Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
vani, ternyata?


__ADS_3

Dengan berat hati, Budi mengangguk dan melakukan apa yang ibunya perintahkan. Dia kembali ke meja tempat yang lain berkumpul. Layar monitor Sephia menunjukkan ada yang datang dari arah jalan biasa.


“Apache. Amankan jalan masuk! Jangan ada yang ikut masuk!” perintah Budi lewat handy talky.


“Siap, bos” jawab Apache.


“Perhatian semuanya, kode untuk villa tempat si Bejo berada, adalah jepara. Dan kode untuk si Bejo, adalah kayu jati” kata Budi.


“Siap, Bos” semuanya melapor hampir bersamaan.


“Pak Paul. Ada channel di sekitaran bogor?” tanya Budi pada pak Paul.


“Brigez” jawab pak Paul.


“Apa?”


“Jangan salah. Mereka cuman nyamarin nama aja. Brigez ini sama sekali beda dengan yang kamu kenal”


“Seberapa hebat, pak?”


“Sama. Desertiran juga”


“Oke” sahut Budi.


Dia menuliskan lagi sebuah catatan untuk pak Paul.


“Bisa perintahkan mereka untuk stand by?” tanya Budi. Dia berikan catatan itu pada pak Paul.


“Heem. Bakal nggak segampang nyulik Sephia” komentar pak Paul.


Budi hanya tersenyum menanggapi komentar itu.


“Oke. Susah bukan berarti nggak bisa” lanjut pak Paul.


“Call sign mereka, ‘truk fuso’ “ kata Budi.


“Oke” sahut pak Paul. Dia lantas menjauh untuk menelepon orang suruhannya.


“Phia. Ada pasukan lain yang datang?” tanya Budi pada Sephia.


“Belum ada, bos” jawab Sephia.


“Kalo ada lagi yang datang, pas paket udah nyampe, bilang, ‘harga sewa udah deal’ ! Otorisasi perintahnya, ‘segera kirim truk fusonya! Kita harus cepet ambil kayu jatinya. Pesanan kusen harus cepet dikirim’ ”


“Itu untuk merintahin truk fuso, bos?” tanya kang Sukron.


“Ya” jawab Budi singkat.


“Siap” sahut kang Sukron, menjawab perintah Budi.


“Untuk ngecek berapa banyak penjaganya Bejo saat itu, aku akan bilang, ‘kontek juragan kayunya, udah siap angkut apa belum’ ! Tapi sebelum bilang ‘harga sewa udah deal’, kamu telepon aku dulu! paham?”


“Siap, biar keliatan real” sahut Sephia.


“Good”

__ADS_1


Budi meminta Sephia untuk kembali mengamati gerombolannya si Bejo, sekaligus mengintip kamera si Bejo itu sendiri.


Tampak si Bejo wajahnya tegang. Entah apa yang dipikirkannya. Sedangkan gerombolan yang terus melaju itu masih cukup banyak. Tak kurang dari lima puluh motor dengan semuanya berboncengan.


“Bos” tegur kang Sukron. Dia menunjuk ke arah gerbang kanan.


Ternyata tim Bravo telah datang. Ada empat orang dari tim itu. Dan satu orang lain, yang Budi sebut sebagai paket.


Orang itu ditutupi kepalanya, sehingga tidak bisa melihat sedang dibawa kemana. Budi memerintahkan kang Sukron untuk menutup gerbang. Dan orang itu didudukkan di sebuah kursi, menghadap ke arah kamar Putri.


Saat kang Sukron menalikan tubuh orang itu ke kursi, Erika bangun. Walau masih tampak syok, tapi dia berusaha bangun. Maksud hatinya, dia ingin meminta maaf pada Budi dan bu Ratih.


“Papa?”


Erika terkejut mendengar ada yang menyerukan kata ‘papa’ juga. Dan ternyata yang berseru itu adalah Stevani.


Dia tampak syok, mengetahui siapa yang sedari tadi ditutupi kain hitam itu. Untuk beberapa saat lamanya, Stevani dan laki-laki yang diikat itu saling menatap.


“Jadi bener, papa itu bandar narkoba?” tanya Stevani. Air matanya meluncur begitu saja.


“Apa kabar, Karto Marmo?” sapa Budi.


Tanpa dia duga, Handono langsung menoleh padanya. Semakin menguatkan dugaannya, kalau memang Handono inilah, si Karto Marmo.


Handono tersenyum. Dia menatap satu per satu orang yang ada di hadapannya. Senyumnya mengembang, saat menatap Erika. Mengembang lebih lebar saat menatap bu Ratih. Dan dia tergelak saat melihat pak Paul. Dia mengangguk-angguk sambil tertawa lirih.


“Lu di sini juga, Paul?” tanya si Handono.


Sontak Budi menatap pak Paul dengan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan bu Ratih.


“Pihak?” tanya Handono dengan tertawa.


“Pihak apa?” lanjut Handono, masih dengan tertawa.


“Mas. Kok dia kenal sama kamu?” tanya bu Ratih, pada pak Paul.


Pak Paul tidak segera menjawab. Perhatiannya tertuju pada handono yang semakin kencang tertawanya.


“Oh. Ha ha ha ha. Jadi kamu nggak ngenalin kangmasmu ini, Paul?” tanya Handono.


Sontak mata Budi memerah, mendengar pertanyaan Handono. Dia menatap tajam pada pak Paul.


“Budi, tunggu! Jangan gegabah!” seru bu Ratih, sambil menahan badan Budi, saat Budi berjalan menghampiri pak Paul.


“Ha ha ha ha”


Handono semakin kencang tertawanya. Dia terlihat sangat senang, bisa membuat semua orang tercengang dan tak percaya.


“Papa, STOP!” teriak Stevani.


Sontak Handono berhenti tertawa. Dia menatap Stevani yang menatapnya penuh kemarahan.


“Udah, Van! Biarin aja dia ketawa sampe puas!” kata pak Paul, sambil mengelus pundak Stevani.


“Udah jelas sekarang, kenapa dia nggak ngakuin kamu sebagai anaknya. Kata-kata ‘anak tiri’ itu cuman kedok aja. Dia cuman takut, kamu ngebongkar borok busuknya dia. Dia tahu, kamu itu cerdas dari kecil. Dan kepo banget. Makanya dia pengen ngebuang kamu dari kehidupannya. Nggak peduli kalo kamu itu darah dagingnya sendiri” lanjut pak Paul.

__ADS_1


Semua orang terdiam, mendengar kata-kata pak Paul. Termasuk Handono sendiri. Beberapa saat lamanya, dia beradu pandang dengan pak Paul.


“Wow” komentarnya, pendek. Senyum gelinya kembali lagi.


“Narasi yang bagus, Paul” lanjutnya. Tak ada raut ketakutan di wajahnya. Dia malah terlihat sangat tenang.


“Soal Vani cerdas dari kecil, betul” lanjut Handono lagi.


“Soal Vani kepo banget, itu juga betul”


Handono menggantung lagi kalimatnya. Dia sisipi dengan senyuman mengejek.


“Soal aku takut kedok gua dibongkar Vani, lagi-lagi betul” kata Handono lagi.


Kalimat ini tak ubahnya seperti kalimat pengakuan darinya, bahwa benar, dia adalah seorang bandar narkoba.


“Aku emang bandar narkoba. Aku yang pegang uangnya. Lalu, kenapa?” tanya Handono, menanggapi sorot mata pak Paul.


“Tapi soal ‘anak tiri’, itu tidak salah”


Kalimat terakhir itu bagaikan petir bagi Stevani. Kalimat yang sempat menyakiti hatinya itu, kini kembali dia dengar.


“Bapak macem apa kamu? Beda banget kamu sama adikmu” seru bu ratih, sambil menghampiri Stevani.


Bu Ratih merengkuh Stevani yang sedang syok ke dalam pelukannya.


Handono tertawa mendengar pertanyaan bu Ratih. Membuat bu Ratih hampir menamparnya karena emosi. Tapi Adel sigap mencegahnya. Bu Ratihpun urung menampar Handono.


“Dia emang bukan anakku, Ratih. Dia anakmu” kata Handono. Sontak bu Ratih berdiri.


*PLAAKK*


Tanpa bisa dicegah, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Handono. Walau terkejut karena Handono tahu namanya, tapi emosinya sudah di ubun-ubun.


“Kamu pikir aku lont*, asal bikin anak, nggak mau ngerawat? Dasar manusia laknat” hardik bu Ratih penuh emosi.


“Kamu nggak ngakuin dia? Kenapa aku harus ngakuin?” tanya Handoko.


“Dasar manusia terkutuk”


*PLAAKKKK*


Satu tamparan lagi mendarat di pipinya. Membuat pipi Handono menjadi merah.


“Udah nggak mau ngakuin anak, masih nyelakain dia, lagi. Kamu bawa-bawa juga anak-anakku masuk dalam urusanmu. Maumu apa, ha?” lanjut bu Ratih, masih dengan suara melengking.


“Kita di posisi sama, Ratih” kata Handono, masih dengan suara datar. Seolah tak terpengaruh oleh tamparan keras itu.


“Kamu emang bukan ibunya, karena bukan kamu yang ngelahirin dia. Yang ngelahirin Vani itu, istriku” lanjut Handono. Bu Ratih mengernyitkan keningnya.


“Tapi yang bikin Vani, bukan aku, “ Handono menggantung kalimatnya.


“Rouf” lanjutnya.


“Apa?” seru bu Ratih, lirih.

__ADS_1


__ADS_2