Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
geger


__ADS_3

Di rumah, bu Ratih tengah sibuk menerima tamu. Para tetangga, tak pandang yang pro maupun yang kontra dengannya, pagi itu mereka menyatu. Mereka semua terkejut mendengar berita terbaru mengenai Budi.


Para penyedia layanan berita dari berbagai platform media sosial, tengah hangat menggodok berita itu. Berita yang masih berhubungan dengan berita pembegalan seorang artis lokal. Dimana berita itu menyatakan kalau ternyata Adel bukanlah di begal. Melainkan dikeroyok saat berboncengan motor dengan kekasihnya, Budi.


kalimat itulah yang memuat warga penasaran dan berniat menanyakan langsung kepada bu Ratih. Tapi bu Ratih menolak untuk bercerita kronologi musibah yang dialami Budi. Karena menurut bu Ratih, kasus itu saat ini sedang ditangani oleh aparat penegak hukum. Jadi kebenaran sejatinya belum lagi terlihat dengan jelas.


Bu Ratih juga mengatakan, walaupun dia tidak cocok dengan Stevani, dan terlebih lagi sekarang, dia sangat marah setelah mendengar berita itu, tapi dia dia tidak berani mengatakan kalau Stevani adalah penjahat. Mengingat dulu Budi juga pernah difitnah orang.


Jadi, bagaimanapun berkecamuknya rasa di hatinya, Bu Ratih mengatakan lebih memilih untuk tidak bercerita dulu. Dia lebih memilih intuk menunggu hasil sidang terlebih dahulu. Kalau hasil sidangnya menyatakan apa yang dia dengar sama dengan pembuktian di persidangan, baru dia akan bercerita dari sudut pandangnya.


Di sisi lain, keluarga Adel juga geger. Warga sekitarnya juga geger, saat berita tentang skandal itu, bahkan sampai masuk pemberitaan televisi lokal.


Tak terkecuali dengan sahabat yang paling disayanginya. Tati, bahkan seperti orang yang yang sedang marah, saat menanyakan soal berita di tivi itu. Dia seperti orang yang tidak terima, menjadi orang terakhir yang tahu mengenai keadaan Adel. Tapi semua orang maklum, semua orang mengerti. Itu adalah ungkapan rasa penyesalan Tati, yang tidak membantu Adel sama sekali. Kata-kata yang seperti kemarahan itu, adalah wujud rasa sayang dari seorang sahabat. Sahabat sejati, yang tidak ingin melihat sahabatnya bersedih, apalagi menderita.


Pak Fajar bahkan sampai tidak bisa berkomentar, saat mengetahui kebenarannya. Apa yang dia lihat, ternyata jauh terbalik dengan kenyataan yang sesungguhnya. Orang yang belakangan dia sebut pahlawan, ternyata adalah penyebab dari musibah yang menimpa anaknya. Dan orang yang dia anggap sebagai penyebab musibah itu, ternyata adalah orang yang memperjuangkan keselamatan putrinya.


Di dalam hati, pak Fajar sebenarnya mengakui, bahwasannya melawan sepuluh orang dengan berbagai senjata mematikan itu, adalah hal yang mustahil bisa dia lakukan. Andai saja laki-laki itu adalah anak orang kaya, maka dia akan mengijinkan laki-laki itu meminang putrinya.


Walau agak kesal, tapi Adel memaklumi sifat ayahnya, yang susah untuk berterimakasih pada orang lain. Terlebih pada orang yang strata sosialnya berada dibawahnya. Bagaimanapun buruknya sifat kedua orang tuanya, tapi Adel merasa sangat beruntung. Karena, keduanya sangat sayang kepadanya. Segala hal dilakukan keduanya demi kesembuhannya. Walaupun mereka sempat berkelakar, nanti kalau Adel sembuh, pasti melawan lagi.


***


Siang ini, pak Paul menyambangi kantor polres untuk menemui Stevani. Sesuai prosedur dia harus menunggu sampai Stevani dihadirkan ke hadapannya. Saat muncul dari balik tembok sana, Stevani terlihat sedih. Matanya sembab dan agak bengkak. Pak Paul merasa kasihan dan ingin memeluknya. Tapi itu tidak mungkin dilakukan di sini.


“Gimana kabar kamu, sayang?” tanya pak Paul.


Untuk beberapa saat lamanya, Stevani hanya bisa menatap wajah pak Paul tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tampak berusaha tegar, berusaha tersenyum walaupun air matanya kembali meluncur.


“Ya, beginilah, om. Vani nggak mau bohong, Vani nggak lagi baik-baik aja”


Pak Paul tersenyum. Senyum yang terlihat aneh di mata Stevani. Antara lega tapi juga ada keresahan di sana. Ada perasaan kurang percaya juga yang terpancar dari senyum itu.


“Om juga nggak percaya sama Vani? gitu amat senyumnya?” tanya Strevani.


“Sebagai keluarga, pengen banget om ngingkarin apa yang om denger. Pengen om bilang kalo Vani itu kena fitnah” jawab Pak Paul.


“Emang Vani kena fitnah, om. Dino itu yang nyelakain Budi. Vani nggak pernah merintahin dia buat nyelakain Budi. Apalagi sampe Budi lupa ingatan begitu”


“Kalau rencana?” tanya pak Paul.


Stevani terkesiap. Dia tampak bepikir dulu untuk menjawab. Dan keterdiamannya itu sudah merupakan jawaban bagi pak Paul. Dia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.


“Dino sama kroni-kroninya udah ditangkap. Dan mereka udah nunjukin bukti-bukti yang ngarah sama kamu”


Pak Paul menyorongkan map plastik itu kepada Stevani. Dengan tidak menjawab, Stevani menerima map bening itu.


*Dino, jalankan rencana! Budi sama Adel udah jalan. Kamu tahulah ya, apa yang mesti dilakuin. Jangan gagal*!


“Om?”


Stevani kaget saat membaca tulisan di lembar kertas paling atas. Itu adalah gambar perbesaran dari sebuah gambar ponsel yag dipegang oleh Dino. Dan dia merasa kenal dengan nomor yang tertera.

__ADS_1


“Om, ini bukan Vani. Ini bukan Vani” kata Stevani mengingkari apa yang dia lihat.


“Tapi itu foto, yang ambil juga om sendiri” jawab pak Paul.


“Om, bukan Vani yang ngirim pesen itu. Ini pasti kena hack deh, om”


“Hack?”


“Iya. Beberapa hari sebelum kecelakaan itu, hape Vani sempet ketuker sama hapenya Isma, om. Om Tahu kan, hape Vani samaan sama Isma?”


“Kamu mau bilang kalo hape kamu diotak-atik Isma, terus dia remote hape kamu, buat kirim pesan itu?”


“Bisa jadi, kan?”


“Ya” pak Paul mengangguk-angguk sambil tersenyum.


“Dia emang jago soal keuangan, tapi dia jeblok soal teknologi. Koneksiin laptop ke printer aja nggak bisa, mau ngehack?” tanya pak Paul sambil geleng-geleng.


“Apa salahnya diselidiki, om? Dia kan sengit banget kalo sama Vani. Wajar dong kalo Vani curiga sama dia?”


“Ya” jawab pak Paul singkat.


“Wajar juga kayaknya, kalo om bertanya-tanya tentang kamu” lanjutnya.


“Maksud om?”


“Segitu tergila-gilanyakah kamu sama Budi, sampe rela bayar mahal?” tanya pak paul sambil menunjuk map itu.


Stevani kembali melihat map itu. Di balik kertas yang paling atas, terlihat sebuah foto yang menggambarkan laporan digital dari bank, yang menyatakan kalau Stevani telah melakukan transfer uang sejumlah seratus juta rupiah ke sebuah rekening.


“Ya itu yang mau om tanyain. Itu laporan Bank, lho. Dan sayangnya, Itu asli. Ada laporan cetaknya juga dari bank” kata pak Paul sembari menunjuk map itu”


Stevani membalikkan lembaran itu. Dan terlihatlah apa yang dikatakan pak Paul. Print out rekening koran sebulan terakhir. Transaksi seratus juta rupiah itu, ada di dalamnya.


“Tapi, tapi, tapi, bukan Vani yang ngelakuin ini, om” kata Vani mencoba meyakinkan pak Paul. Pak Paul menunjuk lagi lembaran itu. seolah mengatakan kalau laporan itu asli.


“Tunggu!” pinta Stevani. Dia seperti menemukan sesuatu.


“Tanggalnya sama dengan tanggal kejadian itu. Jamnya pas banget sama Vani pergi ke soge, buat ketemu calon pelanggan"


“Apa yang berbeda?” tanya pak Paul.


“Vani nggak punya ATM untuk rekening ini. Vani cuman pake rekening ini buat transaksi internet banking”


“Terus?”


“Nah, sore itu token Vani ketinggalan di kantor. Vani kan naruhnya selalu di tas. Sore itu Vani buru-buru, jadi nggak bawa tas”


“Kamu mau nuduh lagi Kalo transaksi itu, Isma yang lakuin?”


“Ya kan nggak perlu ngehack, om. Kali aja, some how dia tahu ID dan password rekening itu. Pas token Vani ketinggalan, dia pake tuh”

__ADS_1


“Emm. Bisa juga, sih”


“Di CCTV pasti keliatan, om”


“Ya. Entar om cek” jawab pak Paul.


“Tapi beneran kan, bukan kamu otak kejadian itu?” tanya pak Paul. Stevani terhenyak. Mukanya mulai memerah.


“Om, kalo om nggak percaya sama Vani, mending om pulang aja, deh! Percuma juga ngomong panjang lebar” kata Stevani. Pak Paul terdiam.


“Vani bilang sejujurnya ya, om. Vani emang punya hasrat buat misahin Budi dari Adel. Tapi misahin aja, bukan nyelakain apalagi bikin mereka lupa ingatan, om” lanjut Stevani. Pak Paul terperanjat mendengar pengakuan itu.


“Vani emang nyuruh Dino buat mepet Budi pas lagi sama Adel. Vani mau, Dino bikin Budi lemas, kecapekan, dan dibikin pingsan. Bius kek. Udah gitu aja. Tinggal dipindahin ke tempat lain”


“Efeknya apa, kalo cuman dibikin lemes, dibikin pingsan?”


“Biar Adelnya ketakutan. Biar orang tuanya Adel juga ketakutan. Dengan begitu, mereka pasti nggak percaya sama Budi, mereka pasti kasih proteksi untuk Adel. Dan bakalan susah buat Budi ngedeketin Adel lagi. Pengennya Vani, lama-lama Budi frustasi dan pergi dari Adel. Udah”


Pak Paul tertegun dengan kata-kata Stevani. Di dalam hati dia merasakan kalau Stevani mengatakan hal yang jujur. Tapi raut muka bukanlah alat bukti. Apalagi perasaan.


“Sebenci-bencinya Vani sama Isma, nggak pernah terbersit dalam pikiran Vani buat nyelakain Isma. Ini cuman urusan cowok, yang bener aja om, sampe harus nyelakain orang? Vani masih yakin sama apa yang vani punya. Vani masih yakin bisa ngerebut Budi dari Adel tanpa ada kekerasan”


“Ya terus, rencanamu itu tadi? Bukan kekerasan?”


“Ya enggak lah, om. Kan om juga udah liat sendiri, gimana hebatnya Budi. Lima orang juga nggak bakal bisa nyolek kulitnya” jawab Stevani. Pak Paul menatapnya dengan tatapan berbeda. Seolah sudah lelah dengan penjelasan yang berbelit-belit.


“Van, ini om kamu, bukan Dino. Om bakal bantu kamu keluar dari sini. Tapi kamu jujur sama om! Jangan ada lagi yang kamu sembunyiin dari om!” kata pak Paul lirih sambil memajukan kepalanya mendekat ke Vani.


“Apa Vani harus bawa nama Tuhan, biar om percaya?” tanya Styevani.


Dia tampak sekali tidak menyangka kalau orang yang menjadi tumpuan harapannya juga tidak percaya padanya. Pak Paul menunjuk lagi map itu. Stevani mengernyitkan dahinya. Dia buka lembaran berikutnya.


*Jangan pernah jawab kalo aku nanya operasi kita! Apalagi kalo aku nanyanya di pabrik. Kamu harus sangkal! Karena saat aku nanyain Budi apalagi Adel, kamu harus tahu, ada yang kepoin aku. Terlebih kalo orang lain yang nanya. Aku juga bakal ngelakuin hal yang sama. Siapapun yang nanya, aku bakal sangkal*.


“Ha?”


“Ya. om tahu kalo kamu bakal bilang itu bukan pesan dari kamu, kan? Berapa kali hapemu ketuker sama Isma?” kata pak Paul.


“Tapi om. Vani berani sumpah demi apapun, vani nggak pernah kirim pesan seperti ini” bantah Stevani. Matanya kembali berkaca-kaca. Tangisnya tak lagi mampu dia tahan.


*Pantesan dia juga nggak jawab waktu aku nanya*.


“Van, sebernya om percaya sama kamu” kata pak Paul. Stevani terkesiap.


“Tapi kamu harus tahu, semua bukti yang ada sekarang ini, memberatkan kamu. Kamu harus kuat, ya! Kamu yang sabar! Om akan panggil Hendra buat bantu kamu” lanjut pak Paul. Stevani mengangguk-angguk.


“Om pamit, ya? Udah mau habis waktunya” pamit pak Paul.


“Iya, om. Makasih, udah nengokin Vani” jawab Stevani.


Dengan senyum yang mengembang, pak Paul meninggalkan Stevani. Sekali lagi, Stevani memperhatikan lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapannya.

__ADS_1


*Manusia terkutuk. Siapa yang berani jebak aku kaya gini? Apa untungnya ngejebak aku? Apa aku segitu membahayakannya*?


Ya Alloh, apa betul Engkau sayang sama aku? Aku malu buat minta sama Engkau, sedangkan aku nggak pernah nyebut namaMu. Apa masih pantas aku memohon padaMu? Kuatkan hati hambamu yang hina ini ya Alloh!


__ADS_2