
Sesampainya di rumah sakit, suster yang berjaga langsung sigap membawa pak Fajar ke unit gawat darurat. Bahkan karena suatu hal, pak Fajar sampai harus dibawa ke intensive care unit. Farah mencoba menenangkan bu Lusi yang panik. Sedangkan Adel masih bolak-balik mengurusi administrasi.
“Dokter. Suami saya bagaimana, dok?” tanya bu Lusi, saat ada dokter keluar dari ruang ICU. Adel yang baru muncul dari ujung lorong, ikut mendekat ke arah dokter itu.
“Ibu. Ibu yang tenang dulu, ya!” pinta dokter itu.
“Suami saya bagaimana keadaannya, dok?” tanya bu Lusi lagi, sambil menangis.
“Pasien mengalami serangan jantung” jawab dokter itu.
“Astaghfirulloh, bapak” seru bu Lusi kaget. Adel dan Farah menopang tubuh bu Lusi agar tidak limbung.
“Terus kondisi pasien gimana, dok?” tanya Adel.
“Untuk serangan jatungnya, sementara ini sudah tertangani. Dalam artian, masa kritis pasien sudah lewat”
“Alhamdulillah” kata Adel mengucap syukur.
“Hanya saja, kami menduga ada penyakit lain yang menyertai”
“Penyakit lain?”
“Ya. Kami melihat bentuk wajah pasien tidak simetris. Kami menduga pasien juga mengalami gejala struk”
“Astaghfirulloh, bapaaak” seru bu Lusi lebih kencang.
Untuk beberapa saat lamanya, Adel dan Farah sibuk menenangkan bu Lusi. Beruntung dokter perempuan tadi juga sabar menanti, bahkan ikut membantu menenangkan bu Lusi.
“Dok. Bisa bicara di tempat lain?” tanya Adel.
“Baik” jawab dokter itu.
Merekapun pergi ke ujung lorong. Bersembunyi di balik tembok salah satu ruangan agar tidak terlihat oleh bu Lusi.
“Jadi, bapak saya bagaimana,dok?” tanya Adel.
“Kami perlu melakukan CT Scan dan rontgen, untuk mengetahui apakah penyebabnya adalah sumbatan, atau pembuluh darah pecah”
“Pembuluh darah pecah?”
“Betul, mbak. Ada bekas muntahan di baju pasien. Biasanya muntahan itu menjadi penanda kalau pasien mengalami pecah pembuluh darah”
“Lalu, perawatannya bagaimana, dok?”
“Nanti pasien harus dirawat di ruang isolasi khusus stroke. Biar pasien bisa beristirahat lebih baik, dengan penanganan yang lebih khusus”
“Ya, ya. Lakukan yang terbaik, dok!” sahut Adel.
“Kalau saya boleh kasih saran, untuk obatnya, embak pilih yang paten! Bukannya mau ambil untung, tapi waktu sangatlah berharga"
“Apapun, dok. Berapapun biayanya akan kami tempuh, dok. Yang penting bapak saya bisa selamat” jawab Adel.
“Baik, mbak. Kita bicara lagi nanti, setelah kami ketahui hasil scannya” kata dokter itu.
“Apa sekarang kami boleh melihat bapak, dok?”
“Satu orang saja. Bergantian” jawab dokter itu.
“Baik dok. Terimakasih”
Dokter itupun pergi. Adel memberitahu ibunya kalau sekarang ibunya bisa menemani bapaknya. Dengan sedikit terhuyung-huyung, bu Lusi berdiri dan mulai berjalan. Adel dengan sigap memapah ibunya, dan membantuya masuk ruang ICU.
“Ini salah ibu, Del” kata bu Lusi sembari melangkah.
“Salah ibu? Emang tadi ada apa di dapur, bu?” tanya Adel.
__ADS_1
“Bapak, bapak. Bapak kaya udah tahu kalo proyek itu bakal ditunda”
“Apa? Tahu dari mana, bu?” tanya Adel terkejut. Bu Lusi menggelengkan kepalanya.
“Tadi pas bapak ke belakang, ibu pas nangis. Ibu sedih denger obrolan kalian. Sampe-sampe ibu nggak tahu kalo bapak udah pulang. Bahkan ibu nggak denger langkah kakinya”
“Astaghfirulloh. Terus, kenapa bapak bisa jatuh, bu?”
“Bapak nanya sama ibu, ada apa. Awalnya ibu boong. Tapi bapak nggak percaya, dan mendesak ibu. Walaupun kaya bercanda, tapi bapak nanya, apa proyeknya beneran ditunda? Ya ibu jawab apa adanya, Del” jawab bu Lusi sambil menangis. Adel tidak menyahut.
“Kalo tahu bapak bakal kaget dan kena serangan jantung, ibu pasti milih boong, Del” lanjut bu Lusi. Tangisnya semakin menjadi.
“Udah, udah, udah. Nggak ada yang salah kok, bu. Semuanya sudah kehendak Gusti Alloh. Ini ujian buat kita semua. Ujian buat bapak juga, pastinya” kata Adel menghibur. Bu Lusi masih saja menangis.
“Ibu. Karena ibu pengen ketemu bapak, ibu nggak boleh nangis. Entar malah nggak dibolehin sama susternya” lanjut Adel menghibur. Bu Lusi tersentak, lalu menghentikan tangisnya.
“Oh, iya. kamu bener” jawab bu Lusi sambil menyeka air matanya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Tapi hanya sampai batas pintu kaca. Di sana ada suster yang membantu ibunya untuk masuk hingga ke ranjang pasien. Sedangkan dirinya diarahkan suster lain untuk menunggu di luar.
“Huuuufffftt. La haula wa quwwata illa billah” kata Adel sambil menghembuskan nafas berat. Tepat di depan pintu ruang ICU.
“Mbak. Mbak Adel nggak papa?” tanya Farah.
“Ada yang bisa aku bantu?” lanjut Farah menawarkan bantuan.
Untuk beberapa saat lamanya, Adel hanya terdiam sambil memandangi wajah Farah. Pikirannya setengah kosong.
“Bisa tolong jemput Adek saya, mbak? Saya butuh dia di sini. Tapi tolong, jangan bikin dia kaget, ya! Saya takut, dia masih trauma dan histeris. Bisa, kan?” jawab Adel dengan pertanyaan.
“Oh. Bisa” jawab Farah”
“Saya pamit dulu ya, mbak. Assalamu’alaikum” lanjut Farah pamitan.
“Ya. wa’alaikum salam” jawab Adel.
“Del”
Sebuah sapaan mengejutkannya. Niatnya menelepon Budi jadi tertunda karena sapaan itu. Saat dia menoleh ke sumber suara, dia terkejut melihat siapa yang datang.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Adel tanpa basa basi.
“Aku tadi ke rumah. Kata para tukang, bapak dirawat. Bener, ya?”
“Bapak siapa?” tanya Adel sewot, mendengar kalimat sok punya hubungan.
“Ya bapak Adel, lah”
“Oh. Iya. masih di ICU” jawab Adel datar.
“Del. Aku minta maaf, ya? Aku sama sekali nggak ada niatan buat ngilang. Aku terpaksa ngilang demi ibu”
“Nggak ada yang nyalahin mas Luki, kok. Nggak ada kewajiban mas Luki buat bantu keluarga Adel” jawab Adel ketus.
“Del. Please. Sebenernya aku tahu apa yang terjadi sama kalian. Tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain. Almarhum papa terlanjur nanda tanganin perjanjian sama orang tuanya Sofia. Aku yang dijadiin subyek, harus nurutin apa maunya mereka seusai perjanjian itu. Kalo enggak, semua asetnya papa yang ada sahamnya mereka, akan diambil alih. Aku nggak mungkin ngebiarin mama terlunta-lunta, Del. Jadi aku harus nurutin maunya mereka, sembari mindahin asetnya papa menjadi perusahaan lain yang nggak ada kaitannya sama mereka” kata Luki menjelaskan panjang-lebar.
“Buat apa mas Luki ngejelasin itu ke Adel?”
“Permisi. Dengan keluarga bapak Eka Fajar?”
Suara sapaan itu memotong kalimat Adel. Keduanya langsung teralihkan perhatiannya.
“Benar, sus. Ada yang mesti saya kerjakan?” sahut Adel.
“Berikut rincian obat yang harus segera diberikan kepada pasien. Ada dua pilihan, mbak. Yang dicover KIS, sama yang obat paten. Kami memerlukan persetujuan dari embak” jawab suster itu.
__ADS_1
“Ibu saya sudah tahu?”
“Belum, mbak. Menurut pertimbangan kami, beliau belum siap untuk mengurusi masalah administrasi. Jadi saya mencari embak”
“Oh, baik. Sebaiknya memang sama saya saja, sus. Jangan ke ibu!”
“Baik, mbak” jawab suster itu.
Adel mulai membaca dan mempelajari berkas yang disodorkan suster itu. Matanya terbelalak saat membaca jumlah nominal yang harus dia bayarkan jika memilih obat yang paten. Padahal ini baru obat di awal. Bagaimana dengan keseluruhan biaya? Tapi dia berpikir, demi keselamatan dan kesembuhan bapaknya, memang uang jadi tiada artinya. Seperti yang pernah dilakukan kekasihnya dulu.
“Del”
Sapaan itu membuyarkan lamunannya. Sontak dia menoleh ke kanan.
“Kenapa?” tanya Adel singkat.
Tapi Luki hanya menggelengkan kepala. Membuat Adel beratnya-tanya.
“Aku tahu, kamu pasti nggak suka sama apa yang akan aku katakan” kata Luki kemudian.
“Ya. aku emang nggak mau nerima bantuan mas Luki lagi. Udah terlalu banyak” sahut Adel.
Luki terdiam. Dia tidak berani mengusik Adel yang kembali membaca lembaran dalam map plastik itu.
“Jangan ditolak, ya!”
Sebuah suara lain kembali membuyarkan konsentrasi Adel. Suara itu berasal dari arah belakangnya. Sontak dia membalikkan badannya.
“Bu Susan?”
Ternyata yang menyapa itu adalah ibunya Luki. Mereka sempat bertatap mata beberapa saat.
“Tolong jangan ditolak, ya! Anggap aja itu dari ibu!” pinta bu Susan lagi.
“Tet, tet, tapi, bu?”
“Ini bukan soal Luki suka sama Adel. Ini soal silaturohmi yang pengen ibu sambung kembali”
“Maksud ibu?”
“Ibu tahu, Adel pasti sudah tahu” jawab bu Susan. Adel mengernyitkan keningnya, tanda belum paham.
“Ibu mau meminta maaf, atas sikap yang diambil papanya Luki” lanjut bu Susan.
Adel masih belum berkomentar. Dia masih belum paham dengan arah pembicaraan bu Susan.
“Ibu sangat menyayangkan, papanya Luki dapet temen bisnis yang jahat-jahat. Yang suka menghalalkan segala cara demi uang. Sampai papanya Luki terpengaruh. Demi uang, dia rela membuang sahabatnya sendiri, bahkan rela menggadaikan anaknya sendiri” lanjut bu Susan lagi.
“Oh”
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Adel. Dia bingung harus berkomentar apa. Seketika ingatannya melayang pada cerita bapaknya. Dan emosinya malah perlahan meninggi.
“Adel boleh benci sama ibu. Tapi tolong, ijinkan ibu memperbaiki kesalahan papanya Luki. Sekali ini saja” pinta bu Susan.
Mendengar tutur kata yang lemah lembut itu, hati Adel jadi tersentuh. Sikap memohon yang ditunjukkan bu Susan, menurutnya tidak pantas ditujukan kepadanya. Tapi tidak mungkin juga ditujukan kepada bapaknya langsung saat ini juga.
“Baik, bu. Saya juga minta maaf, kalau sikap saya ke mas Luki tidak menyenangkan”
“Ibu tidak memikirkan itu, nduk. Itu urusan kalian. Ibu cuman kepikiran sama kesalahan almarhum. Mumpung ibu masih ada umur, ibu pengen nebus kesalahan almarhum” sahut bu Susan.
Adel jadi tambah tersentuh. Dia semakin tidak punya alasan untuk menolak tawaran bantuan itu. terlebih memang saat ini dia membutuhkan bantuan itu.
“Terimakasih, bu” jawab Adel.
“Tanda-tangani saja, nduk! Ibu yang urus kasirnya” pinta bu Susan.
__ADS_1
“Baik bu. Terimakasih” jawab Adel. Dia menandatangani pilihan menggunakan obat paten.
***