Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bubur mengkudu


__ADS_3

“Ya udah, yuk istirahat!” ajak Madina.


Budi terkesiap. Dia bingung dengan ucapan Madina.


“Ha ha ha ha”


Madina tertawa lepas. Barulah Budi sadar, kalau Madina hanya mencandainya.


“Yuk! Aku juga udah ngantuk”


“Ha?”


Jawaban Budi sontak membuat Madina berhenti tertawa. Dia langsung tertegun dan menatap Budi dengan lekatnya.


“Nggak ah, mas. Takut tiba-tiba disamperin macan” kata Madina.


“Macan?” Budi belum mengerti.


“Mbak Rika” jawab Madina sambil tergelak.


“Eh, iya. Dia nelpon ibu nggak, selama aku pergi?”


Budi baru tersadar akan Erika. Belum ada kabar semenjak terakhir berbincang di telepon.


“Enggak, mas. Emang mbak Rika kemana?” jawab Madina, diakhiri pertanyaan.


“Hem?”


Budi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Madina. Dia memainkan ponselnya lalu memberikan isyarat untuk menelepon dulu. Madina hanya mengangguk. Dia paham, ada hal yang Budi tidak mau bagi dengannya. Dan dia mengerti, itu ranah privasinya Budi.


*Kemana itu bocah? Udah sampe rumah apa belum*?


Budi mencoba menelepon, tapi tidak mendapat jawaban. Dia masih berpikir positif. Barangkali terlewat. Dia mencoba menelepon lagi.


*Kok malah nggak aktif*?


Percobaan kedua malah membuat Budi semakin bertanya-tanya. Budi hanya bisa menghela nafas berat. Ada kecemburuan menyeruak di dalam hatinya, saat dia tidak mengetahui kekasihnya ada dimana.


“Iiih. Di kota kok malah nggak ada sinyal, sih?”


Suara Madina mengalihkan perhatian Budi. Tampak Madina mengacung-acungkan ponselnya tinggi ke udara, mencari sinyal.


“Di rumah aja penuh mulu” lanjut Madina. Dia mendengus kesal.


*Provider mereka kan sama. Hem, pantes nggak bisa dihubungi. Nggak ada jaringan. Semoga aja udah sampe rumah, dan dia lagi istirahat*.


Budipun menggelar tikar di teras kamar rawat Putri. Diapun duduk bersandar pada tembok. Dia pejamkan matanya, berusaha menenangkan hatinya.


“Mau istirahat di sini, mas?”


Budi terkejut mendengar teguran yang cukup dekat dengan telinganya. Saat dia membuka matanya, tampak Madina sedang bersimpuh di depannya.


“Iya. Cuman ada kita, malam ini. Kalo kita dua-duaan di sana, takut jadi fitnah, Din. Emang mau, besok pagi dipaksa nikah sama aku?” sahut Budi. Madina tertegun mendengar ucapan Budi.


*Siapa yang bakal nolak, mas? Kalo mas Budi nggak kesampaian balik sama mbak Adel, Madin mau banget jadi gantinya mbak Adel*.


“Ha ha ha ha”


Budi tertawa melihat Madina tertegun karena ucapannya. Wajah Madina memerah karena tersipu malu.


“Udah, kamu aja yang tidur di ruang tunggu! Aku di sini aja” kata Budi, setelah reda tawanya.


Madina tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Diapun berdiri dan beranjak meninggalkan Budi, dengan menutupi wajahnya. Dia merasa malu, menyadari kalau Budi bisa membaca isi hatinya.


***

__ADS_1


“Good morning girls”


Pagi ini, Budi sudah rapi dengan seragam kerjanya.


“Good morning dud”


“Iih. Udah berani ganjen, sekarang”


Jawaban Madina, sontak membuat Putri berkomentar. Bu ratih, Stevani dan Aldo tergelak mendengar kelakar Putri.


“Yang punya galak, lho” lanjut Putri.


“Biarin aja. Semalem udah aku kekepin” jawab Madina.


“Jangan gosip!” seru Budi.


“Nih, sarapan” lanjut Budi.


“Ha ha ha ha”


Madina tertawa. Dia senang, kelakarnya sukses membuat kelucuan dan mengundang gelak tawa.


Diapun menerima bungkusan nasi pemberian Budi. Bu Ratih dan Aldo juga menerima bungkusan serupa. Sejak subuh, Budi memang belum masuk kamar ini. Dia langsung ke mushola, lalu pergi mencari sarapan.


“Kalian berdua, entar dulu ya, sarapannya. Bubur mengkudunya lagi disiapiin”


“Bubur mengkudu? Mana ada?” sahut Putri.


“Ada. Spesial buat Lusiana Putri dan Stevani Larasati. Hi hi hi” jawab Budi.


“Pasti kerjaan mas Budi nih. Awas ya, kalo sampe kong kalikong sama bagian nutrisi!” seru Putri.


“Bubur mengkudu? Hi hi hi” gumam Madina.


“Ha ha ha” Madina malah tertawa lepas mendengar seruan Putri.


“Siapa suruh, tidur sampe kaya orang pingsan” kata Budi, sambil membuka bungkusan nasinya. Dia duduk lesehan di lantai. Aldo mengikuti duduk di sebelahnya.


“Namanya juga dikasih obat, mas Bud” sahut Stevani.


“Iya, ih. Mas Budi aneh” komentar Putri.


“Hemm. Kamu tahu nggak Do, obat apa yang bikin mereka tidur?” tanya Budi.


“Mana aku tahu?” jawab Aldo.


“Syukur, deh” komentar Budi.


“Emang kenapa, mas?” tanya Stevani sambil tergelak.


“Aldo kalo ngigau serem. Tangannya kemana-mana” jawab Budi.


“Emang tangannya ngapain?” tanya Stevani penasaran.


“Tahu, semalem megangin apa” jawab Budi.


Sontak Stevani melotot kepada Aldo.


“Jangan gosip, lu!” seru Aldo, sambil menepuk pundak Budi.


“Gua tidur di bawah, keles. Mana nyampe tangan gua ke atas?” kilah Aldo.


“Ha ha ha” Budi tertawa melihat Aldo salah tingkah.


“Siapa yang bilang kalo lu megangin Vani?” seru Budi.

__ADS_1


“Megang anunya, kali” gumam Putri.


“Hus” sergah bu Ratih.


“Ha ha ha ha”


Putri tertawa geli mendengar sergahan ibunya. Madina yang mendengar gumaman Putri juga tertawa geli.


“Semalem kemana sih, Bud?” tanya Aldo. Sontak Putri dan Madina berhenti tertawa.


“Ngikutin paketnya” jawab Budi, sambil mengunyah.


“Kenapa diikutin?” tanya Stevani.


Budi tidak segera menjawab. Dia menyelesaikan dulu mengunyahnya.


“Yang kesini tuh, cewek. Suster” jawab Budi.


“Loh. Kata si itu, yang mau ngambil hape aku, laki-laki, mas?” tanya Stevani.


“Itu dia, Van. Makanya aku ikutin”


“Terus?” tanya Aldo.


“Operan. Laki-laki itu nunggu di suatu tempat”


“Tapi bener, orangnya kaya yang digambar mbak Icha?” tanya Putri.


“Iya, Bener” jawab Budi singkat.


“Terus, yang kabarnya ada tembak-tembakan itu, gimana, Bud?” tanya Aldo.


“Nggak tahu. Di tengah laut kan, itu?” sahut Budi.


“Kabarnya sih, gitu” jawab Aldo.


“Kirain lu terlibat baku tembak itu” lanjutnya.


“Busyet. Keren amat gua, kalo ikut baku tembak” komentar Budi.


“Tapi baku tembak itu, ada hubungannya sama dongle itu nggak, mas?” tanya Stevani.


“Mungkin. Aku belum liat berita, hapeku masih dicas. Semaleman aku dikekepin Madina” jawab Budi.


“Mas. Beneran dipaksa nikah, kalo mas ikutan gosip” seru Madina.


“Widiw. Emang maunya gitu kan, lu” komentar Putri.


“Put” tegur bu Ratih.


“Ati-Ati! Diemut macan baru tahu rasa, lu?” lanjut Putri.


“Mana? Belum nongol dari semalem” jawab Madina.


Jawaban itu sontak menyadarkan Budi. Sampai terhenti mengunyahnya, karena teringat akan Erika. Sampai jam segini sama sekali belum ada telepon atau pesan singkat yang dia terima dari kekasihnya itu.


“Sinyalnya masih trouble sampe sekarang, ngger”


Bu ratih angkat suara menanggapi kegalauan putranya.


“Paling bentar lagi juga kesini” lanjut bu Ratih menenangkan Budi.


“Iya, bu” jawab Budi.


Masih dengan perasaan galau, Budi meneruskan makannya. Setelah selesai makan, Budi mencoba menghubungi Erika, tapi masih saja tidak bisa dihubungi. Dia mencoba mengirimkan pesan singkat, tapi hanya centang satu. Yang berarti pesan itu tidak langsung terkirim ke nomor tujuan. Bu Ratih berusaha membangun pikiran positif, saat Budi berpamitan untuk pergi bekerja.

__ADS_1


__ADS_2