.
Sontak Erika yang sedang sibuk dengan ponselnya, mendongak”
“Eeh. Ibu” seru Erika, saat melihat ada bu Ratih di dekatnya. Diapun salim. Termasuk juga menyalami Putri.
“Makan yuk, udah laper, nih” ajak Budi lagi.
__ADS_1
“Eemm” Erika tampak menimbang-nimbang.
“Apa yang menjemput mbak Rika sudah mau sampai?” tanya bu Ratih.
“Eem. Sebenernya nggak ada yang jemput saya, bu. Tapi saya takut ngerepotin” jawab Erika.
“Nggak papa. Emang udah direncanain mau makan siang bareng. Eh, malah pada bubar” kata bu Ratih.
“Iya. gimana sih mas Budi,koordinasinya?”
“Udah dibilangin, Put. Udah kebelet kali si Deni” jawab Budi.
“Hempf. Ha ha ha. Kocak juga itu orang. Coba kalo tadi Putri godain. Aduh, perang dingin, deh. Ha ha ha” komentar Putri.
“Ya udah, hayu! Mbak Rika ikut kita aja! Entar biar sekalian dianter Budi, pulangnya” ajak bu Ratih.
“Aduh, jadi ngerepotin, nih”
“Enggak, lah. Malah Putri bakal marah, kalo mbak Rika nggak mau ikut” sahut Putri.
“Baik, bu” jawab Erika setuju.
“Nih, mas. Motor mas Budi udah aku bawain” kata Putri mengacungkan kunci motor.
“Loh. Gimana bawanya?” tanya Budi bingung.
“Tadi sama mas Zul. Sekarang dia udah balik ke kantor, sama temennya” jawab Putri.
“Oh, polwan tadi?” goda Budi.
Sontak Putri terbelalak mendengar komentar kakaknya.
Polwan? Lah, kok bisa sama polwan? Polwan yang mana?
“Seekor kera, terkurung, terpenjara dalam goa...”
Budi menyanyikan lagu kera sakti sambil berlalu dengan langkah kocak. Barulah Putri tersadar, kalau kakaknya tadi hanya menggodanya.
“Mas Budiii”
*Wuuuus*
*Duukkk*
“Wooi. Huuu, anarkis” komentar Budi yang terkejut mendapat timpukan sendal jepit.
“Biarin. Tahu gitu, Putri pake Wedges” jawab Putri, sambil berjalan menuju sandal yang dilemparnya. Kontan, Erika dan bu Ratih tertawa melihat tingkah Budi dan Putri.
Merekapun pergi menuju ke cafe yang dimaksud Putri. Melihat Erika pergi bersama Budi, membuat para karyawan yang melihat, bersorak pada mereka.
__ADS_1