Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
senyum dong ta!


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat, pak Fajar dinyatakan sembuh, dan bisa menjalani rawat jalan. namun begitu, dokter yang merawatnya sangat mewanti-wanti agar pak Fajar tidak terlalu stress. Karena kaau terlalu stress dihawatirkan pak Fajar akan terkena serangan jantung ataupun stroke. Karena riwayat darah tinggi dan kolestrol yang dimiliki pak Fajar.


Oleh karena itu, baik bu Lusi maupun Adel, sepakat dengan saran yang diajukan saudara-saudara yang lain. Dimana untuk sementara waktu, pak Fajar akan dirawat di rumahnya Sinta. Dimana rumah itu sebenarnya adalah rumah simbahnya. Yang berarti masih ada haknya pak Fajar juga di sana.


Beruntungnya, pak Fajar juga setuju dengan usulan itu. Walaupun pak Fajar masih terpikirkan mengenai kebakaran bengkelnya. Adel mengatakan kalau dia akan mengambil alih tanggung jawab itu. Adel juga mengatakan kalau Budi juga membantunya dari jauh. Pernyataan itulah yang membuat pak Fajar sedikit tenang.


Seperti sebelumnya, polisi bertindak cepat menyelidiki penyebab kebakaran bengkel kayu pak Fajar. Banyak orang dimintai keterangan,termasuk Adel sendiri. Dia menceritakan kejadian sehari sebelum kebakaran itu terjadi. Walaupun Adel tidak menuduh, tapi berdasar keterangan itu, polisi menjadikan karyawan tak tahu diri itu sebagai buronan.


Tidak sulit bagi polisi untuk melacak keberadaan buronan itu. walau sempat melawan, tapi orang itu berhasil diringkus. Di depan para penyidik, orang itu mengakui semua perbuatannya. Bahwa dialah yang melempari bengkel kayu pak Fajar dengan bom molotov.


Walaupun pelaku pembakaran bengkel bapaknya sudah ditangkap, bukan berarti Adel terus merasa lega. Masih teramat jauh dari rasa lega itu. tidak akan ada sepeserpun uang yang akan keluar dari kantong orang tak tahu diri itu untuknya. Paling mentok juga dia hanya dipenjara. Tidak berarti apa-apa untuknya.


Walaupun juga Budi sudah membantunya untuk menyelesaikan pengiriman kedua itu, tapi masih ada tujuh kloter lagi yang harus dia selesaikan. Dia menyadari, betapa mahalnya harga yang harus Budi bayar demi mengejar tenggat waktu kemarin. Dan tambahan empat hari kemarin itu, bukanlah waktu yang ideal untuk mengerjakan dua puluh set.


Di saat seperti ini, Adel merasa aneh dengan Luki. Orang itu seperti hilang ditelan bumi. Sama sekali tidak bisa dihubungi. Sekalipun bapaknya yang mengubungi.


Memang, urusan pembayaran sudah dilaksanakan sepenuhnya. Tapi kalau berkaca pada beberapa hari sebelum kejadian, betapa Luki sangat berusaha mendekatinya. Tapi begitu ada kesempatan emas untuk merebut hatinya, dia malah menghilang.


Karena jauh dari lubuk hatinya, Adel mengatakan kalau dia sangat membutuhkan bantuan biaya. Dan dia tahu kalau Luki bisa membantunya.


Aneh memang. Dia sendiri merasa aneh dengan hatinya. Tapi keadaan memaksa pikiran seperti itu untuk keluar.


Bukannya ingin berpaling ke lain hati, Adel juga sangat terpesona dengan ide-ide yang diajukan Budi. demi memenuhi keseluruhan kontrak, Budi sampai menyiapkan road map yang sama sekali tidak terbayangkan olehnya.


Tapi lagi-lagi, ide-ide itu terbentur masalah keuangan. Dia tidak lagi punya tabungan untuk bisa membeli bahan baku dan membayar vendor.


Menurutnya, kalau dia punya modal, akaan lebih baik kalau dia membangun kembali bengkelnya. Sambil garuk-garuk kepala, Budi mengatakan kalau sebenarnya dia ingin mengatakan hal itu. Tapi soal biaya, dia mengatakan kalau dia tidak bisa berbuat banyak. Makanya dia lebih memilih mencarikan jalan alternatif.


Di hari terakhir pengiriman kloter ke dua, pak Fajar merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi kenyataan. Dia memaksa untuk ikut dengan Adel mengirimkan mebel yang akan diekspor ke eropa itu. Dia ikut bersama dua truk yang mengantarkan lima unit terakhir ke PT. PRAM, walau tidak ikut masuk ke dalam pabrik.


Selepas dari PT. PRAM, pak Fajar mengutarakan keinginannya untuk membangun kembali bengkel kayunya. Saat Adel menanyakan darimana dananya, pak Fajar mengatakan kalau dia ingin meminjam lagi kepada juragan Kadir. Adel sempat menolak ide itu, dan lebih menyarankan bapaknya untuk mengambil pinjaman di bank.


Tapi pak Fajar tidak sependapat. Dia mengatakan kalau juragan Kadir tidak meminta jaminan. Dia sudah percaya dengan dia. Jadi sertifikat rumahnya bisa untuk kartu as jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya Adel mengalah dan menyetujui ide bapaknya itu.


Tak mau membuang waktu, mereka langsung mengarahkan kendaraan mereka ke rumah juragan Kadir. Di sana mereka langsung disambut sang tuan rumah. Sebelum pak Fajar mengutarakan maksudnya, juragan Kadir sudah terlebih dahulu menawarkan bantuannya. Walaupun sama saja, bahwa bantuan yang ditawarkan adalah berupa pinjaman, namun tawaran itu langsung disambut pak Fajar.


Lebih dari itu, bu Kadir, yang ternyata adalah teman satu angkatan bu Lusi di SMA, memberikan sebuah amplop yang cukup tebal kepada bu Lusi. Sebagai bentuk keprihatinan bu Kadir atas musibah yang menimpa bu Lusi. Dengan berlinang air mata, amplop itu bu Lusi terima.


“Bram” sapa Adel dalam sambungan panggilan video.

__ADS_1


“Senyum dong, Ta! Kan kloter ke dua udah tercapai” pinta Budi.


“Iya” adelpun tersenyum manis.


“Makasih ya, Bram. Tata nggak tahu kapan bisa bayar semua itu” lanjut Adel.


“Apaan sih, Ta? Tata nggak direcokin Luki aja, udah seneng, Abram” sahut Budi.


“Ha ha ha ha”


Adel tertawa mendengar jawaban itu. Dia selalu merasa lucu kalau kekasihnya melontarkan kalimat bernada kecemburuan.


“Terus, selanjutnya gimana?” tanya Budi.


“Bapak mau bangun bengkelnya lagi, Bram” jawab Adel.


“Oh. Udah ada dananya?” tanya Budi sedikit terkejut.


“Udah. Tadi minjem ke juragan Kadir, yang punya toko bangunan tempat Abram belanja dulu, buat bikin galeri”


“Oh. Kenapa nggak ambil di bank aja? Kan lebih aman. Kalo kejadian lagi kaya tempo hari, kan bahaya, Ta” tanya Budi. Adel terkejut dengan pernyataan kekasihnya itu.


“Kejadian apa, Bram?” tanya Adel memastikan.


“Astaghfirulloh. Abram tahu?” kali ini Adel benar-benar terkejut.


“Ya. pada akhirnya Abram tahu juga” jawab Budi.


“Tapi Abram nggak lagi ngomongin soal rival Abram. Abram lagi ngomongin keselamatan Tata sekeluarga” lanjut Budi. Adel tersenyum.


“Bapak udah punya rencana kok, Bram. Bapak udah tahu segala resikonya. Tata pikir, nggak ada salahnya mengikuti rencananya bapak”


“Oke. Soal bisnis, bapak emang lebih jago. Secara, abram belum dibikin juga, bapak udah mainan bisnis. Ya, nggak?”


“Ha ha ha” Adel tertawa lagi mendengar kelakar Budi.


“Buruan pulang dong Bram! Tata butuh Abram buat bersandar. Terkadang Tata ngerasa capek banget” pinta Adel.


“Siapa juga yang mau lama-lama di sini? Dingin, Ta” sahut Budi.

__ADS_1


“Awas, ya! jangan mentang-mentang dingin terus nyari yang anget-anget!” kata Adel memperingatkan.


“Lah. Orang kedinginan kok nggak boleh nyari yang anget? Ya membeku lah, Ta” kilah Budi.


“Oh. Udah mulai nakal sekarang, ya?”


“Kok nakal?” tanya Budi sambil tergelak.


“Lha itu, nyari yang anget-anget. Apaan, tuh?”


“Ya jaket, lah. Sama wedang jahe, teh panas, wedang ronde, kalo Ratna mau bikin” jawab Budi. adel tergelak mendengar jawaban itu.


“Awas ya! jangan deket-deket Erika! tonjok nih, kalo berani deket-deket dia” ancam Adel.


“Ha ha ha ha” Budi tertawa melihat ekspresi kekasihnya.


“Eh, Abram nggak sekamar sama dia, kan?” tanya Adel.


“Yaaah, baru ditanyain. Telat jauh, Ta” komentar Budi tanpa menjawab pertanyaan Adel.


“Astaga. Abram sekamar sama Erika?” tanya Adel serius. Raut wajahnya berubah sedih.


“Hampir” jawab Budi seakan cuek.


“Hampir? Maksudnya?”


“Ya. Untung aja kamar yang satunya nggak jadi dicancel sama Ratna. Jadi masih ada lebihan kamar, satu”


“Alhamdulillah” kata Adel sambil menghela nafas lega.


“Ha ha ha” Budi tertawa lepas, melihat ekspresi lucu wajah kekasihnya.


“Ketawa aja, terus! Seneng ya, bikin Tata senewen?” kata Adel setengah sewot.


“Ha ha ha ha. Aduh, sakit perut Abram”


“Bodo”


*Tuuuut*

__ADS_1


Sambungan panggilan video itu Adel matikan. Walaupun kesal, tapi Adel tertawa juga, akhirnya. Dia tahu, kalau kekasihnya itu hanya menggodanya. Dia percaya, kalau kekasihnya itu akan selalu menjaga kepercayaan yang telah dia berikan.


***


__ADS_2