
Setelah sekian lama tak sadarkan diri, Stevani mulai menggerakkan kepalanya. Perlahan dia memperbaiki posisi lehernya. Dia juga memicingkan matanya. Karena cahaya menyilaukan dari lampu yang tergantung tepat di atas kepalanya. Butuh beberapa menit untuk dia sampai bisa membuka matanya secara penuh. Dan, betapa terkejutnya dia, saat akan mengerakkan tangannya, ternyata diamendapati tubuhnya terikat pada sebuah kursi. Beberapa kali dia berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan itu, tapi tidak berhasil.
“TOLOONG, TOLOOOONG”
Stevani berteriak minta tolong. Berharap ada yang mendengar suaranya. Tapi, hanya pantulan dari suaranya sendiri saja yang sampai ke telinganya.
“SIAPAPUN, TOLOOOOONG”
Dia berteriak semakin kencang, sambil kakinya dia hentak-hentakkan ke tanah.
*KLANG*
*GREEEEEEEEETT*
Terdengar suara selot pintu besi dibuka. Dan pintu besi itu didorong oleh seseorang. Dari arah luar bangunan ini, muncul preman-preman yang mengeroyok Budi, tadi.
“TOLOOONG, TOLOOOONG”
Semakin kencang Stevani berteriak minta tolong, sampai suaranya terdengar serak. Tapi tidak ada satu bantuanpun datang padanya. Yang ada, malah preman-preman itu yang mendekat. mereka mengelilinginya, dengan tatapan menakutkan.
“Please, jangan bunuh aku!” pinta Stevani. Orang-orang itu tidak menjawab.
“Kalo kalian butuh uang, bilang! Berapa yang kalian mau? Aku, aku, aku bisa kasih kalian sebanyak yang kalian mau. Please!” pinta Stevani lagi.
Dia menangis sejadi-jadinya. Merasa hidupnya sudah di ujung tanduk. Tapi tidak ada yang menjawab penawarannya. Mereka masih menatap Stevani dengan tatapan ingin menghabisi.
“BUDIIIII”
Dia berteriak lagi. Tapi kali ini dia menyebuutkan sebuah nama.
“Aku di sini, Van” jawab Budi.
“Ha?”
Stevani terkejut mendengar suara Budi. perlahan beberapa orang yang melingkari Stevani bergeser. Menampakkan sosok Budi yang sedari tadi mereka tutupi.
“Bud? Kamu, kamu?” tanya Stevani tergagap.
“Ya, mereka temen-temen aku” jawab Budi.
“Ap apa maksud kamu? Ini balasan kamu? Balasan atas semua kebaikan yang udah aku kasih ke kamu?“ tanya Stevani.
“Ya, setimpal, kan?”
“What?”
“Nggak usah basa-basi lagi, Van! Cuman ada kita di sini” kata Budi.
“Cuih” Stevani meludahi muka Budi.
“GUA NGGAK NYANGKA, BUD. CINTA TULUS YANG GUA KASIH SAMA LO, LO BALAS SAMA KEKEJIAN MACAM INI. GUA TULUS CINTA SAMA LO, BUD. GUA TULUS MERHATIIN LO. GUA TULUS NGERAWAT LO. INI BALESANNYA? INI BALESANNYA, HA?”
Budi tidak menjawab. Dia meminta sesuatu dari rekannya. Sebuah benda, mirip stetoskop, dengan sebuah kotak di bagian membrannya. Rekannya juga memberikannya sebuah kabel dan pengeras suara portable.
*Aduh*...
*Terus, terus, terus*
Terdengar dua suara yang berbeda di awal rekaman itu. Budi tersenyum saat mendengar suara wanita dalam rekaman itu.
*Keluarin dimana*?
*Pake nanya, lagi. Kencengin! Gua juga udah deket*
Senyumnya semakin lebar, dan senyum itu dia tujukan buat wanita yang sedang tercengang di depannya itu.
*Uh uh uh. Stevani Larasati emang paling mon*\*\*\*
Mendengar nama lengkapnya disebut dengan sangat jelasnya di dalam rekaman itu, tak pelak membuat Stevani ternganga.
*Iyes, iyes, iyes*
*Aku m*\*\*\*\*\*\*
*Anj\*\*\*, eeemmhhh*
__ADS_1
*Kamu emang luar biasa*
Untuk beberapa saat, suara dalam rekaman itu terhenti. Tak cukup dengan ternganga, mata Stevani juga mulai menunjukkan reaksi. Kalau tadi melotot dan berapi-api, sekarang sembab dan berkaca-kaca.
*Kamu udah percaya, kan? Aku nggak pernah ingkar janji. Begitu tugas kamu selesai, aku tepatin janjiku*
Rekaman itu memperdengarkan suara kembali. Kali ini suara wanita terlebih dahulu. Membuat air di mata Stevani, seketika meluncur, tanpa bisa ditahan lagi.
*Iya. Gua seneng bisnis model kaya gini*
Suara khas dari orang yang memusuhi Budi kembali menggema. Membuat Budi mencebik sambil mengangguk-angguk.
*Itu itu, itu kan rekaman aku sama Dino di hotel sebelum tragedi itu? tapi siapa yang ngerekam? Dino kan nggak bawa hape malam itu. Tapi hape aku? Kan waktu itu ketuker sama hapenya Isma*.
Untuk beberapa detik lamanya, rekaman itu tak mengeluarkan suara lagi.
*Oh, iya. Itu si Adel, gimana kabarnya? Kamu belum cerita lho sama aku*
Dia semakin ternganga lagi. Rekaman suaranya terlalu jelas untuk dielakkan. Terlebih dia menyebut nama seseorang dalam rekaman itu.
*Loh, itu kan pertanyaanku pas dia mau pulang kerja? Sore sebelum tragedi itu. Gimana bisa jadi satu rekaman sama yang perbuatan aku di hotel sama Dino*?
Stevani menggeleng-geleng, sebagai isyarat menolak tuduhan yang diajukan Budi.
*Dia masih lupa ingatan*
Ampuh kan, suntikanku
“Ha?” hanya itu yang keluar dari mulut Stevani.
*Itu, itu, itu kapan aku ngobrol gitu sama Dino? Suntikan apa*?
Budi memainkan alisnya. Seperti ingin bertanya kepada Stevani, jadi karena suntikan itu aku lupa ingatan? Untuk ketiga kalinya, air mata Stevani meluncur membasahi pipinya. Dia tidak mampu untuk menjawab.
*Masih dengan skenario awal*?
*Ya. seperti yang kamu minta. Walaupun, sayang juga. Semulus itu harus diseret-seret*
“Enggak, enggak. Ini fitnah. INI FITNAH”
Mendengar kata skenario, Stevani langsung bereaksi keras. Dia merasa ingat betul, kalau kalimat itu adalah percakapannya dengan Farah, beberapa waktu yang lalu.
*Ya, sempetlah, aku bugilin. Gokil, empuk banget, Van*
“Ini gua bahas Isma, Bud. Isma”
Budi tersenyum sinis. Dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, sudah tertangkap basah, Stevani masih mengelak dengan membawa nama orang lain.
*Iya, deh. Terus, temen kamu yang jadi ojol itu, gimana*?
*Rapi banget. Gua sendiri nggak nyangka, dia bisa akting sebagus itu. Gua beneran jadi pahlawan, tahu*
“Ha?”
Dalam hati Stevani mengakui dia menanyakan mengenai teman Dino yang menjadi ojol. Tapi jawaban Dino bukan seperti itu.
*Awas, kalo sampe ada yang ember*!
*Dijamin aman*
*Eh, Budi, gimana*?
*Sama. Dia masih lupa ingatan*
Stevani menggeleng lagi. Baginya itu dua percakapan berbeda hari yang digabung menjadi satu alur percakapan.
*Wuih, buat seorang Budi juga, masih ampuh juga itu obat. Kamu cariin dia kerjaan lain, deh! Biar sekalian kamu jadi pahlawan, buat ibunya Budi*
*Gampang itu sih. yang penting, kamu harus mastiin, si Adel beneran lupa sama Budi! Kalo dia keburu inget, kamu harus cari cara, buat bikin dia lupa lagi! sampe aku bisa dapetin Budi*
__ADS_1
*Asal bayarannya setimpal, beres, bos*
Rekaman itu berakhir sampai di situ. Tak ada lagi sura yang keluar dari pelantang suara ponsel Budi. Tinggallah suara tangis Stevani yang meraung-raung. Berkali-kali dia mengatakan kalau dia difitnah seseorang.
“Kenapa kamu milih jalan itu, Van?”
“Ha?”
Sebuah suara meyapanya dari arah belakang. Walau tidak bisa melihatnya, tapi Stevani kenal, suara siapa itu. Dia tampak tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu.
“Jodoh itu kan, di tangan Tuhan. Kita sebagai manusia, nggak akan bisa maksa Tuhan buat ngikutin kehendak kita”
*Astaga, mereka masih tidak percaya kalau aku difitnah. Bagaimana mereka bisa percaya cuman dari rekaman itu? ini nggak adil, ini nggak adil*
“Kalo aja, kamu cuman jambak rambutku, cuman nggampar aku, cuman nonjok aku, saat rebutan mas Budi. Dengan senang hati, aku bakal maafin kamu. Karena kamu wanita, aku juga wanita. Aku tahu rasanya jatuh cinta pada seorang pria. Persaingan itu wajar, selama janur kuning belum melengkung. Tapi pipa besi, golok, pedang, sama sekali nggak pernah terlintas dibenakku, Van”
“AKU CINTA SAMA BUDI, DEL. AKU CINTA BANGET SAMA BUDI. KAMU NGGAK TAHU, GIMANA CEMBURUNYA AKU LIAT DIA MESRA-MESRAAN SAMA KAMU DI DEPAN MATAKU”
“Oh, ya. Aku tahu gimana rasanya itu” potong Adel. Stevani terkesiap.
“Aku juga pernah cinta banget sama seseorang, tapi dia malah cintanya sama orang lain. Tapi aku nggak sampe kepikiran bakal ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Iman aku emang jeblok, tapi aku masih inget Tuhan. Tuhan yang ngatur segalanya. Kenapa nggak ngerayu Tuhan aja? itu yang aku lakuin. Dan pada akhirnya, dia pernah jatuh ke pelukan aku”
“TAPI GUA NGGAK PERNAH NYURUH ORANG BUAT NYELAKAIN BUDI. EMANGNYA GUA BEGO, NYELAKAIN ORANG YANG GUA CINTA, HA?”
“Tapi suara itu asalnya dari kamar kamu, Van. File rekamannya juga asli dari alat itu. Tahu fungsinya stetoskop, kan?” tanya Adel.
“Ha?”
“Adiknya mas Budi yang ngerekam itu”
“Putri?”
“Ya. Seminggu yang lalu dia main ke rumah cowoknya, zulfikar muhammad”
Mata Stevani terbelalak mendengar nama itu disebut. Dia terlihat sangat mengenal nama itu.
“Ya, kamu pasti kenal dia. Sebelahan kamar kan, sama kamu"
“Dia iseng nyoba alat prototipe ini. Dia tempelin di tembok yang misahin kamar Zulfikar sama kamar kamu, dan hasilnya, seperti yang udah kamu denger”
“Enggak, enggak. Gua nggak pernah bawa Dino ke kontrakan gua. Gua nggak pernah bawa dino ke kontrakan gua. Cuman Budi yang pernah gua ajak ke sana. Cuman Budi yang tahu kontrakan gua”
“Aku kasihan sama kamu, Van. Kamu tuh cantik. Ya, lebih cantik dari aku. Aku akui itu”
“MAKSUD LO APA? LO PERCAYA SAMA FITNAH ITU? LO PERCAYA SAMA REKAMAN ITU? KALO MEMORINYA UDAH DIISI REKAMAN, APA LO BAKAL PERCAYA GITU AJA?”
“Coba kita buktiin” jawab Adel.
Budi maju selangkah lebih dekat ke arah Sevani. Dia tunjukkan semua sisi benda itu, untuk menunjukkan kalau benda itu belum pernah dia buka.
Satu demi satu baut penutupnya dia buka. Terlihatlah komponen elektronik di bagian dalamnya. Terlihat juga slot memory card berbentuk micro sd.
Budipun mengambil memory card dibawah pengawasan Stevani. Tanpa memasang kembali penutupnya, dia nyalakan stetoskop itu.
CEK CEK, HALO. CEK, HALO HALO
Budi menyuruh rekannya untuk bersuara di depan membran yang berjajar di bawah kotak elektronik itu. Dan pelantang suara yang masih terkoneksi itu, mengeluarkan suara seperti yang diucapkan rekan Budi.
Stevani tercengang. Dia tidak menyangka kalau alat itu benar-benar berfungsi. Tapi dia masih menggelengkan kepala, tanda dia tidak percaya dengan rekaman itu.
“Aku udah uji rekaman itu di laboratorium digital di jogja. Aku punya sertifikatnya yang nyatain kalo rekaman itu, bukan hasil editan. Itu asli satu kesatuan utuh yang belum mengalami modifikasi atau pengeditan”
“TERUS, LO MAU APA, HA? LO MAU APA, ADEL? LO MAU NYELAKAIN GUA? LO MAU NGEBALES APA YANG NGGAK PERNAH GUA LAKUIN? IYA?”
“Aku cuman mau bilang terimakasih” jawab Adel. Kalimatnya terhenti sejenak.
“Kalo aja, kamu lebih sabar. Mungkin aku bakal kehilangan mas Budi” lanjut Adel.
Stevani tertegun mendengar kalimat terakhir itu. Dia memandang kearah Budi. Dan Budi mengangguk padanya. Beberapa saat lamanya, suasana menjadi hening.
“Sampai jumpa di kehidupan yang lain” pamit Adel.
“Loh, loh, loh?” Stevani bingung melihat semua orang memakai masker gas. Termasuk Budi.
*Bessssss*
Sebuah tabung kecil terlempar melalui kolong kursinya. Membuat mata Stevani melotot. Dari tabung itu, muncul gas berwarna putih yang sangat banyak.
“Loh, Bud?” tanya Stevani.
“Bud, Bud, please, Bud! please, Bud!” pinta Stevani memohon. Tapi Budi sama sekali tak bergeming.
“BUDIIIIIII”
***
__ADS_1