
Merekapun segera bergerak. Putri memakaikan jas hujan kepada ibunya. Dia dan kakaknya juga memakai jas hujan senada. Bersama mereka keluar dari rumah. Ternyata air begitu cepat mengalir, hingga sudah menggenangi halaman rumah mereka. Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera pergi dari rumah menuju balai desa.
Sesampainya di gedung serbaguna, Budi langsung menyiapkan tempat. Tepatnya di pojokan yang berbentuk huruf L. Beruntung, ada kursi panjang dari kayu, yang bisa digunakan untuk duduk. Budi mencoba menghubungi kepala desa, untuk meminta izin menggunakan teras gedung serbaguna itu. Mendapat berita dari Budi, kepala desa itu terkejut. Dia berikan ijin itu. Bahkan dia juga memberi ijin, jika mau menggunakan pendopo balai desa.
Tapi, seperti kata Putri, bu Ratih tidak mau terlihat mencolok. Makanya dia memilih untuk berada di teras ini saja, daripada di pendopo balai desa. Budi mengikut saja, apa yang dimau ibunya. Putri mengajak kakaknya untuk menggelar tikar yang sudah disiapkannya. Budi menggunakan kursi panjang itu sebagai dinding. Dilapisinya kursi itu dengan terpal agar bisa melindungi ibunya dari terpaan angin malam.
“Put, mas Budi ke sana dulu,ya? mantau keadaan. Kalo entar sinyal ilang, dan kamu butuh batuan, pukul aja kentongan itu!” kata Budi. Dia menunjuk kentongan yang tergantung di sudut gedung pertemuan.
“Oh, iya” jawab Putri.
“Kalo sekedar memanggil, bunyikan sekali-sekali aja, dengan jeda waktu tiga detik. Pukul sampai lima kali. Kasih jarak tiga menit, kalo mas Budi belum nyamper, pukul lagi kaya sebelumnya!”
“Kalo darurat?”
“Kalo daruratnya berupa gangguan keamanan, kaya disamperin Adi misal, bunyikan dua kali-dua kali. Kasih jeda waktu satu detik. Bunyikan terus!”
“Kalo sesuatu yang lebih dari itu?”
“Kalo udah urusannya sama nyawa, bunyikan terus, rapid!” jawab Budi.
Mereka kemudian mencoba menyelaraskan pemahaman dengan mencoba memukul langsung kentongan itu. setelah sama-sama mengerti, Budipun pamit untuk memeriksa keadaan.
Tak dia sangka, apa yang dikatakan Adel, menjadi kenyataan. Baru beberapa menit keluar dari rumah, sekarang Budi sudah tidak bisa kembali ke rumahnya. Kontur jalan yang melandai, dan lingkungan tempat tinggalnya yang berada di pusat cekungan, membuat lingkungan ini akan cepat terendam. Dan menjadi yang pertama kali terkena dampak banjir. Beberapa pemuda, mengajak Budi untuk membantu evakuasi. Budi menyanggupi, tapi dia ijin balik dulu ke balai desa, untuk menyimpan ponselnya.
“Gimana kondisinya, mas?” tanya Putri, saat melihat Budi kembali.
“Parah. Untung keburu, tadi. Udah nggak bisa buat jalan” jawab Budi.
“Innalillahi. Terus warga lain, gimana ngger?” tanya bu Ratih.
“Ini, Budi mau ikut temen-temen lakuin evakuasi” jawab Budi, sambil menitipkan ponselnya kepada Putri.
“Del, firasat kamu bener. Ini kita lagi ngungsi di gedung serbaguna, balai desa. Tapi kamu nggak usah hawatir, ibu sama Putri baik-baik aja” Budi memberikan pesan suara kepada Adel sebelum pergi.
Bersama warga lain, Budi kembali masuk ke lingkungan rumahnya. Membantu warga lain yang ingin mengungsi.
Hal tak terduga terjadi saat proses evakuasi berlangsung. Orang yang tidak suka dengan keluarga Budi, mereka yang satu geng dengan budenya, menolak saat akan diungsikan keluar lingkungan itu.
Mereka memilih untuk mengungsi ke rumah warga yang satu pikiran dengan mereka. kebetulan, pak RT rumahnya punya dua lantai.
Berdebat dengan mereka, cukup menyita waktu. Akhirnya, warga yang pro dengan keluarganya, melepaskan saja mereka yang ingin mengungsi di rumah pak RT. Karena masih ada beberapa orang yang perlu dievakuasi.
Saat selesai dengan mereka, naas, air sudah terlalu tinggi. Selain itu, air yang mengalir juga arusnya sangat deras. Terlebih, listrik mulai dimatikan oleh PLN, membuat suasana menjadi gelap gulita.
Setelah mencoba beberapa kali, dan gagal, dengan berat hati, mereka pergi ke jalan raya. Mereka meninggalkan warga yang tidak sempat mengungsi. Sambil berharap, mereka memiliki cara untuk bertahan sampai bantuan datang.
*TOK TOK... TOK TOK... TOK TOK... TOK TOK*
Terdengan kentongan dipukul dengan ritme dua-dua. Budi mengerti, irama yang sama dan terus menerus, menandakan kalau Putri merasa sedang dalam bahaya. Tanpa pamit, Budi langsung berlari, kembali ke gedung serbaguna.
“Hoe, mau apa lo?” teriak Budi begitu sampai. Tampak beberapa orang berkerumun di sekitar ibu dan adiknya.
“Weis, tenang dulu Bud!” kata seseorang dari mereka. Ternyata itu Adi.
“Mau apa?” Budi mengulangi pertanyaannya.
“Aku ke sini bukan mau ribut sama kamu Bud. Aku cuman mau kasih ini” jawab Adi.
Teman-temannya menyerahkan dua kardus, yang di letakkan dilantai di depan Budi. Budi langsung memeriksa kedua kardus itu. Ternyata berisi lampu darurat, karpet tebal, selimut, dan beberapa makanan kemasan.
“Kita udah ada semua, Di” kata Budi.
“Bud, aku emang orang jahat. Aku emang benci sama kamu. Tapi aku juga inget, waktu banjir yang dulu, aku diselametin sama paklek Rouf” kata Adi. Budi terdiam.
“Ya, kamu bener. Mustahil rasanya, aku bakal baikan sama kamu. Tapi walau sekali, ijinkan aku membalas budi baiknya paklek Rouf” lanjut Adi. Budi masih belum berkomentar.
“Nggak ada peledak, nggak ada gas, nggak ada racun. Leherku taruhannya” kata Adi meyakinkan Budi.
“Oke. Makasih ya, Di” kata Budi.
“Aku pamit, ya! Semoga kalian sehat selalu” kata Adi sambil mengulurkan tangannya.
“Makasih, ya. Udah nyamper ke sini” jawab Budi. Dia menerima uluran tangan Adi. Mereka bersalaman untuk sesaat.
“Bulek, Adi pamit” serunya kepada bu Ratih.
“Ya ngger. Makasih ya” jawab Bu Ratih tanpa beranjak dari duduknya.
“Ayo Put” seru Adi lagi, sambil berlalu. Tapi Putri tidak menjawab.
Budi segera memeriksa semua barang bawaan Adi. Sejauh ini tidak ada bahan berbahaya yang tersimpan dalam peralatan elektronik yang diberikan Adi.
__ADS_1
Di bahan makanan seperti mi instan juga, bungkusnya masih asli semua. Tidak ada kempes, tidak ada bekas di lem, dan tidak ada bau-bau aneh. Artinya memang itu memang belum diapa-apakan.
“Kalo baterai, karpet, selimut, pakai aja, Put!” kata Budi.
“Tapi kalo makanannya, mending jangan dulu, deh. Makan yang punya kita dulu!”
“Oke” jawab Putri.
Bud mengajak Putri untuk memindahkan kardus-kardus itu mendekat ke tempat bu Ratih duduk.
“Ngger, kamu ganti baju dulu, gih!” pinta bu Ratih. Budi hanya mengangguk.
Diapun mengambil pakaian ganti, lalu berganti pakaian di pojokan. Budi meminta ibu dan adiknya untuk balik kanan. Sambil tergelak mereka menuruti permintaan Budi. Putri sempat ditepuk sama ibunya, karena iseng, mengintip kakaknya. Diapun tertawa.
“Mas Budi macho banget, bu” komentar Putri.
“Hus” sergah ibunya. Diapun tertawa lagi.
“Udah bu” kata Budi setelah beberapa saat hening.
“Tadi, warga udah dievakuasi semua, ngger?” tanya bu Ratih sambil memutar badannya.
“Belum” jawab Budi.
“Loh, kok?”
“Gara-gara kroninya bude tuh. Pake segala bawa-bawa urusan perasaan”
“Maksudnya?” tanya Putri.
“Mentang-mentang mereka nggak suka sama kita, mereka nggak mau dievakuasi ke depan sini. Padahal ke depan kan, nggak harus sama kita. Pake debat dulu. Kelamaan, deh”
“Terus, mereka ngungsi di mana?” tanya bu Ratih.
“Di rumah pak RT”
“Keluarga mbah tum, gimana?” tanya bu Ratih.
“Ya itu, mbah Tum, mbah Joyo, pak Jumat, udah nggak bisa keluar. Kita juga udah nggak bisa masuk, bu. Kenceng banget arusnya. Mental-mental mulu, Budi” jawab Budi.
“Ya Alloh. Terus, gimana nasib mereka?”
Budi tidak menjawab. Dia malah mengambil ponselnya, dan menelepon seseorang. Terjadi pembicaraan. Tapi tampaknya, apa yang dia harapkan tidak kunjung terwujud.
Tatapan matanya lurus ke depan. Dia masih terus berpikir, bagaimana caranya mendapatkan perahu karet yang ada mesinnya.
***
*Allohu Akbar Allohu Akbar*.....
Suara adzan membahana memecah kesunyian di kala fajar. Adel terbangun, dan mendapati Madina masih tertidur di sebelahnya. Sejenak, dia belum ingat dengan rencana semalam. Dia meraih ponselnya.
*Del, firasat kamu bener. Ini kita lagi ngungsi di gedung serbaguna, balai desa. Tapi kamu nggak usah hawatir, ibu sama Putri baik-baik aja*
“Astaghfirullohal’adzim” seru Adel.
Suara Adel sontak mengejutkan Madina. Yang seketika langsung terbangun dari tidurnya. Dia yang masih belum sepenuhnya sadar, bingung dengan tingkah kakaknya yang grusak-grusuk. Melihat ponsel kakaknya menyala, dia juga tertarik untuk memeriksa ponselnya sendiri.
“Innalillahi”
Madina juga tidak kalah terkejutnya, saat melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Satu pesan dari Putri, menggambarkan bagaimana suasana malam yang gelap tanpa listrik. Dan dia sedang mengungsi bersama ibunya. Dia langsung menelepon Putri. Tapi tidak tersambung. Sinyal telepon sudah menghilang.
“Dek, mau jamaah, nggak?” tanya Adel.
“Iya” jawab Madina.
Madina langsung melompat dari kasur, dan menuju kamar mandi Adel untuk mengambil air wudhu. Walaupun hanya dua rokaat, tapi Adel tampak tidak sabar. Dia memperpendek bacaan sholatnya, agar cepat selesai.
“Mbak, Madin ikut, ya?” pinta Madina.
Adel tidak segera menjawab. Dia ingin menjawab, jangan. Tapi dia tidak ingin mengecewakan adiknya.
“Ya udah, mbak Adel yang ati-ati, ya!” kata Madina lagi. Adel belum tahu harus menjawab apa.
“Madin tahu, kok. Mbak Adel hawatir Madin kenapa-kenapa, kan? Nggak papa kok, mbak. Madin back up dari belakang” lanjut Madina lagi.
“Peran Adek di sini, lebih embak butuhin” kata Adel.
“Iya. Madin tahu” jawab Madina.
“Ya udah, kalo mau pergi, mending buruan dipake, jas hujannya! Madin lihat sikon dulu” lanjut Madina.
__ADS_1
“Oke” jawab Adel.
Madinapun turun, untuk melihat posisi orang tuanya. Dia berjalan biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di ruang tamu, dia tidak melihat kedua orang tuanya. Di ruang keluarga juga tidak ada. Dia mencoba membuka pintu kamar orang tuanya. Dia tergelak, melihat keduanya masih tidak berbusana, dan masih tertidur pulas.
Madina kembali ke atas. Dia membantu kakaknya untuk menurunkan barang bawaan. Tak lupa logistik dari dapur juga dia ambil. Dengan langkah hati-hati, mereka menata barang bawaan itu di motor. Sebagai anak pramuka, bukan hal yang susah buat Madina, menalikan perbekalan itu di motor kakaknya.
Madina menyarankan kakaknya untuk menyalakan motornya di kejauhan saja. Dia membantu kakaknya mendorong motor itu, sampai beberapa puluh meter dari gerbang depan rumah mereka. Dan akhirnya, Adelpun berangkat, dilepas dengan doa oleh adiknya.
Langit masih gelap, saat Adel sampai di desanya Budi. Dia sempat memutar melewati dusun yang posisinya di perbukitan, untuk menghindari jalan yang sudah terendam air banjir. Beruntung, jembatan dan jalan menuju pasar, tidak terendam oleh banjir.
Walau takut juga, melintasi jembatan yang kali di bawahnya tengah bergejolak, tapi Adel memaksakan diri untuk berani. Dia langsung menuju balai desa yang diberitahukan oleh Budi.
“Adel?”
Budi langsung mengenali siapa yang datang, saat mengarahkan lampu senternya ke arah Adel. Dengan tergopoh-gopoh dia langsung menyambut Adel.
“Abram nggak papa?” tanya Adel, setelah memarkir motornya.
“Alhamdulillah sehat” jawab Budi. Mereka bersalaman.
“Ya Alloh, mbak Adel” seru bu Ratih.
“Ibu, Putri” seru Adel, melihat bu Ratih muncul dari sebelah kanan gedung. Dia langsung salim dan cium tangan. Dia juga menyalami Putri.
“Ibu nggak papa?’ tanya Adel.
“Alhamdulillah, nggak papa, nduk” jawab bu Ratih.
“Kamu kok nekat banget ke sini, nduk? Sama siapa?” tanya bu Ratih.
“Sendiri, bu” jawab Adel.
“Ya Alloh, kenapa mesti nekat? Kan bahaya. Ini banjirnya juga belum reda”
“Ya gimana Adel bisa tenang di rumah, bu, kalo ibu kena musibah begini? Adel nggak bakal bisa tenang, kalo belum mastiin ibu, mas budi, sama Putri baik-baik aja. Semalam itu, bisa tenang karena ketiduran. Makanya langsung panik, setelah buka pesan dari mas Budi” jawab Adel.
“Ya Alloh, mbak. Ya udah sini, neduh. Bawa apa juga, itu?”ajak bu ratih.
“Itu cuman perlengkapan yang mungkin dibutuhkan selama mengungsi, bu” jawab Adel.
“Ngger, turunin ya!” pinta bu Ratih kepada Budi.
“Ya bu” jawab Budi.
Saat ini, gedung serbaguna itu sudah dibuka pintunya, dan sudah ada beberapa keluarga yang mengungsi di dalamnya.
Tampak mereka sudah tercukupi kebutuhan alas, selimut, dan penerangannya. Tapi berbeda dengan bu Ratih. Tampak mereka hanya menggunakan alas matras yang biasa untuk berkemah. Adel bisa menebak apa yang sudah terjadi.
“Bu, ini matras buat tambahan alasnya” kata Adel.
Adel ikut membongkar isi ranselnya, dan menggelar matras serupa di sebelah matras bu Ratih. Dua buah matras yang dia bawa, dia gelar di sana. Melihat ada beberapa lansia di gedung ini, Adel terlintas sebuah ide.
“Bram, ada air bersih, nggak? Bikin teh yuk! Kasihan mereka kedinginan” tanya Adel kepada Budi.
“Ada. Itu ada lima galon. Semalam pakde Kusno yang bawain” jawab Budi.
“Tolong ambilin, dong!” pinta Adel.
Dia membongkar tas ranselnya. Dia keluarkan kompor gas portable yang sudah dia siapkan. Walau hanya bisa dimuati panci kecil, tapi dia berharap, bisa mencukupi untuk semua orang di sini. Minimal lansia.
Melihat kakak dan calon iparnya sibuk membuat minuman hangat, Putri tidak mau ketinggalan. Dia ijin ke ibunya untuk mencarikan gelas.
Beruntung, ada toko plastik yang malam itu ditunggui oleh pemiliknya. Dia langsung membeli gelas plastik satu pak sekaligus. Dan segera kembali ke gedung serbaguna.
Di saat dia kembali, tiba-tiba dia mendengar orang berteriak-teriak. Saat dia menoleh ke belakang, ternyata sungai yang satunya ikut meluber. Dan airnya dengan cepat menutupi badan jalan.
Hanya dalam hitungan detik, air banjir itu sudah cukup dekat dengan tempat dia berdiri. Padahal jarak awalnya, lebih dari seratus meter. Putri berlari agar cepat sampai di gedung serbaguna.
Sampai di depan gedung, ternyata dari utara, air banjir dari sungai yang sama, bahkan sudah mendahuluinya. Terjadilah kepanikan di dalam gedung. Dan tampak kakaknya sedang menaikkan motor-motor yang terparkir, ke teras gedung serbaguna. Beberapa orang turut serta membantunya.
“PUTRI, LARIII” teriak Adel.
Putri menoleh ke belakang. Air banjir yang tadinya hanya kecil saja, mendadak bergulung-gulung, dan tingginya, nyaris sanggup menelan tubuhnya. Putri pun lari sekuat tenaganya.
*BRUUUUUSSSSS*
Air banjir itu menerjang dengan kencangnya, menabrak pondasi gedung serbaguna. Kencangnya arus banjir itu, membuat airnya sampai melompat ke teras gedung.
“AAAAA”
__ADS_1
“PUTRIII”