
Sebulan telah berlalu, baik Adel maupun Budi sudah sehat kembali seperti sedia kala. Keduanya sudah kembali ke aktivitas masing-masing. Begitu juga dengan pak Fajar. Dia sudah kembali sibuk di bengkel kayunya. Namanya rejeki, pasti tidak akan kemana.
Setelah kejadian kebakaran itu, selalu ada saja orderan yang masuk ke bengkel kayunya pak Fajar. Walaupun hanya order pintu selembar, tapi tak pernah ditolak. Pengerjaan yang sepenuh hati, membuat pemesannya puas.
Berawal dari mulut ke mulut, sekarang sudah banyak yang mengetahui perubahan pada diri pak Fajar. Kualitas tetap dijaga, plus sikap dan pembawaannya yang sudah sangat berubah.
Setiap orang merasa lebih dihargai saat berbicara dengannya. Itulah yang membuat para tukang menjadikannya rujukan saat ada orang yang ingin membangun properti. Walau masih sangat jauh dari sebelumnya. Walau kadang hanya cukup untuk sekedar makan. Walau kadang harus Adel yang menopang kebutuhan sehari-hari. Tapi pak Fajar terus berusaha menjaga asanya.
Budi semakin sibuk saja. Berbagai hal harus dia urus dengan cepat. Ekspo di kabupaten tinggal menghitung hari lagi. Di waktu yang sama, berbagai perijinan dan persiapan untuk ekspo di eropa juga harus dikerjakan tepat waktu. Beruntung Adel masih mau membantunya mengurusi bengkel kayunya. Meskipun Adel sendiri juga sibuk dengan jadwal menyanyinya. Sesekali mereka berkomunikasi secara daring. Untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.
Sudah dua malam minggu mereka habiskan di fishbed cafe. Kencan sambil menonton Adel perform di atas panggung. Walau hari minggunya mereka juga disibukkan dengan bengkel kayu Budi yang semakin sering mendapat kunjungan. Utamanya di akhir pekan.
Pesona Adel sangat ampuh untuk menarik minat pengunjung, terutama kaum Adam. Tapi pesona Budi juga tidak kalah ampuh menarik minat pengunjung dari kaum hawa. Sampai Adel beberapa kali dilanda cemburu saat ada pengunjung wanita yang keterlaluan capernya.
“Alhamdulillah ya, Ta. Makin rame aja” komentar Budi setelah kepergian para pengunjungnya.
“Iya. Makin nekat juga cewek-ceweknya” jawab Adel.
“Hempf. Ha ha ha ha. Ada yang jealous nih, ceritanya?” goda Budi.
“Ya jelas, lah. Segala dada dipepet-pepetin. Tangannya, juga”
“Kenapa?”
“Mana ada foto bareng sambil megangin ************? Yang punya aja belum pernah megang” gerutu Adel lagi.
“Oh, Tata pengen megang? Nih!” goda Budi setengah tertawa.
“Ogah” jawab Adel sambil berlalu ke belakang.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa dengan kencangnya.
Budi mengikuti Adel ke belakang. Ternyata dia pergi ke kamar Budi. Setibanya di sana, Adel langsung merebahkan tubuhnya.
“Capek banget ya Ta?” Tanya Budi setibanya di sana.
“Tumben nanya?” sahut Adel. Dia masih dilanda cemburu.
“Ye, baru juga ini Tata naik langsung goleran” jawab Budi.
Dia dekati Adel yang tidur miring ke kiri, menghadap dinding belakang, membelakanginya. Dia elus-elus kepala Adel dengan lembut. Kemudian dia pijat-pijat ringan kepala itu.
Di balik lengannya, sebenarnya Adel tersenyum mendapat perhatian dari kekasihnya itu. Sudah lama mereka tidak punya momen seperti ini.
Pijatan Budi turun ke leher. Membuat Adel merem-melek. Memang dia merasakan pegal di lehernya. Dipijat lembut begitu, membuatnya merasa rileks. Saat Budi memindahkan pijatannya ke pundak kanannya, Adel tergelak.
“Kok ketawa?” tanya Budi.
“Modus ini, sih” jawab Adel.
“Kok Modus?”
“Abis ke pundak, kemana tuh? Awas kalo ke depan”
“Su’udzon” komentar Budi, sambil menepuk ringan lengan Adel.
Adelpun tertawa sambil memutar tubuhnya. Kini dia terlentang. Tatapan matanya teduh menatap mata Budi.
“Kalo begini, baru deh, bisa hilaf” komentar Budi.
“Kok Bisa?” tanya Adel, sambil tersenyum lebar.
“Tatapan Tata itu lho, teduh banget. Ditambah senyumnya itu lho, ngundang banget buat nyipok” jawab Budi.
“Gombal” komentar Adel.
Dia memutar tubuhnya kembali menghadap dinding belakang.
“Beneran, Ta” jawab Budi. Kini wajahnya dia dekatkan dengan wajah Adel.
“Ogah” sahut Adel sambil menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Kok ogah?” tanya Budi.
“Lah, yang bikin Abram tinggi siapa, yang jadi korbannya siapa. Sono minta sama yang pegang-pegang tadi!” jawab Adel.
“Emang boleh?” goda Budi.
“Sono” jawab Adel.
“Oke” kata Budi sambil beranjak dari duduknya.
“Loh, kok oke, sih?”
Serta-merta Adel memutar tubuhnya. Dia juga bangun dan mengejar Budi.
“Lah, tadi bilangnya, sono” goda Budi. Saat Adel berhasil meraih tangannya, dan menariknya kembali ke dalam kamar.
“Ih”
“Adoooww”
Sebuah injakan sukses mendarat di kaki Budi. membuat Budi meringis kesakitan. Sedangkan Adel kembali tiduran menghadap tembok. Tangannya bersedekap menahan kesal. Budi tertawa tanpa suara, melihat kecemburuan kekasihnya itu.
“Jadi laper,dicemburuin bidadari” celetuk Budi. Adel tersenyum dipuji begitu.
“Jadi pengen makan sate” kata Budi lagi, sambil duduk di belakang punggung Adel.
“Tapi bidadari nggak boleh makan sate sih, ya? Entar jadi sundel bolong” lanjut Budi. Sontak Adel memutar tubuhnya.
“Hii hiii hii hii hiii” kata Budi menirukan suara hantu. Tepat saat Adel menatapnya.
“Adooww”
Satu cubitan sukses mendarat di perut Budi. Membuatnya meringis kesakitan, tapi juga tertawa geli.
“Makan, yuk! Laper nih” ajak Budi.
“Yuk. Tata juga laper” jawab Adel sambil beranjak bangun.
“Hempf. Kalo bolongnya empuk sih, nggak papa” kata Budi sambil tergelak.
“Dih. Masih kurang apa, satu” sahut Adel sambil menepuk lengan Budi.
“Mana? Dikasih juga belum” kilah Budi.
“Abram pengen?” tanya Adel. Wajah seriusnya membuat Budi terkesiap.
“Ya udah, makan sate, yuk! Ajak Adel.
“Biar greng?” goda Budi.
“Biar kenyang, lah”
“Abis itu?”
“Kerja, lah. Galery siapa yang jaga?” jawab Adel sambil tergelak. Dia berjalan menuju pintu.
”AAAWWWW”
Adel memekik sambil berlari menghindar, saat Budi melemparkan bantal ke arahnya.
“Ha ha ha ha. Ada yang mupeng. Hi hi hi”
Adel muncul lagi di depan pintu, saat Budi hendak berdiri. Sontak dia lemparkan lagi bantal di dekatnya. Dan seperti sebelumnya, Adel memekik sambil pergi menghindar.
Kang Supri dan kawan-kawan sampai kebingungan melihat ada dua bantal berjatuhan dari lantai dua. Dan Adel hanya tertawa saat dia ditanya. Berbeda dengan Budi yang tampak bersungut-sungut. Tapi akhirnya kang supri paham. Dia juga ikut tertawa sambil memunguti bantal-bantal itu.
Merekapun pergi untuk makan siang. Adel mengajukan usul untuk makan siang di sebuah warung sate favoritnya di bilangan kota. Walau jauh, Budi menyetujui usul itu.
Motor matic merah marun itu meluncur membawa pasangan yang sedang berbahagia, menghabiskan akhir pekan berduaan.
Adel memesan dua porsi sate dan seporsi togseng. Sedangkan Budi langsung mencari tempat yang nyaman. Ada satu meja di teras samping, yang berhadapan dengan persawahan. Anginnya semilir di situ. Dan terlebih lagi, ada stop kontak untuk mengisi ulang daya baterai ponselnya.
__ADS_1
“Mau minum apa Bram?” tanya Adel, saat sudah tiba di depannya.
“Es jeruk aja” jawab Budi.
“Oke”
Adel kembali ke depan untuk memesan minumannya. Dua gelas es jeruk. Tak seberapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Tanpa banyak komentar, Budi langsung memulai acara makannya.
“Heem. Kaya maranggi rasanya, empuk” komentar Budi.
“Enak kan? Tata suka banget makan sate di sini” sahut Adel.
Komentar demi komentar positif Budi lontarkan untuk hidangan yang dia santap. Adel terus tersenyum. Dia senang mendapati kenyataan bahwa rekomendasinya ini cocok di lidah kekasihnya. Mereka terus menikmati sate dan tongseng itu sampai habis.
“Alhamdulillah” kata Budi mengucap syukur.
“Nambah, Bram!” tawar Adel.
“Udah, makasih” jawab Budi.
“Tata traktir, deh. Nambah lagi, gih!” goda Adel.
“Aduh, kenyang, Ta. Dikata perut Abram gilingan, apa?”
“Ha ha ha ha”
Adel tertawa melihat kekasihnya kekenyangan. Mereka masih anteng duduk menikmati pemandangan padi yang masih menghijau, sembari menunggu makanan mereka turun.
Sesekali Adel tampak menerima pesan singkat di ponselnya. Budi biarkan saja. tak lama kemudian, dia sendiri juga mendapat pesan singkat. Dari Erika. Dia menanyakan progres perijinan dan logistik untuk ekspo di eropa. Budi membalas pesan itu. Dia jelaskan satu-satu agar Erika bisa memahami maksudnya.
“Siapa, Bram?” tanya Adel.
“Hem?” Budi teralihkan fokusnya.
“Serius amat? Erika, ya?” tebak Adel.
“Iya. Nanyain logistik” jawab Budi.
“Nggak bisa besok, apa? Ganggu orang lagi lunch aja” keluh Adel.
Budi tersenyum. Dia mencolek dagu Adel sebagai ekspresi gemasnya. Dia menjelaskan kalau Erika sudah bertanya di luar jam kerja, berarti status pertanyaan itu sudah urgent. Seringnya itu pertanyaan titipan dari pak Paul. Adel mengangguk-angguk mengerti. Walau di mata Budi, anggukan itu juga bermakna sindiran.
“Ta, Abram ke toilet dulu, ya?” pamit Budi.
“Baru diisi, masa mau dikeluarin lagi, Bram?” goda Adel.
“Pipis” jawab Budi.
“He he. Iya, sana” kata Adel memberikan ijin.
Budi pergi meninggalkan ponselnya masih dalam keadaan menyala. Pun dia tidak mengunci layarnya. Bersama Adel, dia merasa aman dan tidak perlu mengunci ponselnya. Karena Adel juga selama ini tidak pernah kepo dengan ponselnya. Sekalipun dia tidak melarang jika Adel ingin memainkan ponselnya.
Disaat Budi sudah menghilang di balik pintu tembus, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat masuk. Tapi dari nomornya, jelas sekali kalau itu bukan dari Erika. Adel jadi penasaran dengan pesan itu. Dia mengambil ponsel Budi. Dia ingin memastikan kalau pesan yang baru saja masuk itu bukan pesan yang harus seketika dibalas. Tapi mendadak wajah Adel menjadi tegang.
“Vani?”
Adel merasa aneh, bagaimana bisa nomor orang ini mengirimkan pesan singkat ke nomor Budi? Kan nomo ini sedang di sita oleh kepolisian. Begitu pikir Adel.
*Bud, aku udah lakuin bagianku. Pasti kamu udah liat, bapaknya Adel udah kacau sekarang. Pak imam pergi, bengkelnya kebakaran, Adelnya nyusruk. Tinggal selangkah lagi, dia akan bangkrut dan frustasi. Jangan kamu bantu lagi! kamu harus ingat tujuan awal kenapa kamu masuk ke sana! Make your move, Bud! final touch. Aku yakin, sebentar lagi hinaan yang bapakmu rasakan dulu, akan terbalaskan. Setelah itu, kamu harus tepati janjimu! Kita akan hidup bersama di eropa*.
“Bram? Kamu?” gumam Adel.
Dunia tempatnya berpijak serasa berputar-putar. Hatinya terasa sangat sakit, pesan singkat bagaikan sembilu yang menancap tepat di jantungnya.
“Ta, kamu kenapa?” tanya Budi sekembalinya dari toilet.
“BANG***”
*PLAAAAKKK*
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Budi. Membuat Budi bingung. Ada apa dengan Adel? Apa yang membuatnya semarah ini.
__ADS_1
“TERKUTUK KAMU, BRAM. MANUSIA LAKNAAT” teriak Adel lagi.