Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi di prank adel


__ADS_3

Pagi ini, setelah beberapa hari berlalu semenjak kejadian mengejutkan itu, Budi sudah selesai mengerjakan pekerjaan paginya di rumah. Dia juga sudah mandi. Dan bersiap memakai seragam kebesarannya saat membantu ibunya di pasar.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Ponselnya tiba-tiba berdering. Memunculkan wajah gadis yang paling dia cintai. Tanpa memakai baju terlebih dahulu, dia menerima panggilan video itu.


“Hal... walah”


*Wuuusss*



Buk... Bukkk... Bukk


Budi sangat terkejut saat menyadari kalau wajah yang muncul di layarnya ternyata bukan wajah Adel, melainkan wajah bu Lusi. Seketika dia lemparkan ponselnya ke kasur.


“Ha ha ha ha”


Terdengar tawa lepas Adel dari seberang telepon sana. Budi segera memakai kaosnya.


“Ha ha ha ha ha”


Tawa Adel menggema lagi, saat ponsel itu diraih lagi oleh Budi.


“Dih, kurang kerjaan. Pagi-pagi ngeprank orang” komentar Budi.


“Awas lho Bud, anak ibu masih gadis. Halalin dulu!”


Terdengar suara bu Lusi, tak jauh dari ponsel Adel. Terdengar pula suara wistle kettel.


“Hayo, lho. Ha ha ha ha” goda Adel, masih dengan tertawa.


“Iya, Bu. Maaf. Baru pertama, kok” kata Budi menjawab kata-kata bu Lusi.


“Baru pertama ketahuan?” tembak bu Lusi.


“Hmpf. Ha ha ha haha” Adel tertawa semakin kencang. Membuat Budi garuk-garuk kepala.


“Loh, kamu kok nggak pakek seragam?”


Bu Lusi muncul lagi di depan kamera Adel. Sejenak Budi tertegun. Dia merasa aneh dengan keramahan yang ditunjukkan bu Lusi. Masih terasa seperti mimpi baginya.


“Hei, ditanya kok malah bengong? Mantengin siapa, hayo?” tegur bu Lusi. Budi tersentak, dan hanya bisa tersenyum malu.


“Jangan mantengin ibu! Yang punya galak” lanjut bu Lusi sambil berlalu.


“Hempf” budi tergelak mendengar kelakar itu.


Adel juga tertawa tanpa suara. Sekali lagi, pikiran Budi melayang. Dia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dia alami ini.


“Kamu liat sendiri kan, mbak? Anakmu udah berani nakal sama anakku. Gimana, tuh?”


Suara bu Lusi menggema lagi.


Adel mengarahkan kameranya ke arah ibunya. Terlihatlah bu Lusi kembali ke dapur untuk mengambil ponselnya. Ponsel itu dia letakkan di salah satu sudut meja beton. Dia bawa ponsel itu mendekat ke ponselnya Adel.


“Loh, ibu?”


Budi terkejut melihat wajah yang terpampang dilayar ponsel bu Lusi. Ya, ada ibu dan juga adiknya.


“Ha ha ha ha ha”


Adel tertawa lagi melihat Budi terkejut.

__ADS_1


“Jadi, dari tadi, bu Lusi video call sama ibu?” tanya Budi.


“Iya. Ha ha ha” jawab Adel, masih sambil tertawa.


“Haduh. Lebih parah dari kegep satpol PP” komentar Budi.


“Ha ha ha ha”


Kali ini semuanya tertawa. Termasuk bu Ratih dan Putri. Suara mereka menggema bahkan sampai ke kamar Budi.


“Bud, jangan nakalin anak orang!” kata bu Ratih. Terlihat aneh komunikasi semacam itu.


“Ya kalo anak kodok sih, ogah” guman Budi.


“Apa?” tanya bu Ratih.


“E eh, enggak. Eh anu, eh iya bu. siap” jawab Budi tergagap.


Sontak jawaban tergagap itu membuat semuanya tertawa. Sambil geleng-geleng kepala, bu Lusi pergi meninggalkan Adel. Budi balik kanan, membuka pintu kamarnya, dan melongok ke luar. Tepat sekali, Putri jua sedang keluar kamar dan menengok ke arah kamarnya.


“Ha ha ha ha"


Putri tertawa saat melihat kakaknya menarik kepalanya kembali ke dalam kamar. Dan Adel juga tertawa melihat tingkah kekasihnya itu. Tapi Budi kembali dengan keanehan dalam diri bu Lusi. Perubahan yang sangat cepat itu, baru kali ini dia temui.


Kalaupun ada orang yang insyaf atau hijrah, tidak serta merta bisa langsung baik sama orang yang sebelumnya dia benci. Butuh berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa memaafkan, apalagi menerima keberadaan orang itu.


“Kenapa, Bram?” tegur Adel.


“Ha?” Budi tersentak. Tapi dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Tata tahu kok, bram. Abram masih kaget ya, sama perubahan diri ibu?” tanya Adel. Budi menghela nafas panjang, lalu tersenyum.


“Ya muqollibal quluub, tsabbit qulbina ‘ala diinik” gumam Budi di akhir helaan nafas panjangnya itu.


“Itu yang harus kita syukuri, Bram. Alloh udah berkenan ngasih jalan buat kita. Jangan dipikir gimana bisa terjadi!”


“Ya”


“Makanya, buruan! Tata udah nggak sabar, pengen bebas liat abram polosan kaya tadi. Hi hi hi” goda Adel.


“Iya, Ta. Abram juga udah mikirin beberapa jenis usaha yang keliatannya bisa abram pegang. Semoga dalam satu atau dua hari ke depan, abram udah dapet kemantapan hati”


“Amin. Tata akan dukung sepenuhnya, apapun usaha yang akan Abram jalankan. Asal halal”


“Ya iya, lah. Sama-sama susah, ngapain cari yang haram?”


“Ha ha ha. Ya sekedar ngingetin aja, bram. Kadang-kadang, jalan haram itu wujudnya yang enak-enak. Kadang juga dibalutnya sama sesuatu yang halal”


“Contohnya?”


“Haah, nggak usah disebutin deh. Tata jealous ngingetnya”


*Tok tok tok*


Terdengar suara pintu kamar Budi di ketuk. Sontak Budi memutar tubuhnya.


“Bud, bisa nganterin ibu, nggak?”


Suara bu Ratih terdengar mengiringi suara ketukan pintu tadi.


“Ya, bu. bentar” jawab Budi.


“Ya udah, yang semangat ya, kerjanya” sahut Tata. Senyumnya mengembang, membuat hati Budi adem.

__ADS_1


“Seberapapun hasilnya, asalkan halal, dan dikerjakan sepenuh hati, insyaAlloh berkah, Bram” lanjut Adel.


“Iya, Tata sayang. Abram akan lakuin sepenuh hati. Semoga Alloh ngeringanin jalan Abram buat menghalalkan tataku tersayang” jawab Budi.


“Amin” sahut Adel.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alikum salam”


Budi mematikan saluran telepon setelah Adel menjawab salamnya. Buru-buru dia menyiapkan seragam dan perlengkapan kerjanya, lalu keluar dari kamarnya. Ibunya tampak sudah siap dengan perbekalannya juga. Dan berangkatlah mereka, meninggalkan Putri sendiri menyelesaikan tugas paginya.


Stevani resah, dia berjalan ke sana-ke mari. Sudah beberapa hari lamanya Hendra tidak datang mengunjunginya. Dia semakin terbebani dengan rasa ingin membuktikan kalau dia tidak bersalah. Sedangkan di sisi seberang, pihak penyidik semakin gesit bergerak, menyempurnakan laporan yang akan dilimpahkan ke kejaksaan. Bukan penjara yang dia hawatirkan, baginya tidak ada yang perlu ditakuti di penjara wanita. Tapi kehabisan waktu untuk pembuktian, itu lebih menyiksa batinnya.


Bukannya tidak tahu, Hendra juga sedang mengusahakan bukti-bukti nyata. Bukti yang bisa dia perlihatkan ke penyidik. Tapi sejauh ini, dia belum mendapatkan bukti nyata selain cerita, cerita, dan cerita. Sedangkan orang yang bercerita itu, tidak mau menjadi saksi atas Stevani. Wajar, mereka bukan saudara atau keluarganya Stevani. Jadi mereka lebih memilih untuk diam.


Setiap hari dia selalu merayu mbak Ning untuk segera mendapatkan rekaman CCTV milik toko kelontong itu. Tapi selalu saja alasannya sama.


Setelah penjaga toko yang cuti itu kembali bekerja, gantian pemilik tokonya yang mendadak tinggal di rumah di atas toko itu. Praktis, penjaga toko itu tidak berani untuk menggunakan perangkat komputer yang tersedia di ruang CCTV. Dan entah sampai kapan pemilik toko itu akan kembali ke rumahnya yang lain. Penjaga itu selalu meminta mbak Ning untuk menunggu, sekalipun dia sudah mendapatkan sejumlah uang dari mbak Ning.


Semalam tadi Hendra hampir tidak tidur memikirkan kasus Stevani. Sudah berkali-kali pak Paul menelepon dan menekannya agar segera mendapatkan bukti yang meringankan Stevani.


*TIIIING*


Suara kencang ponselnya, membuat Hendra terbangun dari tidurnya. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Agak malas dia meraih ponselnya. Sambil berharap, kalau yang mengirimi pesan singkat itu bukan pak Paul.


*Aku mau ke luar kota, belanja pesenan orang. Mau ikut, nggak? Pesenanmu udah ada, nih*.


Sebuah pesan singkat itu mampu membuat matanya membulat sempurna. Dia sampai membaca sekali lagi pesan itu. Dia ingin memastikan kalau apa yang masuk di otaknya, sesuai dengan apa yang tertera di layar.


*Lengkap seperti yang aku pesen, mbak*?


Hendra membalas pesan itu, seketika setelah dia duduk.


*Iya. lengkap seperti yang kamu minta*.


Jawaban yang sanggup membuat Hendra tersenyum lega.


*Tapi jatahku abis buat dia*.


Lanjutan pesan itu sontak membuat Hendra memutar bola matanya. Dia sudah memberi banyak uang, tapi penjaga toko itu masih minta lagi. Terasa seperti pemerasan.


*Gampang, mbak. Jatah embak, aku kasih lagi, entar*.


Buat Hendra, demi terurainya kasus itu, dia tidak mau memusingkan soal uang itu. Lagipula, apa yang dia keluarkan belum seberapa dibanding yang dia terima dari pak Paul.


*Aku juga pengen jatah yang lain*


Hendra tertawa kecil. Dia tahu apa maksud mbak Ning itu.


*Nggak kapok, apa*?


Hendra mencoba menggoda janda muda itu.


*Malah ketagihan, tahu. Udah aku siapin tempat. Kalo kamu pengen ambil pesenanmu, kamu tahu kan, harus berbuat apa*?


Hendra tertawa lagi. Dia merasa seperti ditantang.


*Ya. Jangan salahin aku ya, kalo sampe nggak kuat bangun*!


Darah Hendra berdesir, membayangkan apa yang akan dia dapatkan bersama mbak Ning


*Justru itu yang aku kangenin. Kita pulang besok siang, ya? Aku udah jalan, kita ketemu di alamat yang aku kasih*.

__ADS_1


Sebuah link muncul di bawah pesan terakhir. Tautan yang mengarahkannya pada sebuah hotel. Dan jalan menuju ke sana. Tanpa membuang waktu lagi, Hendra segera berbenah diri. Kenangan bersama mbak Ning tempo hari, membuatnya ingin mengulanginya. Tapi rekaman CCTV itu, lebih menarik perhatiannya.


__ADS_2