Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pasamg tenda di samping rumah Adel


__ADS_3

Hari – hari belakangan ini terasa agak berat buat Budi. keuangannya agak seret kalau dihitung sampai akhir bulan. Tanggungan pembayaran ikan yang tidak terjual saat ibunya sakit, sudah menghabiskan hampir seluruh uang bantuan dari kantor tempat kerjanya. Hanya tersisa untuk makan dan akumodasi selama sebulan. Itu juga harus super irit.


Sama seperti sebelumnya, dia merasa tak ada masalah kalau hanya dia yang harus makan dengan sambal saja. Tapi tidak mungkin ibunya harus makan dengan sambal saja. Harus ada menu sehat yang bisa menjaga kesehatan dan stamina beliau.


Begitu juga dengan Putri. Budi tidak tega melihat adiknya harus makan hanya dengan sambal. Minimal, harus ada tempe atau tahu sebagai lauknya. Itu artiya, dia harus mencari pemasukan lain untuk menopang kekurangannya.


Karena, Budi juga melarang ibunya untuk berjualan sebanyak sebelumnya. Paling tidak untuk sebulan ini. Dia ingin ibunya kembali bugar dulu.


Sampai di sini, dia masih belum memiliki gambaran, pekerjaan sampingan apa yang akan dia ambil. Waktunya sangat terbatas, hanya dari habis subuh, sampai pukul tujuh pagi. Atau kalau mau lebih panjang, hanya di hari libur atau tanggal merah saja.


“Bud, ngelamun aja. masih pagi nih”


Sebuah teguran membuyarkan angannya. Sepagi ini, dia masih berada di rumah, melamun. Ya, karena ini tanggal merah. Tidak ada aktivitas lembur, jadi dia punya waktu longgar di pagi hari.


“Mau kemana kang Joni” sahut Budi sambil tersenyum malu.


“Mau ke sini, nemuin kamu” jawab Joni.


“Oh, ada perlu apa, kang?”


“Ini, Bud. Aku mau pasang tenda, tapi kurang orang. Kamu bisa bantuin, nggak?”


“Oh, tenda? Aku belum pernah pegang, kang. Belum tahu caranya”


“Tenang, masang sih ada ahlinya sendiri. Aku cuman butuh sopir, sama tenaga bongkar muat. Ya, ngenekin tukang tendanya, gitu”


“Wah, boleh tuh, kang Jon. Urusan nyopir sih, beres” kata Budi.


“Ya udah, ayo!” ajak kang Joni.


“Welah, baru juga setengah enam, mas”


“Justru itu, makin pagi, makin bagus. Entar siang masih harus pasang sound system”


“Oh, gitu. Ya udah, aku aku kunci pintu dulu”


“Oke”


Budi kembali ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan ponsel. Dua benda yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Apapun acaranya, dua benda itu selalu berada di kantongnya.


Sampai di tempat kang Joni, ternyata sebagian perlengkapan tenda sudah berada di atas mobil bak. Langsung saja Budi membantu karyawan kang Joni untuk mengangkut pipa – pipa rangka tenda hajatan itu ke atas mobil bak.


Seperti saat bekerja di tempat sepupunya, sebelum berangkat, Budi meminta daftar barang yang akan dibawa. Lalu mencocokkannya dengan yang sudah ada di mobil bak. Kang Joni tersenyum melihat cara kerja Budi yang unik, tapi bagus. Setelah semua yang ada di daftar sudah terkonfirmasi ada di dalam bak mobil, merekapun berangkat.


“Hajatannya dimana, pak?” tanya Budi pada karyawan kang Joni.


“Di Gulang. Entar aku kasih petunjuk” jawab karyawan kang Joni itu.


“Oke”


Budipun melajukan mobil bak itu. Tampak kang Joni mengikuti dari belakang dengan menggunakan motor.


Perjalanan kali ini membutuhkan kehati – hatian lebih. Karena muatannya melebihi panjang kendaraannya. Saat belok dan hendak mengerem, Budi harus memperhatikan keadaan di belakangnya. Dengan segala tantangan yang dihadapi, akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan.


Sebenarnya dia ingin bertanya, mengenai rumahnya Adel. Tapi pekerjaan yang sudah menunggu, membuatnya menunda niatan itu. Dia langsung menyibukkan diri, membantu menurunkan perlengkapan tenda. Dengan arahan dari ahlinya, Budi ikut serta merakit tiang demi tiang.


Sejauh ini, semua berjalan tanpa ada kendala. Tenda berdiri sesuai pesanan tuan rumah. Hanya saja, ada sedikit halangan saat mereka menarik kabel lampu penerangan ke tempat dimana mesin pembangkit daya akan diletakkan. Ada pohon mangga yang cukup tinggi, yang luput dari perhitungan si ahli tenda.


“Bud, coba kamu manjat pohon mangga itu!” perintah kang Joni.


“Kamu terobosin kabel ini ke dahan yang itu! Lanjut kang Joni.


“Itu ngelompatin rumah, kang. Apa aman?” tanya Budi.


“Aman, itu aja yang dari PLN nggak pake dikasih tiang juga aman, kok. ” jawab kang Joni.


Posisi tenda yang ini, memang bukan di halaman milik tuan rumah. Karena berada di dalam pagar rumah lain. Dengan kata lain, meminjam tempat.


Di belakang tenda itu, ada bengkel kayu, tempat pembuatan mebel. Dengan sebuah pohon mangga tua di depannya. Tepat di samping tenda.


Dan mesin pembangkit dayanya, rencananya akan diletakkan di belakang bengkel kayu itu. Kalau harus dari jalur yang sesungguhnya, kabel lampu di tenda ini kurang panjang. Tapi masih bisa menjangkau posisi mesin pembangkit daya, kalau dilompatkan melewati genteng antara bengkel mebel itu dengan rumah di sebelahnya.


Budi langsung melaksanakan apa yang diperinahkan kang Joni. Dia memanjat pohon mangga itu. Tingginya pohon itu seperti bukan penghalang buat Budi. dalam waktu singkat, dia sudah sampai di dahan pohon itu.


“Bud, tangkap, ya!” seru rekan kerjanya.


Budi tak segera manjawab. Dia masih sibuk mencari posisi yang aman. Karena dia juga harus meloloskan kabel itu melewati genteng.


“Oke” jawab Budi setelah siap.


WUUUSS


Kabel itupun dilempar dari bawah.


SREEEK

__ADS_1


Dari arah sebelah kirinya, terdengar suara gorden ditarik. Seketika udi menoleh ke kiri.


“Ha”


Terdengar pekikan tertahan dari balik dinding kaca di samping jendela rumah itu. Seorang wanita, langsung terpaku begitu melihat ada Budi tepat di depan wajahnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Budi juga begitu. Dia juga terpaku sampai tidak bergerak.


Adel?


Budi seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Adel, yang belakangan ini mengisi hatinya, mengisi hari – harinya, berdiri tepat di depan matanya. Tampak sekali kalau dia baru bangun tidur.


Rambutnya masih acak – acakan, matanya masih tampak belekan. Tapi dalam hati Budi mengakui kecantikan Adel. Dia masih terlihat cantik walaupun belum tersentuh air, apalagi make up. Tapi justru inilah aslinya Adel. Yang cantik mempesona.


“Bud, malah ngelamun” tegur rekan kerjanya dari bawah.


Kabel yang orang itu lemparkan, akhirnya kembali jatuh ke tanah, karena tidak mendapat sambutan darinya.


SREEEEK


Baru juga menoleh ke bawah, gorden tadi ditutup kembali. Membuat Budi tampak seperti orang linglung yang sedang kebingungan. Dan praktis menjadi bahan ledekan kang Joni dan karyawannya. Budi hanya bisa tersenyum malu.


Di dalam kamar itu, Adel masih bersandar di dinding kaca itu. Jantungnya masih bedegup kencang, dia masih syok, setelah tadi mendapati Budi berdiri tepat di depan wajahnya.


Budi? kok dia bisa tiba – tiba nongol di depan mata aku sih? Kan dia belum tahu rumah aku. Itu beneran Budi, bukan sih? Apa jangan – jangan ini cuman mimpi?


“Mbak, disuruh sarapan sama ibu” terdengar teguran dari luar kamar. Adel tak segera menjawab.


“Mbak, udah bangun, belum?” terdengar teguran lagi.


CEKLEK



KRIEEET


“Mbak, kamu kenapa? Kok kaya orang syok gitu?”


Terlihat adiknya Adel masuk ke dalam kamar Adel, dan mendekatinya.


“Ini embak lagi ngimpi apa enggak, ya?” tanya Adel.


“Emang kenapa, mbak?” tanya Adiknya.


“Masa dek, embak buka gorden, terus embak liat Budi di balik kaca” jawab Adel.


“Ha?”


“Hmpf. Ha ha ha ha ha” adiknya malah tertawa.


“Kok malah ketawa sih?”


“Ha ha ha ha ha” dia masih tertawa.


“Madina. Ditanya kok malah ketawa lagi?” Adel mulai kesal.


“Ha ha ha ha, iya, iya. Aduh sakit perut Madin”


“Iya apa?” tanya Adel lebih kesal lagi.


“Ya nyata lah, mbak” jawab Madina.


“Nyata gimana?”


“Ya nyata. Emang orangnya di situ, lagi pasang tenda”


“Ha? serius?” tanya Adel penasaran.


Dia membuka lagi gorden yang tadi dia tutup. Dan terlihatlah lagi sosok Budi. walau dia sudah bergeser agak jauh, di atas genteng bengkel kayu di sebelah rumahnya. Budi sedang sibuk memposisikan kabel itu agar aman dari kabel bertegangan tinggi dari gardu PLN.


“Makanya, kalo abis subuh tuh, jangan tidur lagi! Pangerannya dateng, nggak tahu. Sekalinya ketemu, ngefreez deh” goda Madina.


“Apaan sih?” Adel agak kesal digoda adiknya.


“Ya pantes dia senyum, mbak. Orang bibir masih jigongan, mata masih belekan, rambut acak – acakan”


“Ha?”


Adel berlari menuju meja riasnya. Dia melihat bayangannya sendiri di cermin riasnya.


“HAAAA. Jadi dari tadi embak begini?” tanya Adel seolah menolak percaya dengan keadaannya.


“Ya iyalah, mbak. Gimana sih?” jawab Madina.


“Aduh”


Adel menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia malu mendapati kenyataan, Budi melihatnya masih berlepotan air liur dan mata belekan.

__ADS_1


“Ha ha ha ha”


Madina tertawa sambil berlalu meninggalkan kamar kakaknya. Adel masih menutupi wajahnya sambil tersenyum bahkan tertawa sendiri.


Kenapa mesti ketemu sekarang sih, Bud? Kenapa juga kamu pake manjat – manjat pohon segala? Kan aku malu jadinya, masjih jigongan begini malah nongol di depan kamu. Pasti kamu liat kan, aku masih belekan. Kamu senyum, tadi. Tipis sih, tapi aku bisa liat senyum itu. Aduh, gimana aku bisa nemuin kamu kalo kaya gini ceritanya? Malu lah, aku.


Beberapa saat kemudian, Adel beranjak dari kursi riasnya, mengambil handuk dan pakaian ganti. Lalu turun untuk mandi. Madina tertawa lagi saat berpapasan dengan kakaknya. Tapi saat ditanya ibunya, kenapa, dia tidak mau menjawab.


Budi masih sibuk memasang kain penutup samping di setiap tenda. Kain yang membatasi pandangan para tamu dari area yang ingin disembunyikan keberadaannya.


Dia juga ikut mambantu tukang dekor untuk meletakkan pohon pisang yang sudah berbuah, untuk di pasang di salah satu tiang tenda. Termasuk janur kuning yang sudah melengkung. Juga pernak – pernik lainnya yang masih berhubungan dengan tenda itu.


Saat sedang menata kursi yang baru datang dari balai RW, Budi melihat Adel berjalan bersama ibu dan adiknya. Posisinya yang berada di jalan menuju dapur umum, membuat Adel seolah berjalan ke arahnya.


“Permisi”


Madina menyapa sambil membungkukkan badan saat berjalan melewatinya.


“Eh, kamu yang waktu itu nolongin kita, kan?” sapa bu Lusi.


“Iya bu” jawab Budi.


“Kamu ikutan bikin tenda juga?” tanya bu Lusi lagi.


“Iya, bu. Sampingan aja”


“Oh. Kerjaan utamanya? Bengkel?” nada bicara bu Lusi terdengar agak merendahkan.


“Bu” tegur Adel.


“Oh, bukan, bu. saya, “


“Bu lusi, sini dulu, bu!” seseorang berteriak dari arah dapur, memotong kalimat Budi.


“Ya” jawab bu Lusi.


Dia langsung pergi begitu saja, tanpa pamitan terlebih dahulu. Adel hanya bisa menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


“Udah, nggak papa. Kenapa mesti malu?” tegur Budi lirih.


“Ya, aku malu aja, Bud. Waktu itu, bapak. Sekarang ibu juga. Maafin mereka ya, Bud!”pinta Adel.


“Iya. lagian, ngak salah kok” jawab Budi.


Dia sempat memperhatikan wajah Adel beberapa saat, sambil tersenyum.


“Kenapa, Bud? senyam – senyum gitu? Masih ada jigongnya ya?” tanya Adel. Dia mengambil ponselnya untuk bercermin.


“Hmpf. Ha ha ha ha. Enggak. Udah cantik banget kok” jawab Budi.


“Hem. Iya deh, tadi emang lagi jelek banget, akunya” sahut Adel.


“Kamu kenapa pake muncul segala di depan jendela aku, sih?” lanjut Adel.


“Hi hi hi hi. Siapa yang tahu, itu rumah kamu? Orang aku mau pasang kabel”


“Ya, bilang dulu kek, kalo mau pasang tenda. Harusnya kan udah tahu tujuannya dari awal. Denger nama desa aku disebut kan kamu harusnya kasih kabar. Jadi aku bisa persiapan”


“Persiapan? Persiapan ngapain?”


“Ya, paling enggak aku bisa cuci muka dulu, sisiran, ganti baju. Nggak jigongan gitu. Kan malu akunya, Bud”


“Emang, belum pernah ada yang liat kamu bangun tidur gitu, kaya tadi?”


“Ya belum, lah”


“Alhamdulillah”


“Kok alhamdulillah?”


“Ya iya, lah. Berarti aku jadi yang pertama liat kamu bangun tidur. Masih kethap – kethop, belum sadar bener. Sekalinya sadar, hah. Ada pangeran. Ha ha ha ha”


“Ha ha ha ha. Suek. Pangeran. Pangeran kodok?” sahut Adel.


“Semut hitam” sahut Budi lagi.


“Semut hitam?”


“Semurni tetes air, hatiku tercipta untukmu” jawab Budi.


“Enggak nyambung, Mali” seru Adel.


“Hmpf. ha ha ha ha”


Kang joni dan karyawannya yang mendengar perbincangan tadi, tertawa mendengar seruan Adel.

__ADS_1


Budi hanya bisa tersenyum malu. Adel pamit untuk membantu di dapur umum. Budi mempersilakan. dia juga kembali bekerja menyiapkan kursi dan meja. Dia memasangkan kain penutup untuk kursi plastik itu, sambil digoda oleh rekan – rekannya.


__ADS_2