
Adel tak henti-hentinya meneteskan air mata. Pemandangan bapaknya tergolek dengan seabrek peralatan penunjang kehidupan membuat hatinya teriris. Semakin siang bukannya semakin membaik, tapi malah semakin buruk dia rasakan. Sudah beberapa kali suara seperti ketika subuh tadi dia dengar, dan setiap kali itu pula hatinya seperti tersayat, saat mendengar suara bapaknya saat di suction.
Salah seorang suster menyarankan Adel untuk membantu bapaknya dengan doa-doa. Seperti membacakan surat yasin, misal. Awalnya Adel tersinggung dengan saran suster itu. Dia sempat mengatakan kalau suster itu kurang ajar. Orang bapaknya masih bisa sembuh kok disuruh membacakan yasin, seperti orang yang sekarat saja.
Seorang suster yang lain datang memberinya pemahaman. Bahwa surat yasin tidak hanya bisa dibacakan untuk orang yang sedang sekarat saja, tapi bisa juga untuk sarana meminta kesembuhan. Penjelasan yang logis itu lama-lama bisa diterima nalar Adel. Akhirnya dia menerima saran itu. Dia juga meminta maaf kepada suster yang sudah dikatainya.
Dengan hati penuh harap, Adel mulai membacakan surat yasin. Tangan kananya memegang ponselnya, tangan kirinya menggenggam jemari bapaknya. Tanpa kenal lelah, tanpa kenal letih, Adel terus membacakan surat yasin untuk bapaknya. Dengan satu doa utama, yaitu kesembuhan. Dia baru berhenti ketika masuk waktu sholat. Setelah sholat, dia tidak mau digantikan siapapun. Dia memaksa untuk kembali masuk, membacakan surat yasin untuk bapaknya lagi.
Saat sedang khusyu’ membaca surat yasin untuk ke sekian kalinya, Adel merasakan ada yang bergerak di telapak tangan kirinya. Tapi karena tangan kirinya agak kebas, dia mengabaikan gerakan itu. Dia pikir itu adalah rasa yang menjalar karena kebasnya mulai berubah menjadi kesemutan.
Tapi gerakan itu dia rasakan lagi. Masih sama seperti sebelumnya, Adel menganggap itu adalah efek dari kesemutannya. Dia abaikan lagi rasa itu, dan dia lanjutkan lagi mengajinya. Tapi di saat rasa kesemutannya telah menghilang, dia merasakan lagi kedutan di telapak tangannya. Kini dia menaruh perhatian pada tangan kirinya. Bersamaan dengan kedutan yang kembali dia rasakan, matanya melihat adanya gerakan pada jari telunjuk bapaknya.
“Bapak? Bapak siuman? Bapak siuman? Sus?” gumam Adel diakhiri panggilan.
Serta merta Adel bangkit dari duduknya, bermaksud hendak memberi tahu suster yang berjaga. Tapi dia merasakan adanya genggaman pada jemari kirinya. Walau lemah, tapi dia yakin itu adalah genggaman jari bapaknya. Dan benar, tangan pak Fajar ikut terangkat ke udara, karena menggenggam tangan Adel. Dan hampir terjatuh, karena genggaman yang lemah.
“Pak. Adel mau ngasih tahu suster. Biar dipanggilin dokter. Biar diperiksa. Adel ke sana dulu, ya?”kata Adel sambil duduk kembali.
Tapi pak Fajar menggenggam jemari Adel lagi. Seolah tidak setuju dengan tindakan yang akan dilakukan Adel.
“Tapi bapak harus diperiksa” kata Adel.
Jari tengah pak Fajar seperti mengetuk-ngetuk telapak tangan Adel beberapa kali, lalu mengelus juga beberapa kali. Adel bingung dengan maksud bapaknya.
“Bapak kenapa? Kok ngelus-ngelus telapak tangan Adel?” tanya Adel, seperti saat sedang bercanda dengan bapaknya dulu.
Tentu saja pak Fajar tidak bisa menjawab. Dia hanya kembali mengetuk-ngetuk dan mengelus-elus telapak tangan Adel. Cukup lama Adel berpikir maksud dari gerakan jari bapaknya itu.
“Morse? Bapak mau ngasih Adel morse?” tanya Adel.
Pak fajar kembali mengetuk-ngetukkan jarinya.
“Oke. Adel buka catatan dulu” kata Adel.
Dia menutup aplikasi Qur’annya, lalu membuka aplikasi catatannya.
“Oke, pak. Bapak mau apa?” tanya Adel, setelah merasa siap.
Kali ini dia memperhatikan betul-betul setiap ketukan dan elusan yang diberikan bapaknya. Setiap ketukan dan elusan yang terangkai menjadi huruf, dia tuliskan di catatannya.
“Kamu”
Adel menyebutkan kata pertama yang dia dapatkan dari sandi morse itu. Dia kembali memperhatikan setiap sandi morse yang dia rasakan di telapak tangannya.
“Nikah?”
Adel mengernyitkan keningnya. Dia merasa aneh dengan kata ke dua itu. Tapi dia terus memperhatikan kata selanjutnya.
“Ya?” kata ke tiga cukup singkat.
“Kamu nikah, ya!” kata Adel merangkai ketiga kata yang dia dapatkan.
Pak fajar terus memberinya sandi morse. Yang membuat Adel harus terus berkonsentrasi.
“Sekarang?”
Adel bingung dengan kata terakhir itu. Dia berharap ada yang salah dalam pembacaannya, tapi pak Fajar berhenti memberikan kode lagi. Dia menggenggam jemari Adel, walau tak bisa erat.
“Pak. Mas Budi lagi di berlin. Nggak mungkin kita nikah hari ini juga. Bapak sembuh dulu, ya! secepetnya, pasti kita akan menikah”
Pak Fajar menggerakkan jari tengahnya lagi. Bersama lelehan air matanya, dia memberikan huruf demi huruf.
“Luki?”
Bagai disambar petir di siang bolong, Adel terkejut mendapatkan nama itu. Adel berseru agak kencang. Membuat suster yang sedang mengecek pasien di pojok sebelah mendengar suaranya. Suster itu menghampiri Adel.
“Pak. Adel nggak mungkin nikah sama mas Luki. Adel udah janji sama mas Budi” kata Adel menolak.
Pak Fajar menggerakkan jarinya lagi. Suster itu, yang tadinya hendak menegur Adel, jadi terpana melihat keajaiban di depan matanya.
“Please?”
Adel tertegun setelah mendapatkan kata terakhir itu. Bagaimana tidak, bapaknya sendiri kini memohon padanya. Tapi permintaannya itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Terjadi pertikaian di dalam hatinya. Di satu sisi, dia sayang sekali dengan bapaknya. Dan akan melakukan apapun demi kesembuhan bapaknya. Tapi di sisi lain, dia juga merasa tidak mungkin untuk menikah dengan Luki. Dia hanya cinta kepada Budi. Dan belum sedikitpun membuka hati untuk Luki. Apalagi dia sudah janji untuk tidak menyakiti perasaan Budi lagi.
__ADS_1
Semakin lama penolakan terhadap permintaan bapaknya itu semakin menguat. Semakin mendominasi hatinya. Mengalahkan rasa siap berkorban apapun untuk sang bapak.
*Keekh kookhh*
“Astaghfirulloh. Susteeeer” teriak Adel.
“Ya”
“Astaghfirulloh”
Adel terkejut saat mendapati sudah ada seorang suster di belakangnya.
“Bapak saya, sus” kata Adel menunjuk kepada bapaknya.
“Baik, akan kami suction dulu” kata suster itu.
Suster itu pergi mengambil peralatan dan kembali tak lama kemudian. Adel berdiri tak jauh dari ranjang bapaknya. Suara memilukan saat suster itu menyedot lendir dari tenggorokan bapaknya, membuatnya ngilu dan tak kuasa mendengarnya sampai akhir. Adel berlari keluar.
“Mbak. Embak kenapa?”
Madina yang kebetulan lewat, terkejut melihat kakaknya berlari keluar dan menangis sejadi-jadinya. Bu Lusi yang mendengar tangisan itu sontak masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat apa yang terjadi. Tangisan Adel membuat semua keluarganya berpikiran buruk.
“Mbak, mas Fajar kenapa?” tanya ibunya Sinta, saat bu Lusi keluar lagi.
“Nggak papa. Lagi di suction” Jawab bu Lusi.
“Oh” komentar ibunya Sinta pendek. Semua yang mendengar kabar itu, menghela nafas lega.
Bu Lusi masuk lagi ke ruang rawat, sedangkan Adel masih saja menangis sambil menutupi telinganya. Pahamlah mereka semua kalau Adel tidak tahan mendengar suara bapaknya yang lagi ditangani tim perawat.
Saat rasa pedih dalam hatinya mulai mereda, dia menoleh ke kiri. Dia melihat ada Luki di dekatnya. Dia tatap wajah Luki. Cukup lama dia menatap lelaki itu.
“Kenapa, nduk? Apa Luki ada salah?" tanya bu Susan. Sontak Adel mendongak.
“Oh. Enggak. Nggak papa” jawab Adel tergagap.
Bu susan mengajak Adel untuk beristirahat di ruang tunggu. Karena berada di jalan hanya akan mengganggu lalu lintas pasien dan dokter. Adel mengangguk setuju. Belum seberapa lama mereka kembali ke ruang tunggu, bu Lusi datang membawa ponsel Adel.
“Nduk, tadi bapak siuman, ya?” tanya bu Lusi.
“Adel nggak tahu bu” jawab Adel.
“Terus ini?” tanya bu Lusi sambil menunjukkan tulisan di ponselnya.
“Adel nggak tahu itu sebutannya apa. Bapak ya kaya gitu bu. Tapi bapak denger, Adel ngomong apa. Dan bapak ngerespon lewat jarinya”
“Lewat jari?”
“Iya. Bapak ngasih Adel kode morse lewat ketukan sama usapan jarinya di telapak tangan Adel, bu”
“Allohu Akbar”
Bu Lusi berdiri lagi dan berlari menuju ruang rawat lagi. Adel berinisiatif mengintip lewat celah di bawah tirai. Beberapa pasang kaki berkerumun di sekitar ranjang bapaknya. Dan semuanya adalah tenaga medis, kecuali bu Lusi. Tapi Adel tidak paham, sedang apa mereka.
Dia hanya berdoa, semoga bapaknya segera sadar dan bisa diajak bicara lagi. Setelah cukup lama di dalam sana, bu Lusi kembali dengan langkah gontai. Berbeda dengan sebelumnya, yang masih bisa berlari, kini bu Lusi harus digandeng sorang suster. Tapi karena Adel masih memejamkan matanya, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Mbak, ada ibu” tegur Madina.
Adel langsung membuka matanya. Barulah dia terheran-heran, mengapa ada suster di depannya. Suster itu pamit setelah bu Lusi duduk dengan sempurna.
“Nduk. Ini yang nulis kamu sendiri, kan?” tanya bu Lusi.
Adel menatap layar ponselnya sesaat, lalu menatap wajah ibunya. Dia bertanya-tanya, mengapa ibunya malah menanyakan tulisan itu.
“Bu. Adel udah punya janji. Apa nggak bisa nunggu Abram pulang? Kan bapak sebentar lagi sembuh” kata Adel, seolah tahu apa yang akan dikatakan ibunya.
Bu Lusi tidak menjawab. Hanya air matanya yang mengalir deras. Seolah ingin menjawab, kalau yang sebenarnya, sangat bertolak belakang dengan yang diharapkan Adel.
“Nggak. Nggak mungkin. Bapak bakal sembuh, bu. Kemarin dokter bilang sendiri” lanjut Adel.
Bu Lusi masih tidak menjawab. Kali ini dia tidak sanggup lagi beradu pandang dengan putri sulungnya itu.
“Nggak. Bapak nggak kenapa-kenapa, kok. Bapak sebentar lagi juga sembuh”
“Nduuk”
__ADS_1
Bu Lusi berseru memanggil, saat Adel bangkit dan berlari menuju kamar rawat bapaknya. Sontak semua orang mengerubuti bu Lusi. Mereka menanyakan maksud dari pembicaraan mereka berdua.
Bu Lusi menceritakan keadaan yang sebenarnya. Bahwasannya, suaminya sedang dalam kondisi kritis. Lebih buruk dari sebelumnya. Dan suaminya meminta Adel utuk menikah hari ini juga di hadapannya.
“Tapi maaf mbak Dewi. Bapaknya Adel minta Adel menikah sama orang lain” kata bu Lusi kepada bu Ratih.
Bu Ratih sempat tertegun. Dia bukan tersinggung, tapi lebih memikirkan perasaan anaknya. Bagaimana kalau Budi sampai tahu kabar ini.
“Yang lebih mendesak, sangat perlu untuk disegerakan. Mengenai Budi, Biarlah aku yang ngasih tahu” jawab bu Ratih kemudian.
“Maafin aku ya, mbak! Aku bakal bikin Adel mengingkari janjinya pada mbak Dewi. Aku bakal bikin Adel ngingkari janjinya sama Budi” kata bu Lusi sambil memeluk bu Ratih.
“Janji Adel sama situasi sekarang adalah dua hal yang berbeda. Aku ngerti, kok. Aku nggak nganggep itu ingkar janji. Aku bebaskan putrimu dari semua janjinya padaku dan pada Budi.” kata bu Ratih.
Butuh waktu beberapa saat untuk bu Lusi menumpahkan kesedihannya. Bayangan akan ditinggal suaminya, membuat hatinya lemah dan membuat tubuhnya terasa tidak punya daya.
“Mbak Susan” panggil bu Lusi.
“Ya, Lus” jawab bu Susan.
“Mas Fajar minta Adel buat nikah sama mas Luki. Apa mbak Susan mau menerima Adel sebagai menantu mbak Susan?” tanya bu Lusi.
“Kamu ngomong apa sih, Lus? Siapa yang bakal nolak Adel jadi menantunya? Yang ada juga, Adelnya mau nggak nikah sama Luki?” jawab bu Susan.
Jawaban itu menurut bu Lusi sudah merupakan penerimaan. Dia langsung menanyakan, bagaimana seandainya ijab qobul antara anak-anak mereka dilakukan hari ini.
Bu Susan memberikan pandangannya. Dan semua keluarga yang hadir juga memberikan pandangannya. Mereka membahas hal itu dengan serius.
“Mengenai Sofia?” tanya bu Lusi. Bu Susan sempat tertegun.
“Nggak usah hawatirin mereka! Mereka udah dapetin apa yang mereka mau. Aku jamin, mereka nggak akan nyari Luki lagi”
“Syukurlah. Yang penting mereka nggak nyusahin mbak Susan. Aku nggak pengen karena kondisiku, mbak Susan jadi ikut kebebanan”
“Ya Alloh, Lus. Jauh banget kamu mikirnya. Aku udah beneran kebebas dari mereka. Aku sama Luki udah punya usaha baru, limpahan dari aset perusahaannya mas Imam yang aku tarik. Dan mereka nggak bisa ngerecokin aku lagi”
“Alhamdulillah” kata bu Lusi, mengucap syukur.
Di dalam ruang rawat, Adel terus memegangi jemari bapaknya. Dia juga terus mengatakan kalau bapaknya itu akan segera sembuh. Walau sudah satu jam dia habiskan untuk berbincang, tetap saja tidak ada respon dari bapaknya.
“Oke, oke. Adel akan nikah. Tapi bapak sembuh dulu, ya! Please!”
Tangan pak Fajar bergerak. Tapi jauh lebih lemah dari sebelumnya. Hanya seperti sebuah kedutan saja. Yang mungkin tidak akan pernah menjadi kata-kata.
“Pak. Kasih Adel morse lagi!”
“Iya, Adel bakal nikah, tapi bapak sembuh, ya!” lanjut Adel.
Lagi-lagi gerakan jari pak Fajar hanya berupa kedutan, hanya buku jari paling atas yang berkedut. Tidak menghasilkan apa-apa.
“Paak. Please!” pinta Adel.
“Nduk”
Sebuah teguran dari belakangnya, tak lantas membuat Adel menoleh. Terlebih dia sudah tahu, suara siapa itu. Bu Lusi berlutut di sebelah Adel.
“Bapak sudah terlalu lemah untuk memberikan kata-kata seperti sebelumnya” kata bu Lusi di antara tangisnya.
“Bapak bakal sembuh, Bu”
“Nduk. Kamu harus ingat, setiap manusia punya batas waktu. Kita nggak mungkin bisa mengelak dari itu”
“Tapi kita kan juga nggak tahu kapan batas umur kita, bu. Bisa aja bapak besok sembuh”
Bu Lusi terkesiap. Apa yang diucapkan putrinya itu ada benarnya juga. Tapi sebagai manusia, dia juga harus realistis. Dia lebih memilih bersiap-siap menghadapi yang terburuk.
“Ibu juga sangat berharap doa kamu itu diijabah oleh Alloh. Tapi ibu pengen, Adel ngejalanain apa yang menjadi permintaan Bapak. Barangkali dengan Adel turutin, bapak jadi punya semangat lebih untuk sembuh”
“Apa nggak bisa kita nunggu Abram, bu?” tanya Adel mulai menangis lagi.
Bu Lusi tidak segera menjawab. Dia mulai kebingungan, bagaimana menjelaskan kepada putri sulungnya ini.
“Apa perjanjian antara Adel sama ibu masih berlaku?” bu Lusi ganti bertanya.
“Apa?” Adel tersentak.
__ADS_1