Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
lagi lagi ketemu


__ADS_3

Budi tergelak mendengar protes Erika. Ratnapun ikut tergelak melihat ekspresi lucu Budi. Dan tawanyapun tidak bisa dia tahan, karena Erika hanya bisa geleng-geleng kepala.


Saat bertemu dengan Liza, mata Budi masih terlihat merah. Membuat Liza tertegun beberapa saat. Dia sebenarnya ingin berbicara sebagai teman, tapi banyaknya mata yang melihat mereka membuatnya urung melakukannya.


“Terimakasih ya mas, atas kerja kerasnya. Aku sangat mengapresiasi kekompakan kalian” kata Liza.


“Oh, sama-sama. Kami juga berterimakasih, mbak Liza mau merekomendasikan produk kami. Semoga papanya puas dan pesen lagi. He he” jawab Budi.


“May i speak freely?” tanya Liza dalam bahasa inggris. Budi sedikit terkejut.


“Oh. Sure” jawab Budi.


“Apa besok ibu ada di rumah?”


“Eeem, ya. Besok kita ada acara kendurian, kirim doa buat bapak. Jadi ya, besok nggak jualan”


“Berarti boleh dong, aku ketemu ibu?”


“Boleh. Nggak dikenakan tarif, kok. Free” jawab Budi selengehan.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Ratna tertawa mendengar jawaban nyeleneh Budi. Lizapun ikut tertawa mendengar kelakar itu.


“Ya udah, yuk!” ajak Ratna pada Liza.


“Emang nginep dimana, Liz?” potong Budi.


“Di rumah Ratna, mas” jawab Liza.


“Di rumahku aja!” goda Budi.


“Mas. Kontrak aku tinggal tiga bulan lagi. Aku masih berharap diperpanjang” protes Ratna lirih.


“Hem?” Liza bingung dengan ucapan Ratna.


“Jangan bikin gara-gara, deh!” lanjut Ratna.


“Hempf”


Budi tergelak mendengar kelanjutan kalimat Ratna. Dia paham, yang dimaksud Ratna itu adalah Erika.


“Ya udah. Aku duluan ya, mas?” pamit Liza.


“Ati-ati, ya! Kalo turun, kaki dulu!” jawab Budi.


“Ha?” Liza bingung.


“Orang stress sih bebas, mbak. Ngapain dipikir?” seru Ratna sambil menggamit tangan Liza.


“Assalamu’alaikum” seru Lisa memberi salam, sambil tergelak.


“Wa’alaikum salam” jawab budi.


Mereka berdua lantas pergi dengan sebuah mobil. Budi masih asing dengan mobil itu. Karena Ratna juga belum pernah membawa mobil ke pabrik.


Karena sudah lewat dari jam pulang kerja, Budi ingin kembali ke kantor untuk membereskan mejanya. Agar bisa segera pulang dan beristirahat.


“Haa?”


Terdengar pekikan lirih, saat dia hendak masuk kantor melewati pintu tembus dari lobi. Dan Budi langsung tertegun melihat siapa yang hampir tertabrak olehnya. Adel, dia hendak pulang setelah bertemu Resti dan Farah.


Keduanya seperti mematung. Mereka saling menatap. Adel merasakan takut. Rasa bersalahnya membuatnya tak punya nyali untuk menegur. Terlebih, tampak jelas di mata Adel, kalau mata Budi masih memerah. Pertanda dia masih menyimpan kemarahan.


Di sisi Budi, berbagai memori indah kembali berputar di pelupuk matanya. Harapan indah yang mereka bangun bersama, perjuangan mereka untuk bisa hidup bersama, dan kenyataan menyakitkan di akhir cerita mereka, berebut ingin keluar. Membuat dada Budi terasa sesak.


“Mas”


Terdengar teguran dari arah belakang Adel. Ya, itu suara Erika. Budi tersentak dari angannya. Dia segera bergeser ke kiri satu langkah. Dan Adelpun menganggukkan kepalanya sebelum kemudian pergi menuju lobi.


Budi memejamkan matanya, sambil menghela nafas berat. Dia tidak peduli dengan keberadaan Erika. Suara pamitan Adel waktu itu kembali terngiang di telinganya. Dan bayangan apa saja yang mungkin telah Adel lakukan bersama Luki semakin mengorek kembali luka hatinya.

__ADS_1


*Ternyata ikhlas itu lebih berat dari yang aku kira. Nyatanya sampe sekarang aku masih sangat terluka. Aku masih belum bisa nerima kenyataan ini. Ya Alloh, apakah salah jika aku meminta keajaiban padaMu? Jujur, aku masih berharap bisa memiliki Adel kembali, ya Alloh. Sekalipun bekas si manusia tengik itu*.


“Pulang, yuk! Aku anterin” ajak Erika.


Budi menatapnya beberapa saat, tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya.


“Makasih. Aku masih bisa bawa motor, kok” jawab Budi kemudian.


“Jangan ngebut, ya! Ngopi dulu, gimana? Biar seger pikirannya”


“Lain kali, ya! Aku pengen mandi, pengen tidur” jawab Budi. Erika terkesiap.


“Kalo ada yang bosen idup, arahin ke aku, ya!” lanjut Budi.


“Buat apa?” tanya Erika bingung.


“Aku lagi pengen nonjok orang” jawab Budi.


“Hais. Apaan, sih?” tukas Erika.


“Ya udah, ati-ati pulangnya! Meja mas udah aku beresin” lanjut Erika.


“Makasih, ya? Aku duluan” jawab Budi.


“Ya udah yuk, bareng ke parkiran!”


Budi mengangguk setuju. Merekapun segera beranjak menuju parkiran, diiringi tatapan bingung dari sekian pasang mata. Tapi keduanya tidak peduli. Terutama Budi. Dia langsung tancap gas, bahkan tanpa memperhatikan Erika lagi.


***


Sesampainya di rumah, Budi sedikit terkejut mendapati ada beberapa tetangga yang berada dirumahnya. Dia langsung melompat dari motornya dan berlari menuju rumah.


“Ibu?” panggilnya, begitu sampai di depan pintu.


“Wa’alikum salam”


Suara Putri mengejutkan Budi.


“Kamu kenapa, ngger?”


Bu Ratih yang sedang merajang kentang, bingung dengan sikap putranya.


“Kirain ibu sakit. Tumben banget banyak orang di rumah” jawab Budi.


“Kan besok mau selamatan, mas” sahut Putri.


“Iya, lupa” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Telat” sahut Putri. Budi tergelak.


“Wa’alikum salam”


Semua yang ada di dalam rumah menjawab dengan tergelak juga. Budi masuk dengan garuk-garuk kepala. Dia membungkukkan badannya saat melewati ibu-ibu yang membantu ibunya.


*Sraaang*


“Mas Bud”


Seseorang menegur saat tanpa sengaja kakinya menyenggol sebuah baskom logam.


“E eh, maaf” sahut Budi meminta maaf.


“Loh, Fitri?” lanjut Budi. Dia baru mengenali siapa yang menegurnya tadi.


“Kenapa, mas? Ada yang aneh sama Fitri?” tanya Fitri bingung.


“Kang Sukron, mana?”


“Kang Sukron ya di bengkel lah, mas” sahut Putri dari belakangnya.

__ADS_1


Kang sukron memang suka dipanggil Budi untuk membantu di bengkel kayunya, jika dia butuh tenaga tambahan.


“Kang Sukron itu ahli mainin tatah sama palu. Kalo cabe, harusnya diuleg, nggak bisa ditatah. Kalo kang Sukron diajak juga ke sini, kapan jadinya, sambel?” lanjut Putri.


“Wah. Belum tahu si Putri, kalo kang Sukron pinter nguleg” sahut Fitri.


“Masa?”


“Iya. Fitri sampek merem melek kepedesan” sahut Budi.


“Sok tahu” sahut Fitri sambil melempar potongan cabe ke arah Budi.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Semua ibu-ibu yang mendengar kelakar mereka tertawa. Hanya Putri yang masih belum mengerti maksud mereka. Budipun pergi ke dalam kamarnya.


“Kangmasmu kenapa, Put? Kok matanya merah gitu?” tanya Fitri kemudian.


“Nggak tahu, mbak. Putri juga bingung. Masa iya ribut lagi di pabrik? Kan udah nggak ada premannya?” jawab Putri.


“Hemh” Fitri menghela nafas.


Putripun beranjak kembali ke depan, tepat saat Budi keluar kamar hendak mandi. Dia berjalan sambil membalas beberapa pesan singkat dari rekan kerjanya. Sampai saat dia berada di depan pintu kamar mandi dan hendak membuka pintunya.


*Krieeet*


“ASTAGHFIRULLOH”


Budi berteriak terkejut melihat ada sosok wanita di dalam kamar mandinya. Sontak dia mundur selangkah saking kagetnya. Begitu juga yang berada di dalam kamar mandi. Dia sampai berteriak karena sama-sama kagetnya.


“Kenapa, mas?”


Putri yang mendengar teriakan kakanya langsung menghambur ke belakang.


“Madin?”


Budi merasa kenal dengan sosok yang sekarang keluar dari kamar mandi.


“Mas Bud, mas Bud. Itu orang, bukan demit. Mana ada demit cantik gitu? Itu Madin” seru Putri heboh.


“Hempf. Astaghfirulloh. Ternyata aku masih takut sama makhluk halus. Ya Alloh” komentar Budi sambil tertawa.


“Emang nggak kamu kunci, Din?” tanya Putri.


“Iya. Lupa. Untung udah kelar” jawab Madina sambil tergelak.


“Haduuh. Kecepetan semenit aja, seger tuh mata” komentar Putri.


“Hempf”


Budi tergelak mendengar komentar adiknya. Dan diapun yang tadinya menunduk, kini menatap Madina. Dan di situ dia tertegun.


Gaun itu, gaun yang sekarang dikenakan Madina, adalah gaunnya Putri. Gaun yang sama yang pernah dipakai Adel saat mengantarnya pulang dan kehujanan. Gaun terusan tanpa lengan. Mirip daster polosan, tapi hanya ada seutas tali di setiap pundaknya.


“Mas” tegur Putri


“Hem?”


Budipun menoleh. Tapi raut wajahnya kini berubah. Ada kesenduan dan kesedihan diantara kemarahan yang masih terlihat di matanya.


“Nduk. Kamu pakai dobelan dulu, gih!”


Suara bu Ratih menggema di dapur.


“Iya, Din. Ada kadal brenggolo” sahut Putri sambil melirik ke arah kakaknya.


Budi menoleh ke arahnya. Ada seulas senyum tersunging di bibirnya. Walau tidak sampai tergelak, tapi budi merasa geli mendengar kelakar adiknya.


“Permisi” kata Madina meminta jalan.


Budi tidak menjawab. Dia hanya bergeser ke kanan selangkah. Lalu dia melangkah masuk ke kamar mandi setelah menghela nafas berat.

__ADS_1


***


__ADS_2